
Seorang pelayan hotel mengetuk pintu kamar, Kevin yang baru saja berbaring sambil memeluk Celina terpaksa bangun. Jessica yang mabuk berat di bar hotel meminta Kevin menjemputnya.
Kevin memapah Jessica agar bisa segera sampai dikamarnya. Berkali-kali wanita itu merasa mual dan hampir muntah. Kevin kesulitan membawa wanita yang berjalan limbung karena mabuk itu.
Sepanjang jalan wanita itu mengoceh tidak jelas, membuat Kevin kesal, akhirnya memutuskan menggendong Jessica agar bisa segera sampai dikamarnya. Susah payah akhirnya Kevin bisa masuk ke kamar Jessica.
Kevin ingin segera membaringkannya diatas ranjang. Namun wanita yang masih dalam gendongannya itu tiba-tiba meraih krah kemeja Kevin dan mengeluarkan muntahnya disana.
Mengenai kemeja Kevin dan gaun Jessica sendiri. Kevin langsung meletakkan Jessica ke dalam bathtub agar wanita itu bisa langsung membersihkan diri.
Kevin berusaha membersihkan tubuhnya dari bau muntahan Jessica, namun masih tetap tercium. Akhirnya Kevin melepas kemejanya dan membasuh kemeja itu di wastafel. Laki-laki itu memandang Jessica dengan tatapan kesal dan jijik, langsung saja Kevin memutar shower, air dingin membasahi tubuh Jesica hingga membuat wanita itu segera tersadar.
"Bersihkan tubuhmu, aku harus segera kembali ke kamarku" ucap Kevin ingin mengambil kemejanya yang telah basah di wastafel.
"Tunggu" ucap Jessica sambil membuka gaunnya yang basah.
Kevin menoleh mendapati Jessica yang hanya berpakaian dalam. Laki-laki itu memalingkan wajahnya hendak pergi dari situ. Namun Jessica segera menahan tangannya.
"Kevin, terima kasih telah membawaku ke kamar, aku tidak bisa memanggil Raffa, karena itu aku terpaksa memintamu menjemputku" ucap Jessica sambil mengusap dada Kevin yang terbuka.
"Aku harus kembali ke kamarku" ucap Kevin yang urung mengambil kemejanya yang basah, memilih untuk segera pergi dari situ.
Tapi Jessica nekat dan berdiri menghalangi pintu. Wanita seksi itu bersandar di pintu untuk menghalangi Kevin keluar dari kamar.
"Minggir, aku harus pergi" ucap Kevin masih mencoba bersabar.
"Kevin temani aku, aku sangat merindukanmu" ucap Jessica mulai merayu Kevin.
Laki-laki yang telah muak dan kesal dengan sikap Jessica itu mendorongnya agar segera minggir dari pintu. Kevin berhasil keluar namun Jessica tetap mengejarnya dan memeluknya.
Kevin tidak peduli, laki-laki itu ingin segera kembali ke kamarnya namun langkahnya terhenti. Didepan sana telah berdiri Celina yang terpaku memandang kearahnya.
Celina segera mengambil cardlock dari saku piyamanya dan menempelkannya ke kotak sensor, lampu sensor berwarna hijau. Celina segera membuka pintu lalu masuk ke kamar dan segera menutupnya kembali. Celina bersandar dibalik pintu.
Dadanya berdebar kencang, tak menyangka akan melihat pemandangan yang tak biasa itu. Kevin bertelanjang dada dan Jessica hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Membayangkan itu Celina menutup wajahnya.
Terdengar ketukan di pintu, Kevin telah berada di depan pintu kamar mereka.
"Celina, tolong buka pintunya" ucap Kevin agak pelan.
Tidak ingin terdengar oleh tamu lain, Celina tercenung.
"Celina tolong cepat buka pintunya, aku akan jelaskan semuanya" ucap Kevin mulai panik.
Celina membuka pintu, Kevin langsung masuk dan meraih bahu Celina.
"Jangan pernah berpikiran macam-macam, ini tidak seperti yang kamu kira. Dia.. ah.. " Kevin ingin menjelaskan pada Celina situasinya.
Namun laki-laki itu benci dengan bau muntahan di tubuhnya.
"Aku mandi dulu, aku akan jelaskan semuanya nanti" ucap Kevin segera masuk ke kamar mandi.
Berkali-kali menuangkan sabun di dadanya, agar bau itu hilang. Laki-laki itu tidak akan percaya diri mendekati Celina dengan bau seperti itu.
Celina berdiri memandang keluar jendela, memandang lautan dengan ribuan bintang di langit. Celina mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi. Sejujurnya Celina tidak keberatan dengan apapun yang terjadi, gadis itu merasa tidak punya hak untuk membatasi Kevin.
Apalagi ini menyangkut Jessica, gadis yang pernah mengisi hati Kevin. Celina merasa tidak berhak mencampuri urusan mereka. Celina memandang cincin pertunangan mereka. Tapi entah kenapa dadanya terasa perih.
Apa yang kurasakan ini, cinta kah, atau rasa takut kehilangan ? alangkah egoisnya menguasai seseorang hanya karena takut kehilangannya, takut perhatiannya beralih pada orang lain, batin Celina.
Gadis itu menarik nafas berat.
Tidak, aku tidak boleh seperti ini, aku tidak boleh egois.
Aku tidak boleh membatasinya, dia boleh menyukai siapapun, aku tidak berhak.. aku tidak berhak melarangnya, batin Celina.
Celina yang sejak awal memang ingin membuka hatinya untuk Kevin. Justru menghadapi kenyataan bahwa Kevin adalah sahabat Raffa. Sejak Kevin menyatakan perasaannya dan menghalangi Celina pergi dari rumah Alyssa, Celina telah bertekad untuk melupakan Raffa.
Kevin yang mau menerima Celina meski tengah mengandung anak laki-laki lain, membuat hati gadis itu tersentuh, Celina semakin menyayanginya. Namun ditengah perjalanan mengukuhkan hatinya pada Kevin. Raffa justru hadir dan perlahan-lahan kembali masuk kedalam hidupnya.
Celina memejamkan mata, menekan dadanya yang terasa perih.
Celina masih termenung memandang keluar jendela, tiba-tiba Kevin telah berada dibelakangnya, memeluk gadis itu dari belakang. Meletakkan dagunya dibahu Celina, berdua mereka memandang laut dan langit malam.
"Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Jessica, kamu tau pasti bagaimana perasaanku terhadapmu" bisik Kevin.
Celina hanya diam, Kevin membalik tubuh Celina, gadis itu terkejut dan memalingkan wajahnya. Kevin hanya mengenakan handuk dihadapannya. Kevin merengkuh Celina, memeluknya. Celina merasakan sesuatu yang berbeda, wajah Celina menempel langsung ke tubuh atletis Kevin tanpa ada yang membatasi.
__ADS_1
"Udah nggak bau kan ? tadi muntahan Jessica menempel di dadaku, tukang mabuk itu meminta aku menjemputnya malah aku terkena muntahannya" tanya Kevin.
"Apa perlu aku semprotkan body spray ? tanya Kevin.
Celina menggelengkan kepala, sekarang bukan itu fokus Celina, bukan bau atau tidaknya. Tapi laki-laki yang memeluknya hanya dengan mengenakan handuk itu membuat jantungnya berdebar.
Celina mundur menjauh dari Kevin, lalu membuka pintu kaca, duduk dikursi malas menghadap ke laut. Jantung gadis itu masih berdebar-debar, Celina tertunduk. Entah apa yang akan terjadi jika dia tidak buru-buru menghindar dari pelukan Kevin.
Kevin terlihat kecewa namun memaklumi, segera laki-laki itu mengenakan piyama hotelnya dan duduk disamping Celina.
"Maafkan aku, kamu pasti membenci perbuatanku pada Raffa" ucap Kevin sambil menoleh pada Celina.
Gadis itu hanya tertunduk.
"Itu salahku, aku yang tidak bisa menghindar darinya" ucap Celina.
"Aku akan selalu menunggumu sampai kamu benar-benar bisa menerimaku dan melupakan Raffa" ucap Kevin, meraih tangan Celina lalu mencium punggung tangannya.
"Kak, bagaimana perasaan kakak terhadap Jessica, sepertinya dia masih mengharapkan kakak ?" tanya Celina dengan nada ragu-ragu.
"Perasaanku terhadap Jessica sudah berakhir sejak aku memutuskan hubunganku dengannya dan merelakannya bersama Raffa" jawab Kevin sambil memandang lurus ke mata Celina.
Kevin bahkan melihat wajah Celina begitu dekat, hingga gadis itu salah tingkah.
"Kenapa melihatku seperti itu ?" ujar Celina tertunduk malu dilihat seperti itu.
"Kamu cemburu ?" tanya Kevin.
Celina langsung menyangkal.
"Tapi aku benar-benar cemburu setiap kali melihatmu bersama Raffa, baru kali ini rasa cemburu menguasaiku begitu dalam hingga membuatku lupa pada persahabatan kami.
Aku bahkan tidak seperti itu saat Raffa merebut Jessica dariku.
Perkelahian sudah biasa kami lakukan namun kali ini aku benar-benar merasakan kemarahan yang sesungguhnya, dan kali ini juga Raffa memilih untuk menerimanya tanpa perlawanan.
Apa yang telah terjadi pada kami ? ucap Kevin heran
"Tita, apakah anak kandung kakak ?" tanya Celina masih ragu-ragu
Sambil tertawa Kevin meraih Celina lalu mendekapnya erat.
"Bukan begitu ? bukankah kakak pacar pertama Jessica sebelum bersama tuan Raffa ? tuan Raffa bilang kalau Tita bukan putri kandungnya" tanya Celina.
"Aku terakhir kali bertemu dengan Jessica beberapa saat setelah lulus SMA dan baru beberapa hari lalu bertemu kembali dengannya, bagaimana mungkin aku bisa memiliki anak dengannya ?" ucap Kevin sambil memandang lembut gadis dipelukannya itu.
"Kalau kamu menjadi istriku maka kamu adalah gadis pertama yang aku tiduri" bisik Kevin, membuat wajah Celina merona merah.
Kevin tertawa.
Hanya Tuhan yang tau betapa aku sangat menginginkannya, batin Kevin.
Perlahan mengangkat dagu Celina, meresap lembut bibir gadis itu, Celina memejamkan mata menerima perlakuan lembut Kevin. Laki-laki itu semakin memperdalam ciumannya ketika tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Mereka heran siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini.
Kevin membuka pintu dan terkejut melihat Keira didepan pintu. Celina datang mengajak gadis itu masuk. Kevin terlihat malas-malasan menerima gadis itu dikamarnya.
"Mau apa kamu datang kesini ?" tanya Kevin kurang bersahabat.
Celina memandang heran pada Kevin, laki-laki itu biasanya selalu bersikap ramah pada semua orang, harusnya dia lebih ramah pada seorang gadis. Keira menyadari sikap Kevin itu tapi dia tidak peduli.
"Aku boleh minta tolong nggak ?" tanya Keira.
"Ada apa ? katakanlah ?" tanya Celina.
"Aku... ingin pinjam tunanganmu sebentar, boleh nggak ?"
"Apa ?" teriak Kevin keras hingga mengagetkan kedua gadis itu.
"Cuma sebentar saja, bantu aku ya ?" ucap Keira sambil memohon pada Celina.
"Nggak" jawab Kevin cepat.
"Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada Celina" ucap Keira cuek.
"Hey... yang menjadi tunangannya itu aku" ucap Kevin kesal.
Celina bolak-balik memandang kedua orang yang saling bersitegang itu, lalu tertawa.
__ADS_1
"Kalau aku boleh tau untuk apa ?" tanya Celina penasaran.
"Untuk menjadi tunanganku ?" tanya Keira.
"Hah.. nggak" jawab Kevin cepat.
Keira memandang tajam pada Kevin, lalu kembali menatap Celina memohon untuk diizinkan.
"Bisa dijelaskan kenapa kamu ingin meminjamnya untuk menjadi tunanganmu ?" tanya Celina lebih jelas.
"Ada mantan tunanganku yang datang mencariku, dia tidak percaya kalau aku telah memiliki calon yang baru, dia selalu mengejarku, dia ingin kembali bersamaku, tapi aku sudah tidak bisa menerimanya lagi" jelas Keira.
Celina menatap Kevin, yang ditatap memandang heran pada Celina. Seolah bertanya kenapa dia harus menolong gadis itu.
"Kenapa tidak mencari laki-laki lain ? banyak CEO disini kenapa harus aku ?" tanya Kevin.
"Karena aku tidak akrab dengan pasangan mereka, jadi tidak mungkin mereka mengizinkan, lagi pula, CEO yang tampan itu cuma kamu dan Raffa, jelas kondisi Raffa saat ini, tidak bisa diandalkan" jelas Keira.
Celina mengajak Kevin bicara di balkon, gadis itu memohon pada Kevin untuk membantu Keira. Kevin tidak percaya dia harus mau melakukan perbuatan konyol itu.
Namun karena ini adalah permintaan Celina, laki-laki itu akhirnya menyetujui.
Kevin diajak ke kamar Keira, untuk menjadi tunangan baru Keira. Awalnya Kevin kembali tidak setuju, laki-laki itu tidak mau pergi ke kamar gadis itu. Tapi Keira sudah terlanjur mengatakan nomor kamarnya pada mantan tunangannya itu.
Celina hanya tersenyum saat Kevin akhirnya pergi ke kamar Keira. Pintu kamar telah ditutup kembali gadis itu kembali tertunduk, bersandar dibelakang pintu. Tadi Kevin bersama Jessica dan sekarang Kevin bersama Keira.
Celina menghembuskan nafas berat, baru saja hendak melangkah ke sofa kembali terdengar ketukan pintu. Kevin berdiri disana.
"Aku tidak akan kesana kalau kamu tidak ikut" ucap Kevin.
"Kenapa ?" tanya Celina.
"Aku tidak mau meninggalkan tunanganku sendirian sementara aku harus menemani tunangan palsuku disana.
Kamu ikut ke kamarnya atau kita batalkan saja" ucap Kevin, sesungguhnya dia tidak ingin Celina merasa was-was akan kesetiaannya.
"Pergilah aku baik-baik saja disini, nanti jika aku ikut takutnya bisa menggagalkan rencananya" ucap Celina sambil tersenyum.
"Keira setuju kamu ikut, ayo !!! kalau tidak aku batalkan rencana konyol ini" ucap Kevin memaksa.
Akhirnya Celina ikut ke kamar gadis itu, Celina akan bersembunyi di balkon kamar gadis itu jika mantan tunangan Keira datang.
Memasuki kamar gadis itu, Keira hanya mengenakan handuk sambil tersenyum. Celina terperangah Kevin bersyukur akhirnya membawa Celina ikut bersamanya.
Gadis itu melepas handuk putih hotel itu dan memperlihatkan corset dress didalamnya. Celina dan Keira tertawa, gadis itu sengaja mengenakan handuk itu untuk memperlihatkan kemesraannya bersama tunangan barunya nanti.
Pakaian yang dikenakan Keira berjenis Corset Dress dan tentu saja bagian atasannya menyerupai corset. Dress yang mampu membuat penampilan terlihat seksi itu memiliki model yang pas dengan bentuk tubuh. Dress ini sangat pas untuk wanita yang pede untuk tampil lebih seksi.
Mengenakan dress itu lalu melapisnya dengan handuk membuat Keira seolah-olah hanya mengenakan handuk. Keira dan Celina membicarakan rencana mereka diatas ranjang, sementara Kevin duduk di sofa mendengarkan. Sesekali laki-laki itu tertawa melihat keakraban kedua wanita cantik itu.
Keira menatap Kevin.
"Kamu beruntung memiliki kekasih yang sangat mencintai dan mengkhawatirkan perasaanmu. Jika aku memiliki pria seperti itu aku tidak akan membatalkan pernikahanku" ucap Keira sambil menatap Kevin yang duduk asyik mengamati layar ponselnya.
"Mantan tunanganmu itu sepertinya serius, buktinya dia masih mengejarmu, bahkan sampai ingin membuktikan kalau kamu memang sudah bertunangan lagi, artinya dia berat melepaskanmu" ucap Celina.
Keira menggelengkan kepalanya.
"Dia hanya tidak ingin kehilanganku, tapi aku tidak yakin dia mencintaiku" ucap Keira.
"Bukankah karena mencintai makanya takut kehilangan ?" tanya Celina.
"Betul tapi takut kehilangan belum tentu mencintai. Kevin mencintaimu hingga takut kehilanganmu sementara Chicco takut kehilanganku tapi belum tentu mencintaiku" ucap Keira.
"Kenapa dia bisa takut kehilanganmu padahal dia tidak mencintaimu ?" tanya Celina.
"Karena ada yang diincarnya dariku, harta dan jabatanku, bukan cintaku" ucapnya Keira yang terlihat sedih.
"Aku pernah melihatnya bersama wanita lain, tapi dia tidak mengakuinya, aku memutuskan hubungan dengannya tepat dihari pernikahan kami, itulah sebabnya dia sangat marah" lanjut Keira.
Celina tercenung mendengarkan cerita Keira, ternyata ada banyak tipe hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hubungan itu bisa sangat rumit bisa juga mudah.
Celina menoleh pada Kevin yang masih asyik memandangi layar ponselnya, Celina merasa hubungannya dengan Kevin dan Raffa sangat rumit. Mereka masing-masing ingin tetap pada pendirian mereka. Sementara Celina terasa seperti orang yang tidak punya pendirian.
Keira mendapat telepon dari mantan tunangannya, sebentar lagi laki-laki itu akan datang. Celina segera berdiri ditempat yang tersembunyi, menatap Keira yang membukakan pintu.
Orang yang ditunggu-tunggu datang, Keira memperkenalkan Kevin pada laki-laki itu. Keira bersikap sangat manja pada Kevin untuk meyakinkan laki-laki itu. Kevin membantu gadis itu berakting seolah-olah mereka adalah pasangan yang akan segera menikah.
__ADS_1
Kevin memainkan perannya, Keira bersikap seolah-olah sedang bermesraan bersama tunangannya saat laki-laki itu datang. Dada Celina terasa perih saat melihat Keira meraih wajah Kevin dan mencium bibir laki-laki itu.
...~ Bersambung ~...