
...Teror...
Liam dan Rosalind kini sedang bersembunyi di sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Tuan Birgita yang memanjakan anaknya juga ikut andil membantu menyembunyikan Rosalind. Saat ini Rosalind dan Liam sedang bersembunyi dari kejaran polisi. Maupun Ravindra yang sudah barang tentu hendak membalas dendam pada keduanya.
“Dasar kamu bodoh! Kenapa bisa gagal mendapatkan kekayaan keluargamu hah?!! Jika saja… jika saja waktu itu kamu berhasil mendapatkan kekayaan ayahmu. Kita bisa pergi keluar negeri dan pergi jauh dari sini.” kata Rosalind dengan perasaan amarah yang memuncak sambil mencengkeram kerah baju Liam.
Liam menghempaskan tangan Rosalind dengan kasar. Menatap dengan tatapan yang tak kalah tajam.
“Siapa yang ingin rencananya gagal, hah?! Siapa yang menduga Ravindra memilih datang menyelamatkan pak tua itu. Kamu pikir aku juga tidak kesal dengan semua ini?!!!” teriak Liam begitu keras.
Keduanya terlihat sama-sama emosi. Semua di luar rencana mereka. Meski sebenarnya di satu sisi Rosalind merasa bahagia Irene telah tewas. Liam yang merasa kesal memilih pergi ke luar untuk mencari udara segar. Liam melihat sekeliling sembari menegak wine merah kesukaannya. Langit terlihat begitu gelap. Sunyi dan hening yang Liam rasakan di sekitar tempat terpencil itu.
Saat Liam sedang menikmati minumannya. Tanpa sengaja matanya melihat semak-semak di depannya seperti bergoyang. Ia menajamkan matanya untuk melihat ke arah semak-semak yang sedang bergoyang tersebut. Tepat disaat mata Liam menatap ke arah semak-semak tersebut. Tiba-tiba muncul sosok seseorang tengah berdiri menatapnya dengan tajam. Rambutnya yang panjang terlihat berantakan. Pakaiannya kotor dan compang-camping. Seseorang itu terlihat menundukkan kepalanya. Liam berusaha memicingkan mata supaya dapat melihat siapa sebenarnya orang itu. Disaat yang sama, orang itu pun mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya Liam ketika mengetahui orang yang sedang menatapnya tajam dengan wajah penuh luka itu adalah Irene.
“Hyaaassshh!!!” teriak Liam ketakutan.
Plak!!!
Tiba-tiba sebuah tamparan keras melayang di pipi Liam. Liam mengaduh kesakitan sembari memegangi pipinya yang terasa panas.
“Dasar bodoh! Jangan mengigau. Aku jadi tidak bisa tidur.” gerutu Rosalind kesal. Lantas beranjak dari tempat tidur membasuh wajahnya.
Liam yang masih berada di tempat tidur, berusaha mengontrol irama jantungnya yang berdegup dengan kencang. Nafasnya terdengar memburu. Keringat membanjiri tubuhnya karena merasa ketakutan.
“Ros… Ros…. A… aku… melihat han… hantu I… Irene…” kata Liam terbata seusai mengetahui Rosalind keluar dari kamar mandi.
Rosalind berkacak pinggang dan menatap Liam dengan kesal.
“Jangan membuatku semakin kesal padamu. Di dunia ini tidak ada hantu. Lagipula wanita itu sudah mati. Orang yang sudah mati memangnya bisa apa? Daripada memikirkan hal bodoh. Lebih baik buatlah dirimu berguna.”
Mendengar jawaban Rosalind membuat Liam merasa tidak senang.
“Kamu pikir aku tidak melakukan sesuatu? Lagipula sampai kapan kita harus bersembunyi di sini hah?! Tempat ini membuatku merinding.”
Rosalind meneguk minumannya. Lantas mengambil nafas berulang kali.
“Ayah akan berusaha mengeluarkan kita dari negara ini. Jika kita bisa lari ke luar negeri. Kita akan aman. Polisi dan orang-orang Ravindra ada di mana-mana. Jadi, kita harus bersabar sementara waktu.”
Liam hanya bisa terus bersabar. Supaya bisa lolos dari semua ini.
“Tetapi, aku akui kamu benar-benar wanita yang keji. Bahkan kamu menyingkirkan ibumu sendiri. Ibu yang pernah merawatmu dan menjadikanmu atlet panahan professional.” kata Liam diiringi tatapan sinis pada Rosalind.
__ADS_1
Rosalind balas tersenyum sinis, “dia bukan ibuku. Wanita itu adalah ibu kandung Irene. Lagipula aku tidak mau mengambil resiko, dia membocorkan semua kejahatanku. Itu hanya memberatkan langkahku nantinya. Jadi lebih baik, aku mencabut semua rumpat liar hingga ke akar-akarnya.
Di tempat lain.
Di sebuah Rumah Sakit yang cukup besar. Tanpa Rosalind dan Liam ketahui, Nyonya Kania selamat dari tindakan keji putri tirinya tersebut. Nyonya Kania sedang dirawat intensif di salah satu kamar VIP yang dijaga ketat oleh pengawal Ravindra. Rava terlihat sedang berbicara dengan seorang dokter.
“Bagaimana keadaannya Dok?” tanya Rava.
“Tuan Rava jangan cemas. Beliau akan baik-baik saja. Kondisinya semakin membaik dari hari ke hari. Untung saja waktu itu Nyonya Kania segera mendapatkan pertolongan.”
Flashback
Seusai Rosalind melepas selang oksigen pada Nyonya Kania. Ia bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Namun, tanpa Ros sadari. Nyonya Meri diam-diam mengamati tidak jauh dari ruangan di mana Nyonya Kania di rawat. Setelah mengetahui Rosalind pergi. Nyonya Meri segera berlari masuk ke dalam ruangan Nyonya Kania. Ia segera memasang kembali alat bantu pernafasan dan secepatnya memanggil Dokter. Alhasil nyawa Nyonya Kania dapat diselamatkan tepat waktu. Nyonya Meri diam-diam memasang kamera pengintai di sudut ruangan. Supaya dapat merekam aksi kejahatan Rosalind secara langsung. Maka dengan begitu wanita yang dijuluki penyihir tersebut tidak akan bisa mengelak lagi. Semua yang Nyonya Meri lakukan atas permintaan Long An. Anak genius itu dapat memperkirakan apa yang akan Rosalind lakukan. Jadi, Long An meminta Nyonya Meri berjaga di Rumah Sakit. Menjaga Nyonya Kania.
Nyonya Kania adalah saksi kunci dari setiap kejahatan yang Rosalind lakukan. Maka dengan demikian, Rosalind tidak akan bisa lari dari jeratan hukum. Setelah kejadian tersebut, tanpa sepengetahuan keluarga Birgita. Nyonya Kania dipindahkan ke Rumah Sakit lain. Ravindra menggunakan pengaruhnya untuk membuat rancangan palsu. Mengenai kematian Nyonya Kania.
Flashback End
“Nenek, cepatlah bangun. An mohon…. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang aku sayangi lagi hiks….” kata Long An ditengah isakan tangisnya.
Ravindra yang melihat anaknya bersedih. Segera mendekat dan menepuk bahu anak kesayangannya itu. Menguatkan Long An untuk melewati semua ini meski dengan langkah yang berat.
“An, ingatlah pesan mamamu hem…” kata Ravindra perlahan. Ia tak tahu bagaimana cara menghibur anaknya tersebut, karena sejak kecil Rava tak pernah diberi contoh orang tuanya. Bagaimana bersikap dan menghibur seseorang yang sedang bersedih.
Long An mengusap air matanya. Lantas memberikan senyum lebar pada ayahnya tersebut. Long An tidak ingin membebani Ravindra. Ia tahu betul, ayahnya saat ini lebih hancur dibandingkan dengan dirinya.
“Papa jangan cemaskan aku. Aku akan kembali bersemangat dan mengingat semua pesan mama. An akan membuat mama bangga dan memenangkan semua pertandingan untuk kedepannya nanti.” jawab Long An sembari menunjukkan senyum ceria. Rava balas tersenyum sambil mengelus kepala anaknya tersebut.
“Papa, bagaimana kondisi kakek dan Amao?” tanya Long An kemudian.
“Ayah dan Amao baik-baik saja. Jadi tidak ada yang perlu kamu cemaskan.”
Long An bersyukur jika keduanya baik-baik saja.
“Papa, apa ada perkembangan pencarian Tante Ros dan Paman Liam? Bagaimanapun, mereka harus menerima hukuman yang berat.” kata Long An kemudian.
__ADS_1
Tatapan Rava berubah menjadi tajam ketika mengingat dua orang yang ingin ia hancurkan tersebut.
“Polisi dan orang-orang papa sedang mencari keberadaan mereka. Tetapi mereka sangat lincah. Kedua orang itu tidak menggunakan ponselnya. Jadi, kita tidak bisa melacak keberadaan mereka. Tetapi, papa berjanji bagaimanapun caranya akan menangkap dua iblis itu.”
Long An terdiam sejenak. Seolah memikirkan sesuatu.
“Jika sulit melacak keberadaan mereka. Kita perlu memancing mereka keluar dari persembunyiannya.”
“Menurutmu, bagaimana cara memancing mereka?” tanya Rava.
“An, akan memikirkan caranya.”
Rava menganggukkan kepala, “papa, juga akan terus berusaha mencari keberadaan mereka. Sebaiknya kamu juga fokus pada pertandingan seleksi atlet Nasional.”
Long An memperlihatkan wajah serius dengan tatapan mata tajam. Anak genius itu sedang memikirkan sebuah cara untuk menemukan kedua orang tersebut. Di satu sisi, An juga harus fokus pada pertandingan yang harus ia jalani. Demi untuk menjadi kebanggan ibunya.
Kembali ke Rosalind dan Liam.
Keduanya hanya bisa bersembunyi di sebuah rumah yang jauh dari perkotaan. Mereka hanya bisa menggunakan nomor sekali pakai pemberian ayah Rosalind. Rosalind dan Liam terlihat sibuk menonton berita mengenai polisi yang sedang mencari mereka. Siaran berita tersebut juga menayangkan mengenai mangkraknya proyek pembangunan wisma bagi para atlet. Hal tersebut berimbas pada krisisnya perusahaan Aksara Enterprise. Rosalind tersenyum sinis menonton berita tersebut.
“Setidaknya, rencana kita tidak sepenuhnya gagal. Ravindra juga menderita. Sebentar lagi ia akan kehilangan segalanya.”
Liam yang duduk di samping Rosalind. Hanya diam dan menyaksikan siaran berita di TV. Disaat keduanya sedang asyik menonton TV. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu di pintu. Rosalind dan Liam segera mematikan TVnya dan bersikap waspada. Mereka harus hati-hati. Rosalind lantas memberikan kode pada Liam untuk memeriksa. Liam bergegas mengambil tongkat pemukul terlebih dahulu. Lalu berjalan mengendap-endap ke arah jendela dekat pintu.
Di susul Rosalind yang berjalan perlahan di belakang Liam. Liam yang berada di depan, membuka sedikit gorden jendela. Mengintip ke arah luar dan mengawasi sekitarnya. Setelah mengamati beberapa saat, tidak ada apapun di luar sana. Benar-benar sepi.
“Bagaimana?” tanya Rosalind dengan berbisik.
Liam menggelengkan kepalanya. Lantas, Liam berjalan ke arah pintu. Kemudian dengan perlahan membuka pintu tersebut. Tepat di depan pintu, terlihat sebuah kotak berwarna hitam. Liam dan Rosalind saling pandang.
“Apakah itu dari ayahmu? karena yang mengetahui tempat ini hanya ayahmu seorang saja.” tanya Liam.
Rosalind mengernyitkan keningnya. Lalu ia segera mengambil kotak berwarna hitam tersebut. Membukanya dengan cepat karena tidak sabaran. Saat Rosalind membuka penutup kotaknya. Ia langsung berteriak ketakutan dan melempar kotak itu.
“Kyaaa!!!” teriak Rosalind dengan keras.
Kotak tersebut terlempar dan menunjukkan isinya berupa bangkai tikus mati beserta tulisan berwarna merah menyala.
Aku akan membalas segala perbuatan kalian padaku. Bersiaplah menerima hukuman.
__ADS_1
Liam dan Rosalind yang membaca tulisan tersebut saling pandang. Bertanya-tanya perbuatan siapa ini? Mungkinkah hal ini perbuatan Irene? Bukankah Irene sudah tewas?