
...Kemarahan Rosalind...
Di sebuah kamar yang luas dan mewah. Seorang pria berambut berdiri menatap sebuah wadah kaca berisi tiga ekor ikan yang asyik berenang. Pria itu tak lain adalah Ravindra Damariswara. Disaat ia sedang menatap ke arah ikan tersebut. Sebuah kilas balik terbayang dipelupuk matanya.
“Paman rambut landak, ini untukmu.” kata Long An seusai mereka berkemah.
Bocah karate genius tersebut menyerahkan sebuah wadah berisi tiga ekor ikan.
“Untuk apa ini?” tanya Rava tak mengerti.
“Aku ingin paman menjaga ikan-ikan ini.”
“Kenapa aku harus menjaga ikan ini?”
“Ikan – ikan ini seperti aku, mama, dan paman. Saat paman merasa kesepian, lihatlah kenangan kita bersama hari ini. Itu akan membuat hati paman menghangat. Jadi, paman harus menjaga semua ikan ini seperti paman akan menjagaku dan mama.” jawab Long An dengan senyum lebar.
“Hei! Hei! apa maksudmu?” Ravindra bertanya karena masih tak mengerti.
Tetapi Long An hanya melambaikan tangannya dan tersenyum dengan riang. Seolah menitipkan pesan yang berharga untuk Rava.
Rava yang kini sudah berada di kamarnya. Melihat ikan-ikan itu sambil tersenyum. Senyum yang tak pernah ia tunjukkan selama bertahun-tahun.
“Anak itu, Long An… seandainya waktu kecil dahulu aku bisa sepertimu.” Ravindra bergumam sendiri.
Lantas ia memasukkan ikan-ikan tersebut ke dalam aquarium yang lebih besar dan bagus. Kemudian memberi ikan-ikan itu makan. Hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Hari ini, untuk pertama kalinya Rava bisa tersenyum kembali. Merasakan hatinya yang dingin perlahan berubah menjadi hangat.
Di sisi lain, Rosalind terlihat sangat marah.
Prank!!!
Rosalind membanting benda-benda yang ada di depannya. Wajahnya merah padam. Dari pancaran sinar matanya rasa kesal, marah, dan benci berbaur menjadi satu. Sedangkan dihadapannya duduk seorang pria sembari meminum wine dengan santainya. Ia malah tersenyum-senyum melihat tingkah Rosalind.
“Arghtt!!” Teriak Rosalind kesal.
Nafasnya memburu seolah dikejar hantu.
“Mau sampai kapan kamu begini?” tanya pria yang tak lain adalah Liam Damariswara.
Rosalind melipat tangannya di dada dan duduk di samping Liam dengan perasaan kesal. Liam hanya tersenyum dan memberikan Rosalind segelas wine.
__ADS_1
“Minumlah dahulu.”
Liam menyodorkan minuman pada Rosalind. Rosalind dengan kasar mengambil minuman tersebut dan menghabiskannya. Nafasnya terdengar naik turun menahan gejolak perasaan amarah yang meluap.
“Wanita itu… wanita miskin itu lagi-lagi mengganggu hidupku. Ini sungguh menyebalkan sekali! Beraninya! Beraninya, dia menghabiskan waktu bersama Ravindra!” Teriak Rosalind sangat marah.
“Apa maksudmu wanita itu?”
“Siapa lagi kalau bukan dia. Satu-satunya wanita yang sangat aku benci, Irene Maxzella.” jawab Rosalind dengan sorot mata penuh kebencian.
“Apa?! Irene? Maksudmu wanita itu? Wanita yang malam itu kita jebak?” tanya Liam merasa terkejut.
“Benar. lebih sialnya lagi. Wanita itu datang membawa anaknya.” Rosalind menjawab sambil mencengkeram gelas yang ia pegang.
“A… apa?!!! Anak?!!” lagi-lagi Liam bertanya dan semakin tak mengerti dibuatnya.
“Ya, wanita itu kembali dengan membawa anaknya.”
“Maksudmu, anak yang wanita itu bawa adalah anaknya dengan….???”
Rosalind hanya diam dan menatap dengan tatapan penuh amarah. Sedangkan Liam langsung berdiri dari duduknya. Memijat kepalanya yang berat, karena mendapatkan kabar semacam ini.
“Aku belum benar-benar memastikannya secara langsung. Tetapi berdasarkan tahun kelahirannya. Anak itu lahir di sini, 10 tahun yang lalu.”
“Bukankah kamu sudah mendorongnya jatuh dari tangga?” tanya Liam yang langsung memegang erat bahu Rosalind.
Rosalind menatap Liam dengan tajam, “Aku sudah mendorongnya dari tangga dan melihat pendarahan keluar membasahi kakinya.”
Liam melepaskan bahu Rosalind dengan kasar. Memijat kepalanya yang berat.
“Jangan katakan, anak itu adalah anak yang kemarin ingin kamu celakai? Si karateka genius itu?”
Rosalind mengangguk perlahan.
“Aish, ya ampun ini benar-benar membuat kepalaku berat. Bagaimana bisa hal ini terjadi? kamu ingin menyingkirkan wanita itu dengan membuatnya menanggung aib. Ku pikir rencananya berhasil, tetapi apa ini? Jika sampai Ravindra atau ayah tahu? Ini akan berat bagi langkah kita mengusai semua kekayaan ayahku!” kata Liam dengan nada tinggi.
Rosalind kembali meminum winenya. Ia juga merasa kesal. Tujuannya menjebak Irene agar tidur dengan Ravindra hanya untuk membuat aib bagi Irene. Sehingga wanita itu akan pergi jauh dari kehidupan Rosalind dan tak lagi menjadi bayang-bayangnya. Rosalind juga ingin melampiaskan kekesalannya pada Ravindra yang selalu menolaknya. Membuat harga dirinya yang tinggi merasa direndahkan. Tetapi semua rencana yang ia susun rupanya berakhir berantakan.
“Harusnya malam itu, aku saja yang tidur dengan Ravindra.” kata Rosalind menyesali segalanya.
__ADS_1
“Diam! Aku tidak akan rela kamu tidur dengan Rava.” teriak Liam marah dan mencengkram bahu Rosalind. Matanya melotot menatap Rosalind.
Rosalind dengan kasar menghemaskan tangan Liam.
“Ini semua salahmu! Hanya karena menuruti perkataanmu waktu itu. Aku mendapatkan kesialan seperti ini! Kamu bahkan tidak becus melaksanakan tugasmu!” Rosalind tak kalah marahnya.
“Jika saja, kamu juga mendengarkan aku waktu itu. Membiarkan aku meniduri Irene. Semuanya pasti berjalan lancar! Arght!!!” Liam juga ikut marah. Ia membanting sebuah guci hingga hancur berkeping-keping.
Flashback
10 tahun yang lalu. Rosalind dan Liam bekerjasama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
“Aku ingin wanita bernama Irene itu tidak muncul dihadapanku. Aku sangat membencinya dan ingin ia hidup menderita.” kata Rosalind waktu itu.
“Aku juga ingin membuat Rava mendapatkan malu. Hingga ia tak lagi mendapatkan kepercayaan dari ayah.” Liam ikut menimpali.
“Jika begitu, kita bisa bekerja sama. Aku akan membuat Irene menanggung aib selamanya dan kamu mendapatkan apa yang menjadi keinginanmu.” Rosalind tersenyum licik.
“Ini sungguh menarik. Lalu apa rencanamu?” tanya Liam yang juga ikut tersenyum licik.
“Aku akan membuat Rava tidur denganku. Kamu bisa memotretnya sebagai bukti kebejatan Rava. Kamupun bisa meniduri Irene.” ucap Rosalind.
“Aku tidak setuju. Jika kamu tidur dengan Rava. Kamu tahu betul aku menyukaimu. Aku tidak akan setuju. Lagipula, jauh dilubuk hatimu. Kamu tidak sungguh-sungguh menyukai Rava. Jadi, biarkan aku yang meniduri gadis itu.” sahut Liam.
“Jika seperti itu, mana bisa menyatukan rencana kita?”
“Pasti ada cara lain yang lebih efektif tanpa harus adanya campur tangan kita. Kita hanya perlu menjadi penonton dan menikmati pertunjukannya.” jawab Liam mencoba memikirkan sebuah rencana.
“Bagaimana, jika kita membuat mereka tidur bersama? Kita biarkan Rava meniduri Irene. Kita akan memotret saat mereka tidur. Membuat gadis itu menanggung aib dan semakin menderita. Kamu, juga mendapatkan keuntungan dari itu semua. Ayahmu akan lebih percaya padamu. Sekali tepuk dua lalat terhempas.” Rosalind tersenyum licik.
Begitu juga dengan Liam yang menyunggingkan senyum licik di sudut bibirnya. Sebuah rencana busuk yang akan menghancurkan dua lalat. Rencana yang sangat sempurna. Rosalind tidak akan terganggu dengan kehadiran Irene yang selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupnya. Ia juga tak ingin Irene membuka mulut pada semua orang. Jika sewaktu SMA dahulu, Rosalind pernah mendorong Irene dari tangga. Menyingkirkan gadis itu pergi sejauh mungkin. Merusak citra Irene yang dianggap sebagai gadis yang baik menjadi gadis liar dan nakal.
Sedangkan Liam, akan merusak citra Ravindra di depan ayah dan semua orang. Sehingga ia akan mendapatkan kepercayaan ayahnya. Mendapatkan kekayaan keluarga Damariswara di tangannya. Di hari itu, Liam bertugas untuk memotret Rava dan Irene. Ketika mereka tidur bersama. Sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.
Liam yang malam itu mabuk karena berpikir rencananya akan berhasil. Ternyata ia malah bangun kesiangan dan terlambat memotret adegan ranjang antara Irene dan Ravindra.
Flashback End
Kini, Rosalind dan Liam hanya menggigit bibir. Rencana mereka berantakan dan saat ini, Irene malah kembali. Membawa anak yang kemungkinan besar adalah anak Ravindra Damariswara.
__ADS_1
“Aku tidak ingin situasinya semakin kacau. Jadi, aku akan pastikan anak itu darah daging siapa. Jika anak itu benar, anak Ravindra. Kita harus membuat rencana untuk menyingkirkan mereka selamanya.” kata Rosalind dengan tatapan jahat nan licik.