Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 73


__ADS_3

...Perpisahan...


            Segala jalan yang akan dilalui manusia. Tetap terdapat campur tangan Tuhan di dalamnya. Bahkan roda kehidupan tak bisa ada yang menentukan. Dahulu berada di bawah, sekarang bisa berada di atas dan entah hari berikutnya bisa terjadi sebaliknya. Begitu juga dengan nasib yang dialami Si kecil Long An. Binar wajah keceriaan yang ia rasakan beberapa hari ini. Hilang dalam sekejap mata. Hatinya begitu sedih ketika mendengar mama dan papanya tak lagi bersama. Keduanya saling memutuskan hubungan satu sama lain.


            Long An nampak murung di teras depan rumahnya. Si kembar yang ingin mengajaknya berlatih karate ia tolak begitu saja. An merasa aneh dengan sikap mamanya. Kenapa mendadak mamanya bersama Liam. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Sesuatu yang tak ia ketahui. Di saat Long An sedang sibuk memikirkan apa yang terjadi. Sebuah kendaraan sport berwarna hitam terpakir di depan rumah. An seketika menengadahkan kepalanya. Ia tahu betul, mobil itu adalah milik Ravindra. Benar saja, tidak berselang lama. Ravindra keluar dari dalam mobilnya. Menatap ke arah Long An dengan tatapan sendu. Begitu juga sebaliknya.


            “Papa…” panggil Long An tidak begitu semangat.


            Ravindra berjalan perlahan hendak menghampiri Long An. Disaat itu, Irene juga keluar dari dalam rumah. Rava menatap Irene dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. Sedangkan Irene berusaha mengacuhkan tatapan Rava.


            “Aku datang menjemput An.” kata Rava dengan nada dingin.


            Long An mengernyitkan keningnya. Kenapa tiba-tiba Ravindra ingin menjemputnya.


            Flashback


            Ravindra berbicara dengan Irene di balkon rumahnya. Sewaktu Irene dan Liam datang ke rumah kediaman Damariswara.


            “Apa benar semua yang aku lihat dan dengar tempo hari darimu?” tanya Ravindra dengan tatapan dingin.


            Irene menatap Rava dengan serius.


            “Semuanya benar.”


            Mendengar jawaban Irene. Membuat darah Rava semakin menggelegak. Ia menatap Irene dengan tatapan penuh amarah. Tangannya lantas mencengkeram bahu Irene. Irene berusaha meronta. Namun, semakin Irene meronta. Ravindra semakin mempererat cengkeramannya di bahu Irene.


            “Kenapa?! Kenapa kamu melakukan ini padaku hah?!” teriak Ravindra.


            “Disaat… disaat aku membuka hatiku. Kenapa? Kenapa kamu menghancurkannya?!” teriakan Rava semakin keras.


            Tangannya begitu kuat mencengkeram bahu Irene. Membuat Irene meringis kesakitan. Namun, ia harus menghadapi Ravindra. Sembari menahan rasa sakit di ke dua bahunya. Irene menatap tajam pada Rava.


            “Aku sudah mengatakan padamu dengan jelas. Kita tidak cocok bersama. Inilah balas dendam sempurna untukmu Ravindra Damariswara.”


            “Arghttt!!!” teriak Rava dipenuhi amarah.


            Ia menatap Irene dengan tatapan tajam. Sorot matanya menyoratkan perasaan Rava yang bercampur aduk antara marah, kesal, benci, sedih semuanya ia rasakan saat ini. Rasa sakit yang menghujam hingga ke ulu hatinya. Kini, kemarahannya yang semakin menggelegak. Membuat Rava mencekik Irene. Mendorongnya hingga terhimpit di dinding. Irene berusaha meronta. Ia tak dapat bernafas dengan baik.


            Terdengar suara rahang Ravindra bergemretak. Mata Rava terlihat beringas. Kemarahan besar menyelimuti hati Rava saat ini. Irene masih berusaha meronta.

__ADS_1


            “Sampai ketulangku, aku benar-benar membencimu Irene Maxzella. Seumur hidup, aku tak akan pernah ingin bertemu denganmu.” Rava mengatakan dengan nada tajam.


            “Mulai sekarang, enyahlah dari hadapanku!” teriak Ravindra sembari menghempaskan Irene dengan kasar.


            “Uhuk! Uhuk!” Irene terbatuk dan segera mengambil nafas perlahan.


            Irene hampir kehabisan nafas. Ia hanya bisa terduduk di lantai. Berusaha mengatur nafasnya perlahan. Rava menatap Irene dengan tatapan tajam. Tangannya mengepal hebat. Sejurus kemudian, Rava melihat liontin berbandul bunga Lotus pemberiannya. Ia lantas teringat pada Long An.


            “Berikan, hak asuh Long An padaku. Ibu seperti dirimu tak pantas membesarkannya lagi. Mulai sekarang, aku yang akan bertanggung jawab membesarkannya. Jangan sekalipun menampakkan wajahmu di hadapanku ataupun Long An.” kata Ravindra dengan tajam.


            Kemudian, Rava bergegas pergi meninggalkan Irene. Irene hanya diam membisu dan mengelus lehernya yang masih terasa sakit.


            Flashback End


            “Mama… mama… An mau kita bersama. Kenapa tiba-tiba jadi begini?” tanya Long An diantara isak tangisnya. Long An menggenggam tangan mamanya dengan sangat erat.


            Irene hanya diam terpaku. Sedangkan Rava segera meraih tangan Long An.


            “Mulai sekarang, tinggallah bersama papa. Kamu sudah menjadi tanggung jawab papa mulai detik ini.” kata Ravindra.


            “Papa… tidak… tidak…” Long An semakin sedih. Air matanya keluar dengan deras.


            Long An menghempaskan tangan Ravindra. Kedua tangan mungilnya menggenggam tangan Irene dengan erat.


            Irene mengelus kepala Long An perlahan.


            “Naga kecilku, kamu akan lebih aman dan hidup terjamin jika tinggal bersama papamu. Mama tidak bisa melangkah lebih jauh lagi.”


            “Kenapa? Kenapa? Bukankah mama juga ingin hidup bersama papa?”


            “Tidak lagi, mama tidak bisa.” Irene tersenyum sembari mengelus kepala Long An.


            “Kenapa tidak bisa? Katakan apa ada sesuatu? Mama ceritakan pada Long An dan papa. Mama…..” Air mata Long An semakin berderai. Pipi paonya basah karena air mata yang terus mengalir.


            “Bukankah kamu pernah berjanji. Untuk selalu menghangatkan hati papamu? Jadi, mulai sekarang dampingilah papamu. Hangatkan hatinya dan jangan biarkan membeku kembali.” jawab Irene diiringi senyum hangat.


            “Kenapa kita tidak melakukannya bersama? Kita hangatkan hati papa bersama.” Long An terus terisak.


            Irene tak menjawab pertanyaan Long An. Ia menatap Ravindra.

__ADS_1


            “Bawa An bersamamu. Jaga dia dengan baik. Hal yang tidak bisa aku lakukan. Pasti bisa kamu lakukan.” pesan Irene pada Ravindra.


            Ravindra mendecih, “lucu sekali, perkataanmu ini. Kamu bahkan tidak menyesali dan meminta maaf atas perbuatanmu yang menjijikkan bersama Liam. Kamu seorang wanita yang lebih menjijikkan dibandingkan mendiang ibuku.” Ravindra berkata dengan penuh amarah yang meluap.


            “Terserah apa yang kamu katakan. Aku tidak akan menyesal ataupun meminta maaf.” jawab Irene dengan menatap Ravindra tajam.


            “Baik, jika menurutmu seperti itu. Semoga kamu berbahagia dengan pilihanmu.” kata Ravindra yang menahan amarahnya. Ia tak ingin berbuat kasar pada wanita. Apalagi di depan anak kecil.


            “An, kita pergi sekarang.” ajak Ravindra pada Long An, sembari menggandeng tangan mungil anaknya.


            “Tidak… tidak… aku ingin mama bersama kita papa.” kata Long An merengek.


            Ia masih menggengam tangan Irene dengan erat. Irene berusaha melepaskan tangan Long An.


            “Pergilah bersama papamu. Jangan pernah menengok ke belakang lagi. Ingat janjimu untuk selalu menghangatkan hati papamu.” kata Irene dengan wajah datar.


            “Mama!! Mama!!! Aku ingin bersamamu. Apa mama lupa? Kekuatan seorang anak berasal dari kasih sayang ibunya. Kenapa mama ingin kita tidak bersama? Mama!!!” teriak Long An yang kini sudah berada dalam gendongan Ravindra.


            Irene hanya diam terpaku. Menyaksikan Long An menjauh darinya. An berusaha meronta supaya lepas dari gendongan Ravindra.


            “Papa! Lepaskan An. Biarkan An bersama mama. Mama akan sendirian jika aku tidak bersamanya. Long An ingin bersama mama!” Long An meronta, berusaha melepaskan dirinya. Meski ia harus menggunakan tenaganya.


Ravindra yang melihat anaknya terus meronta. Ia menurunkan Long An dari gendongan. Membiarkan An menghampiri ibunya. Long An yang sudah turun dari gendongan Ravindra segera berlari memeluk Irene.


            “Mama, aku ingin hidup bersama mama. An tidak mau mama hidup sendiri.” Long An menangis dengan keras.


            Irene berusaha menghempaskan pelukan Long An dengan kasar. Ia mendorong Long An supaya menjauhinya.


            “Pergilah! Tinggallah bersama papamu! Jangan mendekati mama lagi. Dengarkan mama! Kamu paham?!” bentak Irene dengan nada meninggi.


            Membuat Long An terpengarah. Selama ini, Irene tidak pernah membentak Long An sekeras ini. Irene selalu lembut dan penuh kasih sayang pada anaknya. Hal tersebut membuat Long An terbelalak tak percaya. Membuat hatinya yang sedih semakin pilu.


            “Mama….” panggil Long An perlahan.


            Ravindra yang melihat hal tersebut. Lantas bergegas menggendong Long An kembali. Kali ini, ia tak akan membiarkan Long An lepas lagi.


            “Mama! Mama! Kenapa mama menyuruh An pergi! Mama!!!” teriak Long An dengan derai air mata. Tangannya telulur ingin menjangkau Irene.


            Tetapi Irene hanya diam membeku dan langsung membalikkan badannya. Ravindra segera memasukkan Long An ke dalam mobil. An masih berteriak memanggil-manggil mamanya. Tetapi, Irene tak menoleh barang secuil pun. Ia tetap diam di tempatnya. Menundukkan kepalanya dengan sangat dalam. Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Ravindra berlalu dari rumah Irene. Membawa Si Kecil Long An yang masih menangis meraung-raung. Meski Long An adalah anak genius dan sangat cerdas. Tetap saja, ia adalah anak kecil yang tak ingin berpisah dari ibunya.

__ADS_1


            Selepas kepergian Ravindra dan Long An. Buliran bening membasahi pipi Irene. Tetapi ia tetap diam di tempatnya. Tidak ada seorang pun yang tahu. Bagaimana perasaan wanita yang hidupnya terus menerus di timpa kemalangan itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah Irene memang ingin membalas dendam seperti yang ia katakan?


           


__ADS_2