Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 86 ~ Bidadari yang Sebenarnya ~


__ADS_3

Hari yang dinanti-nanti pun tiba, pesta ulang tahun Nazolla diadakan di halaman rumah megah Dokter Dino. Dengan konsep Putri dari Negri Dongeng dengan tambahan door prize bagi anak-anak panti asuhan yang ikut menghadiri.


Celina datang bersama Raffa dan putri kecilnya Aurora. Sangat kagum dengan dekorasi indah yang menghiasi halaman luas itu. Celina tersenyum melihat anak-anak yang berlari ke sana kemari sambil tertawa.


Melihat kehadiran Celina, Dokter Dinda langsung menyambut. Celina sampai terperangah kagum melihat penampilan Dokter Dinda yang lain dari biasanya. Dokter yang selalu menguncir rambutnya itu sekarang membiarkan rambutnya tergerai dengan dua jepitan cantik yang terselip di kanan dan kirinya. Nazolla tiba-tiba datang berlari dan memeluk Celina.


"Mama, akhirnya Mama datang juga. Mama jangan pergi lagi ya. Tinggal di sini bersama Lala" ucap Lala sambil menengadah menatap Celina.


Raffa mengerutkan dahinya mendengar ucapan gadis kecil itu. Celina tersenyum salah tingkah melihat ekspresi suaminya. Gadis itu duduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Nazolla.


"Lala sekarang sudah besar, umur Lala sudah bertambah satu lagi. Lala harus mengerti kalau Mama tidak bisa tinggal di sini karena Mama juga punya seorang putri dan juga papanya" ucap Celina menunjuk Aurora dan Raffa.


Nazolla memandang bayi berumur lima bulan itu dan juga Raffa, gadis kecil itu lalu tertunduk. Dokter Dinda tidak bisa berkata apa-apa. Celina mengalihkan pandangan pada hadiah-hadiah yang berjejer di pajang di atas beberapa meja.


"Wah hadiahnya cantik-cantik sekali. Siapa yang membungkus hingga jadi cantik gini ya?" tanya Celina.


"Lala yang bantu bungkusnya" ucap Nazolla.


"Bantuin siapa?" tanya Celina.


"Bantuin Tante Dinda" ucap Nazolla.


"Pantesan hadiahnya jadi cantik-cantik ternyata karena di bungkus oleh dua orang gadis cantik. Kedua-duanya sama cantiknya seperti anak dan Mamanya" ucap Celina sambil melirik Dokter Dinda yang tertunduk mendengar ucapan Celina.


"Apa Tante boleh membeli hadiah yang cantik ini" ucap Celina mulai mengganti panggilan terhadap dirinya.


"Nggak boleh Tante, ini untuk hadiah" ucap Nazolla yang terpancing memanggil dengan sebutan Tante pada Celina.


"Oh untuk hadiah, apa ada lomba? Apa Tante boleh ikut lomba?" tanya Celina.


"Nggak boleh Tante, hanya untuk anak-anak" ucap Nazolla sambil tertawa.


"Kalau begitu putri Tante boleh ikut dong" ucap Celina lagi sambil menunjuk putrinya yang masih bayi.


Nazolla tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya seolah-olah menahan tawa karena menurutnya bayi tidak mungkin bisa ikut lomba.


"Sekarang Lala main bersama teman-teman ya sayang" ucap Celina dan Lala pun mengangguk patuh.


"Apa-apaan tadi itu dia memanggilmu Mama, kamu mau jadi Mamanya?" tanya Raffa dengan nada cemburu.


"Kakak jangan mulai lagi, anak itu kasihan, dia sangat mendambakan kasih sayang seorang ibu" ucap Celina.


"Lalu kamu mau memberi kasih sayang seorang ibu padanya?" tanya Raffa.


"Tentu saja, kenapa tidak? Itu yang selalu aku lakukan pada anak-anak panti dan anak-anak yang datang ke toko. Memberi kasih sayang untuk anak-anak bukan memberi cinta pada Papa mereka" ucap Celina sambil menyindir sikap cemburu Raffa.


"Tapi kalau bersikap seperti itu terhadap anak-anak mereka, Para papa itu jadi berharap kamu yang jadi ibu anak-anaknya" balas Raffa.


"Oh, mana bisa begitu. Aku tetap jadi ibu bagi anak-anakku dan istri dari suamiku yang pencemburu itu" ucap Celina sambil bermain dengan Aurora yang selalu tertawa.


Raffa mengecup pipi istrinya gemas.


"Apa-apaan sih kakak di sini banyak orang" ucap Celina malu.


"Cuma cium pipi doang nggak apa-apa lah, kalau ciuman hangat baru bukan di sini tempatnya" ucap Raffa masih menggendong putrinya.


Celina bersandar di lengan suaminya sambil tersenyum, Raffa membalas senyuman istrinya sambil mengecup puncak rambut gadis itu.


Celina menatap Lala yang berlari sambil memeluk sebuah Boneka yang baru diberikan Dokter Dinda. Celina termangu seperti mengingat boneka itu. Mata Celina mengikuti kemana arah gadis itu pergi bahkan hingga berjalan ke depan untuk dapat melihat lebih jelas lagi hingga akhirnya dia mengingat sesuatu.


Oh dia, ternyata anak kecil yang datang ke toko waktu itu adalah Lala. Tapi aku tidak melihat Dokter Dino, aku tidak menyangka saat itu bertemu dengan putri mbak Lily. Gadis kecil itu mengatakan mamanya sudah menjadi bidadari di surga. Oh ya ampun ternyata bidadari di surga yang katakan Lala itu adalah mbak Lily, batin Celina menangis.


Kembali teringat saat gadis kecil itu memeluknya karena sedih menceritakan ibunya yang telah tiada dan menjadi bidadari di surga seperti yang selalu di ucapkan ayahnya.


Celina menangis hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Celina tidak menyangka ternyata telah lama dia dan Lala bertemu. Dokter Dino telah membawanya menemui Celina sejak dulu. Namun Celina tidak menyadarinya dan Dokter Dino tidak pernah bercerita kalau mereka telah pernah bertemu sebelumnya.


Lala masih menyimpan boneka itu seperti janjinya. Celina meminta gadis itu untuk menjaganya dengan baik karena boneka itu cuma satu-satunya di dunia karena pemberian dari seorang bidadari dari surga. Lala sangat senang menerimanya dan menganggap boneka itu adalah hadiah dari mamanya yang telah menjadi bidadari di surga.


Raffa berjalan mendekati istrinya dan bertanya, merasa heran melihat sikap istrinya yang tiba-tiba menangis.


"Ada apa sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Raffa.

__ADS_1


"Itu yang dipeluk Lala adalah boneka pemberianku, sudah lama sekali. Tapi saat itu aku tidak tahu kalau dia adalah Lala, putri dari mbak Lily. Mbak Lily datang ke toko dan begitu menyukai Ozora yang saat itu masih bayi. Hingga setiap hari mengunjungi toko hanya untuk bertemu dengan Ozora. Yang membuat Ozora menjadi terkenal karena mbak Lily suka memposting foto bayi Ozora. Lala ternyata menemuiku saat dia masih kecil. Saat itu dia berkata ibunya sudah meninggal" cerita Celina sambil berlinang air mata.


Raffa mengusap lengan istrinya untuk menenangkan gadis itu. Raffa baru mengerti, Dokter Dino telah mengenal gadis itu saat dirinya belum bisa menemukan Celina. Raffa bersyukur saat itu Dokter Dino urung menemui Celina. Meski Celina selalu mengatakan jatuh cinta padanya saat Raffa menolongnya dari berandalan itu.


Namun diminta menjadi istri seorang Dokter tampan yang sukses itu. Apakah Celina bisa bertahan tetap mencintainya? Itulah yang ditakutkan Raffa. Sementara saat itu Raffa masih belum bisa menemukan Celina dan putra kandungnya.


"Aku bersyukur sayang, kamu hanya menemui Lala dan tidak bertemu Papanya. Aku ragu cintamu bertahan untukku jika kamu sudah bertemu dengannya" ucap Raffa lega.


"Mana mungkin aku menerimanya saat itu. Kak Kevin yang sudah duluan mengantri untuk mendapat cintaku saja aku tolak. Semua itu demi cintaku pada seorang laki-laki pencemburu" ucap Celina lalu memalingkan wajahnya sambil tersenyum.


Raffa tertawa sambil menggoyangkan tangan Aurora untuk memukul istrinya.


"Mama nakal, suka nyindir Papa. Mama nakal" ucap Raffa seolah-olah itu ucapan Aurora.


"Ampun Putri Aurora, ampun" ucap Celina sambil mencium putri cantiknya.


Raffa juga meraih gadis itu untuk mengecup bibir Celina. Celina langsung malu, wajahnya bersemu merah.


"Malu kakak di sini banyak anak kecil" ucap Celina.


"Mereka sibuk bermain nggak ada yang melihat" ucap Raffa yakin.


Celina tersenyum memandang sekelilingnya, benar kata suaminya. Semua yang ada di pesta itu sibuk dengan urusan masing-masing. Anak-anak sibuk bermain, berlarian dan para orang tua sibuk mengobrol sambil menyantap makanan yang tersedia.


Celina memandang suaminya, Raffa mendekatkan wajahnya untuk mengecup gadis itu sekali lagi. Namun terdengar suara berdehem. Mereka langsung gelagapan saat melihat Dokter Dinda mendatangi mereka. Dokter Dinda tersenyum melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Celina membalas senyuman Dokter Dinda.


"Lala langsung menguasai kak Celina jika sudah bertemu dengan kakak" ucap Dokter Dinda.


"Ya, sampai-sampai menyapa Dokter Dinda pun sulit. Aku ingin bilang dari tadi kalau Dokter Dinda cantik sekali mengenakan gaun ini. Cantik seperti bidadari" ucap Celina sambil tersenyum.


Dokter Dinda tersenyum dan langsung memeluk Celina dengan mata yang berkaca-kaca. Raffa terbelalak heran dengan sikap Dokter Dinda. Laki-laki itu berpikir sejak kapan istrinya akrab dengan Dokter Dinda sampai di peluk seperti itu.


"Terima kasih kak, aku menyesal tidak mengenalmu sejak dulu" ucap Dokter Dinda.


"Sama-sama Dinda, sebenarnya aku tidak tahu kenapa kamu harus berterima kasih padaku. Tapi tidak apa-apa mengucapkan terima kasih itu adalah sikap yang tidak merugikan" ucap Celina sambil tersenyum.


Dokter Dinda tertawa meski menitikkan air mata. Raffa ikut terharu menatap keakraban mereka.


"Waduh, acara jadi terlambat karena kami?" tanya Celina tidak enak hati.


"Nggak telat kak, cuma kalau di mulai lebih cepat lebih baik. Anak-anak sudah tidak sabar ingin mencicipi kue tart-nya" ucap Dokter Dinda tertawa sambil menggandeng tangan Celina.


Celina mengedipkan mata pada suaminya membuat laki-laki itu tertawa. Acara ulang tahun Lala pun dimulai, pembawa acara mulai membacakan susunan acara. Seperti halnya susunan acara ulang tahun pada umumnya. Menyanyikan lagu selamat ulang tahun, meniup lilin dan membagikan kue tart.


Untuk acara yang satu ini Lala terlihat sangat senang. Gadis itu bertepuk tangan sambil melompat setiap kali berhasil memotong kue tart-nya. Setelah memberikan potongan tart pertamanya pada ayahnya, Lala segera memberikan tart potongan kedua itu pada Celina. Tentu saja Celina merasa sangat senang dan itu ditunjukkannya pada Lala.


Raffa justru kesal melihat kejadian itu tapi Celina tidak peduli. Celina tahu suaminya pasti sedang cemburu lagi. Tart diserahkan pada orang yang paling berarti bagi yang ulang tahun. Setelah menyerahkan pada Papanya, Lala menyerahkannya pada Celina itu artinya gadis itu ingin Celina menjadi orang penting kedua setelah Papanya.


Celina tidak ingin mengecewakan Lala tapi dia sadar yang berhak atas potongan tart kedua adalah Dokter Dinda yang kini tertunduk murung.


"Terima kasih Lala sayang tapi Tante Celina ingin tanya sesuatu, boleh?" tanya Celina.


Lala mengangguk cepat.


"Lala senang dengan acara ulang tahunnya?" tanya Celina.


"Senang Tante, senang sekali" ucap Lala sambil tersenyum riang.


"Lala tahu siapa yang menyiapkan pesta ini?" tanya Celina.


Lala menggelengkan kepala.


"Semua pesta yang disiapkan untuk ulang tahun Lala sejak Lala masih kecil hingga besar seperti sekarang ini. Selalu disiapkan oleh satu orang. Lala tau siapa orang itu?" tanya Celina.


Lala kembali menggelengkan kepalanya. Dokter Dino, Dokter Dinda dan Raffa hanya diam memperhatikan obrolan mereka. Meski tidak terlalu jelas mendengar apa yang sedang dibicarakan Celina dan Lala. Dokter Dino meraih pundak Dokter Dinda dan tersenyum. Gadis yang tadi terlihat murung itu menampilkan senyum yang dipaksakan.


"Dia adalah bidadari yang dikirim mama Lala untuk menjaga Lala" ucap Celina.


"Benarkah Tante?" tanya Lala.


"Ya, Lala ingat dulu pernah diberi boneka oleh mama Lala yang telah menjadi bidadari?" tanya Celina.

__ADS_1


Lala langsung menyodorkan boneka dipelukannya itu ke hadapan Celina.


"Ya..., Mama Lala yang menjadi bidadari yang memberikannya" ucap Lala.


"Apa Lala tahu? Sebenarnya Mama juga mengirimkan bidadari lain untuk menjaga Lala" cerita Celina.


"Benarkah Tante?" tanya Lala tidak yakin.


"Ya, dialah orangnya yang diam-diam menjaga Lala tanpa memberitahu siapa pun. Lala ingin tahu siapa orangnya?" tanya Celina.


"Mau Tante" ucap Lala.


"Apa yang Lala lakukan jika bertemu dengannya?" tanya Celina.


Gadis itu diam tertunduk tidak tahu apa yang akan dilakukannya.


"Maukah Lala menyayanginya?" tanya Celina.


Gadis kecil itu mengangguk.


"Maukah Lala menerimanya dan memanggilnya mama?"


tanya Celina lagi.


Lala mengangguk.


"Maukah memberikan ini untuknya?" tanya Celina sambil menyodorkan potongan kue tart yang ada di tangannya.


Lala kembali mengangguk.


"Kalau begitu carilah dia, dia bidadari yang sangat cantik, mengenakan gaun putih panjang yang juga cantik berambut panjang dan mengenakan jepitan rambut bermotif bintang. Carilah dia sayang" ucap Celina.


Lala langsung membalik badan dan mencari wanita-wanita yang bergaun putih. Lala melihat wanita cantik yang bergaun putih itu. Lala berdiri di hadapan Dokter Dinda dan menatapnya. Dokter Dinda duduk untuk mensejajarkan tinggi mereka. Tak lama setelah itu Lala tersenyum, gadis kecil itu melihat jepit rambut Dokter Dinda dan memeluk dokter cantik itu.


"Mama..," ucap Lala sambil memeluk Dokter Dinda.


Dokter cantik itu juga balas memeluk Lala sambil menangis. Lala menuruti apa yang diperintahkan Celina, gadis itu langsung memanggil dokter cantik itu dengan sebutan mama setelah melihat ciri-ciri yang disebutkan Celina.


Semua orang yang mengenal keluarga itu terenyuh melihat pemandangan itu. Mereka tahu Lala adalah gadis kecil yang masih membutuhkan seorang ibu. Mereka bahkan merasa heran karena dokter tampan itu tidak kunjung mencari pengganti istrinya yang telah meninggal.


Celina dan Raffa saling berpandangan, Raffa menunjukkan tart yang ada di tangan Celina dengan matanya. Barulah Celina teringat, karena asyik melihat adegan yang menyentuh hati itu Celina jadi lupa memberikan tart yang seharusnya untuk Dokter Dinda.


"Lala" panggil Celina sambil menyodorkan tart yang ada di tangannya itu.


Lala menoleh dan langsung mengambil kue tart di tangan Celina dan memberikannya pada Dokter Dinda. Dokter Dinda menerimanya dengan air mata yang masih meleleh. Namun, air mata kali ini bukanlah air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan. Lala bahkan menghapus air mata itu untuknya.


Dokter Dinda memotong kue itu dengan garpu kuenya dan menyuapinya pada Lala, gadis itu langsung melahapnya.


"Selamat ulang tahun sayang" ucap Dokter Dinda sambil tersenyum.


"Terima kasih Mama" ucap Lala.


Mendengar itu Dokter Dinda langsung memeluk Lala dan mengangkat tubuh gadis kecil itu. Lala tertawa, Dokter Dino langsung memeluk kedua gadis yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


...~ Bersambung ~...


Dear,


Pembaca dan Penulis Setia Noveltoon.


Mohon dukungannya untuk karya lombaku dalam event Lomba Menulis #BerbagiCinta yang berjudul :


...BERBAGI CINTA - SUAMI YANG DINGIN...


Like, vote, Comment, Favorit dan segala bentuk dukungan apa saja sangat berarti bagi saya, yang akan menjadi penyemangat bagi saya dalam berkarya.


Terus beri dukungannya ya, terima kasih.


^^^Salam hormat,^^^


^^^Author^^^

__ADS_1


^^^Alitha Fransisca^^^


__ADS_2