
Keira dan Kevin telah menetapkan hotel yang mereka pilih untuk perjalanan bulan madu mereka. Perjalanan bulan madu yang tak ubahnya seperti perjalanan bernostalgia.
"Yuu huu akhirnya kembali ke kamar ini" teriak Keira begitu pintu presidential suite tempat dia menginap dulu terbuka.
Kevin tersenyum melihat keceriaan gadis itu. Mereka kembali menikmati semua fasilitas mewah hotel itu. Untuk mengisi waktu mereka menikmati jalan-jalan di sepanjang pinggiran pantai.
Mereka mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Kevin dan Keira bahkan tertawa bersama saat mengingat pertemuan yang membuat mereka cekcok.
"Disini tempat kamu memukuli Raffa karena ketahuan mencium Celina" ucap Keira.
"Kamu ini, kenapa bisa tau semua ?" tanya Kevin.
"Karena sejak mengenal kalian, aku ingin dekat dengan kalian" ucap Keira.
"Aku bahagia bisa mengenal kalian, kamu dan Celina. Entah mengapa, jika dibandingkan dengan pasangan-pasangan CEO lainnya, aku merasa Celina adalah gadis yang baik dan berhati tulus" ucap Keira.
"Malam itu, saat melihatnya berjalan-jalan sendiri di pinggir pantai, aku ingin menghampirinya. Namun niatku terhalang karena tiba-tiba melihat Raffa mendekatinya. Aku penasaran dan langsung mengamati, setauku Raffa menggandeng istrinya menghadiri peresmian club itu.
Dan yang membuatku lebih penasaran lagi, Raffa dan Celina terlihat acuh saat berkumpul bersama namun saat mereka bertemu Raffa terlihat begitu menginginkan Celina.
Aku sangat terkejut saat Raffa nekat mencium Celina yang sudah jelas menjadi tunangan temannya.
Tak lama kemudian kamu dan Jessica datang selanjutnya kamu tau sendiri kelanjutannya" cerita Keira.
Kevin tersenyum kecut.
"Semua sudah berlalu, semua sudah berada diposisinya masing-masing" ucap Kevin.
"Aku menyayangi Celina, aku ingin dia bahagia bersama laki-laki yang dicintainya tapi aku juga sedih melihatmu. Aku ingin menghiburmu tapi tidak tau apa yang harus kuperbuat" ucap Keira mengingat kembali saat melihat Kevin duduk seorang diri di caffe. Sesaat setelah memukuli Raffa.
Keira teringat saat duduk disamping Kevin yang menatap lurus dengan pandangan yang kosong. Keira menyapa laki-laki yang sedang frustrasi itu. Namun Kevin tidak meresponnya sama sekali. Keira berusaha meraih perhatian laki-laki itu namun Kevin justru marah dan menggebrak meja.
Keira tetap berusaha memancing Kevin yang masih mengabaikannya. Hingga akhirnya Kevin pergi mencari Celina yang sedang merawat luka Raffa di kamarnya.
"Aku ingin Celina bahagia, namun aku juga tidak ingin membuatmu bersedih. Aku berada di posisi yang serba salah, tidak tau berpihak pada siapa. Aku hanya ingin membalas kebaikan dan perhatiannya padaku" ucap Keira.
"Ya, tapi itu balasanmu padanya, sekarang kamu telah merebut tunangannya" ucap Kevin terlihat serius.
Keira mendelik.
"Bukan aku yang merebut, tapi aku yang baik hati ini memungut apa yang telah dicampakkannya" balas Keira.
"Maaf ya ? siapa yang dicampakkan ? aku yang baik hati ini, hanya ingin merelakannya pada orang yang begitu mencintainya" balas Kevin lagi.
"Oo.. Jadi rupanya baik hati juga ya" ucap Keira mengangguk-angguk.
Kevin juga mengangguk-angguk, lalu mereka tertawa bersama. Menjelang sore mereka kembali ke kamar hotel.
"Kamu tau ? dulu dikamar ini, tunangan dadakanku berhadapan dengan mantan tunanganku. Dia mengusir mantan tunangan yang tak berguna itu dengan pesonanya, wibawanya dan ketampanannya" ucap Keira menunjuk kursi tamu dimana dia menerima Chicco, mantan tunangannya dulu.
"Ooo.. rupanya sudah sejak dulu terpesona dengan tunangan dadakan itu" ucap Kevin sambil bersandar di meja sarapan.
Keira mendelik, lalu wajahnya berubah murung.
"Benar, saat bertengkar denganmu aku sangat ingin mendepakmu dari club, aku merasa orang yang kasar sepertimu pastilah orang yang tak berguna sama seperti mantan-mantan tunanganku.
Merasa bangga dengan apa yang dimilikinya hingga tak mau mengalah dengan perempuan dan selalu merasa ingin menang sendiri.
Saat kita bertabrakan, aku merasa kamu adalah orang yang seperti itu. Tidak mau mengalah dan minta maaf padaku. Aku mengira kamu adalah orang yang besar mulut yang kebetulan bisa bergabung di club philanthropists" cerita Keira.
"Aku ini orang yang menyedihkan bukan ? Aku ingin presiden club memecat orang sok kayak kamu. Dalam hatiku, presiden club aja nggak se sok kamu.
Aku dengar presiden club itu punya reputasi yang sangat baik. Disukai semua orang hingga diangkat jadi pimpinan club, aku membandingkan dirimu dengan presiden club itu. Presiden club itu sudah menguasai hatiku, aku sangat ingin bertemu dengannya.
Dan ingin dia memecat orang yang tak mau mengalah denganku itu. Tapi justru kamulah orangnya, jika saat itu Celina tidak melarangku. Mungkin aku telah mempermalukan diriku sendiri" lanjut Keira.
Gadis itu menatap Kevin yang hanya diam memandangnya.
"Sejak itu aku kagum padamu, saat bertengkar denganku, kamu sama sekali tidak membanggakan dirimu dengan jabatanmu, dengan kekuasaanmu. Padahal kamu bisa saja mengusirku waktu itu" cerita Keira lagi.
"Aku sudah biasa disukai gadis-gadis jadi ceritamu sama sekali tidak menarik buatku" ucap Kevin.
"Sombong sekali sih, aku cabut lagi ucapanku tentang presiden club yang baik hati itu" ucap Keira cemberut.
"Tapi itu kenyataannya, yang diam-diam menyukaiku itu banyak" ucap Kevin santai sambil duduk di sofa.
__ADS_1
"Ya benar, banyak gadis-gadis yang menyukaimu. Karena itu kamu nggak pernah menghargai aku, kamu mau menikah denganku, karena kamu tidak bisa melupakan cinta sejatimu.
Aku berharap suatu saat kamu akan melupakan Celina dan sungguh-sungguh mencintaiku, tapi kenyataannya hingga detik ini kamu masih belum bisa mencintaiku" ucap Keira tiba-tiba menangis.
Kevin tercenung.
"Apa aku salah bicara ? yang suka padaku itu memang banyak, apa aku salah ? kenapa tiba-tiba jadi sedih begini sih ?" tanya Kevin pada Keira yang telah menangis memandang keluar jendela.
"Kenapa kamu berusaha membuatku menikahimu, padahal jika aku melarikan diri saat pernikahan, kamu bisa bebas dariku. Tak ada orang yang akan menyalahkanmu. Kenapa ? Jika kamu tidak menginginkanku ? Kenapa membuat aku menikah denganmu ?" tanya Keira sesenggukan.
Kevin akhirnya mendekati Keira, menangkup wajah gadis itu.
"Kita disini untuk berbulan madu kenapa malah menangis ? Kata siapa aku tidak menginginkanmu ? Kata siapa aku tidak ingin menikahimu ?
Memang benar, aku belum bisa melupakan Celina, ya karena kami sering bertemu.
Tapi bukan berarti aku masih mengharapkannya, apa yang terjadi diantara kami, tidak akan bisa dilupakan selamanya.
Tidak akan bisa, karena bertahun-tahun aku mencintainya, bertahun-tahun aku mengharapkannya. Tapi saat aku memutuskan merelakannya bersama Raffa. Artinya aku telah melepasnya dan bertekad untuk berhenti mencintainya.
Dan yang membuat aku berpikiran itu adalah kamu, kamu yang membuatku bertekad melepaskannya" ucap Kevin panjang lebar.
"Kenapa ?" tanya Keira.
"Karena cuma kamu yang tulus mencintaiku, kamu menjadikan aku cinta sejatimu. Saat terbaring dirumah sakit, aku pernah bertanya padamu 'bisakah merelakan orang yang dicintai memilih cintanya sendiri disebut cinta yang sejati ?'
Lalu kamu menjawab 'bisa, karena butuh pengorbanan yang besar. Merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihnya. Itu butuh pengorbanan yang besar'
Kamu bilang bisa mengerti perasaan itu karena kamu juga mengalaminya.
Saat itu aku merasa, akulah cinta sejatimu, kamu mendukungku, kamu merelakanku memilih cintaku, kamu mengorbankan perasaanmu demi kebahagiaanku.
Sejak itulah aku berpikir untuk merelakan Celina, meski sulit namun sejak mendengar ucapanmu, aku jadi ingin melepaskan Celina" ucap Kevin sambil memeluk Keira.
"Saat aku melepas Jessica untuk Raffa, aku terpuruk dan melarikan diri ke Amerika, memilih untuk kuliah disana, saat merasakan kesedihan itu aku berkenalan dengan sesama mahasiswa dari Indonesia, namanya Gaby, dia membuatku melupakan Jessica" ucap Kevin sambil memandang wajah Keira yang terbias matahari sore.
Keira menatap Kevin yang tiba-tiba bercerita tentang masa lalunya.
"Aku jatuh cinta padanya, dia membuatku bahagia. Kami menjalani masa kuliah dengan bahagia. Aku bahagia bisa memilikinya. Saat kami lulus, kami berjanji setelah bekerja satu tahun kami akan menikah. Aku bekerja diperusahaanku sekarang dan dia bekerja diperusahaan lain" ucap Kevin lalu melihat kearah matahari yang mulai turun.
Keira juga ikut menatap pemandangan indah itu. Kevin memeluk Keira dari belakang bersama-sama mereka memandang warna indah dilangit yang cerah itu.
"Diawal-awal masa kerja, kami masih sangat dekat, masih saling merindukan namun semakin lama kami semakin larut dalam pekerjaan. Janji kami untuk menikah setahun setelah bekerja akhirnya kami ingkari sendiri. Apakah kami sudah tidak saling mencintai ? tentu saja masih. Aku masih sangat mencintainya, karena tidak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi dia dihatiku" ucap Kevin sambil meletakkan dagunya dibahu Keira.
"Meski berjauhan, meski jarang berjumpa tapi aku masih tetap mencintainya. Berbeda dengannya, dia bukan tipe gadis yang bisa menjalin hubungan jarak jauh. Dia butuh seseorang yang membelainya, memeluknya dan mencium setiap saat dia menginginkannya. Dan itu akhirnya didapat dari atasannya" cerita Kevin perlahan mengingat masa lalu.
Keira berbalik menatap wajah Kevin yang berubah murung. Membelai wajah laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.
"Dia mengkhianatimu ?" tanya Keira.
Kevin mengangguk.
"Saat terakhir dia menemuiku adalah untuk memberitahu kalau dia akan menikahi atasannya" ucap Kevin.
"Maafkan aku" ucap Keira.
"Ini bukan salahmu, kenapa harus meminta maaf" ucap Kevin tersenyum.
"Entahlah, mungkin karena ingin menceritakan padaku, kamu jadi mengingat lagi kesedihanmu" ucap Keira.
"Kamu mirip dengan Celina, tapi sungguh, aku menikahimu bukan karena mirip dengan Celina, kalian adalah dua pribadi yang berbeda. Tapi ada beberapa sifat kalian yang sama, mungkin itu yang membuat kalian bisa berteman" ucap Kevin.
"Apa itu ? apa sifat kami yang sama ?" tanya Keira mulai melupakan kesedihannya.
"Memiliki hati yang tulus dan bersih. Tidak suka menyimpan dendam dan selalu merasa bersalah" ucap Kevin.
"Aku seperti itu ? aku tidak merasa seperti itu ?" tanya Keira.
"Orang-orang seperti kalian tidak akan menyadari kalau kalian memiliki sifat yang luar biasa seperti itu" ucap Kevin.
"Masa sih ?" ucap Keira tersenyum.
"Buktinya sekarang ini ? dengan mudah kamu melupakan kekesalanmu padaku. Barusan kamu nangis sambil bilang 'kamu nggak pernah menghargai aku, kamu mau menikah denganku, karena kamu tidak bisa melupakan cinta sejatimu" ucap Kevin meniru ucapan Keira sambil berakting menghapus air mata seperti anak kecil menangis.
"Aku tidak seperti itu" teriak Keira lalu mencubit pinggang laki-laki itu.
__ADS_1
Kevin lari menghindar, Keira mengejar. Mereka berlarian di kamar hotel dengan ukuran yang sangat luas itu. Namun akhirnya Kevin tidak bisa menghindar, laki-laki itu akhirnya justru berbalik menangkap istrinya. Dan memeluknya erat.
"Mau apa sekarang mmm ? kamu ingin melakukan apa ?" ucap Kevin pada istrinya yang telah dibekuknya.
"Oh liat matahari terbenam" teriak Keira.
Kevin lengah, gadis itu langsung melepaskan diri. Mengecup pipi Kevin dan langsung berlari. Kevin berlari mengejar dan dalam waktu singkat menangkap Keira kembali. Menggendong gadis itu dan menghempasnya ke ranjang. Kevin langsung mengambil posisi mengunci gadis itu dibawahnya.
"Kenapa kamu menceritakan tentang Gaby padaku ?" tanya Keira.
"Entahlah mungkin aku ingin kamu tau tentang semua gadis yang singgah dalam hidupku" ucap Kevin sambil tidur menyamping bertumpu pada sebelah tangannya.
Sementara sebelah tangannya lagi membelai rambut di pelipis Keira.
"Lalu ? setelah Gaby siapa lagi ?" tanya Keira.
"Celina, setelah ditinggal menikah oleh Gaby, aku merasa sangat frustrasi. Aku tidak bisa fokus bekerja, bayangkan saja setelah lebih dari lima tahun menjalin hubungan justru berakhir begitu saja.
Akhirnya aku memutuskan pulang menemui orang tuaku kemudian menemui adikku Alyssa yang saat itu masih kuliah.
Saat itulah aku bertemu Celina, dia adalah teman sekelas sekaligus sahabat Alyssa, dia tinggal bersama adikku saat itu" cerita Kevin mengenang masa tujuh tahun yang lalu.
"Dia gadis yang penyayang, senyumnya membuatku segera melupakan Gaby. Aku langsung menyukainya tapi justru mendapati kenyataan dia tengah hamil dan aku sama sekali tidak tau kalau anak yang dikandungnya adalah anak Raffa. Saat mengetahui dirinya hamil, dia memutuskan untuk pergi namun aku menghalanginya. Aku tidak tega melihatnya sendiri menjalani hidupnya. Aku bahkan tidak tau kalau bayi itu adalah hasil perkosaan. Aku bahkan sempat membencinya karena mengira dia gadis liar yang terjerumus pergaulan bebas" ucap Kevin.
"Dari semua gadis itu, siapa yang paling kamu cintai ?"tanya Keira.
"Menurutmu ?" ucap Kevin balik bertanya.
"Celina ?" tebak Keira.
"Itu pasti karena kamu mengenalnya" ucap Kevin.
"Lalu siapa dong ?" tanya Keira penasaran.
"Jessica hanya bertahan hingga SMA, Gaby bertahan hingga lulus kuliah dan bekerja, Celina bertahan hingga bertunangan dan nyaris menikah, satu lagi namanya Keira bertahan sampai mana ya ?" ucap Kevin sambil pura-pura berpikir.
Keira mencubit pinggang suaminya, Kevin kaget dan berusaha menahan tangan Keira.
"Kenapa sih ?" tanya Kevin sambil memegang erat tangan Keira.
"Kenapa pertanyaannya bertahan sampai mana ? artinya kamu yakin suatu saat akan berakhir" ucap Keira berkaca-kaca, tak lama kemudian gadis itu terisak-isak.
Melihat itu Kevin langsung memeluk istrinya.
"Bagaimana kalau aku jawab sampai maut memisahkan" bisik Kevin lalu mengecup pipi gadis itu.
Keira menatap mata suaminya, ingin mencari kebenaran dari ucapan laki-laki itu.
"Sayang, kamu tidak percaya padaku ?" tanya Kevin.
"Sulit kupercaya, karena aku hanya pelarian bagimu" ucap Keira masih terisak.
"Semua gadis itu adalah pelarian, Gaby adalah pelarian dari kegagalan cintaku dengan Jessica, Celina adalah pelarian dari cintaku yang gagal dari Gaby dan kamu adalah pelarianku dari Celina. Semua gadis itu adalah pelarian cintaku tapi apa kamu tidak bisa mengambil satu pesan penting dari semua itu ?" tanya Kevin.
"Apa itu ? aku tidak tau" ucap Keira masih dengan isak tangisnya
"Semua gadis itu aku cintai dengan sepenuh hati, tapi semua gadis itu meninggalkanku, harusnya aku yang menangis meragukan cintamu" ucap Kevin.
"Aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Keira.
"Kalau begitu aku perlu bukti" ucap Kevin sambil tersenyum.
"Bagaimana cara aku membuktikannya ?" tanya Keira.
"Beri apa yang aku inginkan ?" bisik Kevin.
"Apa itu ?" ucap Keira serius.
"Kamu, aku menginginkan kamu, maukah kamu memberikannya untukku ?" tanya Kevin.
Keira mengangguk.
Kevin tersenyum, mendapatkan izin dari istrinya, Kevin mendekat wajah mereka dan menyatukan bibirnya dan bibir sensual Keira. Keira membalas, membuat Kevin tak sabar ingin menyesap semua yang ada di rongga mulut gadis itu.
Keira melingkarkan tangannya dileher laki-laki yang dicintainya itu. Kevin semakin gencar menciumi semua yang ada dihadapannya, leher, bahu, dada hingga membuat nafas Keira terengah-engah.
__ADS_1
Seiring menghilangnya matahari dibawah garis cakrawala, pertanda masuknya waktu malam. Kedua insan yang dimabuk cinta itu mulai menikmati malam pertama mereka.
...~ Bersambung ~...