Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 29


__ADS_3

... Anak yang Luar Biasa...


Keadilan Tuhan memang tak bisa dibandingkan dengan keadilan yang diciptakan manusia. Ketika kejahatan hendak berkuasa. Maka campur tangan Tuhan yang akan berbicara. Pada akhirnya, orang-orang yang berjalan di jalan kebenaran. Mendapatkan kemenangan yang besar. Pagi ini, si kecil Long An sudah mulai siuman. Irene selalu setia mendampinginya. Nyonya Meri juga membantu teman baiknya itu. Ia yang mengurus segala administrasi. Wanita bertubuh tambun tersebut, tak tega membiarkan Irene mengurus segalanya sendirian.


“Mama Long An, jangan cemas lagi. Anakmu benar-benar luar biasa. Meski dengan tubuh yang lemah. Ia masih bisa menyelesaikan pertandingan dengan sangat luar biasa.” Nyonya Meri memuji kehebatan Long An.


Irene tersenyum, kini raut kelegaan terlukis di wajah cantiknya. Ia sungguh bersyukur, bahwa Tuhan selalu bersamanya. Bersyukur karena ia tak pernah meninggalkan jalan kebenaran. Maka Long An sebagai anaknya yang akan menerima berkah Tuhan. Jika orang tuanya baik. Anaknya juga akan selalu dilindungi oleh Tuhan.


“Mama… Mama…” Panggil Long An dengan suara lirih.


Irene yang mendengar suara Long An, segera menggenggam tangan anaknya. Menciumnya perlahan.


“Mama di sini An. Mama selalu bersamamu.” Kata Irene lembut sembari mengusap kepala anaknya.


“Maafkan An. Aku tidak bisa memenangkan pertandingan.”


Terlihat raut kesedihan di wajah Long An. Irene tersenyum dan membelai wajah putra kesayangannya tersebut.


“An, mama tidak perduli dengan hasilnya. Tetapi mama sungguh bangga. Melihat anak mama tetap berdiri tegap dan tak pernah menyerah. Anak mama memang luar biasa.” Puji Irene dengan senyuman penuh kasih sayang.


“Tapi….” Long An kelihatannya masih belum puas dengan hasilnya.


Nyonya Meri segera menyahut.


“Eh, jagoan kecil. Kenapa dengan satu pertandingan kamu sudah merasa kalah seperti ini? Hasil imbang di pertandingan ini menurutku tidak terlalu buruk. Mengingat kondisimu yang tidak begitu baik. Ibu yakin, jika kamu dalam kondisi sehat. Ibu rasa, si Bintang Timur akan kalah telak.” Nyonya Meri memberi semangat.


“Nyonya Meri benar. Jalanmu masih panjang anakku. Jangan patah semangat hanya karena hasil yang tidak memuaskan. Mama jadi teringat, dahulu almarhum kakekmu pernah mengatakan. Justru kesulitan akan menempamu menjadi lebih kuat. Jangan sampai lemah hanya karena mengalami kesulitan kecil.” Irene juga ikut memberi semangat pada Long An.


Mendengar semua mendukungnya. Long An menemukan kepercayaan dirinya kembali dan bersemangat.


“Di pertandingan selanjutnya. An akan berusaha lebih keras lagi. Yosh!” Teriak Long An bersemangat. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Tetapi tekad dan semangat Si Karateka Genius ini, patut di acungi jempol.

__ADS_1


Ketika mereka masih berbincang. Terdengar suara ketukan di pintu. Seorang perawat masuk dan mencari Irene.


“Maaf, Nyonya Irene. Dokter meminta anda untuk bertemu.”


“Baiklah, terimakasih suster.” Jawab Irene dengan senyum ramah.


“Tidak apa-apa, pergilah temui dokter. Aku akan menjaga Long An. Lagipula sebentar lagi, si kembar akan diantar papanya menyusul ke sini.” Kata Nyonya Meri.


Irene sungguh sangat berterimakasih. Ia memiliki teman sebaik Nyonya Meri. Meski mereka baru mengenal. Tetapi, Irene merasa Nyonya Meri adalah orang yang baik. Jadi, tanpa ragu ia mempercayakan Long An dijaga oleh Nyonya Meri.


Tidak berselang lama. Irene sudah berada di ruangan dokter yang telah merawat Long An.


“Bagaimana Dok? Apa ada sesuatu yang penting terkait dengan kondisi anak saya?” Tanya Irene cemas. Dokter tiba-tiba memanggilnya seperti ini.


“Dari rekam medis yang saya lihat, sepertinya anak anda terlahir prematur? Apakah itu benar?” Tanya dokter mengawali pembicaraan.


Irene mengangguk, ada gurat kecemasan dari wajah cantiknya.


“Nyonya, jangan memasang raut wajah cemas seperti itu. Putra anda baik-baik saja. Akan tetapi….”


“Tetapi, anda harus menjaga anak anda dengan baik. Jangan sampai anak anda menghirup asap pelemah otot lagi dalam jumlah yang banyak. Hal itu akan membahayakan kondisinya. Mengingat dia terlahir prematur. Meski dari hasil CT Scan menunjukkan tubuh anak anda begitu kuat. Tetap saja akan memiliki sisi lemah. Maka saya sarankan untuk tetap berhati-hati.” Jawab Si Dokter.


Irene mengangguk lega.


“Anda patut bersyukur. Anak anda selain kuat. Ia juga tergolong genius dengan IQ yang sangat tinggi. Ini jarang terjadi pada anak yang terlahir prematur. Tidak hanya memiliki IQ yang tinggi. Saraf motoriknya juga sangat bagus. Ingatan yang tajam dipadu dengan motoriknya, menjadikan anak anda, anak yang genius. Mungkin, latihan karate secara rutin menjadikan tubuhnya tertempa dengan baik.” Dokter turut berbahagia dengan kondisi Long An yang sangat sehat.


“Saya juga melihat, anak anda memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Saat dia siuman, saya sempat bertanya. Seberapa banyak ia menghirup asap pelemah otot. Putra anda mengatakan tidak terlalu banyak asap yang ia hirup, karena anak anda tahu tidak boleh menghirup asap apapun. Itu akan membahayakan tubuh. Jadi, putra anda menutup lubang wastafel dan mengisinya dengan air. Lalu dia membenamkan kepalanya dalam air. Ia tahu dengan baik, paru-parunya kuat. Jadi, ia menghindari menghirup asap yang banyak dengan cara membenamkan kepalanya dalam air. Sungguh luar biasa cerdas, kuat, dan pemberani.” Lanjut Dokter memuji Long An.


Kini, Irene semakin lega mendengar penjelasan dari dokter. Tidak ada lagi yang perlu ia cemaskan. Seribu kata syukur pun tak akan cukup untuk berterimakasih atas keajaiban yang Tuhan berikan untuk Long An. Irene hanya bisa berdoa, Tuhan akan selalu menjaga putranya. Ia lantas bergegas kembali ke kamar Long An. Saat ia kembali, Irene melihat Tuan Damariswara sudah berada di dalam kamar. Ditemani Nyonya Meri dan si kembar.


“Tu… Tuan…” Sapa Irene terbata. Ia gugup mengetahui seorang Direktur Yayasan mau menjenguk anaknya.

__ADS_1


Tuan Marvin Damariswara tersenyum menyambut kedatangan Irene.


“Maaf, anak saya tidak bisa mendapatkan hasil yang sesuai seperti yang anda inginkan.” Irene merasa tidak enak pada Tuan Marvin. Padahal Tuan Marvin sudah memberikan kepercayaan pada Long An.


“Hahaha! Anda tidak perlu meminta maaf karena tidak ada yang perlu dimaafkan. Justru aku ke sini, ingin bertemu dengan karateka genius kecil ini. Aku sungguh sangat senang. Berhasil merekrutnya ke AA School. Kemarin, aku menyaksikan pertandingan yang luar biasa. Anak anda memang hebat. Julukan Karateka Genius dari Timur memang pantas disematkan untuknya. Meski aku tahu, kondisi tubuhnya dalam keadaan yang tidak baik. Tetapi insting dan ingatannya begitu tajam. Mengingat pergerakan lawan tandingnya. Hingga ia bisa memberikan serangan balik dan mengimbanginya. Aku sangat yakin. Jika Long An dalam kondisi baik. Ia akan mudah mengalahkan lawannya.” Tuan Marvin berkata dengan panjang lebar sambil memuji Long An.


“Te… Terimakasih Tuan.” Kata Irene begitu bahagia.


“Jagoan kecil, kamu memang hebat.” Puji Tuan Marvin Damariswara pada Long An.


Long An tersenyum lebar. Si kembar mengacak-acak rambut Long An, karena turut bahagia sahabat kecilnya itu dipuji oleh Sang Legenda Karate.


“Tetapi, An akan menjadi hebat. Jika bisa mengalahkan Raja Karate. Mari menjadi lawan tanding saya?” Tantang Long An pada Tuan Marvin yang dahulu mendapat julukan Raja Karate.


“An…” Irene merasa canggung karena anaknya begitu berani menantang Tuan Marvin.


Tuan Marvin diam dan menatap si kecil Long An. Namun, sedetik kemudian.


“Hahaha, kamu memang pemberani An. Baik, nanti jika sudah sembuh datanglah ke rumahku. Di rumahku ada Dojo pribadi. Jadi, kita bisa berlatih tanding bersama.” Tuan Marvin bukannya tersinggung, tetapi malah terlihat senang karena baru kali ini melihat seorang anak yang pemberani.


Lantas Tuan Marvin berpamitan. Di luar, ia sudah disambut oleh assistennya yang bernama Pak Reno.


Tuan Marvin pun bergumam, “Jika saja aku memiliki cucu seperti anak itu. Aku pasti akan sangat bahagia.” Tuan Marvin kemudian melangkahkan kakinya dengan sebuah senyum terlukis di wajahnya.


Sepeninggal Tuan Marvin. Nyonya Meri mendekati Irene.


“Bagaimana kata Dokter?” Tanya Nyonya Meri.


“Dokter mengatakan, An baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Irene menjawab dengan senyum kelegaan.


“Syukurlah, aku turut bahagia mendengarnya. Untung saja, ada orang yang berbaik hati dan dengan cepat menelepon ambulans. Jadi, Long An bisa segera mendapatkan perawatan.” Balas Nyonya Meri.

__ADS_1


“Benarkah itu? Jika aku bertemu dengan orang itu. Aku akan sangat berterimakasih sekali.” Kata Irene dengan senyum bahagia.


Di tempat lain. Di sebuah ruangan kantor yang cukup luas dan mewah. Seorang pria dengan rambut berdiri menatap ke luar jendela kaca. Ia memegang ponsel miliknya. Terlihat histori panggilan telp miliknya ke nomor 112. Dialah yang menelepon ambulans. Sehingga Long An bisa cepat mendapatkan perawatan. Orang itu, tidak lain adalah Ravindra Damariswara.


__ADS_2