
...Saatnya Berlaga...
Siang hari ini di sebuah gelanggang arena olahraga. Diadakan seleksi atlet Nasional di bidang karate. Suara gemuruh penonton berbaur menjadi satu. Mereka bersorak-sorai menyambut pertandingan hari itu. Terutama ingin menyaksikan aksi Si Anak Genius. Siapa lagi kalau bukan Long An, Karateka Genius dari Timur. Long An terlihat sedang bersiap-siap. Ia mengenakan baju karateka yang dibuat oleh ibunya sendiri. Lantas Long An melilitkan sabuk hitam dibagian perutnya sembari menatap cermin yang berada di depannya. Tatapan matanya yang sipit terlihat tajam.
Mama… meskipun mama tidak lagi bersamaku. Bantulah aku, berikan kasih sayangmu padaku karena kekuatan seorang anak terletak pada kasih sayang ibunya. kata Long An dalam hati. Kemudian mencium liontin bunga Lotus milik ibunya yang sekarang ia kenakan.
Tidak lama berselang, Ravindra datang menghampiri anaknya.
“Papa…” sambut Long An dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
Ravindra balas tersenyum. Lantas membelai kepala anaknya tersebut.
“Papa akan selalu mendukungmu. Tetaplah fokus dan buat mamamu bangga.” kata Ravindra menyemangati putranya tersebut.
Long An mengangguk dengan yakin. Hari ini bukan lagi saatnya bersedih. An ingin ibunya di sana bahagia. Disaat Long An berbincang dengan Ravindra, terdengar suara sapaan ceria. Siapa lagi kalau bukan Si kembar dan Nyonya Meri.
“Yuhuu Long An.” sapa ketiga orang tersebut dengan binar ceria.
Long An balas tersenyum. Nyonya Meri langsung menepuk pundak Long An.
“Bu Meri akan selalu mendukungmu. Jadi bersemangatlah. Kamu pasti akan lolos seleksi.”
“An, jangan sampai kalah.” kata Meichan memberi semangat.
“Benar, kamu pasti menang.” timpal Chanmei.
Long An benar-benar bersyukur memiliki sahabat baik seperti Si kembar dan juga Nyonya Meri.
“Kalian juga pasti bisa lolos.” giliran Long An memberikan semangat.
“Jika saja, sahabatku Irene berada di sini. Pasti akan sangat menyenangkan.” kata Nyonya Meri kelihatan bersedih.
Long An tersenyum, “mama akan selalu berada di sini.” An berkata sembari menunjuk dadanya. Menandakan bahwa Irene akan selalu berada dalam hati Long An.
“An, sudah saatnya kamu bertanding.” kata Ravindra seusai Long An berbicara dengan Nyonya Meri.
Tidak lama kemudian, An sudah berdiri di gelanggang arena pertandingan. Lawannya kali ini adalah Alex. Rupanya Alex sudah berlatih keras, karena ia ingin mengalahkan pesaingnya tersebut. Alex tersenyum sinis pada Long An.
“Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu.” kata Alex pada Long An.
“Lakukanlah jika kamu bisa.” balas An dengan tatapan tajam.
Suara sorak-sorai penonton terdengar bergemuruh. Mereka mendukung dan mengelu-elukan nama Long An.
“An! An! An! Si Karateka Genius dari Timur!” teriak penonton bersahut-sahutan.
Sementara Ravindra dan Tuan Marvin melihat dari bangku VIP. Mereka berharap Long An dapat memenangkan pertandingan dan lolos menjadi atlet junior tingkat Nasional. Wasit sudah bersiap di tempatnya. Kemudian memberikan instruksi pada Alex dan Long An. Setelah itu terdengar suara denting pertandingan di mulai.
__ADS_1
Ting!
“Osh” kata kedua anak tersebut sebagai tanda saling memberi hormat.
Long An bersiap dengan kuda-kuda berat belakang yang dinamakan Neko Ashi Dachi. Begitu juga dengan Alex. Keduanya sama-sama fokus pada pertandingan ini. Alex dengan percaya diri langsung menyerang Long An dengan sebuah tendangan memutar. Long An waspada dan segera menangkis dengan Juji Uke sebuah tangkisan dengan kedua tangan disilang. Mata Long An terlihat terbelalak. Ia tak menyangka Alex sudah bisa mengusai teknik tendangan memutar. An mengakui kemampuan Alex naik secara signifikan. Kemudian An mundur sedikit. Menjaga jarak dari Alex. Alex tersenyum sinis.
“Apa kamu terkejut? Aku sudah bisa tendangan memutar? Kali ini aku yakin bisa mengalahkanmu.” kata Alex dengan penuh percaya diri.
Long An berusaha mengatur nafas. Mengingat semua gerakan Alex agar bisa menyerang balik. Alex tidak mau membuang waktu. Ia kembali menyerang Long An dengan tendangan ke arah perut yang dinamakan Mae Geri. Long An waspada dan memundurkan langkahnya. Tetapi Alex yang sekarang berbeda dengan Alex yang dulu. Gerakannya semakin gesit. Ketika mengetahui Long An mundur. Alex segera menyerang dengan pukulan Yama Zuki yaitu pukulan menggunung atau pukulan ganda dengan kedua tangan.
Buk!
Pukulan tersebut tepat mengenai tubuh Long An. An tak menyangka, gerakan Alex semakin cepat. Point untuk Alex. Alex tersenyum penuh kemenangan. Seolah yakin akan mengalahkan Long An. An kembali berdiri dan mengatur nafasnya. Ia harus fokus. Ravindra dan Tuan Marvin yang berada di bangku penonton mulai merasa cemas akan keadaan An. Bagaimanapun juga anak itu masih merasakan kesedihan kehilangan ibunya. Si kembar dan Nyonya Meri juga ikut khawatir. Mereka terus bersorak memberikan semangat pada Si kecil Long An.
An yang berada di gelanggang pertandingan mengambil nafas. Ia tak menyangka Alex mengalami perkembangan sebagus ini. Mungkin saja disaat An disibukkan dengan urusan mencari ibunya. Alex berlatih dengan giat. Wasit kembali memberi aba-aba bahwa pertandingan di mulai. Long An berusaha menyerang terlebih dahulu. Ia tidak boleh ketinggalan point dari Alex. An menyerang dengan Morote Zuki yaitu pukulan dan dorongan. Tetapi tanpa An duga, Alex dapat menangkis serangan Long An dan malah memberikan serangan balik tepat ke arah perut yang dinamakan Gyaku Zuki.
Buk!
“Arghttt!” rintih Long An yang merasakan pukulan Alex. An terjatuh karena pukulan keras yang diterimanya dari Alex.
“Ouhhh!” penonton langsung berdiri karena melihat An terjatuh.
Ravindra yang melihat hal tersebut merasa khawatir pada kondisi An. Tetapi ia tak tahu bagaimana membantu anaknya tersebut.
“An!!!” teriak Nyonya Meri dan Si kembar berusaha menyemangati Long An.
Sedangkan penonton kini berbalik mengelu-elukan nama Alex. Alex tersenyum sinis. Ia benar-benar merasa di atas angin karena bisa menyerang An dengan telak. Long An berusaha berdiri sembari memegangi perutnya.
Wasit pun memulai pertandingan kembali. Long An yang sudah kehilangan semangat karena teringat dengan ibunya. Tak dapat lagi berkonsentrasi. Alex melihat kesempatan. Saat aba-aba pertandingan di mulai. Dia langsung melompat dan memberikan tendangan memutar.
*Bruak*!
Tendangan memutar tersebut tepat mengenai pipi kiri Long An. Tendangannya cukup keras sehingga membuat An langsung jatuh terjerembab. Ravindra yang melihat hal tersebut langsung berdiri dan berlarian menuju arena pertandingan. Dia sangat mencemaskan keadaan anaknya tersebut. Para penonton terdiam menyaksikan hal yang diluar dugaan mereka. Mereka merasa gerakan Long An tidak seperti biasanya. An masih tergeletak. Hatinya kembali bersedih. Tiba-tiba ia sangat merindukan ibunya.
*Mama… Mama di mana? An sangat merindukan mama*. kata Long An dalam hatinya.
Ravindra yang merasa khawatir segera berlari menuju arena pertandingan. Tepat disaat Rava mendekati arena. Tiba-tiba di sebuah layar besar yang tadinya untuk menyiarkan pertandingan, muncul gambar seseorang. Seorang wanita berambut panjang lurus sedang tersenyum. Penonton dibuat terkejut karena layar besar di hadapan mereka memperlihatkan gambar sesesorang.
__ADS_1
“Irene?!!!” pekik Nyonya Meri.
Si kembar matanya melotot tak percaya karena yang mereka lihat adalah ibunya Long An. Ravindra yang tadinya berlari. Mendengar suara Nyonya Meri yang cukup keras memanggil nama Irene. Seketika menghentikan langkahnya. Melihat layar besar di hadapannya. Saat mata Ravindra menatap ke layar. Ia melihat wajah Irene terpampang begitu besar sedang tersenyum. Tak ayal hal tersebut membuat Ravindra terkejut setengah mati.
“Rene…. Irene?!” Rava tak percaya Irene muncul di depan layar. Bukankah kemarin polisi menemukan abu manusia di dalam kapal yang meledak dan liontin milik Irene?
Irene tersenyum dan berbicara perlahan.
“Naga kecilku … Long An. Mama di sini.” kata Irene yang berada di layar tersebut.
Long An yang tadinya masih tergeletak. Seketika ia bangkit dan menatap ke arah layar. Ia tak percaya bisa melihat ibunya.
“Anakku… apa kamu baik-baik saja? mama akan selalu mendukungmu. Lakukan yang terbaik. Mama akan menyalurkan kekuatan kasih sayang padamu karena….”
“Kekuatan seorang anak berasal dari kasih sayang ibunya.” kata Long An meneruskan kata-kata Irene yang berada di layar. Seolah keduanya sedang berbicara satu sama lain.
“Mama menyayangimu anakku. Mari berjuang bersama dan terbanglah setinggi mungkin. Gapailah impianmu dan jadilah kebanggaan negara ini.” kata Irene dengan senyum hangat. Senyum kasih sayang seorang ibu.
Setelah melihat ibunya di layar tersebut. Tekad Long An kembali berkobar. Tangannya mengepal erat. Ia menatap Alex dengan tatapan tajam. Long An kini telah menemukan semangat untuk berjuang kembali. Alex yang melihat hal tersebut mendecih. Ia harus waspada. Jika Long An menemukan semangatnya kembali. Maka bisa saja membalikkan keadaandan mengerahkan segala kemampuannya. Sedangkan Ravindra yang melihat Irene di layar tersebut segera bergegas keluar arena.
“Rene…. Apakah… apakah kamu masih hidup?” tanya Rava pada dirinya sendiri. Sembari berlarian menuju ruang kontrol, karena semua akses menampilkan gambar semua dikendalikan dari sana. Jadi, Ravindra harus ke ruang control dan memastikannya sendiri. Apakah benar, Irene masih hidup.
Tak pelak lagi, siaran pertandingan tersebut juga disaksikan oleh Rosalind dan Liam. Mereka menyaksikan dari siaran TV. Keduanya terkejut setengah mati. Tidak menyangka melihat Irene berada di siaran tersebut. Bagaimana bisa? Bukankah polisi sudah mengumumkan bahwa mereka menemukan abu manusia di dalam kapal yang meledak tersebut?
“Tidak mungkin!!! tidak mungkin wanita itu masih hidup!!!!” teriak Rosalind penuh amarah.
...***...
Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah Irene masih hidup? Bagaimana cerita selanjutnya? Jangan bosan-bosan menantikan bab berikutnya. Terimakasih untuk **dukungan, like**, maupun **komentarnya**. Semoga pembaca sehat selalu.
__ADS_1