
...Keluarga Angkuh...
Di sebuah lorong sekolah. Terlihat seorang anak berumur 10 tahun berjalan dengan muka merah padam. Antara menahan rasa amarah dan juga rasa malu. Anak itu tidak lain bernama Alex. Alex memiliki gaya rambut cepak dengan tubuh sedikit berisi. Dia merasa dipermalukan oleh Long An dihadapan teman-temannya. Alex yang merasa selama ini menjadi andalan di sekolah AA School. Tak terima dikalahkan dengan mudah oleh Long An. Ia bergegas menuju ruangan wakil Direktur. Membuka pintunya dengan keras.
“Tante Ros, waaa hiks… hiks….” Lapor Alex sambil menangis.
Seorang wanita muda yang tadinya duduk di meja kerjanya segera menghampiri Alex. Penasaran dengan apa yang terjadi dengan keponakannya itu. Selama bersekolah di AA School, Alex tidak pernah menangis seperti ini.
“Tante…. Aku sangat membenci anak itu.” Kata Alex dengan suara tangisan yang semakin keras.
Si wanita muda yang memiliki rambut kecoklatan dengan dagu sedikit terangkat tersebut hanya melipat tangannya didada.
“Ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba menangis? Keluarga Birgita tidak boleh manja seperti ini.” Kata si wanita muda.
“Ini semua karena anak menyebalkan itu!! Aku sangat membencinya!!” Teriak Alex penuh amarah diantara isak tangisnya.
Wanita berambut kecoklatan yang berumur 30 tahunan itu memegang bahu Alex. Menatap tajam pada Alex.
“Katakan dengan perlahan. Supaya tantemu ini bisa mengerti dengan jelas.”
Alex segera mengusap air matanya. Menatap tajam ke arah tantenya.
“Anak itu, anak baru yang mendapat julukan Karateka Genius dari Timur telah mempermalukanku di depan teman-teman. Dia sudah berani menantangku yang merupakan andalan sekolah ini.” Jawab Alex dengan amarah yang berkobar.
Namun, ia menceritakan hal sebaliknya dengan cerita sebenarnya. Padahal ia duluan yang menantang Long An. Tetapi menceritakan hal yang berbeda pada tantenya.
“Lalu?” Tanya tante Alex.
“Ta… tapi… aku dikalahkan olehnya. I … Itu dia hanya beruntung saja bisa mengalahkanku. Pasti nanti aku akan bisa membalasnya lebih dari ini!!!” Teriak Alex penuh kebencian pada Long An.
Wanita muda yang dipanggil tante oleh Alex tersebut. Menyunggingkan sebuah senyum licik.
__ADS_1
“Kamu memang keponakan tante. Benar yang kamu katakan, balaslah perbuatan anak itu. Keluarga Birgita adalah keluarga terhormat. Jadi, siapapun yang mempermalukan keluarga Birgita. Akan mendapat balasan yang setimpal.” Sahut wanita muda berambut kecoklatan dengan senyum jahat.
Alex yang berdiri di samping tantenya juga ikut tersenyum licik. Merasa mendapat dukungan dari tante kesayangannya. Alex yakin akan dengan mudah membalas kekalahannya pada Long An. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Di meja kerja wanita muda tersebut terdapat papan nama. Bertuliskan Wakil Direktur Rosalind Birgita.
Di sebuah tempat latihan karate. Semua anak-anak karateka berkumpul. Mereka sedang berlatih kata. Dibantu oleh guru yang membimbing anak-anak.
“Hya!! Hya!!” Suara anak-anak tersebut terdengar membahana diseluruh ruang latihan.
Ruang latihan yang cukup luas dan mewah. Anak-anak terlihat berlatih dengan serius. Di bawah bimbingan para guru yang sudah ahli dalam bidang karate. Tak ketinggalan, di sana Long An juga ikut berlatih bersama si kembar Meichan dan Chanmei.
“Hei, anak gila… hihi… kamu tadi hebat. Bisa mengalahkan si sombong Alex hanya dengan satu teknik.” Kata Meichan.
“Hemm, benar sekali. Muka Alex berubah jadi merah, hijau, kuning hihi.” Sahut Chanmei.
“Memangnya muka Alex perempatan lampu merah? Hihi.” Balas Meichan dengan suara cekikikan, membayangkan muka Alex yang berubah seperti traffic light.
Long An hanya tersenyum. Melihat tingkah lucu si kembar yang kompak saling bersahutan.
“Jangan begitu. Bagaimana jika Alex mendengar? Aku hanya ingin berteman.” Kata Long An menasehati si kembar.
“Hemm, itu benar. Berikan saja pelajaran pada si angkuh itu.” Gantian Meichan yang bicara.
Kemudian, si kembar kembali melanjutkan.
“Hei, An. Bagaimana rahasianya kamu bisa mengalahkan Alex?” Tanya Meichan.
“Ya benar, caranya bagaimana?” Timpal Chanmei.
Kebiasaan si kembar memang selalu begitu. Jika satunya bicara maka yang lainnya ikut menyahut.
“Rahasia? Tidak ada rahasia. Aku hanya menggunakan teknik karate seperti biasanya.” Jawab Long An dengan wajah polosnya.
__ADS_1
“Hei, pasti ada rahasianya.” Kata Meichan.
“Benar. Apa rahasianya?” Tanya Chanmei.
“Sebenarnya saat pertama kali aku datang ke sini. Aku melihatnya langsung memperagakan kata. Aku sungguh senang melihat Alex yang memiliki gerakan bagus dalam kata. Tetapi dari pengamatanku, kihon maupun kuda-kuda yang ia miliki tidak terlalu kokoh. Aku rasa, dia terlalu fokus berlatih kata dan kumite. Padahal kunci utama dari seni bela diri karate adalah kihon dan kuda-kuda.” Long An menjelaskan panjang lebar.
Mendengar penjelasan Long An yang mendetail. Membuat mata si kembar berbinar.
“Wow, luar biasa.” Meichan berkata dengan antusias.
“Wow, sungguh luar biasa.” Chanmei ikut menyahut.
“Hihi, itu biasa saja.” Kata Long An nyengir kuda. Sambil menggosok-gosok kepalanya.
“Sebenarnya, Alex adalah karateka yang hebat. Tekniknya sudah hampir sempurna. Tetapi, ia tidak memiliki kesabaran dalam pertarungan. Sehingga membuayarkan konsentrasinya.” Lanjut Long An lagi.
“Wah, kamu hebat. Hanya dalam sekali pengamatan sudah bisa mengetahui kelemahan Alex.” Puji Chanmei.
“Wah, hebat sekali. Kamu memang si Karateka Genius dari Timur.” Sahut Meichan.
“Aku biasa saja. Kalian juga hebat. Jika kita semua bersama menjadi tim. Pasti akan menjadi tim yang solid dan membanggakan nama AA School.” Kata Long An dengan senyum hangat.
“Benar, kita akan menjadi tim karateka gila dari AA School.” Kata si kembar bersamaan sembari merangkul Long An. Mereka tertawa bersama layaknya sahabat yang sudah saling mengenal sejak lama.
Sikap Long An yang santun. Mau berteman dengan siapa saja dan rendah hati. Membuat ia cepat memiliki teman. Salah satunya adalah si kembar Meichan dan Chanmei. Pemandangan yang menunjukkan keakraban ketiga anak itu tak luput dari pengamatan Alex. Ia menatap tak suka ke arah ketiga anak itu. Alex semakin membenci Long An. Tidak lama kemudian, di belakang Alex datanglah Rosalind Birgita. Ia melihat kemana arah pandangan keponakannya itu.
“Jadi, anak lelaki berambut berdiri seperti duri itu adalah Si Karateka Genius dari Timur?” Tanya Rosalind sambil melipat tangannya didada.
Alex mengangguk tanda membenarkan.
“Tenang saja, keponakanku. Tantemu ini, akan membantumu mengalahkannya.” Ucap Rosalind.
__ADS_1
“Tidak ada yang boleh menyaingi keluarga Birgita yang terhormat. Kamu harus menyingkirkan setiap orang yang hendak mengambil posisimu. Kamu mengerti?” Tanya Rosalind pada keponakannya. Sembari menepuk bahu Alex.
Alex mengangguk pasti. Sembari menatap tajam ke arah Long An. Tatapan tante dan keponakannya tersebut terlihat jahat. Mereka tidak akan merelakan posisi terhormat itu diambil begitu saja oleh orang lain. Terutama oleh seorang bocah yang baru saja masuk ke AA School.