Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 99 ~ Rahasiakan ~


__ADS_3

Begitu sampai di rumah Celina langsung masuk ke kamar dan menangis di situ. Olivia yang ditinggalkannya begitu saja langsung di sambut senyum oleh Ozora. Anak laki-laki tampan itu mengerti suasana hati ibunya. Segera mengajak Olivia untuk bermain sambil belajar.


Saat memberikan informasi tentang ibu kandung Olivia, Ozora merasa getar suara ibunya berubah. Anak itu langsung mengerti kalau ibunya pasti terguncang. Begitu mobil ibunya masuk pekarangan, Ozora langsung menunggu, dan benar ibunya terlihat sangat terguncang dengan matanya yang telah memerah.


Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus beritahu Livia kalau ibunya telah meninggal? Apa akan baik-baik saja jika aku menyimpannya menjadi rahasia. Olivia mungkin akan membenciku kalau dia tahu aku tidak jujur padanya, tapi memberi tahu padanya dengan umurnya yang masih kecil ini rasanya tidak tega, jerit hati Celina sambil menelungkup di atas ranjangnya.


Seharian Celina hanya duduk di depan jendela kamarnya. Tak ingin melakukan apa pun, apalagi jika harus bertemu dengan Olivia. Hatinya akan terasa sedih dan bingung jika anak itu menatapnya. Hatinya akan meronta, bicara atau diam. Pelayan bahkan mengantarkan makanan untuk makan siangnya di kamar.


Ozora bertugas menggantikan ibunya menemani Olivia makan siang. Anak itu akan bertanya-tanya jika tiba-tiba Celina berubah dan merasa menjauh darinya. Hal yang ditakutkan jika tiba-tiba Olivia merasa tidak betah dan meminta untuk kembali bersama ibunya.


"Habis ini Olivia mau belajar lagi?" tanya Ozora.


Gadis kecil yang cantik itu langsung mengangguk. Usia mereka tak terpaut jauh tapi Olivia seperti gadis kecil di samping Ozora yang bertingkah seperti laki-laki dewasa. Ditambah lagi tubuh Ozora berkembang pesat hingga seperti seorang pemuda tanggung. Bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa di universitas membuat gaya Ozora berubah seperti seorang mahasiswa. Terlihat cepat dewasa, hanya saja saat bercanda, asifat anak-anaknya muncul.


"Olivia belajar dengan Ozora?" tanya Rowenna.


"Ya Grandma, kami belajar bersama," jawab Ozora.


"Mama kamu di mana? Apa tidak turun untuk makan siang?" tanya Rowenna pada Ozora.


"Sepertinya nggak enak badan Grandma, Mama minta makan siangnya diantar ke kamar," jelas Ozora.


"Mungkin ... Tante marah sama Livia," ucap gadis itu tertunduk.


"Marah kenapa?" tanya Rowenna.

__ADS_1


"Marah karena ... Livia nggak pinter Grandma," ucap gadis kecil itu lalu kembali tertunduk.


"Masa seperti itu?" tanya Rowenna.


"Ya Grandma, Tante Celina udah capek ajarin Livia tapi tetap tak sepintar Ozora," jelas Olivia bersedih.


"Oh ... Tante Celina tak akan marah kalau masalah itu. Seperti apa pun kamu belajar, tak akan bisa menyamai Ozora. Kecerdasan Ozora itu tak bisa dibandingkan dengan anak-anak seusia kamu. Ozora itu berbeda, hanya takdir yang bisa membuat mereka miliki kecerdasan seperti itu. Tante Celina sangat mengerti dan tak akan marah jika kamu tak bisa menyamai Ozora. Tante Celina itu sayang sama anak kecil. Tak ada yang dibedakannya. Mau cerdas atau nggak, tak akan marah kalau menyangkut masalah itu," jelas Rowenna panjang lebar.


Gadis kecil yang telah merah hidung dan sekeliling matanya itu kembali tersenyum. Ny. Rowenna memintanya kembali melanjutkan makannya. Ozora tersenyum mengangguk untuk memberi semangat.


"Kalau begitu Olivia makan yang banyak karena makanan juga mengandung gizi untuk menambah kecerdasan," ucap Rowenna membujuk.


Dengan cepat Olivia melahap makanannya. Gadis itu memang sangat kagum pada kecerdasan Ozora, setiap postingan Ozora di media sosial sejak masih bayi hingga remaja telah di tontonannya. Olivia sangat kagum dengan cara Ozora mengajak anak-anak untuk bermain sambil belajar.


Tak terasa seperti sedang belajar tapi Ozora telah mampu membuat anak-anak mengerti tentang apa yang sedang dibahasnya. Video-video pembelajaran itu selalu tersimpan dalam ponsel Olivia dan kali ini dirinya bertemu langsung dengan orang aslinya. Olivia semakin kagum pada Ozora.


"Ozora ... nanti kalau kembali ke luar negeri, jangan lupakan Livia ya," ucap gadis kecil yang cantik itu.


Ozora tersenyum. "Nggak mungkin lupa lah, 'kan kita bisa tetap belajar secara online. Nanti kita atur jadwalnya, karena waktu di sini dan di sana itu berbeda," jelas Ozora sambil menyelimuti Olivia.


"Kalau Livia udah gede, Livia mau susul Ozora ke luar negeri," ucap gadis itu lalu bangkit mengecup pipi Ozora yang duduk di samping ranjangnya.


Ozora tersenyum, dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Meski berniat menetap di Indonesia tapi perusahaan milik ibunya di New York juga sangat mengharapkannya. Anak laki-laki itu mengangguk dengan harapan hal itu bisa memacu semangat Olivia untuk belajar lebih giat.


Sementara itu Raffa pulang lebih cepat, saat menelepon istrinya di jam makan siang, Celina tak menjawab teleponnya. Laki-laki itu langsung menelpon putranya, Ozora pun menjelaskan keadaan ibunya.

__ADS_1


Begitu pekerjaannya selesai, Raffa langsung memacu mobilnya menuju kediamannya. Segera naik ke lantai atas untuk menemui istrinya di kamar. Celina terlihat tertidur di depan jendela bertumpu pada kedua lengannya yang berlipat di atas jendela.


Menangis sampai lelah, makan siangnya pun tak di sentuh, batin Raffa.


Raffa menggendong istrinya pelan-pelan lalu membaringkannya di ranjang. Celina yang merasa ada gerakan langsung terbangun dan menatap sendu ke arah suaminya. Raffa membelai rambut istrinya yang terlihat letih menangis.


"Kenapa tidur di depan jendela, nanti tubuhmu pegal-pegal," bisik laki-kaki itu.


Celina hanya diam menatap suaminya. "Bagaimana ini Kak, Livia--"


"Jangan dipikirkan, ini semua sudah takdir tak ada yang bisa mengelak dari takdir. Ajal Felicia memang sudah sampai di situ. Beruntung sebelum dia pergi, putrinya telah dititipkan padamu karena dia tahu kamu wanita yang baik. Bisa menyayangi putrinya, mungkin itu ... adalah keputusan terbaik yang pernah diambilnya untuk putrinya," jelas Raffa.


Celina langsung bangkit dan memeluk suaminya. Wanita itu kembali menangis tersedu-sedu. Raffa membelai rambut istrinya dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.


"Dari mana Kakak tahu tentang Felicia?" tanya Celina dengan suara serak.


"Tadi Kakak nelpon kamu waktu makan siang tapi nggak dijawab-jawab. Kakak langsung nelpon Ozora, dia yang jelaskan semua. Kakak juga buru-buru pulang karena khawatir sama kamu," jelas Raffa sambil memeluk istrinya erat.


"Apa yang harus kita lakukan? Apa cerita pada Olivia?" tanya Celina lagi.


"Untuk sementara jangan dulu, dia tahu kalau ibunya suka bepergian. Biarlah dia merasa kalau ibunya bahagia dengan wisata jalan-jalannya. Nanti kalau Livia sudah merasa kita adalah orang-orang yang menyayanginya dan umurnya sudah cukup mampu untuk menerima kenyataan, kita jelaskan pada Livia kejadian yang sesungguhnya," jawab Raffa.


"Baiklah Kak. Aku lega sekarang, aku beruntung memiliki suami seperti Kakak. Bisa mencarikan solusi untukku," ucap Celina lalu melepaskan pelukannya untuk menatap suaminya.


"Kalau untuk urusan bisnis jangan ragukan aku, tapi untuk masalah kehidupan, aku justru belajar darimu. Sebenarnya kamu lebih hebat dariku, perjalanan hidupmu berliku-liku. Banyak pengalaman dan juga mampu mencarikan solusi tapi berhubung saat ini menyangkut dirimu sendiri. Makanya kamu jadi buntu takut salah mengambil keputusan. Tenanglah ... Kita tidak akan menyembunyikan kenyataan pada Olivia tapi hanya menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu. Semua itu demi kebaikannya sendiri," jelas Raffa sambil menangkup wajah istrinya.

__ADS_1


Celina mengangguk dan berjanji dalam hati akan memberikan kasih sayang yang cukup untuk Olivia karena dia sendiri pernah merasakan hidup sendiri tanpa kedua orang tua. Kasih sayang dari orang sekitar sangat diperlukan untuk tetap bertahan menjalani hidup hingga akhirnya mampu berdiri sendiri.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2