
Celina melihat Chicco membawa Ozora dengan mobilnya. Raffa mendatangi Celina yang menangis, gadis itu langsung memberitahukan suaminya kalau Ozora telah dibawa pergi oleh Chicco. Segera Raffa memacu mobilnya ke arah yang ditunjuk Celina. Begitu juga dengan Kevin, laki-laki itu juga langsung mengejar mobil Raffa.
"Kamu lihat apa merk mobil dan warnanya sayang?" tanya Raffa sambil menyetir menghubungi Celina dengan ponselnya.
Celina menyebutkan ciri-ciri mobil yang membawa Ozora, Raffa melihat-lihat mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan istrinya. Namun, belum juga terlihat olehnya, Raffa mulai panik dan memacu mobilnya lebih kencang.
Sementara itu Ozora duduk di kursi penumpang dalam mobil yang dikendarai Chicco. Anak itu terlihat tenang menatap pada Chicco yang sebentar-sebentar melihat kaca spion.
"Om, kenapa Om menculik Ozora?" tanya Ozora polos.
"Karena kamu anak orang kaya, aku bisa mendapatkan uang darimu" ucap Chicco kembali melihat ke spion samping lalu spion tengah.
Chicco berusaha melajukan mobilnya sekencang-kencangnya namun kadang jalanan macet membuat laki-laki itu kesulitan menembus jalanan.
"Gimana caranya mendapatkan uang dari Ozora?" tanya Ozora lagi.
"Ya, minta tebusanlah, apalagi?" ucap Chicco.
"Bukannya itu tindakan kriminal? daripada om, melakukan itu lebih baik om bekerja?" saran Ozora.
"Tentu saja aku mau bekerja tapi sulit mendapatkan pekerjaan saat ini" ucap Chicco sambil kembali memacu mobilnya melihat jalanan yang sepi didepannya.
"Jangan ngebut om, Ozora takut. Kalau kecelakaan om nggak bisa dapat duit" ucap Ozora sambil menatap ke depan.
Chicco langsung melirik Ozora, laki-laki itu heran melihat sikap Ozora yang begitu tenang.
"Darimana Om tahu kalau orang tua Ozora sanggup membayar tebusan?" tanya Ozora lagi dengan santai.
"Kamu itu terkenal, tentu saja aku menyelidikimu. Untuk apa aku berkenalan denganmu kalau bukan untuk mendekatimu? Kamu putra satu-satunya Raffa bukan? mantan suami dari Jessica, model yang sudah tidak laku itu?" ucap Chicco terlihat emosi.
"Om kenal dengan papa dan Tante Jessica?" tanya Ozora.
"Tentu saja kenal, karena om dulu adalah manager-nya Jessica sekaligus mantan pacarnya" ucap Chicco.
"Apa Om Chicco papanya Tita?" tanya Ozora.
Chicco tercenung lalu mengiyakan. Mereka memasuki lingkungan apartemen yang tidak mewah. Memarkirkan mobilnya di parkiran lalu membawa Ozora masuk ke dalam apartemen. Sesampainya di sana, Ozora di masukkan ke dalam sebuah kamar.
"Om, Ozora nggak bakalan melarikan diri. Kenapa harus di kunci di kamar?" tanya Ozora.
"Karena kamu berisik, aku pusing mendengar omonganmu" ucap Chicco.
"Padahal jika Om mau bekerja, Tante Jessica pasti mau menolong Om. Tante Jessica membuka sekolah modeling dan membutuhkan banyak pekerja. Sekarang saja masih buka lowongan" ucap Ozora menghentikan langkah Chicco keluar dari kamar.
"Benarkah? darimana kamu tahu?" tanya Chicco terpancing ucapan Ozora.
"Acara yang ramai tadi adalah grand opening sekolah modelingnya. Tante Jessica dan Tita juga ada di sana" ucap Ozora.
"Benarkah? jika aku melamar pekerjaan aku bisa di terima di sana?" tanya Chicco terpancing.
"Tentu, Ozora bisa merekomendasikan Om" ucap Ozora.
"Aaahh, mana mungkin, kamu pasti ingin menipuku iyakan?" ucap Chicco.
"Perusahaan keluarga Tante Jessica juga Ozora yang bantu selamatkan. Asalkan mau bekerja dengan sungguh-sungguh, Ozora bisa bantu mencari jalan keluarnya. Ozora punya banyak kenalan top level management dari berbagai bidang usaha" ucap Ozora lagi.
"Benarkah? kamu tidak akan menipuku?" tanya Chicco sambil melihat-lihat ke bawah melalui kaca jendela apartemennya.
Laki-laki itu takut jika ada yang mengikuti atau berhasil menemukan tempat persembunyian mereka. Chicco beralih menatap mata Ozora, setengah hatinya percaya pada ucapan anak itu namun setengahnya lagi masih ragu.
Setelah apa yang diperbuatnya pada Ozora, laki-laki itu takut Ozora akan menjebaknya dan menjebloskannya ke penjara.
"Om Chicco takut Ozora akan menjebak Om? nggak mungkin Om. Tita adalah saudari Ozora dan Ozora sangat sayang padanya. Jika Ozora menjebloskan om ke penjara, Tita pasti sedih dan benci sama Ozora" ucap Ozora sambil menggeleng.
Chicco terduduk, tertunduk sambil menarik rambutnya. Laki-laki itu menangis frustrasi, semua usaha yang dicobanya gagal. Mencoba berbisnis dengan kenalannya berakhir dengan ditipu.
Chicco tidak punya apa-apa lagi, satu-satunya keahlian laki-laki itu hanyalah menjadi manager artis namun sekarang tak ada satupun artis atau model yang memakai jasanya.
Membuat laki-laki itu terlunta-lunta hingga di tinggal oleh anak dan istrinya. Mencoba mendekati wanita-wanita kaya namun mereka tidak mudah ditipu lagi. Dengan penampilan Chicco yang berantakan tak terurus, mereka tidak percaya kalau Chicco adalah seorang CEO.
Menurut Chicco, posisi sebagai CEO adalah posisi yang memudahkannya menipu wanita-wanita kaya karena kebanyakan wanita sangat menginginkan seorang pasangan suami yang sukses namun sekarang Chicco tak lagi memiliki modal untuk berpenampilan layaknya CEO sukses, membuat laki-laki itu kehilangan akal.
Saat mendengar seorang anak jenius yang bergaul dengan banyak eksekutif, membantu menyelesaikan masalah perusahaan mereka. Chicco merasa tertarik untuk mengenal Ozora. Berkenalan lewat internet dan konsultasi tentang perusahaan fiktifnya.
__ADS_1
Ozora terlihat bersemangat membantu hingga ingin berkunjung ke perusahaan milik Chicco. Laki-laki itu kebingungan, perusahan yang disebutnya tidak pernah ada. Pikirannya buntu hingga akhirnya terpikir untuk menculik Ozora dan meminta tebusan.
"Kalau Om menculik Ozora untuk minta tebusan. Selamanya Om Chicco akan menjadi penjahat, hidup Om tidak akan tenang. Selamanya akan dibayangi oleh rasa takut tertangkap, seperti sekarang ini" ucap Ozora yang menyindir Chicco yang bolak-balik menatap keluar jendela.
"Apa yang harus aku lakukan, sekarang aku telah terlanjur menculikmu. Keluargamu pasti sudah melaporkanku ke polisi" ucap Chicco.
"Belum, karena polisi hanya menerima laporan orang hilang setelah lebih dari 24 jam" ucap Ozora terlihat santai ikut melihat ke jendela.
"Tapi tadi ibumu melihatku membawamu artinya dia melihat aku menculikmu" ucap Chicco yang kembali terlihat panik.
"Tapi Ozora pergi tanpa berteriak, bisa saja Om mengajak Ozora jalan-jalan kan?" tanya Ozora.
"Kamu biasa pergi tanpa minta izin?" tanya Chicco.
"Tidak, Ozora selalu meminta izin, itu yang selalu diajarkan mama. Tapi pasti ada kejadian yang membuat orang melanggar aturan demi sesuatu yang mendesak bukan?" tanya Ozora.
"Kamu serius mau membantuku?" tanya Chicco.
Ozora mengangguk pasti sambil tersenyum, anak itu membuka jasnya dengan santai lalu merebahkan diri, bertumpu dengan kedua tangannya di kepala.
"Baiklah akan aku pikirkan?" ucap Chicco lalu duduk di sofa sambil memandang anak kecil tampan yang jenius itu.
Sementara itu Raffa panik kehilangan jejak, tidak terlihat selintas pun mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan Celina. Raffa memutuskan memakirkan mobilnya, keluar dari mobilnya yang tiba-tiba membuatnya terasa pengap. Lalu bersandar pada atap sedan sport itu.
Kevin berhenti dan langsung menghampiri, begitu mendengar ucapan Celina, laki-laki itu langsung mengambil mobilnya dan melaju mengejar di belakang mobil Raffa.
"Kita kehilangan jejak, saat kita terjebak macet laki-laki itu melaju kencang atau mungkin berbelok kearah lain" tanya Kevin.
Raffa menatap Kevin, memikirkan kemungkinan yang diucapkan laki-laki itu.
"Bisa saja berbelok di suatu tempat, saat terbebas macet aku juga melaju kencang tapi aku tidak melihatnya" ucap Raffa.
"Daerah ini tidak ada pemukiman Raffa, ini menuju pusat kota, yang ada hanya perkantoran" ucap Kevin.
Mereka melihat ke sekeliling, mengitari pandangan mata mereka ke segala arah. Wajah Raffa terlihat semakin panik, Kevin mencoba menenangkannya.
"Aku ingat ada pemukiman sebelumnya, sudah terlewati" ucap Raffa mengingat sesuatu.
"Seperti lingkungan apartemen bukan? rasanya aku melihatnya tapi jauh kedalam, memasuki sebuah jalan yang sudah kita lewati" ucap Kevin juga teringat sesuatu.
Kevin mengikuti hingga akhirnya menemukan jalan yang di maksud. Bersama mereka melajukan mobil dengan kecepatan rendah. Melihat ke kanan dan ke kiri.
"Kita menyebar" ucap Kevin tiba-tiba telah mensejajarkan mobilnya.
Raffa mengangguk, mereka pun menyebar memilih jalan berbeda. Berhenti di sebuah pos keamanan untuk memasuki area apartemen. Raffa menghentikan mobilnya dan menanyakan mobil dengan ciri-ciri yang dicarinya.
"Ada pak, ada beberapa penghuni yang memiliki mobil seperti itu. Ada apa pak?" ucap penjaga pos keamanan.
"Yang belum lama ini masuk kemari, apa ada?" tanya Raffa semakin penasaran.
"Ada pak barusan, ada apa ya pak?" tanya bapak itu lagi karena Raffa belum menjawab pertanyaannya.
"Kami satu rombongan tapi terpisah" ucap Raffa
"Coba hubungi saja pak" tanya bapak itu lagi.
Raffa sengaja tidak mengungkapkan niatnya mencari Chicco karena takut bapak penjaga pos keamanan itu tidak percaya atau bahkan telah menjadi komplotan Chicco.
"Saya tidak bisa menghubunginya pak, sepertinya ponselnya mati" ucap Raffa berharap bapak itu percaya.
"Kalau begitu bapak tunggu dia menghubungi, saya tidak bisa mengizinkan sembarangan orang masuk ke wilayah ini. Jika bapak tidak bisa menyebutkan orang yang bapak maksud" ucap bapak penjaga.
"Namanya Chicco" ucap Raffa akhirnya.
"Oh pak Chicco, sebentar ya pak saya hubungi dulu" ucap pak penjaga.
"Tidak usah pak, kami ini berteman tapi tadi terpisah karena terjebak macet" ucap Raffa berdalih.
"Nggak apa-apa pak, saya harus memastikan dulu karena pernah ada kejadian di apartemen ini, mengaku saudara pada penjaga lalu dibiarkan masuk. Ternyata mereka justru menguras habis isi apartemen yang di maksud. Jika bapak memang berteman dan pak Chicco sedang menunggu, maka bapak saya izinkan masuk" ucap pak penjaga.
"Baiklah saya coba hubungi lagi" ucap Raffa langsung bergerak menuju mobilnya dan menghubungi Kevin.
"Aku tidak diijinkan masuk, tapi Chicco benar-benar ada di apartemen ini" ucap Raffa
__ADS_1
"Benarkah? aku juga tidak diizinkan masuk. Tempat ini di jaga ketat apa yang harus kita lakukan? menunggu? atau memanggil polisi?" tanya Kevin.
Mereka akhirnya bertemu di jalan besar.
"Chicco ada di apartemen bagian barat, aku tidak diizinkan masuk. Penjaga pos harus menghubungi Chicco jika ingin masuk" cerita Raffa.
"Nanti malam kita masuk saat pergantian penjaga" usul Kevin.
"Tapi kita tidak tahu gedung mana dan nomor berapa? kalau aku bertanya bapak itu memintaku untuk menghubungi Chicco. Mana mungkin Chicco mau memberi tahu" ucap Raffa.
"Nanti kita pura-pura datang untuk berpesta di apartemennya kita bilang kalau kita di undang. Kamu hubungi aku, lalu aku akan berpura-pura menjadi Chicco dan membiarkan penjaga membukakan portal. Begitu juga sebaliknya saat kamu akan masuk aku akan menghubungimu dan meminta penjaga membukakan portal untukmu. Kita cari tanpa tanpa menanyakan alamatnya, jika bertanya penjaga itu akan curiga kita tidak mengenal Chicco" usul Kevin.
"Bagaimana cara kita mencarinya?" tanya Raffa.
"Terpaksa bertanya pada penghuni apartemen atau kamu ada ide lain?" tanya Kevin.
"Aku benar-benar buntu, aku tidak tahu bagaimana menceritakan ini pada Celina. Aku tidak sanggup melihatnya menangis, dia pasti berharap aku sudah menemukan anak kami" ucap Raffa sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku yang akan menjelaskan padanya rencana kita nanti malam" ucap Kevin.
Raffa akhirnya setuju, benar apa yang dikatakan Kevin, Celina menangis saat melihat Raffa dan Kevin pulang tanpa membawa Ozora. Acara grand opening itu diwarnai kesedihan. Jessica merasa sangat bersalah terutama pada Celina yang selalu membantunya bangkit dari keterpurukan.
Setelah acara selesai Kevin menjelaskan semua rencana mereka nanti malam.
"Kamu tidak mengenali tempat itu?" tanya Raffa pada Jessica.
"Maaf aku tidak pernah tinggal disana, dulu kami memang hidup seperti itu. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Berhutang dari satu orang ke orang yang lain. Kami kabur dari apartemen setelah pemiliknya mengancam akan mengusir, sebelum itu terjadi maka kami memutuskan pergi duluan" ucap Jessica menceritakan masa lalunya bersama Chicco.
Celina menutup wajahnya dengan kedua matanya, gadis itu tidak pernah bisa membayangkan putranya di sekap orang lain.
"Kita tunggu apa maksud Chicco menculik Ozora" ucap Kevin.
"Lakukan apa yang dia inginkan kak, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Ozora. Ikuti saja apa maunya" pinta Celina pada Raffa.
Laki-laki itu mengangguk sambil merangkul istrinya. Celina menyesal tidak menjaga putranya dengan baik. Semua orang menghiburnya, tidak ada yang menyangka ada orang yang tega menculik Ozora.
Sementara itu Ozora masih berusaha meyakinkan Chicco. Laki-laki yang masih terlihat takut itu selalu melihat-lihat ke jendela. Akhirnya Ozora juga ikut duduk di pinggir jendela sambil menatap jalanan komplek apartemen.
"Jangan duduk di situ, nanti kamu berteriak" ucap Chicco panik lalu mendorong Ozora menjauh dari jendela.
"Tidak akan terdengar, kalau tidak percaya coba saja" ucap Ozora.
"Coba? gimana mencobanya?" tanya Chicco.
"Gampang, Om Chicco turun ke bawah, saya berteriak di atas. Bisa kedengaran atau nggak?" ucap Ozora.
"Baiklah, aku akan turun ke bawah lalu kamu coba berteriak dari situ" ucap Chicco bersiap membuka pintu.
"Dari mana aku tahu kalau kamu berteriak, nanti kamu cuma pura-pura berteriak tapi tidak bersuara" ucap Chicco baru teringat akan hal itu.
Chicco merasa kalau Ozora akan mencoba membohonginya.
"Berikan satu ponsel untuk Ozora, Om Chicco juga bisa mendengar teriakan Ozora melalui ponsel" ucap Ozora.
"Hahaha.. kamu kira ponsel ini ada pulsanya hingga bisa menelpon keluargamu? ini pakai yang ini? aku yang akan menelpon dari bawah sana" ucap Chicco yang tak mau dibohongi.
Ozora melihat ada ponsel murah lainnya, anak itu hanya menggelengkan kepala. Seorang penipu memang selalu menggunakan banyak nomor ponsel. Chicco pun keluar dengan percaya diri.
Ozora mengirim pesan SMS pada ayahnya, fasilitas penerima pesan yang membayar sama sekali tidak diketahui Chicco. Dengan cepat anak itu mengirimkan lokasi dan ciri-ciri jalan yang bisa dilihatnya dari atas apartemen.
Ozora tidak lupa menghapus kembali semua pesan yang telah dikirimnya. Dan berharap ayahnya mau membaca pesan darinya. Terlihat Chicco yang telah sampai di jalan depan apartemen. Laki-laki itu langsung menelpon Ozora, anak itu langsung menerima panggilan telepon itu.
"Ayo teriak sekarang yang sekeras-kerasnya" ucap Chicco.
Ozora berteriak melalui ponsel dan melambaikan tangannya sambil melompat riang memanggil Chicco. Dan memang, saking kerasnya suara Ozora, Chicco sampai menjauhkan ponsel dari telinganya, namun tak terdengar suara Ozora dari bawah situ.
Anak itu ternyata benar, dari sini sama sekali tidak terdengar suaranya, batin Chicco.
"Gimana? kedengaran ya?" tanya Ozora pada Chicco yang telah kembali ke kamar apartemen.
"Nggak" ucap Chicco singkat lalu mengambil kembali ponsel dari tangan Ozora.
Chicco memeriksa ponselnya, setelah yakin tidak terjadi apapun laki-laki itu meletakkannya diatas meja. Ozora tersenyum manis.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...