
Pagi ini Edward mengajak Celina mengunjungi makam kedua orang tuanya. Helena Miller dan Robert Miller, mereka di makamkan secara berdampingan. Celina memandang kedua makam itu dengan tatapan sayu, air mata mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.
"Bagaimana ayahku meninggal ?" tanya Celina.
Edward memang belum menceritakan perihal kematian pamannya itu.
"Setelah menyerahkan semua hartanya atas nama mommy. Paman Robert pergi menyendiri tinggal di kota terpencil, hari-harinya dilalui dengan melukis. Semua lukisan dirumah adalah lukisan paman Robert" cerita Edward.
"Ternyata ayahku berbakat melukis ? bukankah dia seorang pengusaha ?" tanya Celina.
"Benar, paman mengambil jurusan manajemen bisnis. Paman seorang yang cerdas, hingga berhasil membangun perusahaannya sendiri, tak ada yang tau mengenai bakat melukisnya. Justru yang menyadari itu adalah mommy" jelas Edward.
"Benarkah ? bagaimana ceritanya ?" ucap Celina sambil menabur bunga di kedua makam itu, lalu duduk disampingnya.
"Saat itu mommy berulang tahun, paman Robert datang kerumah, mereka merayakan ulang tahun mommy seadanya. Daddy, grandma, grandpa memberi hadiah untuk mommy. Paman Robert yang tak tahu kalau hari itu adalah hari ulang tahun mommy tak menyiapkan kado apapun" ucapnya sambil ikut duduk dihadapan Celina.
"Saat bincang-bincang keluarga, paman Robert justru menyendiri. Duduk diruang kerja grandpa, paman Robert malu karena satu-satunya orang yang tidak memberikan kado cuma dirinya" ucap Edward sambil tersenyum.
"Bukankah saat itu ayah tidak mengetahui kalau ibu sedang berulang tahun ? kenapa merasa malu ?" tanya Celina.
"Karena paman memang pemalu, bahkan dengan umurnya yang telah cukup untuk menikah, paman bahkan belum memiliki satupun teman wanita" jelas Edward.
Celina mengangguk.
"Saat itu mommy merasa bersalah karena membiarkan paman Robert duduk seorang diri di ruang kerja grandpa. Mommy diam-diam menghampiri, melihat paman yang sedang menggambar wajah mommy. Saat itu mommy langsung meminta gambar itu sebagai kado ulang tahunnya. Sejak itu paman Robert memiliki percaya diri dengan hasil lukisannya" jelas Edward.
"Saat menyendiri semua objek lukisannya adalah mommy. Para tetangga yang kebetulan melihat lukisan itu berminat untuk membelinya namun paman tak pernah mau menjual lukisan mommy. Paman menawarkan untuk melukis objek lain" jelas Edward.
"Setiap kali selesai melukis paman refreshing dengan mendaki gunung. Hingga suatu saat paman memilih mendaki Gunung Elbrus di Rusia. Malang saat itu gunung Elbrus sedang dilanda kondisi cuaca buruk.
Saat berada diketinggian lebih dari 5.000 meter, paman mengalami kondisi yang sangat sulit, angin kencang, jarak pandang rendah dan suhu di bawah nol.
Tim penyelamat menemukan paman dalam keadaan kehilangan kesadaran dan meninggal saat diturunkan" jelas Edward sambil menghapus air matanya.
Celina menggigit bibirnya menahan tangis, namun air matanya tetap saja mengalir. Edward merangkul gadis itu lalu menyandarkan didadanya. Celina menangis tersedu-sedu.
Celina membelai kedua nisan orang tuanya, menatap sedih pada kedua nisan orang yang baru dikenalnya itu. Setelah puas menyambangi kedua makam itu, mereka berjalan menuruni lokasi pemakaman sambil terus bercerita.
"Saat melihatmu di acara peresmian club philanthropists aku sangat terkejut, aku seperti melihat mommy hidup kembali. Kami tau Celina, gerak gerikmu, senyummu bahkan suaramu sangat mirip dengan mommy" ujar laki-laki itu sambil merapikan helaian rambut Celina yang diterbangkan angin.
"Aku bahagia karena Kevin memperkenalkanmu sebagai tunangannya, aku ingin segera menemui kalian waktu itu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat berkenalan secara resmi, bagaimanapun juga aku harus menyelidikimu.
Tapi insiden itu terjadi, Kevin memukuli seorang laki-laki, saat itu aku langsung tau telah terjadi sebuah drama cinta segitiga.
Aku langsung teringat pada mommy, drama cinta segitiga antar mommy, daddy dan paman Robert. Ternyata terulang lagi. Antara kamu, Kevin dan Raffa" ucap Edward sambil tersenyum memandang adik tirinya itu.
Celina hanya tersenyum simpul, dia tidak bisa mengelak dari kedua orang yang ingin mencurahkan kasih sayang mereka padanya. Celina bahkan sulit untuk memilih, Raffa yang telah menghadiahkan Ozora untuknya atau Kevin yang telah sabar menunggu cintanya.
"Kamu sangat cantik, wajar saja jika direbutkan.
Mungkin kamu heran kenapa tidak langsung menceritakan hubungan kita saat di Indonesia ? itu karena aku merasa kamu tidak akan mudah menerima kenyataan ini.
Siapa yang bisa menerima orang yang tiba-tiba muncul lalu menyatakan dirinya sebagai keluargamu ?" ucap Edward sambil tertawa.
"Karena itu aku mengajakmu kesini, tapi kamu malah menolak. Karena itu aku memutuskan untuk menculikmu. Jangankan mengatakan, hei Celina aku ini kakakmu, kamu percaya kan ? bicara denganmu sebentar saja suamimu sudah menatapku dengan curiga" ucap Edward kembali tertawa.
Celina juga ikut tersenyum, Raffa memang overprotektif dan pencemburu karena sejak awal telah mendapati persaingan dalam mendapatkan hati Celina.
"Kapan aku bisa pulang kak ? aku tidak bisa lama-lama meninggalkan keluargaku. Meski aku sudah menghubungi kak Raffa tapi aku yakin mereka tetap mencemaskanku" tanya Celina.
"Ada hal lain yang ingin aku tunjukkan padamu. Besok aku akan mengajakmu kesana" jelas Edward.
Mereka kembali ke kediaman Miller, disepanjang jalan Edward menceritakan apa-apa saja aset keluarganya yang meliputi rumah, kendaraan, tabungan deposito, saham, perhiasan emas, berlian, semua yang ditinggalkannya ibunya.
__ADS_1
Perjalanan itu juga disempatkan Edward mengunjungi gedung-gedung perusahaannya, rumah dan apartemen. Namun tak sempat mengunjungi villa-villa, bidang tanah yang berupa bukit dan pantai milik keluarga itu.
"Semua harta itu adalah milikmu, paman Robert memberikan perusahaannya dan akhirnya dikelola oleh mommy. Setelah kembali dari Indonesia, mommy mulai menjalani hidupnya, dan daddy pun akhirnya pulang. Namun sayang, daddy pulang dalam keadaan lumpuh, mommy mengurus daddy dengan ikhlas dan penuh pengabdian"
"Mommy mengurus perusahaan sekaligus mengurus daddy, kehidupan yang berat bukan ? namun mommy menjalaninya dengan bahagia kecuali untuk satu hal yang hanya bisa dipendamnya yaitu kehilangan putrinya" ucap Edward.
Celina tertunduk, Edward tersenyum.
"Aku senang bisa menemukanmu dan membawamu kemari" ucap Edward.
Keesokan harinya, mereka pergi ke sebuah bank besar di New York. Setelah sebelumnya mengambil kunci yang tersimpan didalam kotak kayu yang diserahkan Edward kepada Celina.
"Kunci apa ini kak ?" tanya Celina.
"Kunci save deposit box milikmu, mommy mewarisi semua yang berada dikotak itu untukmu" jelas Edward.
Merekapun diantar oleh petugas menuju ruang dimana save deposit box yang selama ini disewa Ny. Helena. Ruang penyimpanan save deposit box yang terletak di bagian dalam itu harus melalui banyak pintu dan lorong untuk bisa sampai ke ruang penyimpanan itu.
Setelah sampai di ruang penyimpanan save deposit box yang dituju, petugas itupun membuka kunci pertama lalu membiarkan mereka sendiri diruangan itu. Merekapun membuka kotak deposit itu.
Berisi dokumen-dokumen kepemilikan aset-aset dan semua harta yang dimiliki Ny. Helena. Berikut surat wasiat yang menunjukkan bahwa semua hartanya diserahkan kepada anak perempuannya Celina.
"Tanda tangani surat itu, dan semuanya akan menjadi milikmu" ucap Edward.
"Kenapa ? kenapa semua diberikan padaku ? bukankah kak Edward putra mommy juga ?" tanya Celina sambil melihat tumpukan dokumen yang tersusun diatas meja diruang keluarga itu.
"Karena semua adalah milik ayahmu, paman Robert. Mommy hanya mengelolanya dan telah mendapatkan hasilnya selama ini" jelas Edward.
"Lalu bagaimana dengan kak Edward, bukankah kakak yang menjalankan perusahaan selama ini ?" tanya Celina.
"Setelah mommy jatuh sakit, aku memang menggantikan mommy memimpin perusahaan itu. Namun tetaplah itu bukan perusahaanku. Sekarang kami sudah menemukanmu, ahli waris yang sesungguhnya. Celina tinggallah disini dan nikmati semua harta milik ayah dan ibumu" ucap Edward.
"Aku tidak bisa, keluargaku berada di Indonesia, kehidupan anak dan suamiku disana. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka demi semua ini ?" tanya Celina.
Celina termangu, sama sekali tidak menyangka Edward membawanya ke New York adalah untuk menyerahkan semua harta yang diwariskan kepadanya dan memintanya untuk menetap di New York.
Tentu saja Celina langsung menolak, namun tuan Albert dan Edward meminta Celina memikirkan terlebih dahulu dengan matang keputusannya.
Apa yang perlu diketahui Celina telah dijelaskan semuanya oleh Edward. Namun Celina belum sanggup untuk memutuskannya. Gadis itu memilih untuk kembali ke Indonesia dan meminta waktu untuk memutuskan semuanya.
Celina sama sekali tidak bisa memutuskan suatu peristiwa yang mendadak diketahuinya. Menggunakan helikopter keluarga Miller, Edward mengantarkan Celina, langsung menuju bandara, disana telah menunggu pesawat pribadi keluarga itu berikut pilot dan co-pilot serta awak kabinnya.
Edward menggenggam tangan Celina sesaat pesawat take off. Gadis itu menoleh dan tersenyum. Sekarang gadis itu baru melihat kemiripan antara kakaknya dan Ozora. Ozora adalah perpaduan antara kakak laki-lakinya dan suaminya. Kakak laki-laki yang selama ini mencarinya.
"Bagaimana kakak bisa yakin kalau aku adalah adikmu ? karena aku sangat mirip dengan mommy belum tentu aku putrinya ? Kak Edward bisa saja mirip dengan Ozora tapi itu juga tidak membuktikan apa-apa, kemiripan tidak menjamin seseorang memiliki hubungan kerabat kan?" tanya Celina masih ragu dengan hubungan kekerabatan mereka.
Edward tertawa menatap wajah tidak percaya adik perempuannya.
"Kenapa kamu memilih tidak percaya ? saat aku menceritakan tentang kami, meskipun berat tapi akhirnya kamu bisa menerima ? kamu mau menerima hubungan darah kita ? karena kamu memang ingin menemukan keluargamu.
Mendambakan keluargamu yang sebenarnya, yang mungkin selama ini hanya bisa kamu khayalkan.
Tapi setelah mendapat kepercayaan memiliki semua harta itu kamu malah meragukan kami" ucap Edward sambil tertawa.
Celina tertunduk, apa yang dikatakan Edward benar. Celina menginginkan keluarganya, dia ingin mengetahui siapa ayah ibunya, ingin mengetahui keluarga besarnya.
Meski tidak mudah, namun akhirnya Celina dapat menerima semua hubungan itu, tapi saat mendapatkan limpahan harta gadis itu justru sulit menerima. Yang dibutuhkannya hanyalah keluarganya, bukan yang lainnya.
Edward meraih tubuh Celina yang tertidur karena kelelahan. Penerbangan yang memakan waktu dua puluh jam lebih itu membuat Celina tertidur. Laki-laki itu meletakkannya dan membiarkan gadis itu tidur dalam pangkuannya.
Mencium kening Celina, sesuatu yang sangat ingin dilakukannya sejak pertama kali melihat Celina. Edward hanya seorang diri, tanpa kakak, tanpa adik. Sangat merindukan hadirnya seorang adik perempuan sejak masih kecil.
Namun kondisi keluarganya tidak memungkinkan untuk mendapatkan itu. Daddy nya lumpuh sejak kembali dari tugas negaranya sementara mommy-nya harus sibuk mengurusi perusahaan dan seluruh keluarganya.
__ADS_1
Edward kecil bertanya pada mommy-nya dari mana datangnya seorang bayi ? sejak itu Ny. Helena mengetahui kalau putranya mendambakan seorang adik. Ny. Helena hanya bisa membacakan dongeng burung bangau yang membawa bayi-bayi keseluruhan dunia.
Dongeng yang berasal negeri Belanda dan Jerman sebelah utara itu menjadi dongeng kesukaan Edward sebagai pengantar tidurnya. Diam-diam Ny. Helena menitikkan air mata setiap kali menceritakan dongeng itu. Penyesalan karena meninggalkan putrinya ditebus dengan air mata setiap kali putranya ingin dibacakan dongeng itu.
Edward hanya bisa mengkhayal suatu saat burung bangau akan singgah dan membawakan bayi kerumahnya seperti dongeng yang selalu diceritakan mommy-nya.
"Burung bangaunya belum datang mommy ?" tanya Edwar kecil saat bangun pagi.
Ny. Helena menggelengkan kepala.
"Belum sayang" ucapnya sambil menyibukkan diri membuatkan sarapan untuk keluarganya.
Titik air matanya segera dihapusnya setiap kali anak laki-laki tampan itu bertanya. Ny. Helena hanya berani berbisik saat Edward telah tertidur.
"Adikmu ada di suatu tempat Edward, maafkan kesalahan mommy" ucap Helena sambil mengecup kening putranya.
Edward mengantar Celina hingga ke pintu gerbang kediaman Saltano. Celina meminta kakak laki-lakinya untuk masuk bersamanya.
"Nanti, setelah kamu memutuskannya, hubungi aku. Aku akan segera datang menemuimu dan keluarga disini" ucap Edward sambil mengecup kening adiknya.
Celina mengangguk, membiarkan Edward pergi. Celina berjalan memasuki halaman luas kediaman Saltano. Perlahan sambil melihat sekeliling taman. Hal yang jarang dilakukan oleh penghuni rumah itu.
Kesibukan membuat mereka datang dan pergi tanpa sempat menikmati keindahan taman yang asri itu.
"Mommy" sapa Celina pada Ny. Rowenna yang sibuk merapikan tanaman bunga mawar dengan gunting taman.
Ny. Rowenna langsung menoleh dan terkejut, sambil meneriakkan Celina pulang, nyonya yang sangat menyayangi Celina itu langsung berlari menghampirinya. Memeluk dan mencium kedua pipi menantunya.
Raffa, Ozora langsung menghambur memeluk Celina. Diiringi Tn. Robby dan Tita, mereka sangat tidak menyangka Celina akan pulang pagi itu.
Ny. Rowenna meminta semua pelayannya menyiapkan sarapan untuk mereka. Celina hanya diam menatap keluarganya satu persatu. Banyak pertanyaan yang dilontarkan padanya. Namun Tn. Robby meminta mereka untuk bersabar, membiarkan Celina menikmati kepulangannya ke rumah.
"Sabar mommy, yang terpenting Celina pulang dengan selamat. Jangan hujani dia dengan pertanyaan-pertanyaan dulu biarkan dia menikmati kepulangannya ke rumah ini" ucap Robby melihat Celina yang kelimpungan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya.
Setelah sarapan, Celina dipersilahkan istirahat di kamarnya. Dan tentu saja, mereka tak membiarkan Celina istirahat seorang diri. Mereka rebahan diranjang, Ozora dan Tita memeluk dari kiri dan kanan, serta suaminya Raffa dibelakang Ozora, semuanya mendekap Celina.
"Aku merindukanmu sayang" ucap Raffa sambil mengecup kening Celina.
"Aku juga, aku merindukanmu kak" ucap Celina meraih dagu suaminya dan mengecup bibir laki-laki itu.
"Kita kasih tau uncle Kev dan auntie Kei ya ma" ucap Ozora.
"Ya, kita undang mereka nanti malam" ucap Raffa.
Ozora ingin berbagi kebahagiaan itu bersama Kevin dan Keira. Dua orang yang juga mengkhawatirkan Celina. Tanpa mereka sadari Ny. Rowenna juga menyiapkan pesta sederhana untuk kepulangan menantunya.
Saat berduaan, Raffa memeluk istrinya dari belakang, bersama mereka menikmati pemandangan taman asri yang luas dihadapan mereka. Laki-laki itu membalik tubuh istrinya, membuat gadis itu berdiri menghadap kearahnya.
"Teganya kamu memutuskan teleponku, aku sangat mengkhawatirkanmu. Apa kamu tau itu ?" ucap Raffa sambil menangkup wajah Celina.
"Aku tau, karena itu aku menelpon kakak" ucap Celina.
"Apa yang dilakukannya ? kenapa dia menculikmu ? apa dia melakukan hal yang buruk padamu ?" tanya Raffa tak sabar segera menghujani Celina dengan pertanyaan-pertanyaan.
Celina menggeleng.
"Aku baik-baik saja kak, dia tidak melakukan hal buruk padaku" jawab Celina sambil tersenyum menatap wajah khawatir suaminya.
Raffa menelusuri lekuk wajah istrinya dengan tatapan cemas. Lalu segera menyatukan bibir mereka, Raffa telah cukup sabar menahannya. Celina membalas perlakuan lembut Raffa, gadis itu juga sangat merindukan kelembutan bibir suaminya.
Raffa ingin segera melepaskan hasratnya tapi urung, dia tidak ingin istrinya kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Mereka sekeluarga sangat terkejut saat Celina mengatakan bahwa dia berada di New York selama beberapa hari ini.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1