Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 52


__ADS_3

... Kegelisahan Ravindra...


“Hya!! Hya!!” suara teriakan berpadu dengan pukulan seseorang pada samsak terdengar menggema di tempat latihan Dojo. Seorang pria dengan wajah persegi yang tampan dan rambut berdiri, sedang memukul samsak sekuat tenaga. Dari raut wajahnya terlihat jelas gurat-gurat kemarahan. Keringat bercucuran membasahi badannya yang berkulit kuning langsat. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya.


“Hya! Hya! Hya!” pria itu terus memukul atau menendang samsak.


Seolah, ia sedang melampiaskan kekesalan dan amarah yang menyesakkan dadanya. Hingga terdengar suara pintu Dojo terbuka. Namun, si pria yang tak lain adalah Ravindra Damariswara tak mengindahkannya. Disaat pintu terbuka, muncullah si kecil Long An. Long An datang karena mengkhawatirkan ayah yang belum bisa ia panggil papa tersebut. An, mengetahui dengan pasti. Bahwa Ravindra sedang kesal karena masalah semalam. Ibunya ternyata telah dilamar oleh Dareen. Dugaan Long An tepat. Ravindra memang sedang kesal dan sepertinya bercampur gelisah.


Long An datang diantar Nyonya Meri dan Si kembar. Lalu ia sendirian yang akan menemui ayahnya. An mendapatkan info keberadaan Ravindra dari Pak Albert. An, menatap sedih ayah yang belum bisa bersama ibunya. Namun, sedetik kemudian An tersenyum lebar. Ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian karategi. Lantas berjalan mendekat ke arah Ravindra.


“Paman, ayo berlatih tanding denganku.” tantang An dengan senyum yang terlukis diwajahnya.


Mendengar Long An datang. Ravindra menghentikan pukulannya pada samsak.


“Pulanglah.” kata Ravindra ketus.


Lantas ia melanjutkan memukul atau menendang samsak kembali.


“Hya! Hya!! Hya!!” teriaknya kembali menggema.


Long An menatap pada ayah yang selama ini ia nantikan bisa bertemu. Meski belum bisa memanggilnya ayah. Namun, bagi An suatu kebahagiaan tersendiri sudah mengetahui jati diri ayahnya. Kini, kewajiban dia sebagai anak adalah selalu menemani ayahnya dalam kondisi apapun. Ia sudah berjanji untuk menghangatkan hati Ravindra.


“Paman rambut landak, An mengerti. Pasti sekarang, hatimu sangat sesak. Sampai sulit bernafas bukan? Keluarkan semua rasa sesak itu dengan berlatih tanding denganku.” kata An sambil memasang kuda-kuda.


Ravindra tidak menggubris perkataan Long An. Dia masih terus memukul samsak dengan keras.


“Jika paman rambut landak seperti ini. Bagaimana An bisa mempercayakan mama padamu? Jika paman ingin bersama mama. Maka lawanlah aku dulu. Barulah aku bisa mempercayakan mama pada paman. Keluarkan juga rasa sesakmu. Jadi, terimalah tantanganku,” ucap An dan bersiap.

__ADS_1


Long An tidak perduli Ravindra siap atau tidak. Ia akan tetap menyerang Ravindra.


“Osh.” kata An perlahan. An membuka kakinya lebar dengan tangan mengepal. Lantas ia segera berlari ke arah Ravindra.


 “Hya!!” teriaknya keras.


Kemudian Long An sedikit meloncat dan melakukan tendangan yang bernama Yoko Geri Kekome yaitu sebuah tendangan dengan kaki bagian samping (disodok). Rava bukannya tak waspada, ia tahu gerakan Long An begitu cepat. Ravindra segera memperhatikan kaki Long An. Menatap dengan mata sipitnya yang tajam. Lantas menangkis dengan tangan kirinya. Long An tahu serangannya akan diblok. Saat kakinya menginjak tanah. Ia tak akan melewatkan kesempatan dan segera menyerang kembali dengan Tate Shuto yaitu sebuah serangan dengan tangan pedang.


“Hya!” teriak Long An.


Rava segera menangkis dengan teknik Soto Ude Uke yaitu tangkisan tengah yang datangnya dari belakang telinga.


Shaat!


Rava berhasil menangkis serangan Long An. Ia kemudian segera memberikan serangan balasan dengan teknik Uraken Uchi sebuah pukulan menyamping. Long An waspada dengan serangan Rava. Ia sedikit memundurkan langkah dan merunduk. Saat Rava lengah, Long An yang merunduk memanfaatkan tubuh kecilnya yang ringan dengan memberikan pukulan ke arah perut. Menggunakan teknik Choko Zuki.


Tak ayal pukulan tersebut mengenai perut Rava. Namun, Long An segera menarik tangannya sebelum pukulan itu fatal mengenai perut Ravindra. Rava segera menjaga jarak dengan Long An. Begitu juga dengan An. An menatap Rava dengan tatapan serius. Rava juga balik menatap. Ravindra mulai mengendorkan kerah dan dasinya. Ia menatap Long An dengan tajam. Rava bersiap dengan kuda-kuda untuk bertarung kembali. Long An tersenyum lebar melihat Rava menerima tantangannya.


“Paman rambut landak. Tolong berjuanglah untuk bisa mendapatkan hati mama. Jangan menyerah, hati mama mungkin juga menginginkan hal seperti itu.” kata Long An sembari tersenyum hangat.


Ravindra tercekat mendengar ucapan Long An. Sedetik kemudian, keduanya saling tersenyum. Lalu kembali bertarung sampai rasa sesak yang Ravindra rasakan memudar secara perlahan. Ia ingin mempercayai kembali yang namanya kasih sayang. Kasih sayang tidak akan melukainya seperti dulu.


“Hya!!!” teriak Ravindra dan Long An bersamaan sambil terus bertarung.


Kegelisahan Ravindra pun mulai memudar. Tergantikan kehangatan, karena ia merasa bahagia mengetahui bahwa darah yang menetes dalam diri An adalah darahnya. Anak yang begitu istimewa di mata Ravindra. Anak yang memiliki kehangatan hati. Berbeda dengan dirinya. Maka ia akan memperjuangkan semua itu, Long An dan bunga lotusnya, Irene Maxzella.


Di tempat lain, sebuah Villa yang cukup mewah.

__ADS_1


Terdengar suara nafas yang saling beradu. Nafas dua orang, antara pria dan wanita yang tengah memadu kasih layaknya suami istri. Suara nafas keduanya menggema diseluruh penjuru kamar yang cukup luas tersebut. Kedua pria dan wanita itu tak mengenakan pakaian sehelaipun. Keringat membanjiri tubuh mereka. Dua orang tadi saling beradu jurus sutra. Merasakan bagaimana indahnya masing-masing tubuh mereka. Sang pria begitu aktif mendaki puncak gunung hingga menuruni lembah.


Kedua orang tersebut tak lain adalah Rosalind dan Liam Damariswara. Mereka sedang berlaga di ranjang. Saling menindih satu sama lain. Merasakan nafas keduanya memburu dan terengah-engah. Merasakan bagaimana nikmatnya dunia. Liam pun ternyata tak selemah kelihatannya. Ia kelihatan bertenaga ketika mengaduk adonan di lubang milik Rosalind. Hingga Rosalind kewalahan dengan tarikan dan suara yang melenguh tinggih. Begitu juga dengan Liam. Sedetik kemudian, ia menyusul Rosalind dengan suara lenguhan panjang.


Setelah itu, Liam pun segera bergegas ke kamar mandi. Tak ingin meninggalkan jejak di tubuh Rosalind karena Rosalind melarangnya. Meminta Liam berhati-hati saat melakukan itu dengannya. Rosalind pun terlihat terlentang di ranjang dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Nafasnya masih terdengar terengah-engah. Di kamar mandi terdengar suara kran menyala dengan deras.


Beberapa menit kemudian, Liam keluar masih dengan kulit alami yang membungkus tubuhnya. Ia berjalan dengan santai dan menegak segelas wine. Kemudian, menyusul Rosalind tiduran di ranjang. Rosalind terlihat sedang memejamkan matanya.


“Apa kamu sudah tidur?” tanya Liam yang sudah berhasil mengatur nafasnya.


“Bagaimana aku bisa tidur? Jika rencana yang kita susun kemungkinan akan menemui kegagalan.” sahut Rosalind yang sudah membuka mata.


Liam menyunggingkan senyum licik. Tangannya membelai kepala Rosalind.


“Tenang saja. Masih banyak waktu untuk menyusun rencana lainnya.”


“Bagaimana aku bisa tenang hah?!! Anak itu jelas adalah darah daging Ravindra. Ia begitu kuat dalam karate. Kita sudah menyuruh orang-orang yang pandai bela diri untuk melukai anak itu. Tetapi semuanya gagal. Menurutmu apalagi sekarang?” tanya Rosalind dengan nada meninggi.


“Hei  jangan terlalu emosi, yang penting rahasiakan kalau anak itu anaknya Ravindra. Jangan sampai ayah mengetahuinya. Kita cari cara lain.” jawab Liam.


“Tetapi, sampai kapan? Meski wanita yang bernama Irene itu tak tahu siapa yang pernah tidur dengannya. Tetapi, tetap saja aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan mencari kelemahan anak itu.” kata Rosalind sembari beranjak dari tidurnya. Ia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Lantas berjalan sambil menikmati pemandangan di luar dari balik jendela kaca kamar tersebut. Kemudian meminum wine. Menenggaknya hingga habis.


Liam tersenyum dan menyusul Rosalind. Tak ada rasa malu berjalan tanpa mengenakan apapun. Hingga terlihat bagian vital tubuhnya tercetak jelas. Menggantung dibagian bawah perutnya. Liam memeluk Rosalind dari belakang. Memberikan kecupan lembut di leher Rosalind.


“Aku akan membantumu. Kita lakukan ini bersama hemm… aku yakin kamu akan menemukan rencana yang lebih dahsyat lagi untuk menghancurkan mereka.”


Rosalind tersenyum licik karena mendapatkan dukungan dari Liam. Lantas dengan kasar Liam menarik selimut Rosalind hingga menampakkan tubuh indah wanita berhati licik tersebut. Menampakkan semangka yang cukup besar. Membuat mata Liam berbinar. Liam tersenyum simpul dan segera membanting tubuh Rosalind di ranjang. Mereka kembali bertarung bebas menikmati kenikmatan dunia. Sembari merencanakan ide untuk menyingkirkan Irene dan yang lainnya.

__ADS_1


Apa yang Rosalind dan Liam rencanakan? Nantikan di bab berikutnya.


__ADS_2