Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 64


__ADS_3

... Kemurkaan Rosalind...


            “Arght!!!!” tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari sebuah Villa yang tadinya hening.


            Prang!


            Suara benda dibanting terdengar berkali-kali. Benda tersebut hancur berkeping-keping. Seorang wanita berambut kecoklatan terlihat mengamuk. Menghancurkan semua benda-benda yang ada di sekitarnya. Villa yang tadinya rapi, dalam waktu sekejap terlihat sangat berantakan. Wanita yang sedang mengamuk tersebut tak lain adalah Rosalind Birgita.


            “Hei, hentikanlah. Tidak ada gunanya kamu menghancurkan tempat ini.” tegur seorang pria yang tak lain Liam. Ia dengan santainya duduk sembari menegak wine.


            Rosalind yang mendengar hal tersebut langsung menghampiri Liam. Mencengkeram erat kerah pria tersebut. Menatap penuh amarah.


            “Ini semua karena kesalahanmu waktu itu!!! jika saja kamu tidak mabuk dan ketiduran untuk mengambil potret Irene tidur dengan Rava. Semua ini tak akan terjadi!” teriak Rosalind dengan nada meninggi.


            Liam tak terima disalahkan begitu saja. Ia balas membanting Rosalind di sofa dan menindihnya. Mendekatkan wajahnya dengan wanita itu. Menatap dengan tatapan yang tak kalah tajam.


            “Jika saja waktu itu, aku yang meniduri Irene. Semua ini tak akan terjadi. Mungkin saja, aku bisa memiliki anak bersama wanita itu. Lantas memanfaatkannya untuk mendapatkan hati ayahku.” geram Liam dengan kesal.


            Rosalind tak ingin kalah. Dia lantas mendorong Liam dan berganti menindih pria yang kelihatan lemah tersebut.


            “Jika seperti itu, aku rasa rencana kita tidak akan berhasil. Ravindra tidak akan tersingkir. Jangan bodoh!” timpal Rosalind.


            Liam hanya mendecih, “katakan saja jika kamu cemburu. Jika aku meniduri wanita bernama Irene itu bukan?”


            Rosalind menatap Liam dengan tajam.


            “Aku tidak ada waktu memikirkan hal konyol seperti itu.” balas Rosalind.


            Rosalind kemudian duduk sambil melipat tangannya. Tatapannya kelihatan masih kesal. Liam hanya menggelengkan kepala dan menyunggingkan senyum.


            “Rencana kita untuk mendapatkan seluruh kekayaan ayahmu akan gagal. Jika sampai Ravindra dan Irene bersama. Bocah karateka itu, juga menghalangi segalanya.” gerutu Rosalind.


             Tangan Liam melingkar di leher Rosalind.


            “Jangan terlalu gusar dengan situasi semacam ini. Masih banyak waktu merencanakan hal lainnya. Lagipula, hubungan Ravindra dan Irene pasti belum begitu kuat. Meski keduanya memiliki bocah genius itu.”


            “Apa maksudmu?” tanya Rosalind tak mengerti.


            “Kamu lebih pandai dariku mengenai hal ini.” jawab Liam sembari tersenyum menyeriangi.


            Rosalind yang tadinya tidak memahami maksud Liam. Sedetik kemudian, senyum licik terpampang di wajahnya. Seolah ide jahat muncul dari dalam benaknya.


            “Ini akan menarik.” sahut Rosalind diiringi senyum licik.


            “Kamu memang pantas menjadi wanitaku. Jika rencana kita berhasil mengambil seluruh kekayaan ayahku. Sudah ku pastikan, kamu akan aku jadikan permaisuri dari keluarga Damariswara.” rayu Liam. Tidak lama kemudian, Liam menggendong Rosalind ke kamar. Hendak bercocok tanam bersama.


            Di tempat lain, Irene dan Ravindra tak tahu bahaya apa yang mengintai. Mereka sedang membeli ayam goreng, ice cream dan susu kesukaan Long An. Rava janjian dengan Irene untuk menjemput Long An pulang sekolah.


            “Jadi, An sangat suka ayam goreng, ice cream dan susu?” tanya Ravindra.

__ADS_1


            Irene mengangguk diiringi sebuah senyum.


            “Ya, An sangat menyukainya. Kamu harus mengingat itu.”


            “Aku akan mengingat dengan baik. Apa yang disukai putraku. Aku juga akan selalu ingat, apa yang kamu sukai.”


            Irene tersenyum, “kamu cepat belajar rupanya. Tetapi, aku belum tahu apa yang kamu sukai?”


            “Aku? Aku tidak tahu menyukai apa.” jawab Rava dengan sedikit menyunggingkan senyum.


            “Aku akan menebak apa yang kamu sukai.” kata Irene dengan senyum riang.


            Senyumnya akan membuat siapa saja terpikat.


            “Tebaklah, apa yang aku sukai.”


            “Pria berambut landak di hadapanku ini, sangat menyukai bunga Verbena dan piknik bersama keluarga.”


            Mendengar jawaban Irene, seketika Ravindra tercekat. Ia kelihatan terkejut. Irene menebak apa yang Ravindra sukai. Padahal dia sendiri tak bisa menyebutkan secara spesifik.


            “Ke… kenapa kamu bisa mengatakan kedua hal itu?” tanya Rava terkejut.


            Irene tersenyum, “parfum yang kamu gunakan sangat khas. Parfum yang langka dan jarang dipakai orang lain. Setahuku, orang-orang cenderung memakai sesuatu yang mereka sukai atau sesuatu itu memiliki kenangan. Mungkin, kamu memiliki kenangan tentang bunga Verbena. Sama seperti diriku yang memiliki kenangan dengan bunga Lotus.”


            Lagi-lagi Ravindra dibuat terkejut dengan jawaban Irene. Ia tersenyum simpul.


            Irene berucap, “kamu terlihat bahagia saat merasakan kehangatan keluarga yang sedang piknik.”


            Lagi… lagi… dan lagi… Ravindra dibuat terkejut dengan jawaban Irene. Rava hanya bisa menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


            “Semua jawabanmu benar-benar mengenai hatiku. Bahkan aku sendiri, tidak bisa menyebutkannya secara khusus. Dahulu, mendiang ibuku sangat menyukai bunga Verbena. Dia sering menanam bunga Verbena di kebun kami. Saat dia melihat bunga Verbena senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Aku yang sejak kecil tak pernah melihat mendiang ibuku tersenyum padaku. Merasa bahagia, ketika melihatnya tersenyum saat menatap bunga Verbena. Aku selalu berandai-andai, menjadi bunga Verbena. Maka ibu akan tersenyum padaku, karena itulah aku selalu menggunakan parfum bunga Verbena.” jawab Ravindra dengan mata berkaca-kaca.


            Rava kembali teringat dengan kenangan yang membuat hatinya membeku. Irene lantas menggenggam tangan Ravindra.


            “Maafkan aku, mengingatkanmu akan kenangan yang membuat hatimu terasa sakit.”


            “Tidak masalah, meski kenangan itu menyakitkan. Tetapi, di satu sisi hal itu adalah kenanganku tentang mendiang ibu. Sosok yang selalu ingin aku rasakan kehangatan pelukannya.” jawab Rava dengan nada sedih.


            “Kenapa ibumu melakukan itu?” tanya Irene.


Irene juga teringat akan kenangan bersama ibunya. Ia yang ingin merasakan kehangatan pelukan seorang ibu malah mendapatkan rasa sakit. Irene ingin berbagi segalanya dengan Ravindra.


            “Sebenarnya ibuku adalah wanita yang baik. Kata orang, sewaktu dia muda ibuku adalah orang yang ceria murah senyum dan penuh kasih sayang. Tetapi semua berubah, ketika ia dijodohkan dengan ayahku. Ibuku berubah menjadi pendiam dan lebih menyukai kesendirian. Perjodohan dengan ayahku. Membuatnya sakit hati karena harus dipisahkan dengan kekasih yang sangat ia cintai.”


            Ravindra diam sejenak dan menghela nafas dalam. Irene menggenggam tangan Rava dengan erat. Kemudian Rava melanjutkan.


            “Ibuku tidak pernah menyayangiku karena aku adalah darah daging ayah. Pria yang sama sekali tidak ibuku cintai. Maka aku diperlakukan dengan dingin olehnya. Lantas ibuku berselingkuh dengan cinta pertamanya. Ayahku yang tidak puas dengan sikap ibuku juga membalas berselingkuh. Hingga menyebabkan hatiku yang mendambakan kasih sayang mereka jadi membeku.”


            Irene yang mendengar kisah Ravindra jadi memahami segalanya. Kenapa pria dihadapannya ini sangat dingin. Ia adalah seorang pria yang takut hatinya terluka. Rava hanya mendambakan kehangatan sebuah keluarga.

__ADS_1


            “Jangan bersedih lagi dan menyimpan sesuatu yang membuat hatimu sakit. Kini, aku dan Long An yang akan menggantikan rasa sakit itu menjadi kebahagiaan. Memberikan kehangatan sebuah keluarga yang kamu ingin rasakan. Mari berpiknik bersama lain waktu.” hibur Irene dengan senyum hangat penuh ketulusan.


            Ravindra menatap Irene dengan dalam. Sedetik kemudian, Rava tersenyum bahagia. Ia tak salah mempercayakan hatinya pada Irene. Lantas mereka keluar dari tempat membeli makanan tersebut. Saat Ravindra dan Irene keluar. Tanpa sengaja Irene menabrak dua orang wanita.


            “Ah… maafkan saya.” kata Irene meminta maaf dengan dalam.


            “Oh, bukankah kamu Rene? Irene Maxzella?” tanya salah satu wanita yang berdandan menor.


            “Ya, aku rasa dia adalah Irene. Teman satu sekolah SMA kita.” sahut salah satu wanita di sebelahnya.


            Irene yang mendengar namanya di panggil. Seketika mendongakkan kepala. Menatap dua wanita tadi.


            “Apa aku mengenal kalian?” tanya Irene.


            Mereka menatap Irene seolah tak suka dan merendahkan.


            “Tidak masalah kamu tidak mengenal kami. Tetapi kami tahu, kamu wanita seperti apa? Bahkan satu sekolah kita dahulu mengetahuinya.” jawab salah satu wanita yang berdandan sangat menor.


            “Aku rasa rumor waktu itu benar. Lihatlah, dia sekarang menggaet seorang pria tampan.” sahut teman satu lagi yang mengenakan barang Branded dan berbagai macam perhiasan ditubuhnya. Kedua wanita tadi sesekali melirik ke arah Ravindra. Rava hanya diam menatap dengan dingin.


            “Apa maksud kalian?” tanya Irene tak mengerti.


            Kedua wanita tadi tersenyum seolah mengejek Irene.


            “10 tahun yang lalu dan mungkin bahkan saat ini. Kamu hanyalah wanita jalanan yang mencari mangsa para pria kaya. Bahkan memiliki anak tanpa suami. Memalukan sekali.” ejek wanita dengan riasan menor.


            “Benar sekali, aku pikir dahulu kamu wanita baik-baik. Rupanya yang namanya lumpur tetaplah lumpur. Dasar wanita menjijikkan yang suka dijadikan penghangat ranjang.” timpal wanita satu lagi.


            Irene yang tak terima hendak membuka suaranya. Namun terdengar suara Ravindra sembari menatap tajam pada dua wanita tadi.


            “Hei, kalian. Apa di rumah kalian cerminnya sudah rusak semua? Di depan sana ada air pembuangan sampah. Kalian bisa bercermin di sana.” kata Ravindra dengan tatapan sinis.


            “A… apa maksudmu?” tanya dua wanita tadi.


            “Kamu…” tunjuk Rava pada wanita yang berdandan menor.


            “Di sore menjelang malam seperti ini. Riasanmu terlalu menor. Kamu boleh membodohi orang lain. Tetapi, aku bisa melihat kamu wanita yang seperti apa. Kamu lah wanita penghangat ranjang yang sebenarnya. Tidak ada wanita baik-baik mengenakan riasan menor dan dandanan mencolok seperti ini saat sore hari.”


            “Kamu… juga tak kalah parah.” Tunjuk Rava pada wanita satu lagi.


 “Semua barang bermerk dan perhiasan yang kamu kenakan. Hanyalah imitasi, semua palsu. Jadi, bercerminlah dulu siapa lumpur yang sebenarnya.” kata Ravindra dengan tajam.


            “Dengarkan baik-baik. Wanita ini, wanita yang bernama Irene adalah wanitaku. Ibu dari anakku. Jadi, jaga ucapan kalian. Mengerti?!”


            Seketika dua wanita tadi langsung terdiam dan merasa balik dipermalukan. Mereka bergegas pergi dari sana. Irene menatap Ravindra dengan dalam. Merasa terharu dengan apa yang Rava lakukan hari ini. Irene menggenggam tangan Rava dengan erat. Ravindra membalas genggaman tangan Irene. Lantas dengan perasaan bahagia. Keduanya bergegas menjemput Long An.


           


           

__ADS_1


__ADS_2