
...PESAING...
Pagi hari yang cerah. Angin berhembus perlahan. Mengiringi perputaran roda kehidupan ciptaan Tuhan. Setiap ciptaan harus siap dengan segala ujian. Untuk membuatnya belajar tentang makna kehidupan yang terkadang terlupakan.
Di depan gerbang sekolah AA school. Irene sedang mengantar Long An bersekolah.
“Wah, anak kecil mama terlihat tampan. Hari ini hari pertamamu bersekolah. Bersemangatlah.” Kata Irene memberikan semangat pada Long An.
“Mama juga sudah mendapatkan pekerjaan bukan? Mari sama-sama bersemangat mama.” Kata Long An dengan ceria. Irene tersenyum melihat anaknya yang sangat bersemangat.
Sebelum masuk ke sekolah. Long An mencium tangan mamanya. Irene tersenyum dan melambaikan tangan. Ia bahagia, setidaknya keputusannya untuk kembali ke negaranya membuat Long An kelihatan bahagia.
Pagi itu di sekolah ramai dengan hiruk pikuk murid-murid. Ada yang sudah melakukan pemanasan dan berlari menuju lapangan. Tetapi ada juga yang masih bersenda gurau dengan teman-teman. Long An kelihatan berseri-seri. Dia merasa sangat bahagia.
“Beginikah rasanya berada di negara sendiri?” Gumamnya pada dirinya sendiri.
Long An melihat sekolah atlet yang begitu megah dengan jumlah anak-anak berbakat dibidang olahraga yang begitu banyak. Kemudian, ia menatap ke atas. Melihat langit indah berwarna biru muda. Awan putih terlihat seperti kumpulan kapas yang melayang-layang.
“Papa, jika aku berada di sini. Mungkin aku akan bisa bertemu denganmu. Setidaknya kini, kita melihat langit yang sama. Berpijak di tanah yang sama.” Gumam Long An sendirian sambil tersenyum-senyum.
Tanpa Long An sadari sepasang anak perempuan kembar yang seusia dirinya. Ikut mendongak melihat langit. Mereka mengapit Long An disisi kiri dan kanan. Kedua rambut gadis cilik itu terlihat sama-sama dikepang.
“Ada apa dengan langitnya?” Tanya salah satu anak perempuan pertama.
“Mungkin langitnya akan runtuh.” Sahut anak perempuan kedua.
“Jika langit runtuh. Kenapa anak ini malah tersenyum memandanginya?” Tanya salah satu anak perempuan yang pertama.
“Mungkin anak ini sudah gila.” Jawab anak perempuan yang kedua.
Sedetik kemudian, terdengar suara gelak tawa dari kedua anak perempuan tadi. Sedangkan Long An yang mengetahui dia diapit dua orang anak perempuan malah ikutan tertawa.
“Dasar anak gila.” Kata dua anak perempuan tadi bersamaan.
“Hei, siapa yang gila? Bukankah tadi kita bertiga tertawa bersama. Berarti kita semua gila haha.” Sahut Long An sambil tertawa.
Dua anak perempuan tadi langsung manyun. Pemandangan tersebut tak luput dari Nyonya Meri. Ia langsung datang dan menghampiri ketiga anak tersebut.
“Hei, dasar anak nakal. Jangan menganggu anak baru.” Kata Nyonya Meri.
Dua anak perempuan tadi hanya menjulurkan lidahnya.
“Ya ampun, dasar anak nakal. Mama tidak mengajarimu bersikap tidak sopan begitu.” Tegur Nyonya Meri.
Dua anak perempuan tadi hanya tertawa cekikikan.
“Bye mamaku yang gendut haha.” Lalu keduanya berlarian masuk ke dalam.
“Hei!!! Astaga!! Dasar anak nakal. Membuatku malu saja.” Nyonya Meri terlihat menggerutu.
__ADS_1
Kemudian Nyonya Meri menyapa Long An.
“Halo, selamat pagi nak.” Sapa Nyonya Meri.
Long An balas tersenyum dan menjabat tangan Nyonya Meri. Lantas menciumnya sebagai tanda hormat. Nyonya Meri terlihat tersenyum bahagia. Akhirnya di sekolah ini, ada anak yang mengerti tatakrama.
“Kamu memang anak yang berbeda. Maafkan sikap si kembar tadi. Mereka hanya suka bercanda.” Kata Nyonya Meri sambil tersenyum. Menunjukkan deretan giginya yang memakai behel.
“Ah… jadi mereka adalah kembar?” Tanya Long An dengan ceria.
Nyonya Meri tersenyum dan mengangguk.
“Mereka berdua adalah anak kembarku. Tetapi bukan kembar identik. Anak pertama bernama Meichan. Sedangkan adiknya yang lahir hanya selisih beberapa menit saja bernama Chanmei. Cara membedakan mereka hanya pada tinggi badannya. Meichan satu centi lebih tinggi dari Chanmei.” Jawab Nyonya Meri.
“Aku akan berteman baik dengan si kembar.” Kata Long An diiringi senyum hangat.
“Bagus… aku akan sangat senang. Jika kamu mau berteman dengan si kembar.”
“Sekarang masuklah ke dalam.” Lanjut Nyonya Meri ramah.
Long An mengangguk dan segera berlari masuk ke dalam gedung. Namun, saat dia mulai masuk ke dalam gedung. Seorang anak lelaki sebaya dengan Long An. Tiba-tiba menghadang Long An bersama gerombolan anak lainnya. Long An berhenti sejenak dan tersenyum menatap ke arah mereka.
“Eh, bukankah kamu anak yang kemarin? Namamu Alex kan? Salam kenal. Namaku Long An.” Sapa Long An dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.
Benar adanya, anak lelaki yang menghadang Long An tersebut bernama Alex. Alex menatap Long An dengan tatapan tidak suka. Ia tidak menggubris uluran tangan Long An. Tetapi Long An masih tersenyum ramah pada Alex.
Long An masih dengan santainya tersenyum pada Alex.
“Aku tidak bermaksud mendapatkan tempat khusus atau menggantikanmu. Daripada seperti itu, mari menjadi tim dan kita bertarung bersama sebagai teman hehe.” Kata Long An sembari menunjukkan senyum lebar.
“Hahahaha!!!” Alex dan teman-temannya hanya tertawa.
“Berteman denganmu? Jangan bermimpi. Aku tidak berteman dengan siapapun. Tetapi aku yang akan menjadi pemimpin.” Lanjut Alex lagi.
Long An mengernyitkan keningnya. Tanda tidak mengerti maksud Alex.
“Detik ini juga. Aku menantangmu bertanding. Aku ingin melihat kemampuanmu Si Karateka Genius dari Timur? Kita lihat apa julukan itu pantas untukmu.” Tantang Alex.
“Tetapi, kita harus memanggil guru jika ingin bertanding.” Jawab Long An.
“Tidak perlu. Ini hanya kita berdua saja. Apa kamu takut jika tidak ada guru? Atau kamu takut bertanding denganku? Lebih baik aku memanggilmu pecundang kecil dari timur? Hahaha!!!” Ejek Alex diiringi suara gelak tawa dari teman-teman gerombolan Alex yang lain.
Bagi Long An julukan atau gelarnya seperti apapun tidak masalah. Tetapi sebagai seorang karateka, ia juga harus berani menerima tantangan.
“Baik. Mari bertanding bersama dengan menyenangkan temanku.” Kata Long An sambil tertawa lebar.
Tetapi Alex tak perduli dan menatap Long An dengan sinis. Lantas anak-anak itu bergegas menuju aula dalam dan berganti pakaian Dogi atau disebut Karategi.
Tidak jauh dari sana, dua orang anak perempuan tengah mengintip dan mencuri dengar pembicaraan Long An dan Alex. Kedua anak tersebut tak lain adalah si kembar Meichan dan Chanmei.
__ADS_1
“Alex membuat ulah dengan anak baru.” Kata Meichan.
“Hemm ini pasti menyenangkan hihi.” Sahut Chanmei.
“Apa perlu kita lapor pada mama?” Meichan bertanya pada saudari kembarnya.
“Kita lihat saja pertandingan ini. Nanti kalau kita lapor jadi tidak seru.” Jawab Chanmei. Lantas keduanya tertawa cekikikan dan bergegas menuju aula pertandingan.
Kini Long An dan Alex bersiap di arena. Mengenakan pakaian khas karate yang bernama Dogi atau Karategi. Dogi didesign seperti kimono atau pakaian tradisional Jepang dan berwarna putih. Long An dan Alex juga sudah memakai obi berwarna hitam. Obi adalah sabuk yang biasa dikenakan oleh seorang karateka. Obi terdiri dari beberapa warna yang berbeda. Warna tersebut menunjukkan sebuah tingkatan seorang karateka. Warna dasar obi untuk pemula adalah putih, kemudian kuning, orange, hijau, biru, coklat dan yang paling tinggi adalah hitam.
Long An dan Alex saling berdiri dan berhadapan. Long An masih tersenyum ramah pada Alex. Namun, Alex malah tidak perduli dan terkesan sinis. Keduanya lantas membuka sedikit lebar kedua kakinya.
“Osh!” Kata keduanya bersamaan.
Kemudian saling memberikan hormat. Tidak lama kemudian pertandingan dimulai. Alex dan Long An sama-sama memasang kuda-kuda. Saling menatap tajam pada lawannya. Disaat bertanding, Long An terlihat serius. Teman-teman Alex yang lain saling bersorak-sorai memberikan semangat. Tak jauh dari sana si kembar Meichan dan Chanmei mengintip sambil tertawa cekikikan.
“Osh!!” Teriak Alex.
Ia tak sabar dan langsung memberikan Long An sebuah pukulan. Namun, An berhasil menghindar. Alex kembali menyerang dengan teknik Kisame zuki yaitu pukulan ke arah kepala. Tetapi kaki tidak melangkah. Lagi-lagi Long An menghindari serangan Kisame Zuki Alex. Alex terlihat kesal karena serangannya terbaca. Kemudian ia menyerang kembali dengan teknik Oi Zuki Chudan, pukulan ke arah perut atau ulu hati. Kali ini Long An tidak menghindari serangan. Namun menangkisnya dengan teknik Soto Ude Uke yaitu tangkisan tengah yang datangnya dari belakang telinga.
Plak!
Alex terkejut serangannya dapat ditangkis oleh Long An. Long An mengambil kesempatan disaat Alex masih terkejut. Ia langsung melancarkan serangan balasan menggunakan tendangan kaki bagian samping (disodok) yang dinamakan teknik Yoko Geri Kekome.
Brak!!
Seketika Alex terjungkal karena tak sempat menghindar atau menangkis serangan balasan Long An. Sebelum Alex berdiri, Long An segera mendekat dan mengulurkan tangannya. Ingin membantu Alex berdiri. Namun, Alex yang kesal ia menghempas tangan Long An dengan kasar. Alex melihat ke arah teman-temannya yang sedang berbisik menatap ke arahnya. Ia begitu marah karena merasa dipermalukan oleh Long An. Tiba-tiba terdengar suara bersahut-sahutan.
“Guru datang!!!”
“Guru Gendut datang!!”
Teriak suara saling bersahut-sahutan. Alex menatap kesal ke arah Long An dan bergegas pergi. Diikuti teman-teman lainnya. Long An terdiam menatap kepergian Alex. Tidak lama kemudian terdengar suara tepukan meriah dari dua orang yang tak lain si kembar.
“Wah, hebaat. Kamu bisa mengalahkan si congkak Alex dengan mudah.” Kata Meichan.
“Itu keren, kamu hebaat.” Timpal Chanmei.
Long An menatap ke arah si kembar.
“Aku tidak sehebat itu. Aku hanya ingin berteman.” Kata Long An sedih.
Sebenarya ia tak ingin memiliki musuh. Hanya ingin memiliki teman saja, karena Long An suka berteman.
Si kembar saling berpandangan. Kemudian mereka tersenyum pada Long An.
“Mari berteman bersama, anak gila.” Kata si kembar bersamaan.
Tadinya Long An yang merasa sedih segera berbinar wajahnya. Mengetahui Si kembar mau berteman dengannya. Akhirnya mereka bertiga menjadi teman.
__ADS_1