
...Si Licik...
Manusia memang tak bisa menghindari skenario yang telah digariskan oleh Tuhan. Bagaimanapun manusia menghindar atau melarikan diri. Tetap saja, harus melewati takdir yang sudah tertulis. Rosalind benar-benar terkejut. Semua hal yang ia rencanakan kacau balau. Orang yang ingin ia singkirkan. Malah kembali ke hadapannya dan membawa serta anaknya. Membuat Rosalind gemetar menahan gejolak kekesalan yang begitu memuncak. Sebuah kilasan masa lalu tergambar jelas dipelupuk mata Rosalind. Rosalind yang kala itu berusia 20 tahun. Menyusun sebuah rencana untuk Irene yang sangat tidak ia sukai.
Flashback
Irene selesai bekerja dari pom bensin. Ia mengecek jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia harus bergegas ke alamat yang Liam berikan. Dia sudah selesai berganti pakaian dan membilas wajahnya supaya terasa segar. Semenjak diberhentikan dari Café sebelumnya. Irene belum mendapatkan pekerjaan baru. Ia sudah berkeliling mencari, namun tak menemukan satupun pekerjaan. Mencari pekerjaan memang susah. Jika hanya mengandalkan ijasah sekolah menengah saja.
Tidak lama kemudian, Irene berjalan menuju halte bus sambil menenteng tas berisi sweater milik Liam. Ia menunggu kedatangan bus sambil menatap tas yang ia bawa.
Pria bernama Liam itu, apakah sangat kaya? Sampai bisa sesumbar menutup sebuah Café? Nasibnya memang sangat bagus. Terlahir kaya dan memiliki segalanya. Hingga membuat diriku yang malang semakin tertimpa kemalangan bertubi-tubi. Aku menjadi benci orang kaya seperti dia. Kata Irene kesal. Ia hanya bisa berucap dalam hati.
Saat Irene sedang menunggu bus. Tiba-tiba sebuah mobil mewah terparkir tepat di hadapannya. Irene bertanya-tanya siapa yang mengendarai mobil mewah tersebut. Tidak lama berselang, seorang wanita muda keluar dari mobil mewah itu. Ya … dia adalah Rosalind Brigita. Masih dengan penampilan glamor dengan wajah congkaknya ia menatap Irene.
Irene benar-benar tidak percaya. Dari ribuan orang di dunia ini. Kenapa ia harus bertemu dengan Rosalind. Irene hendak melangkah pergi. Ketika mengetahui Rosalind ada di hadapannya. Tetapi buru-buru, Rosalind memanggil Irene.
“Rene, apa setiap kali bertemu denganku. Kamu selalu mengabaikanku?”
Meski Irene benar-benar malas bertemu Rosalind. Tetapi ia berusaha tetap bersikap baik.
“Jika diposisiku, kamu juga akan melakukan hal yang sama. Mari tidak perlu saling bertegur sapa lagi. Lagipula kamu sudah mendapatkan semua yang kamu inginkan. Jadi, jangan mengusikku lagi.” Jawab Irene dengan nada malas.
“Hei, apa aku seburuk itu? Meski kita bukan teman. Setidaknya kita pernah satu sekolah. Kita perlu berbicara baik-baik.” Kata Rosalind kelihatan berbeda.
Irene sedikit mengernyitkan keningnya. Melihat sikap dan nada bicara Rosalind terdengar berbeda.
“Ada apa denganmu?” Tanya Irene.
“Ada apa denganku? Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin, kita berbicara baik-baik. Apa kamu tidak lelah dengan hubungan buruk ini?” Tanya Rosalind balik.
Irene semakin tidak mengerti dengan sikap Rosalind yang mendadak kelihatan berbeda.
__ADS_1
“Jangan menatapku seperti orang aneh begitu. Ayo, aku antarkan kemanapun kamu pergi.” Kata Rosalind dengan senyum ramah.
Lantas menggandeng tangan Irene dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Irene berusaha menolak. Tetapi, Rosalind tetap mengajaknya masuk ke dalam mobil. Irene tak bisa berkata apa-apa. Hanya merasa heran dengan sikap Rosalind yang berbeda 180 derajat. Tidak lama kemudian, mobil Rosalind menembus jalanan malam di Ibu Kota. Saat di dalam mobil. Rosalind seolah bersikap ramah dan baik pada Irene.
“Rene, kamu kelihatan lelah. Minumlah dahulu, kamu bisa mengambil minuman itu.” Tunjuk Rosalind.
Irene melihat sebotol air mineral diletakkan di samping tempat duduk Rosalind. Jujur saja, Irene memang merasa sangat haus. Tetapi, ia masih ragu untuk mengambilnya. Irene merasa Rosalind kali ini sungguh berbeda.
“Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa mendadak sikapmu berubah padaku? Bukankah kamu sangat tidak menyukaiku?” Tanya Irene yang keheranan.
“Sudah aku katakan. Aku lelah, hubungan kita buruk seperti ini. Jadi, kenapa tidak kita perbaiki. Kamu juga pasti lelah bukan?” Tanya Rosalind balik.
Irene masih tidak begitu percaya dengan sikap Rosalind yang mendadak berubah.
“Jangan menatapku seperti itu Rene. Bukankah setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah.” Kata Rosalind.
“Entahlah, ini begitu mendadak dan terasa aneh untukku.”
“Jangan repot-repot. Aku tidak ingin merepotkanmu. Turunkan saja aku di depan sana.” Kata Irene.
“Rene, aku tidak merasa repot. Jangan bersikap seperti ini. Menolak memberikan kesempatan pada orang yang ingin memperbaiki diri.” Kata Rosalind sedih. Lalu ia menghentikan mobilnya.
Irene yang melihat Rosalind menunjukkan kesedihan. Jadi merasa tak enak. Meski sikap Rosalind yang mendadak berubah, membuat Irene masih dipenuhi keheranan. Ia juga tak tega bersikap dingin pada Rosalind.
“Baiklah, aku memang belum percaya sepenuhnya. Tetapi, aku akan mengambil air minum yang kamu tawarkan. Agar kamu merasa aku tidak memberikan kesempatan padamu.” Kata Irene tulus. Lantas mengambil air mineral tadi.
Rosalind masih kelihatan sedih. Tetapi ia tersenyum mendengar perkataan Irene.
“Terimakasih Rene. Aku lega mendengarnya. Minumlah dahulu, sebelum kamu melanjutkan perjalanan.” Kata Rosalind menampilkan senyum yang hangat dan ramah.
Irene juga balas tersenyum. Lalu meneguk minuman yang ditawarkan oleh Rosalind tanpa menaruh curiga pada gadis berambut coklat tersebut. Rosalind tersenyum menatap Irene yang meminum minuman itu. Tetapi tanpa Irene sadari, seulas senyum licik mengembang dari sudut bibir Rosalind.
__ADS_1
Irene yang memang merasa kehausan menghabiskan minuman tersebut. Lantas mengucapkan terimakasih pada Rosalind.
“Baiklah, aku akan melanjutkan perjalananku sekarang.” Kata Irene dengan senyum hangat.
Rosalind menganggukkan kepalanya. Ketika Irene hendak membuka pintu. Tiba-tiba, ia merasakan sakit di kepalanya. Kepalanya berdenyut keras. Seolah-olah semua yang ada disekitarnya berputar-putar.
Samar-samar, Irene melihat Rosalind tersenyum sambil menatap Irene. Irene berusaha membuka matanya namun itu semua sia-sia. Hingga beberapa detik selanjutnya. Irene tak sadarkan diri. Melihat Rosalind yang sudah tak sadarkan diri. Rosalind segera menelepon seseorang. Diseberang telp, suara berat seorang pria terdengar.
“Aku akan menunggumu.” Kata Rosalind.
Untuk apa menungguku? Tanya pria diseberang telp.
“Tentu saja, untuk membuktikan rumor mengenai dirimu tidaklah benar. Apa kamu tidak ingin membuktikan bahwa dirimu bukan pria seperti itu?” Rosalind berusaha memprovokasi pria diseberang telp.
Aku tidak perduli. Jawab pria diseberang telp begitu dingin.
“Aku yakin kamu akan datang. Aku akan tetap menunggumu. Meski harus menunggu hingga esok hari.” Balas Rosalind.
Terserah. Jawab pria itu pendek. Lalu mematikan telpnya.
Rosalind terlihat kesal. Pria barusan mematikan telpnya dan bersikap dingin. Namun, Rosalind yakin pria itu akan datang. Rosalind mengenal pria berhati dingin itu tak akan tahan. Jika citranya menjadi buruk dihadapan publik.
“Aku yakin kamu akan datang.” Kata Rosalind sambil tersenyum licik. Lalu menatap ke arah Irene yang tak sadarkan diri.
Di tempat lain.
Di sebuah ruangan gedung perkantoran. Seorang pria bermata sipit, pemilik rambut yang berdiri layaknya duri mengenakan setelan jas formal. Menatap ke luar jendela kaca. Dihadapannya pemandangan malam dengan latar gedung-gedung bertingkat terhampar luas. Kelap-kelip lampu menyala menerangi setiap gedung pencakar langit. Pria muda itu hanya diam dan menatap lurus dengan tatapan tajam. Tak jauh dari tempat ia berdiri. Sebuah laptop menyala, dilayarnya menampilkan screenshot obrolan group yang berisi rumor mengenai dirinya yang menyukai sesama jenis. Rumor itu tersebar, karena pria muda tersebut selalu bersikap dingin terhadap wanita.
Flashback End
Rosalind menatap penuh kekesalan ke arah foto Long An yang tertempel didokumen yang barusan ia baca.
__ADS_1
“Anak ini…. anak ini…. tidak mungkin. Itu tidak mungkin….” Kata Rosalind penuh kekesalan pada dirinya sendiri.