
Celina menata barang-barangnya dimobil, pada saat Kevin pulang dari kantornya. Kevin sangat terkejut melihat kedatangan Celina. Kevin memeluk Celina, laki-laki itu sangat merindukannya. Kevin masih belum bisa melupakan Celina, laki-laki itu juga masih mencintainya.
Kevin frustrasi karena belum rela melepaskan Celina, laki-laki itu memaksa untuk mencium istri sahabatnya itu. Hal itu disaksikan oleh Keira yang kebetulan datang untuk mengunjungi Kevin, mendapat suguhan adegan mesra itu membuat hatinya terasa sakit.
Keira memaklumi cinta Kevin yang belum berakhir terhadap Celina. Namun Keira mengira bahwa Celina masih menyimpan rasa pada Kevin meskipun telah menikahi Raffa. Keira sakit hati, mengambil foto mereka dan mengirimkannya pada Raffa. Meski segera menghapusnya namun Raffa terlanjur membuka kiriman foto darinya.
Celina memasuki kediaman keluarga Saltano, memakirkan mobilnya di garasi besar milik keluarga itu. Celina belum melihat mobil Raffa terparkir disitu. Satu persatu menurunkan barang-barang miliknya dan membawanya masuk kedalam kamarnya.
Celina mengetuk pintu kamar Tita, gadis kecil itu sedang belajar bersama Ozora, putranya itu membantu Tita mengerjakan tugas sekolahnya. Kedua anak itu langsung memeluk Celina, gadis itu langsung mencium keduanya secara bergantian.
"Papa belum pulang sayang ? " tanya Celina pada Ozora.
"Belum ma" jawab Ozora singkat.
Sama seperti Celina, jika pulang kerumah suaminya akan langsung menemui anak-anaknya. Hari ini mereka belum ditemui papanya. Celina melihat jam tangannya, Raffa tak biasanya pulang telat seperti ini. Begitu habis jam kerja laki-laki itu akan langsung pulang menemui keluarganya. Bermain bersama, makan malam bersama atau bahkan tidur bersama.
Celina membelai rambut kedua anak itu kemudian berlalu kembali ke kamarnya. Berdiri dibalkon, menatap kosong ke taman samping kediaman Saltano yang sangat luas itu. Entah kenapa perasaannya terasa risau, setelah apa yang terjadi tadi, Celina merasa bersalah. Meski dia sendiri tidak menginginkannya namun apa yang dilakukan Kevin mempengaruhi suasana hatinya.
Melewati tengah malam Raffa masih belum pulang, hingga akhirnya terdengar bunyi ponsel bergetar. David menelpon, memberitahukan kalau mereka berada di teras rumah dan Raffa dalam keadaan mabuk.
"Apa yang terjadi pak David, kenapa tuan Raffa bisa mabuk ?" tanya Celina sesaat setelah David membaringkan tubuh Raffa di ranjang.
"Persisnya saya tidak tau nyonya tapi, tuan Raffa sepertinya sedang bersedih. Sore tadi, setelah sekian lama sikapnya tidak seperti itu sekarang muncul kembali" ucap David seperti ragu-ragu.
"Apa itu ? sikap seperti apa ? " tanya Celina ingin tau lebih banyak tentang sifat suaminya.
"Tuan Raffa membanting ponselnya hingga hancur berantakan, jika sudah seperti itu biasanya telah terjadi sesuatu dan tuan Raffa pasti sedang merasa kesal" cerita David.
"Apakah Pak David tau, apa sebabnya tuan Raffa seperti itu?" tanya Celina.
"Maaf nyonya, saya tidak tau. Tuan Raffa belum cerita apapun" ucap David.
"Baiklah, terima kasih banyak telah mengantarkan tuan Raffa pulang" ucap Celina.
David pun pamit pulang, Celina segera kembali ke kamarnya. Terlihat Raffa yang tertidur, hal yang paling tidak disukainya. Melihat seorang laki-laki mabuk, dan sekarang justru sedang menatap suaminya yang sedang dalam pengaruh alkohol itu. Celina membersihkan tubuh suaminya dan membiarkan laki-laki itu beristirahat.
Keesokan paginya, Celina menyiapkan air hangat untuk suaminya. Seperti biasa menyiapkan pakaian kerja Raffa, menaruhnya berjejer diatas ranjang kemudian ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua.
Meskipun dirumah itu begitu banyak pelayan, namun untuk makanan Celina menyiapkan sendiri menunya. Khusus untuk Raffa Celina menyiapkan susu agar stamina suaminya lebih terjaga apalagi semalam telah pulang larut malam dan dalam keadaan mabuk.
"Kakak sudah bangun, kakak mau mandi sekarang ? air hangatnya sudah aku siapkan" ucap Celina menyapa Raffa.
Namun laki-laki itu hanya diam, langsung melangkah menuju kamar mandi. Celina tercenung, ada yang aneh dengan sikap suaminya. Sementara menunggu Raffa mandi, Celina menyiapkan Tita yang harus berangkat ke sekolah. Setelah gadis kecil itu siap untuk berangkat, Celina kembali ke kamar ingin melihat kesiapan suaminya.
Namun Celina merasa heran, Raffa tidak mengenakan pakaian yang telah siapkannya. Pakaian yang telah dipilihnya masih berjejer rapi di atas ranjang.
"Kalau aku tau kakak ingin mengenakan setelan itu aku akan menyiapkannya tadi" ucap Celina sambil tersenyum pahit.
Meski merasa aneh dengan sikap Raffa namun Celina mencoba untuk bersikap wajar. Meski didadanya terasa sakit namun gadis itu selalu mencoba untuk tetap tersenyum.
Namun seperti tadi, tak ada respon dari Raffa, laki-laki itu hanya sibuk menyiapkan dirinya sendiri, mengabaikan ucapan-ucapan Celina. Lalu melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Jantung Celina berdetak nyeri, gadis itu merasa telah terjadi sesuatu. Raffa tidak pernah sediam itu, biasanya dia yang akan selalu menggoda Celina.
Laki-laki itu langsung melangkah keruang makan, duduk bersama dengan keluarga besar lainnya. Celina menyusul, segera melayani suaminya. Menyiapkan sandwich dan omelette dihadapan Raffa begitu juga dengan susunya.
Namun Raffa tak menyentuh apapun yang ada dihadapannya, laki-laki itu justru mengambil roti yang baru dan mengoles sendiri selainya, lalu memilih untuk meminum air putih.
Ny. Rowenna heran dengan sikap Raffa, semua orang heran melihat sikap laki-laki itu. Tanpa bicara sedikitpun laki-laki itu segera bergegas pergi. Di teras Celina terdiam tertunduk saat laki-laki itu pergi tanpa terdengar suaranya sedikitpun.
Dadanya terasa perih diabaikan seperti itu, lama gadis itu berdiri di teras rumah meskipun mobil yang membawa Raffa telah berlalu, gadis itu masih termenung menatap kosong pagar besar dimana mobil suaminya berlalu.
Celina masuk kedalam rumah bersikap seperti biasanya Celina berusaha untuk bersikap wajar, dia tidak ingin kedua orang tua itu tau telah terjadi masalah dalam rumah tangganya.
__ADS_1
Celina pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya di toko buku. Selama diperjalanan ke kantor gadis itu bertanya-tanya apa yang menyebabkan perubahan sikap suaminya. Tak ada orang yang bisa bersikap biasa jika sudah terjadi seperti itu.
Mau tidak mau sikap gadis itu menjadi murung, tak ada orang yang tahan diabaikan. Apalagi itu berasal dari laki-laki yang dicintainya. Dikantor gadis itu menangis sendiri, setelah menemui karyawan-karyawannya menunaikan tugas sebagai atasan, gadis itu akan menangis terisak seorang diri.
Begitulah sikap Raffa setiap hari dan telah berlalu selama tiga hari ini. Celina tidak tahan lagi, gadis itu ingin tau apa yang menyebabkan sikap Raffa berubah padanya.
Berdiam diri saja tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Celina memilih untuk membahas apa yang terjadi diantara mereka. Meski dia harus menghadapi kemarahan Raffa.
"Kak tunggu, kita harus bicara" ucap Celina sebelum laki-laki itu keluar dari kamar.
Tapi Raffa justru menepis tangan Celina.
"Kak, jika aku bersalah katakan padaku apa salahku, jangan diamkan aku seperti ini.
Kak Raffa tidak mau menyentuh apapun yang aku siapkan untukmu, kenapa ? apa salahku ? katakan padaku" ucap Celina memegang tangan Raffa, air matanya telah mengalir deras.
Sama seperti kemarin-kemarin, Raffa hanya menepis tangan Celina kemudian berlalu, berangkat ke kantornya tanpa bicara sepatah katapun. Tinggal Celina yang menangis seorang diri dikamarnya. Hari ini Celina tidak menyiapkan sarapan untuk Raffa lagi.
Apa yang dilakukannya untuk Raffa sia-sia dan Celina tak ingin lagi hal itu terlihat oleh kedua orang tua itu. Celina tidak mengantar Raffa hingga ke teras lagi. Gadis itu hanya berdiri di jendela memandang mobil suaminya pergi berlalu.
Sampai kapan aku harus menunggumu bicara, apa memang kakak sudah tidak mau bicara lagi denganku.
Apa kak Raffa ingin mengakhiri pernikahan kita ?
Apa sudah tidak ada cara lagi untuk memperbaiki semuanya ? batin Celina sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sempit.
Celina melanjutkan kegiatannya meski perasaannya terasa sangat sedih. Tetap berangkat menuju kantornya di toko buku. Menjalankan kewajibannya meski suasana hatinya bersedih.
Hingga sampai dikantornya, termenung sesaat lalu. Keluar dari kantornya, hari ini Celina lebih banyak berada diluar ruangan berkeliling mengamati sekeliling toko dan memberi arahan pada bawahannya. Berdiam diri di ruangannya sendiri akan membuat hatinya semakin terpuruk.
Tak berapa lama kemudian Keira datang dengan wajah murung. Celina mempersilahkan Keira masuk ke kantornya.
"Ada apa Keira, sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu ?" ucap Celina.
"Maafkan aku Celina, aku ingin bertanya padamu apakah rumah tanggamu baik-baik saja ?" tanya Keira.
Celina tertunduk, ada perasaan heran dihatinya. Kenapa tiba-tiba Keira menanyakan keadaan rumah tangganya. Sebenarnya gadis itu tidak ingin mengumbar masalah rumah tangganya pada siapapun.
Tapi Celina juga butuh teman untuk bicara. Setelah menikah gadis itu justru merasa dirinya seorang diri. Menutupi apa yang dilakukan suaminya, membela suaminya jika kedua orang tua itu protes dengan sikapnya. Seorang diri menutupi prahara yang terjadi dirumah tangganya, Celina menitikkan air mata.
"Kak Raffa sepertinya sedang marah padaku, dia tidak mau bicara sedikitpun padaku. Tapi aku akan berusaha bertahan, orang bilang tahun pertama pernikahan itu memang sulit, mungkin aku harus bertahan melalui semua itu" cerita Celina sambil tersenyum pahit.
"Maafkan aku Celina, aku rasa semua itu karena kesalahanku" ucap Keira menyesal.
"Masalah rumah tanggaku tidak ada hubungannya denganmu" jawab Celina.
Keira menggelengkan kepala, gadis itu semakin menitikkan air matanya. Tangisnya semakin menjadi, Celina merasa heran dengan sikap Keira.
"Aku telah mengirimkan foto kalian berdua pada Raffa saat kamu berkunjung kerumah Kevin sore itu" ucap Keira.
Celina terkejut, langsung menutup mulutnya.
Jadi itu sebabnya kak Raffa mengabaikanku, karena perbuatan kak Kevin diketahui olehnya, batin Celina.
Tak terasa air mata Celina meleleh.
"Maafkan aku Celina, aku menyesal. Aku segera menghapusnya tapi tetap saja perasaanku tidak tenang, maafkan aku" ucap Keira menangis.
Celina menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit, berusaha menghibur Keira yang merasa bersalah.
"Aku bersyukur kamu menceritakannya padaku, jika tidak, aku tidak akan tau apa penyebab perubahan sikap suamiku. Jangan khawatir aku akan mencoba mengatasinya" ucap Celina masih tersenyum pahit.
"Jika hanya karena masalah seperti ini rumah tangga kami terguncang. Aku yakin cepat atau lambat semuanya akan berakhir.
__ADS_1
Aku tidak akan membiarkan hal sekecil apapun mempengaruhi rumah tanggaku. Aku akan berusaha untuk mempertahankannya.
Hal-hal seperti ini mungkin akan timbul suatu saat nanti. Jika aku lemah dan kalah hari ini, rumah tangga kami pasti tidak akan bisa dipertahankan" jelas Celina
Keira memeluk Celina, gadis itu sungguh-sungguh merasa menyesal. Akhirnya Keira pun menceritakan semua perbuatannya pada Kevin.
Kevin yang baru tau kalau rumah tangga Celina dan Raffa tengah terguncang, segera menghubungi Raffa, meminta untuk bertemu.
"Ini bukan salah Celina, aku yang salah. Aku yang tak bisa menahan diri" ucap Kevin saat menemui Raffa di sebuah bar.
Karena Raffa selalu menghabiskan waktunya di bar itu hingga larut malam. Kemudian pulang diantar David, dan langsung tertidur. Raffa sudah tidak sanggup menghadapi perasaan cemburunya. Sakit hatinya tak ingin dirasakannya, melarikan diri dengan menjadikan minuman keras sebagai solusi pelarian dirinya.
Beruntung David selalu menemani, meski laki-laki itu tidak memintanya. Diam-diam dia selalu ada di sekitar Raffa. Menjaga hal yang lebih buruk terjadi pada atasan sekaligus sahabatnya itu.
Saat mabuk Raffa kadang akan lupa diri, mengira wanita lain adalah istrinya. Saat mabuk Raffa justru berkeluh kesah melampiaskan isi hatinya pada wanita yang justru belum dikenalnya. David tak ingin hal itu dimanfaatkan wanita-wanita itu untuk menjeratnya.
Bagaimanapun juga Raffa seorang CEO yang tampan incaran para wanita yang ingin menikmati hidup mewah. David akan selalu siap mengusir wanita-wanita yang mencoba mengusik rumah tangga Raffa, yang mencoba mendekatinya untuk menghancurkan rumah tangganya.
"Kamu masih mencintainya ?" tanya Raffa singkat.
"Aku rasa aku masih mencintainya, tapi tolong jangan salahkan dia. Ini semua salahku, aku mendengar dari Keira kalau dia mengirimkan foto kami padamu. Jangan salah paham pada Celina dia tidak bersalah" jelas Kevin.
Raffa tertawa tertahan.
"Kamu masih menginginkannya ?" tanya Raffa.
"Apa maksudmu berkata seperti itu" ucap Kevin.
"Jika kalian memang saling mencintai, aku akan mengalah. Aku merasa letih, mempertahankan cintaku padanya" ucap Raffa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan bicara seperti itu, pikirkan Celina, dia yang lebih letih Raffa. Dia mencintaimu sejak awal kalian bertemu, meski bersikap baik padaku namun dihatinya hanya ada dirimu. Lebih dari tujuh tahun dia mempertahankan cintanya padamu. Jangan pernah ragukan dia karena perbuatanku" jelas Kevin.
Raffa menatap wajah Kevin ingin mencari kebenaran ucapannya dimata laki-laki itu.
"Jangan membencinya, jangan meragukan cintanya" ucap Kevin memohon Raffa mengerti.
Raffa menatap mata Kevin yang tulus mengucapkan semua itu. Raffa segera bergegas pulang kerumahnya. Mencari istrinya yang telah beberapa hari diabaikannya. Raffa tidak mendapati istrinya di kamar, di dapur, dikamar anak-anaknya lalu kembali ke kamar untuk memeriksa pakaian-pakaiannya, tanpa sengaja Raffa mendengar suara tangis di balkon kamar.
Celina menangis sendiri, dia menanggung kesedihannya seorang diri. Raffa memeluk istrinya dari belakang, Celina langsung berbalik. Menatap Raffa sambil terisak-isak.
"Marahlah padaku, maki aku, tampar wajahku, tapi jangan abaikan aku. Kak Raffa jangan abaikan aku" ucap Celina menangis.
Raffa langsung memeluk istrinya.
"Maafkan aku, aku yang salah paham padamu" ucap Raffa.
Memeluk istrinya erat.
"Harusnya aku ingat seperti apa pengorbananmu karena menungguku, aku bodoh. Kembali kecemburuan membuatku buta, buta betapa besarnya rasa cintamu padaku" ucap Raffa semakin erat memeluk istrinya.
Mencium keningnya lama, Raffa tidak perlu penjelasan istrinya lagi. Laki-laki itu telah mendengar semuanya dari Kevin.
Celina yang mencoba mengingatkan Kevin bahwa dia telah menikah namun Kevin tetap tak bisa menahan perasaannya pada Celina. Semua bukan salah Celina, jika Kevin masih belum bisa melupakannya.
Sementara itu Kevin ingin menemui Keira, setelah memberi penjelasan pada Raffa. Kevin merasa perlu untuk menjelaskan pada Keira. Saat Keira memberitahukan perbuatannya yang mengirimkan foto mereka, Kevin langsung meninggalkannya.
Tak peduli seperti apa perasaan Keira yang melihat betapa besar rasa peduli Kevin pada kebahagiaan Celina. Sakit, ditinggalkan seorang diri tanpa ada yang peduli perasaannya. Itulah yang dirasakan Keira.
Kevin berdiri mematung di depan rumah Keira, merasa bersalah atas perbuatannya. Merasa bersalah karena meninggalkannya begitu saja. Kevin ingin menemui gadis itu namun merasa ragu.
Datang hanya untuk memberi janji palsu padanya atau sungguh-sungguh ingin menjalani hidup bersamanya. Keira hanya diam dikamarnya memandangi Kevin yang berdiri bersandar di mobilnya.
Keira tidak ingin mempengaruhi keputusannya, membiarkan laki-laki itu memutuskan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...