Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 54


__ADS_3

... Pilihan Irene...


Masa lalu yang masih belum terselesaikan kembali bermunculan dihadapan Irene. Mau tidak mau ia harus menghadapinya. Meski harus mengorek luka lama dan menyiramnya kembali dengan rasa amarah serta benci. Irene tak akan lagi menangis untuk ibu kandung yang telah membuangnya. Ia kini terlihat termenung. Banyak masalah yang belum terurai datang bertubi-tubi menghampirinya. Belum masalah dengan Ravindra dan Dareen. Ditambah dengan tiba-tiba kemunculan ibunya. Membuat Irene hanya diam termenung. Tak tahu harus melakukan apa. Long An yang melihat ibunya hanya bisa menatap dari kejauhan. Menatap dengan pandangan sedih. Ia ingin melakukan sesuatu untuk ibunya.


Di tempat lain, Ravindra sedang duduk ruang kerjanya. Ia menatap cincin bermata bunga lotus. Meski cincin itu bukan cincin mahal. Namun terlihat indah dan berkilauan tertimpa cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya.


            Flashback


Ravindra datang ke restaurant di mana Irene dan Dareen berada. Ia datang bersama Long An. Kali ini, ia ingin Irene mengikuti kata hatinya. Ravindra juga ingin memperjuangkan perasaannya. Hal yang tak pernah ia lakukan sama sekali seumur hidupnya. Dia yang berprinsip jangan menyayangi seseorang, karena akan membuat luka dihati. Kini, sekali lagi ingin mempercayai bahwa kasih sayang juga bisa menyembuhkan luka. Maka Rava datang untuk memperjuangkan cintanya.


“Paman, aku akan masuk terlebih dahulu dan meminta mama untuk mempertimbangkan keputusannya.” kata Long An dengan senyum lebar.


Sebelum Rava sempat berkata-kata. Long An sudah keluar dari mobil. Berlarian masuk menuju Restaurant. Rava hanya menggelengkan kepala. Melihat tingkah jagoan kecilnya. Ia menatap si kecil Long An dengan dalam.


 Aku bahagia memiliki penerus sepertimu An. Bersabarlah, aku akan membawamu dan juga Irene dalam hidupku. kata Ravindra dalam hati.


Tidak lama kemudian ia menyusul Long An masuk ke dalam. Namun, saat ia masuk restaurant tersebut Rava melihat Irene bertemu ibunya. Ya… Ravindra memang sudah mengetahui bahwa ibu tiri Rosalind adalah ibu kandung Irene. Berkat pertemuannya dengan Nyonya Kania tempo hari. Ia meminta Pak Albert menyelidiki masa lalu Nyonya Kania. Dari situlah terungkap sudah. Bahwa cincin lotus yang Ravindra temukan di malam kejadian ia tidur dengan seorang gadis adalah milik Irene yang tertinggal.


Cincin lotus itu adalah milik Nyonya Kania yang ia berikan pada putri kandungnya. Jadi jelas sudah, bahwa cincin lotus tersebut milik Irene. Gadis yang pernah Rava tiduri malam itu. Ravindra tak tahu harus bagaimana mengatakan semuanya pada Irene. Makanya ia diam saja.


            Flashback End


 Kini semua teka-teki sudah terungkap jelas. Bahwa wanita yang Ravindra tiduri adalah Irene bukannya Rosalind. Ravindra juga meminta Pak Albert secara diam-diam melakukan tes DNA pada Long An. Maka semua fakta telah terungkap. Hanya perlu menyatukan setiap kepingan-kepingan tersebut. Disaat Rava sedang menatap cincin lotus itu. Ponselnya meraung-raung minta diangkat. Rava segera mengangkat telpnya. Seusai mengangkat telpnya. Raut wajah Ravindra berubah serius. Kali ini, Rava tidak ingin lagi hidupnya merasa sepi. Tak ingin lagi hatinya membeku menjadi es. Ia ingin merasakan kehangatan kasih sayang sebuah keluarga. Ravindra segera bergegas menuju suatu tempat.


Kali ini, Dareen tak lagi ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia kembali mengajak Irene jalan-jalan. Irene yang diajak jalan hanya diam sepanjang perjalanan. Wajahnya nampak murung tak seperti Irene yang biasanya.


“Jika ada masalah, ceritakan padaku. Aku akan membantumu.” kata Dareen dengan senyum renyah. Saat mereka berjalan menyusuri sebuah jalan setapak di sebuah taman.


Irene terus berjalan tanpa memperhatikan ucapan Dareen. Dareen hanya menghela nafas dalam. Kemudian mengikuti kemana Irene melangkah pergi. Irene yang berjalan sambil menunduk tak memperhatikan jalan sama sekali. Hingga hampir menabrak sebuah tiang lampu di taman. Untung secepat kilat Dareen menarik tangan Irene. Jadi Irene bisa terhindar tanpa menabrak tiang lampu. Seketika Irene tersadar dari lamunannya.


“Kamu tak apa-apa kan?” tanya Dareen kelihatan cemas. Sembari memperhatikan Irene dengan seksama.

__ADS_1


“Oh.. aku baik-baik saja. Aku minta maaf karena tidak terlalu fokus.” jawab Irene.


Dareen terus memperhatikan Irene. Menatap dengan penuh arti. Irene yang ditatap Dareen seperti itu langsung mengalihkan pandangannya.


“Ayo, jalan lagi.” ajak Irene sembari menyunggingkan sedikit senyum disudut bibirnya.


Lantas berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Dareen hanya bisa menghela nafas berkali-kali dan menatap dengan sedih punggung Irene. Kemudian segera menyusul wanita yang telah membuatnya jatuh hati tersebut.


Saat keduanya melewati sebuah jembatan di taman dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Irene teringat masa kebersamaannya dengan Ravindra, Long An dan yang lainnya saat berkemah dahulu. Bagaimana Rava yang tiba-tiba bersandar dibahunya. Meminta Irene untuk menghangatkan hati pria dingin tersebut. Irene diam sambil menatap aliran sungai yang mengalir perlahan. Tanpa Irene sangka, Dareen kembali menyodorkan kotak berwarna merah berisi cincin couple. Irene lagi-lagi hanya diam. Harus dihadapkan dengan hal ini lagi.


“Aku masih menunggumu. Berikanlah sedikit hatimu untukku. Bersediakah kamu menikah denganku?” tanya Dareen dengan wajah serius dan penuh ketulusan. Sembari membuka kotak cincin tersebut. Berharap Irene menerima pinangannya.


Irene kembali dihadapkan pada pilihan sulit lagi. Namun, kali ini ia tidak ingin memikirkan apapun selain membalas budi atas kebaikan keluarga Dareen padanya.


 “Aku akan menerima la…”


 “Hei! kamu yang di sana!” teriak seseorang secara tiba-tiba. Menghentikan ucapan Irene. Dareen juga terkejut dan mencari arah sumber suara.


Rupanya, suara itu berasal dari Ravindra yang berjalan menuju arah mereka. Mata Irene seketika terbelalak. Bagaimana bisa, pria rambut landak ini berada di sini. Ravindra menatap Irene dan menatap Dareen bergantian. Dareen terlihat tidak suka akan kehadiran Ravindra.


Rava tidak memperdulikan pertanyaan Irene dan malah menatap Dareen dengan tajam. Rupanya Ravindra mendapatkan informasi keberadaan Irene dari Long An. Tadi yang menghubungi Rava adalah Long An. Rava menatap dingin ke arah Dareen. Begitu juga sebaliknya. Mereka saling berperang dingin. Irene bukannya tak tahu. Ia harus melakukan sesuatu.


“Dareen, mari pergi dari sini.” ajak Irene.


Dareen mengangguk dan hendak mengikuti kemana Irene melangkah. Namun suara Ravindra menghentikan langkah keduanya.


“Kalian tidak bisa pergi begitu saja.” kata Ravindra dengan tatapan tajam.


 Dareen berbalik arah dan menatap Rava.


            “Apa kamu punya masalah denganku?” tanya Dareen yang tak kalah memberikan tatapan tajam.

__ADS_1


“Itu benar, masalahnya adalah kamu berani membawa wanitaku.” jawab Ravindra tak kalah tajam.


Dareen tersenyum sinis. Irene yang mendengar perkataan Ravindra langsung tercekat. Irene langsung menoleh dan menatap Rava. Rava melirik sekilas ke arah Irene.


 “Sejak kapan dia menjadi wanitamu?” tanya Dareen sembari mendecih.


“Sejak dulu. Semenjak aku memetik bunga lotus. Bunga lotus yang aku petik, juga telah memberikanku bunga lotus kecil yang selalu menggangguku. Tetapi kedua bunga lotus tersebut telah menghangatkan hatiku.” jawab Ravindra penuh ketulusan. Matanya sambil menatap penuh arti pada Irene.


Irene yang mendengar perkataan Ravindra tercekat seketika. Hatinya berdesir begitu hebat. Jantungnya juga berdetak begitu kencangnya.


Apa maksud Ravindra barusan? Apakah mungkin? Irene hanya bisa bertanya dalam hatinya.


Dareen yang mendengar ucapan aneh Ravindra merasa tak perlu berlama-lama berbicara hal yang tidak berguna. Ia ingin segera mengajak Irene pergi dari tempat itu. Agar tidak diganggu oleh Ravindra. Namun, sebelum Dareen sempat mengajak Irene pergi. Tangan Ravindra telulur ke arah Irene.


“Mungkin apa yang aku lakukan sudah sangat terlambat. Tapi, bunga lotus kecilku pernah berkata. Tidak ada kata terlambat untuk menjalani hidup yang baru. Aku tahu, perjalanan yang akan kita tempuh masih sangat panjang dan terjal. Maukah kamu menemaniku melewati jalan panjang tersebut? Menjadi penghangat diantara kebekuan hatiku. Bersamamu, bersama bunga lotus dan lotus kecil.” pinta Rava pada Irene.


Ravindra menatap dengan dalam. Sorot matanya memperlihatkan cinta yang begitu tulus dan murni. Cinta yang berasal dari seorang CEO berhati dingin. Irene benar-benar terpengarah dengan perkataan Ravindra. Hatinya bergejolak hebat. Irene menatap dalam ke arah mata Ravindra. Mereka saling bertatapan penuh arti. Tangan Ravindra yang telulur masih menunggu disambut oleh Irene.


Kemudian, Irene menunduk dan malah melangkah mendekati Dareen. Hati Dareen terasa panas dan dibakar cemburu karena Ravindra berani merayu Irene di depannya. Ia hendak memberikan pelajaran pada Rava. Namun ia urungkan karena tiba-tiba Irene menggenggam tangannya.


“Aku tidak bisa.” kata Irene tiba-tiba sambil menggenggam tangan Dareen dengan erat sekali.


Dareen yang tadinya hendak marah pada Ravindra mengerutkan keningnya. Menatap ke arah Irene yang menundukkan wajahnya. Ravindra sepertinya mengerti ucapan Irene ditujukan padanya. Ia langsung menarik tangannya yang telulur.


“Apa itu jawabanmu?” tanya Ravindra.


Irene masih menunduk dan menggenggam tangan Dareen dengan erat. Menahan gejolak perasaannya yang bercampur aduk.


“Sekali lagi, kasih sayang memberiku rasa sakit. Memang lebih baik, sejak awal aku tidak membiarkan es yang membeku dalam hatiku mencair.” Rava hanya bisa menunduk dan merasakan sakit yang begitu dalam di hatinya. Rasa sakit yang pernah ia rasakan pada orang tuanya dahulu. Kini kembali terulang. Ia tidak akan mempercayai lagi yang namanya cinta maupun kasih sayang.


Mungkin setelah kejadian ini. Hatinya akan semakin membeku. Semua hal yang berbau kasih sayang hanyalah omong kosong yang akan menyakiti hatinya. Lebih baik, ia menjadi pria dingin. Setidaknya ia tidak akan merasakan rasa pedih melebihi kepedihannya sewaktu kecil dahulu. Lantas Rava berjalan dengan wajah yang sulit dilukiskan. Ia melangkah bak seorang pesakitan yang kalah dalam sebuah pertandingan. Tetapi ini bukan sekedar pertandingan. Namun, inilah yang namanya kehidupan. Rava bergegas meninggalkan tempat itu dengan hati yang begitu pedih. Sedangkan Irene hanya bisa menunduk dan menggenggam erat tangan Dareen.

__ADS_1


... ***...


Terimakasih banyak dukungannya. Itu sangat berharga 💖☺ Jika karya ini banyak kekurangan harap di maklumi, karena penulis juga manusia biasa.


__ADS_2