
... Rencana Busuk Pasangan Licik...
Ravindra Damariswara terlihat berdiri di atap gedung Aksara Enterprise. Memandang langit senja di ufuk barat. Membuat kebekuan hati berubah menjadi menghangat. Rava menatap matahari senja yang hampir tenggelam dan kembali keperaduannya. Di belakangnya, Pak Albert dengan setia menemani bosnya tersebut.
“Tuan, jika anda mengetahui kejadian 10 tahun yang lalu. Kenapa tidak menanyakannya langsung pada Nyonya Irene maupun Nona Rosalind?” tanya Pak Albert.
“Aku masih memikirkan beberapa hal. Untuk saat ini, jagalah rahasia ini. Lakukan saja apa yang aku minta.” jawab Rava dengan ekspresi wajah dingin. Tatapan mata sipitnya tajam. Memandang lurus ke depan. Ke arah matahari yang terbenam.
Keesokan harinya di AA School. Anak-anak berlarian dengan riang seusai pulang sekolah. Long An sedang berjalan dengan Amao. Anjing milik Tuan Marvin yang kebetulan hari ini diajak ke sekolah oleh Tuannya. Amao malah memilih bermain dengan bocah karateka genius tersebut.
“Amao, mama akan sedikit terlambat menjemputku. Apa kamu mau jalan-jalan di sekitar sekolah?” tanya Long An sambil mengelus leher Amao.
“Guk! Guk! Guk!” Amao menggonggong, sepertinya dia setuju diajak jalan-jalan Long An.
“Amao, aku merasa sedih. Mama belum mau menerima paman rambut landak. Ehm maksudku papa.” Long An curhat dengan Amao. Seolah anjing itu mengerti ucapannya.
Amao menatap sendu pada Long An, sambil menjilati wajah anak itu. Seakan menghibur Si kecil Long An.
“Kaing…Kaing…”
Long An memeluk Amao dan berbagi kesedihan. Orang tuanya belum bisa bersama. Hal itu membuat hati Long An merasa sedih. Saat Long An memeluk Amao. Tiba-tiba Amao melepaskan dirinya dan berlari menjauh dari Long An. An terkejut melihat Amao malah berlari meninggalkannya. Long An jadi ikut berlari mengejar ke mana Amao pergi. Hingga Long An tiba di sebuah lapangan terbuka yang sepi. Ia kehilangan jejak anjing moncong panjang tersebut.
“Amao! Amao!” teriak Long An, memanggil Amao.
Namun yang dipanggil tak kelihatan batang hidung maupun suaranya. Tanpa Long An duga, dari berbagai arah tiba-tiba muncul pria misterius. Mereka semua mengenakan pakaian dan topi warna hitam. Menatap An dengan tatapan tidak bersahabat.
“Paman ini siapa?” tanya An, bersikap waspada.
Long An merasa, orang-orang misterius yang datang ini bukan orang yang baik.
“Anak kecil, benar kamu adalah Karateka Genius dari Timur?” tanya balik salah satu pria misterius yang berjumlah 10 orang tersebut.
“Namaku Long An. Kalian ini siapa paman?”
“Kami hanya ingin menguji seberapa hebat kemampuanmu? Apakah seperti yang dikatakan orang-orang.”
Mendengar hal tersebut. Long An bersikap waspada. Meski ia masih berusia 10 tahun. An mengetahui dengan baik. Orang-orang ini pasti hendak mencelakainya. Ini pasti buntut dari kejadian kemarin yang menimpanya. Tidak jauh dari lapangan terbuka tersebut. Sebuah mobil mewah, berwarna merah terpakir. Mengawasi Long An dan para pria misterius. Di dalam mobil tersebut terdapat dua orang yang tak lain adalah Rosalind dan Liam Damariswara. Keduanya menatap dengan tatapan licik.
“Apa kamu yakin dengan rencana ini?” tanya Liam pada Rosalind.
“Aku hanya ingin mencari kelemahan bocah itu. Dia memang genius. Segeniusnya seseorang, pasti memiliki kelemahan.” jawab Rosalind dengan senyum licik yang tersirat disudut bibirnya.
__ADS_1
Kembali ke Long An yang sedang bersiap memasang kuda-kuda. Ia sama sekali tak gentar dikeroyok 10 orang dewasa. Long An menggunakan kuda-kuda Hangetsu Dachi yaitu kuda-kuda berat tengah. Kedua tangannya mengepal. Matanya waspada mengawasi musuh-musuhnya. Ke 10 pria misterius tadi hanya mendecih. Mereka tidak percaya ada anak kecil sehebat yang diceritakan orang-orang.
Salah satu orang segera maju dengan memberikan pukulan ke arah kepala. Long An mengetahui gerakan orang yang menyerangnya.
“Hya!!” teriak Long An sambil menangkis dengan teknik Agi Uke yaitu sebuah tangkisan atas.
Salah satu pria yang menyerang tadi terpengarah. Long An dapat menangkis serangannya dengan tepat. Lantas dengan gerakan cepat. Long An melompat tinggi sembari memberikan tendangan ke arah kepala lawan.
Duak!!
Si lawan mundur beberapa langkah. Ia memegangi kepalanya yang lecet akibat tendangan bertenaga Long An. Beberapa teman yang lain saling berpandangan dan mengeroyok Long An. Dua orang maju sekaligus. Long An tidak gentar. Ia bersiap dengan serangan kedua orang tersebut. Salah satu pria menendang Long An. Long An dengan sigap menangkis dengan teknik Gedan Barai, sebuah tangkisan bawah. Jika ada yang akan menendangnya. Sedangkan satu orang lagi hendak memukul Long An. An pun dengan cepat menangkis dan menyerang secara bersamaan dengan pukulan dan dorongan yang dinamakan teknik Morote Zuki.
Duak! Duak!
“Arghtt!” teriakan dua orang yang terkena pukulan An.
Dua orang sekaligus terjengkang dan memegangi dadanya yang merasakan pukulan Long An. Sedangkan sisanya langsung mengeroyok An secara bersamaan. Sekali lagi, Si kecil Long An tidak takut sama sekali. Ia dengan berani menghadapi orang-orang tadi. Ada yang memukul Long An. Ada yang berusaha menendangnya. Namun, dengan kelincahan tubuhnya. An menghindar dan menangkis. Lalu dengan tepat memberikan serangan balasan. Berupa lompatan sambil menendang.
Duak! Duak!
Lantas tendangan memutar yang tepat mengenai kepala dua orang sekaligus hingga mereka bergeletakan. Orang-orang tadi mengerang kesakitan. Merasakan tendangan maupun pukulan Long An yang sangat kuat. Long An tak tinggal diam. Ia segera menyerang yang lain dengan Shuto Uchi sebuah teknik serangan dengan tangan pedang. Ada yang terkena lehernya. Ada yang terkena dadanya.
Duak! Duak!
Tanpa Long An sadari, salah seorang pria diam-diam hendak memukul An dari belakang. Namun, tiba-tiba terdengar gonggongan keras seekor anjing yang tak lain Amao.
“Guk! Guk! Guk!” Amao segera berlari ke arah penjahat tersebut.
Amao menghempaskan ice cream yang tadi ia gigit. Ice cream tadi Amao dapatkan karena meminta belas kasihan orang. Amao ingin menghibur Long An dengan memberikan ice cream. Sungguh anjing yang baik. Amao segera berlari kencang dan membuka mulutnya lebar-lebar. Lantas meloncat dan menggigit kaki orang yang hendak menyerang Long An diam-diam dari belakang.
“Rawr!!Rawr!!”
“Argthh!! Lepaskan dasar anjing gila!” teriak si pria yang kakinya digigit Amao.
Long An tersenyum dibantu oleh Amao. Dia segera menghajar pria yang tersisa menggunakan Yama Zuki, sebuah pukulan ganda menggunakan kedua tangan.
Duak! Duak!
Para pria tersebut tumbang dengan wajah atau tubuh babak belur. Belum lagi digigit oleh Amao menggunakan taringnya yang tajam. Tidak lama kemudian, para pria misterius tadi kocar-kacir. Tak sanggup melawan kehebatan Long An yang mampu membaca setiap gerakan mereka. Menggunakan ingatannya yang tajam.
“Yo! Yo! Awooo sini paman lawan An dan Amao!” teriak Long An yang melihat para penjahat itu kocar kacir ke segala penjuru arah.
__ADS_1
“Guk! Guk! Rawr!” Amao ikut menakuti dengan memasang wajah galak.
Tidak lama kemudian, terdengar suara panggilan seorang pria yang memanggil nama Amao. Orang itu tak lain Pak Reno, assisten Tuan Marvin yang diutus mencari keberadaan Amao. Rosalind dan Liam yang menyaksikan kedatangan Pak Reno segera memacu kendaraannya. Bergegas meninggalkan tempat itu. Keduanya tak mau. Jika aksinya dipergoki assisten Tuan Marvin.
“Ada apa?” tanya Pak Reno yang tadi melihat sekumpulan pria berpakaian serba hitam lari tunggang langgang.
“Tidak apa-apa pak. Hanya pengganggu.” jawab Long An dengan senyum lebar.
“Guk! Guk!” Amao ikut menyahut.
Di tempat lain, Ravindra yang sedang berada di kantor menerima telp dari seseorang. Saat mendengar informasi dari seseorang di seberang telp. Ravindra langsung beranjak dari duduknya. Matanya melotot seolah terkejut. Wajahnya terlihat marah. Ravindra segera memanggil Pak Albert.
“Albert masuklah!” panggil Ravindra.
Pak Albert segera masuk dengan tergesa-gesa.
“Siapkan orangmu. tidak ada yang boleh menyentuh darah dagingku.” perintah Ravindra dengan sorot mata tajam.
Di sekolah, Irene terlihat berlarian dengan cemas. Ia mendengar kabar bahwa Long An dikeroyok orang misterius.
“An!!!” pekik Irene dengan nada penuh kekhawatiran.
“Mama!” balas Long An sambil memeluk ibunya.
“An, maafkan mama terlambat menjemputmu. Sehingga ada kejadian seperti ini.” peluk Irene dengan erat pada anak semata wayangnya.
“Hihi… tidak apa-apa mama. An bisa menjaga diri. Amao juga membantuku.” Long An tertawa lebar sambil menggosok hidungnya.
“Guk! Guk!” Amao ikut menyalak.
Irene memeluk Long An dengan perasaan cemas. Anaknya hampir celaka lagi. Irene tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ia harus menjaga Long An lebih ketat. Tanpa mereka ketahui, tak jauh dari sana. Ravindra mengawasi. Tangannya memegang cincin bermata bunga lotus tersebut. Tatapannya tajam sembari menggenggam cincin itu.
“Cari siapapun orang-orang itu. Berikan pelajaran yang pantas.” perintah Ravindra pada Pak Albert.
“Baik, Tuan Ravindra.”
Kenapa Ravindra tidak menghampiri Irene dan Long An? Apa yang sebenarnya ia rencanakan? Nantikan di bab berikutnya.
...***...
Terimakasih banyak sudah mampir membaca dan mendukung karya author. Semoga kalian sehat selalu.
__ADS_1