Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 57 ~ Asal Usul ~


__ADS_3

Celina terbangun disebuah kamar mewah bergaya klasik, gadis itu ingin melarikan diri dari tempat itu. Namun langkahnya terhenti saat memandang deretan lukisan yang terpajang di dinding ruangan mewah itu.


"Benar-benar mirip" terdengar suara dari seorang bapak tua yang duduk dikursi roda.


Mengatakan Celina benar-benar mirip dengan seorang wanita. Edward mendorong kursi roda itu mendekati Celina.


Bapak berwajah hangat itu menatap Celina lalu tersenyum.


"Celina, kamu sangat mirip dengan ibumu" senyum ramah mengembang dari wajah tua yang bijaksana itu, dia menyatakan Celina sangat mirip dengan ibunya.


Celina kaget dengan pernyataan itu, menatap heran pada Edward yang tersenyum padanya.


"Apa kalian mengenal ibuku ?" tanya Celina langsung berkaca-kaca.


Kedua orang itu langsung memandang kearah salah satu lukisan.


"Dia ibumu" jawab Edward.


"Ba.. bagaimana kamu begitu yakin ?" tanya Celina.


"Sangat yakin, karena itu aku membawamu kesini" ucap Edward.


Celina menatap lukisan wanita cantik yang sedang tersenyum itu, tanpa disadari air matanya mengalir. Celina terpaku, tubuhnya membeku, pertanyaan yang selama ini bergelayut di kepalanya seakan-akan hilang begitu saja.


Hanya dengan menatap lukisan itu, pertanyaannya telah terjawab. Dia ibunya, dialah wanita yang melahirkan lalu membuangnya. Dialah yang membuat hidupnya menderita bersama anak-anak panti. Dialah yang membuat dirinya tidak mendapatkan kasih sayang orang tua.


Karena wanita itulah dia harus hidup mandiri sejak usia muda, karena wanita itulah dia dihina, diremehkan, di pandang rendah sebagai anak yang terbuang. Karena wanita itulah dia dianggap anak yang tak diinginkan. Karena wanita itulah, dia dianggap anak yang lahir diluar nikah.


"AKU BENCI PADAMU !!!!" teriak Celina memandang lukisan itu lalu berlari keluar rumah.


Dengan hanya bertelanjang kaki berlari sekencang-kencangnya melintasi rumput taman yang luas. Edward mengejarnya, menangkap gadis yang meronta tak bisa menerima kenyataan.


Celina meronta hingga membuat mereka terjatuh, diatas rumput itu Edward menahan kedua bahunya. Celina menjerit, berteriak menangis.


"CELINA TENANGLAH.. TENANGLAH.." ucap laki-laki itu lalu memeluk Celina dengan sangat erat.


Celina meronta minta dilepaskan, namun Edward tetap mendekapnya.


"Tenanglah Celina, tenanglah Celina, tenanglah" ucapnya sambil membelai rambut Celina.


Mendekap gadis itu erat, Celina kelelahan dia hanya terus menangis, meraung. Edward memeluk gadis itu sambil terus membelai rambutnya.


Tuan Albert Miller hanya bisa memandang kedua orang yang masih terduduk di atas rumput taman itu. Tertunduk, menangis, berharap hari ini adalah hari bahagia. Namun berubah duka, tak pernah terpikirkan olehnya kekecewaan Celina.


Yang dipikirkannya hanyalah kebahagiaan dirinya karena bisa bertemu dengan orang yang selalu disayang istrinya.


"Aku mengerti perasaanmu, maafkan kami yang egois karena ingin bersamamu, karena ingin mendapatkan pengakuan darimu" ucap Edward pelan.


Celina tidak menjawab, gadis itu masih menangis, tubuh mungil Celina tenggelam dalam dada bidang Edward namun tetap tak bisa menenangkannya.


"Aku menyayangimu Celina, aku ingin kamu mengakuiku, mengakui kami sebagai keluargamu" ucap Edward sambil terus memeluknya.


Celina menangis hingga kelelahan, hingga isaknya terdengar satu-satu. Edward menggendong tubuh mungil itu kembali ke rumah besar yang ditunggu para pelayan dan tuan Albert.


Edward mendudukkannya disebuah kursi mewah dan meminta pelayan membawakan air untuk mencuci kaki Celina. Edward membersihkan kaki gadis itu dengan penuh kasih sayang sementara Celina diam, hanya air matanya yang terus mengalir.


"Aku tau kamu pasti kecewa, aku tau kamu belum bisa menerima kenyataan. Mungkin kamu justru berharap ibumu adalah seorang miskin yang tak mampu mengurusimu. Terpaksa membuangmu karena tak mampu menghidupimu. Tapi Celina tidak semua kejadian alasannya sama. Karena itu aku membawamu kesini. Aku ingin kamu mengerti hingga akhirnya bisa memahami kami" ucap Edward sambil menangkup wajah gadis itu.

__ADS_1


Edward beranjak meninggalkan Celina dan berbicara dengan tuan Albert, wajah tuan Albert terlihat sedih namun Edward mencoba menenangkannya. Edward meminta semua orang untuk membiarkan Celina merenung sendiri.


Celina duduk menghadap ke jendela besar itu saat Edward datang menghampiri. Celina menoleh menatap Edward.


"Bolehkah aku menelpon keluargaku, mereka pasti mengkhawatirkanku" pinta Celina yang dibalas anggukan oleh Edward.


Sedikitpun laki-laki itu tidak ingin mengekang Celina, apa yang dilakukannya sekarang ini bukan untuk menculik atau menyekapnya, hanya ingin membawa gadis itu menemukan jati dirinya yang sebenarnya.


"Celina, Celina sayang benarkah ini dirimu ? dimana kamu ? apa kamu baik-baik saja ?" ucap Raffa begitu mendengar suara Celina.


"Aku baik-baik saja kak, saya harap semua keluarga baik-baik saja" balas Celina.


"Tidak, kami tidak baik-baik saja, kami khawatir padamu. Kamu dimana ? aku akan menjemputmu" ucap Raffa dengan nada yang khawatir.


"Tidak perlu kak, setelah urusanku selesai. Aku akan pulang" ucap Celina.


"Urusan ? urusan apa ? ada urusan kamu dengan Edward ?" tanya Raffa dengan suara panik.


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Kakak tidak perlu lapor polisi, aku baik-baik saja. Teleponnya aku tutup ya kak, tolong sampaikan salamku untuk semua, katakan aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Aku sayang kak Raffa" ucap Celina lalu menutup panggilan teleponnya.


Tak terkira betapa kesalnya Raffa saat Celina menutup teleponnya tiba-tiba. Masih banyak hal yang ingin ditanyakannya, laki-laki itu kesal hingga menggebrak meja. Namun dilubuk hatinya terucap rasa syukur karena Celina baik-baik saja meski tetap ada rasa khawatir dihatinya.


Sementara itu, Edward mendatangi Celina, mengajaknya berkumpul diruang keluarga. Celina mengikuti, di ruangan itu telah menunggu tuan Albert. Laki-laki yang bisa berbahasa Indonesia dengan terbata-bata itu tersenyum. Celina dipersilahkan duduk, Edward meletakkan sebuah kotak dihadapannya.


Celina diminta membuka kotak kayu dengan ukiran yang indah itu. Celina melihat beberapa lembar foto saat dia masih remaja, Celina menoleh kearah Edward meminta penjelasan.


"Foto-foto itu diambil sendiri oleh mommy, setiap kali berkunjung ke Indonesia. Beliau menyimpan semua kenangan tentang dirimu seorang diri selama ini" ucap Edward sambil bergerak duduk disamping Celina.


Celina menatap foto-foto yang diambil dari jarak jauh itu, bahkan dia masih ingat beberapa kejadian yang menjadi latar belakang pengambilan foto. Air mata Celina mengalir, Edwar merangkul gadis itu.


"Siapa namanya ?" tanya Celina oelan.


"Helena Oktavira, itu adalah nama gadisnya. Rencana pernikahan mommy dan daddy ditentang oleh keluarganya. Keluarga besar mommy tidak menginginkan menantu berasal dari bangsa lain, mommy bahkan langsung dijodohkan dengan kerabatnya sendiri.


Mommy nekat menolak, cintanya pada daddy membuat mommy menentang keluarganya sendiri hingga akhirnya diusir dan tidak diakui sebagai anggota keluarga lagi" cerita Edward sambil menunduk.


Celina menatap Edward, tak menyangka kisah cinta ibunya begitu sulit. Mendapat tentangan dari keluarganya.


"Keluarga Miller tetap menyayangi mommy dan tetap menerimanya meski mommy telah terbuang dari keluarganya. Mereka akhirnya menikah, daddy yang seorang pilot pesawat tempur membuat mommy sangat bangga terhadap suaminya" ucapnya sambil memandang tuan Albert.


Laki-laki tua itu mengangguk, Celina menatap kearahnya, menatap lekuk wajah laki-laki yang telah dipenuhi keriput wajah namun masih tetap terlihat tampan itu.


"Mommy melahirkanku, kami hidup bahagia. Hingga saat aku berumur tiga tahun daddy ditugaskan dinegara konflik. Meski berat meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya daddy akhirnya berangkat, menjalankan tugas negara" jelas Edward.


Celina kembali menatap laki-laki tua yang selalu tersenyum kearahnya itu.


"Sebuah berita mengejutkan datang, pesawat yang diterbangkan daddy ditembak jatuh. Secara resmi berita itu disampaikan langsung ke mommy. Namun tak satupun dari keluarga Miller yang percaya daddy telah meninggal, begitu juga dengan mommy. Mommy bertahan tetap menunggu kedatangan daddy" Edward menghela nafas.


Celina menatap salah satu foto yang terdapat di dalam kotak itu, foto seorang tentara dengan latar belakang pesawat tempur. Celina meyakini bahwa foto yang dilihatnya adalah tuan Albert saat mengenakan seragam kesatuannya.


"Setahun, dua tahun, mommy menunggu, dan selama itu mommy selalu dihibur oleh keluarga Miller yang tetap menyayanginya sebagai menantu".


"Selain daddy keluarga Miller juga memiliki seorang putra lain yaitu adik satu-satunya, Robert Miller, dia adalah seorang pebisnis yang handal.


Paman Robert sangat menyayangi kakaknya dan juga sangat menyayangi mommy selaku kakak iparnya. Dalam setiap kesempatan, setiap kali melihat mommy bersedih paman Robert akan selalu menghiburnya".


"Karena saling menyayangi dan saling menghibur akhirnya paman Robert jatuh cinta pada mommy. Memohon izin pada kakek dan nenek untuk menikahi mommy. Namun mendapat tentangan dari kakek yang tidak percaya bahwa putra pertamanya telah meninggal".

__ADS_1


"Mereka bersabar menunggu hingga kakek memberi izin, namun izin itu tidak pernah mereka dapatkan. Daddy yang tak kunjung pulang membuat mereka semakin percaya bahwa daddy memang telah meninggal. Paman Robert dan mommy akhirnya menikah diam-diam"


"Namun suatu ketika datang berita bahwa daddy telah ditemukan dalam keadaan hidup dan sedang diupayakan untuk pulang. Dalam pemikiran kakek, mommy masih tetap setia pada daddy, itu membuat mereka syok, tak mampu memberikan penjelasan bahwa mereka telah menikah".


"Paman Robert yang sangat menyayangi kakaknya, akhirnya memilih mundur, pergi meninggalkan mommy dengan menyerah semua harta yang dimilikinya atas nama mommy, hidup menyendiri disebuah kota terpencil, meninggalkan istri yang sangat dicintainya sekaligus harus ditinggalkannya".


Sampai di titik itu Celina menitikkan air mata, pengorbanan mereka untuk orang-orang yang mereka sayangi sangat tulus dan tanpa batas.


"Mommy menunggu kedatangan daddy, dalam proses kepulangan yang cukup rumit itu mommy mendapati dirinya hamil. Mommy panik, tak bisa memberikan penjelasan pada kakek juga pada daddy kelak saat pulang".


"Akhirnya memilih kembali ke Indonesia untuk melahirkan. Namun seperti dulu, keluarga mommy tetap tidak mau menerima. Dalam keadaan terombang-ambing akhirnya mommy memilih meninggalkan putri yang baru saja dilahirkannya disebuah rumah kosong" ucap Edward yang langsung memeluk Celina karena melihat gadis itu yang sesenggukan karena menahan tangis.


Sampai disitu Celina bisa mengerti cerita Edward, putri yang ditinggalkan dalam cerita itu, adalah dirinya. Celina baru menyadari dilema yang dihadapi ibunya.


Gadis itu menangis sejadi-jadinya, Celina sendiri merasa tak bisa menemukan jalan keluar dengan situasi seperti itu. Edward memeluk adik perempuannya itu dengan penuh kasih sayang. Telah jelas posisi Celina bahwa dia adalah adik tiri dari Edward.


"Jangan marah pada mommy, karena panik dia melakukan semua itu. Dia tidak bisa menjelaskan kepada keluarganya bahwa dia telah menikah dengan adik dari suami yang telah dinyatakan hilang selama bertahun-tahun".


"Sementara keluarganya di Indonesia sama sekali tidak mau membantunya mengatasi masalah yang dihadapinya.


Akhirnya mommy meninggalkanmu disebuah rumah kosong, dengan perasaan yang kacau mommy berniat kembali ke New York".


"Namun saat di bandara mommy tiba-tiba sadar atas perbuatannya. Mommy memutuskan membatalkan penerbangannya dan kembali kerumah kosong itu untuk mengambilmu dan berniat membawamu ke New York. Mommy bertekad apapun akan dihadapinya. Apapun putusan keluarga Miler akan diterimanya. Mommy bertekad tidak akan membuang bayinya, mommy akan mempertahankanmu. Tapi sayang, dia tidak dapat menemukanmu, bayi yang ditinggalkannya telah hilang".


"Mommy mencarimu hingga berbulan-bulan namun tetap tak menemukanmu. Hingga akhirnya mommy pulang ke New York dengan rahasia tentang kelahiran putrinya.


Daddy akhirnya pulang, kami menjalani kehidupan yang bahagia. Didepan semua orang mommy tersenyum namun dihatinya mommy menangis setiap kali mengingatmu, setiap ada kesempatan mommy pulang ke Indonesia untuk mencarimu".


"Hingga suatu saat mommy menemukanmu tinggal disebuah panti asuhan. Mommy ingin menemuimu tapi tak siap ditolak olehmu. Mommy hanya bisa memandang mu dari jauh, setiap kali merindukanmu mommy hanya bisa memandangimu dari jauh".


"Hingga akhirnya mommy kehilangan jejakmu, karena kamu tidak berada dipanti asuhan itu lagi. Sampai dititik itu mommy hanya bisa pasrah tidak bisa menemukanmu lagi. Semua tentang dirimu hanya di simpan dihatinya hingga beliau jatuh sakit. Mommy baru berani menceritakan semuanya setelah sakitnya bertambah parah".


"Bagaimana akhirnya kakak menemukanku ?" tanya Celina akhirnya memanggil Edward dengan panggilan kakak.


Edward tersenyum mendengar ucapan Celina, menandakan gadis itu telah membuka diri untuknya dan keluarganya.


"Semua itu justru berawal dari perkenalan ku dengan Ozora, aku menyukai anak itu hingga setiap saat berkomunikasi dengannya. Suatu saat daddy melihat foto Ozora di laptop ku dan berpikir itu adalah fotoku saat berumur lima atau enam tahun. Saat itu aku hanya tertawa mendengar ucapan daddy, namun daddy bersikeras bahwa Ozora sangat mirip denganku saat seumuran itu, aku jadi penasaran hingga menyelidikinya".


"Kakak bertemu dengan Ozora ?" tanya Celina.


Edward menggeleng.


"Kami hanya bertemu di dunia maya, namun aku terus menyelidikinya, siapa ibunya siapa ayahnya. Hingga akhirnya saat aku menghadiri peresmian club philanthropists, aku melihat seseorang yang begitu mirip dengan mommy. Aku mengikutimu hingga aku tau kamu adalah tunangan dari Kevin, teman sekampus dulu. Semua terasa mudah bagiku, menyelidik calon istri temanku pastilah tidak sulit, Kevin akan menerimaku dan kamu juga pasti bisa menerimaku".


"Tapi kenyataan berbeda bukan ? ternyata kamu justru menikah dengan Raffa. Aku bahkan hadir dipestamu dan mengambil rekaman pesta pernikahan kalian. Aku mengirimkan rekaman video itu pada mommy. Itu adalah saat membahagiakan baginya menyaksikan video pernikahan putrinya meski terbaring diranjang rumah sakit".


Celina menutup mulutnya dengan tangannya, Edward meraih tubuh adiknya dan menyandarkan gadis yang tengah menangis itu didadanya. Menepuk bahu gadis itu untuk menenangkannya. Celina tak sanggup membayangkan penderitaan ibunya.


Edward menghentikan cerita memberi ruang bagi gadis itu untuk tenang. Edward mengambil sesuatu di dalam kotak kayu itu. Sebuah kalung hati dengan bingkai foto didalamnya.


Laki-laki itu membuka kalung hati itu dan memperlihatkannya pada Celina. Terlihat foto ibunya dan Celina saat masih remaja.


"Mommy selalu menyimpanmu didalam hatinya"


Edward menyerahkan kalung itu pada Celina, gadis itu mendekapnya erat, dengan air mata yang terus mengalir.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2