Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 49


__ADS_3

... Merasa Takut...


Rasa takut dan cemas wajar terjadi dirasakan manusia. Ketika mengalami kejadian yang tak pernah diinginkan terjadi dalam hidupnya. Begitu juga dengan Irene. Selama ini, ia tidak pernah berpikir untuk memiliki anak di usia muda. Tidak pernah berpikir sekalipun untuk jatuh cinta. Apalagi jatuh cinta dengan seorang pria yang pernah menghamilinya. Saat usianya 12 sampai 20an tahun, Irene hanya berfikir bagaimana bertahan hidup. Mencari recehan demi recehan untuk membeli segenggam beras. Hidupnya begitu berat tatkala mimpinya menjadi seorang atlet panahan juga harus terkubur dalam.


Hidup dengan hanya bermodalkan ijasah SMA sungguh membuatnya begitu berat. Bahkan untuk mencari kehidupan yang layak. Irene harus bekerja paruh waktu di tiga tempat sekaligus. Sejak usia 12 tahun, ia ditinggalkan begitu saja di panti asuhan oleh ibu kandungnya sendiri. Setiap detiknya, sebenarnya Irene ingin menyerah. Menghadapi beratnya hidup. Namun, lagi-lagi entah kenapa ia tidak ingin menyerah begitu saja pada kehidupan. Pesan mendiang ayahnya selalu tertanam dibenaknya. Bahwa kesulitan yang dihadapi seseorang. Tak lantas membuatnya lemah. Justru menempa hidupnya menjadi lebih kuat. Rintangan bukan untuk membuat seseorang lemah. Namun, justru menjadikannya bertahan.


Selain itu, Irene juga bertekad jika suatu hari nanti bertemu ibu kandungnya. Ia ingin menatap dan menegakkan kepalanya. Irene ingin, ibunya melihat bahwa putri yang telah dibuang begitu saja. Dapat bertahan hidup dan memiliki kehidupan yang baik. Tetap berada di jalan yang benar. Meski sesulit apapun hidupnya di uji.


Kini, kehidupan Irene semakin membaik dengan kehadiran buah hatinya. Si karateka genius Long An. Irene sedang melihat album fotonya bersama Long An. Mulai dari saat Long An masih bayi dengan pipinya yang montok menggemaskan. Ketika Long An pertama kalinya bisa merangkak dan berjalan. Hanya ada Irene seorang saja yang membesarkan Long An.


Flashback


10 tahun yang lalu. Saat Irene mengetahui ia telah hamil tanpa suami. Membuat hatinya begitu hancur. Membuatnya semakin jatuh ke jurang yang terdalam. Sebelum hamil, orang-orang sudah merendahkannya. Apalagi setelah ia hamil terlebih lagi tanpa memiliki suami. Tentu caci maki menjadi makanannya sehari-hari. Irene sungguh tak tahu, harus menjalani hidup seperti apa. Tak mungkin mencari pria yang telah menghamilinya, karena ia tak tahu siapa pria itu. Membuatnya menderita sendirian.

__ADS_1


Belum lagi, teman masa SMAnya menganggapnya sebagai wanita pelanyahan. Padahal dahulu, saat ia masih bersekolah. Mendapatkan prestasi sebagai atlet panahan Nasional. Banyak teman yang memujanya. Namun, disaat ia terpuruk tak satupun yang mau mendekat dengannya. Nasibnya memang selalu malang. Ia ingin marah, tetapi tak tahu harus marah pada siapa. Pada Tuhan? Dia siapa? yang berani marah pada Tuhan. Sedangkan Irene hanyalah makhluk ciptaan Tuhan yang sudah diberikan kehidupan. Apakah itu tidak memalukan? Merutuki Tuhan atas hidupnya?


Irene bahkan pernah mencoba lompat dari atas jembatan. Namun, di saat terpuruk itulah ia kembali teringat pesan ayahnya. Untuk jangan pernah menyerah pada kehidupan. Lalu ia teringat, bagaimana sakitnya dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Maka dari itu, Irene bertekad akan membesarkan anaknya. Ia tidak ingin, anak yang tak berdosa ini merasakan rasa sakit dan penderitaan yang pernah ia rasakan. Meski dengan resiko Irene akan mendapatkan cemoohan dan sumpah serapah. Namun, Irene tetap bertahan. Tanpa ia sadari kemalangan itu secara alami menempa mental dan hatinya untuk menjadi manusia yang kuat. Manusia yang tidak mudah menyerah. Akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada terang setelah gelap. Akan ada kebahagiaan setelah merasakan kesedihan. Maka Irene tetap berjuang menjaga calon anaknya.


“Maafkan mama Nak. Kamu harus terlahir dari wanita seperti mama. Tetapi, mama berjanji akan membuatmu bahagia.” kata Irene kala itu sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.


Flashback End


Di sisi lain, Irene sangat bersyukur setelah kelahiran Long An kehidupannya berubah drastis. Long An telah membawa keberuntungan untuknya. Kini, ia berjalan ke kamar Long An. Irene melihat An sedang tertidur lelap. Ia lantas melangkah perlahan dan mencium kening anaknya. Membetulkan selimutnya. Kemudian menatapnya dengan tatapan penuh haru. Melihat Long An, Irene teringat dengan Ravindra. Jika dilihat secara seksama. Long An memang mirip Ravindra. Terutama rambut dan juga mata sipitnya.


Flashback


“Aku belum bisa mengatakan apapun tentang kejadian 10 tahun yang lalu. Tetapi, perasaan yang aku rasakan padamu. Bukanlah perasaan yang mengetahui aku pernah melakukan itu padamu. Tetapi, sebelum aku tahu kamu adalah gadis yang pernah aku tiduri. Aku merasakan hatiku menghangat. Saat aku bersamamu. Bersama wanita yang menendangku dengan keras. Merasakan bau kotoran burung. Mendengar ada orang yang berani memanggilku pria rambut landak. Wanita yang memiliki putra kecil yang begitu mirip denganku. Putra kecil yang sangat genius dan menyadarkanku pentingnya untuk tidak pernah melepaskan rasa perduli. Putra kecil dan mamanya benar-benar membuat hatiku menghangat. Tanpa aku sadari.” kata Rava dengan nada lembut.

__ADS_1


Mendengar perkataan Rava, membuat hati Irene berdesir hebat. Ketulusan Ravindra masuk dan menghujam ke dalam hatinya.


“Mungkin sesuatu yang pernah aku lakukan padamu telah membuatmu menderita sendirian. Sedangkan aku malah disibukkan dengan rasa sepiku. Sehingga aku tidak menyadari, ada dua orang yang sangat penting akan hadir dalam hidupku. Apapun yang membuatmu menderita di masa lalu. Ijinkan aku untuk menyembuhkannya. Biarkan hati kita saling menghangatkan. Biarkan hatiku yang selama ini membeku, merasakan kehangatan hatimu dan juga Long An.” lanjut Rava.


Kemudian, Ravindra memberikan sebuah kotak persegi berisi liontin berbandul bunga lotus. Memberikannya di genggaman Irene.


“Aku tahu, kamu membutuhkan lebih banyak waktu untuk memikirkan ini semua. Seberapapun waktu yang kamu butuhkan. Aku, Ravindra Damariswara pria berhati dingin tetapi tampan. Akan menunggu wanita yang telah menghangatkan hatiku. Menunggu wanita yang ingin aku percayakan hatiku untuk kamu jaga. Kamu boleh tidak ingin bertemu denganku. Tetapi, jangan pernah melarangku untuk menemui Long An.” kata Ravindra sambil menatap Irene dengan dalam. Rava masih sempat-sempatnya narsis disaat dalam perbincangan serius.


Irene hanya bisa terdiam dan menatap pria di depannya itu. Berusaha menyelami perasaan dan hati Ravindra melalui sorot mata pria di hadapannya ini. Irene merasa dilema. Disatu sisi, ia merasakan hatinya memang terikat dengan Ravindra. Namun, jika Irene menerima hati Rava. Ia merasa takut. Takut akan dibuang begitu saja. Sama seperti ibunya membuang dirinya dahulu.


Flashback End


Kini, Irene hanya berdiri menatap ke luar jendela. Menatap lurus pemandangan yang ada di depannya.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan Irene pilih? Apakah Long An bisa menyatukan kedua orang tuanya? Nantikan di bab berikutnya.


__ADS_2