
...Pembalasan Setimpal Untuk Rosalind
...
Rosalind Birgita wanita yang merasa bahwa uang adalah segalanya. Kini, hidupnya terlunta-lunta. Ayahnya tak lagi bisa membantu. Rosalind tak menyangka hidupnya akan jatuh ke dalam jurang yang terdalam. Ia kini berjalan kesana kemari tanpa tujuan. Saat melewati sebuah tempat makan perutnya terdengar berbunyi nyaring. Rosalind mengelus perutnya yang kelaparan. Ia menatap ke arah orang-orang yang menyantap makanan dengan nikmat.
Orang yang sedang makan merasa risi karena penampilan Rosalind yang terlihat berantakan. Mereka jadi tak bisa menikmati makanannya. Akhirnya mau tak mau pelayan di rumah makan tersebut segera mengusir Rosalind.
“Hei! gelandangan! Orang miskin jangan berdiri di sini. Sangat mengganggu pelanggan kami.” usir pelayan sembari mendorong Rosalind dengan kasar.
Rosalind yang seumur-umur tak pernah diperlakukan begitu, merasa sangat terhina. Ia mendorong balik si pelayan.
“Dasar sialan! Orang miskin sepertimu tidak pantas menyentuh orang kaya sepertiku, apalagi mendorongku!” teriak Rosalind dengan kesal.
Pelayan langsung tertawa sinis.
“Ha-Ha-Ha! Dasar gila, selain miskin rupanya gelandangan ini berpikir dia kaya.” ejek Si pelayan.
Pengunjung lain yang mendengar langsung ikut tertawa. Mengejek Rosalind dan memberikan tatapan menghina.
“Arghttt!!! Aku bukan orang miskin!!! Aku adalah Rosalind Birgita yang kaya raya!!!” teriak Rosalind sangat marah karena baru kali ini merasa dihina.
Pengunjung maupun orang yang melihat kejadian tersebut seketika berbisik karena mendengar nama Rosalind Birgita. Mereka segera melihat ponsel dan melihat berita Rosalind ada di mana-mana. Ia adalah buron yang sedang dicari polisi. Orang-orang di sekitar sana langsung menunjuk dan berbisik-bisk. Rosalind merasa keheranan. Kemudian sekilas ia melihat ada siaran TV yang menyiarkan pencarian terhadap dirinya sebagai buronan karena telah mencelakakan Irene.
“Hah?! Bukankah itu Rosalind Birgita? Orang yang merencanakan penculikan Irene?!” teriak salah satu orang sembari menunjuk ke arah Rosalind.
“Benar, wanita jahat yang ingin mencelakai mamanya Si karateka genius Long An.” timpal yang lainnya.
Rosalind yang mendengar hal tersebut mulai ketakutan. Orang-orang menatapnya dengan tatapan benci.
“Dasar wanita iblis! Kita lapor pada polisi!” teriak orang-orang itu sembari melempar Rosalind dengan barang-barang yang ada di sekitar mereka. Bahkan ada yang melempar dengan telur maupun sampah. Rosalind kelihatan kesal. Tetapi ia tak berdaya karena dikeroyok massa.
“Wanita iblis! Kita lapor polisi!” teriak orang-orang tersebut.
Meski Rosalind merasa sangat kesal diperlakukan hina seperti itu. Tetapi ia tak mau tertangkap. Rosalind segera bergegas melarikan diri. Tetapi orang-orang tersebut masih meneriaki dan melemparinya dengan sampah. Ros segera pergi dari tempat itu. Harga dirinya benar-benar runtuh dalam sekejap. Segala yang ia sombongkan sirna menjadi debu.
Tanpa Rosalind ketahui. Tidak jauh dari sana mobil sport mewah berwarna hitam yang dinaiki oleh Ravindra sedang mengawasi. Di dalam mobil tersebut terdapat Irene dan juga Long An. Mereka sedari tadi mengamati Rosalind.
“Akhirnya aku bisa memberikan Rosalind pelajaran. Kini, setidaknya ia merasakan bagaimana menjadi diriku dahulu. Aku harap Rosalind dapat belajar mengenai kehidupan.” kata Irene.
“Mama sangat luar biasa. Orang lain saja pasti akan memberikan balasan yang menyakitkan. Tetapi mama berbeda. Mama hanya ingin memberikan tante Rosalind pelajaran mengenai kehidupan. Bahwa uang tidak hanya memberi kekosongan. Iri hanya memberikan penderitaan dan keserakahan membuatmu ditinggalkan.” Long An memuji ibunya.
“Tetapi jangan membuang waktu. Kita tidak bisa membiarkan Rosalind bebas berkeliaran.” kata Ravindra.
“Tenang saja, setelah ini aku akan menyelesaikannya.” sahut Irene.
“Apa kamu yakin akan menemuinya sendirian?” tanya Ravindra.
“Tidak apa-apa, jangan cemaskan aku. Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik. Bagaimanapun juga semua masalah ini berawal dari perseteruanku dengan Rosalind. Jadi, biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Supaya rantai kebencian Rosalind padaku bisa terputus.” jawab Irene dengan melempar senyum sembari menggenggam tangan Ravindra. Menenangkan pria yang dicintainya itu.
“Aku dan papa, akan mengawasi mama.” timpal Long An yang duduk di bangku belakang.
“Mama tidak akan khawatir karena dijaga dua pria yang hebat.”
__ADS_1
Long An dan Ravindra yang mendengar perkataan Irene merasa bahagia. Lalu keluarga kecil tersebut tertawa bersama.
Sebelum Irene menemui Rosalind ia menghubungi Nyonya Meri.
*Aha! Mama Long An*. sapa Nyonya Meri yang terdengar ceria.
“Bu Meri, maafkan aku merepotkanmu. Untuk hari ini tolong jaga ibuku. Aku akan menyelesaikan urusanku.”
Tenang saja, aku akan menjaga Nyonya Kania. Si kembar akan menemaniku. Jadi, jangan cemas. Aku berharap semoga urusanmu segera dapat diselesaikan dengan Rosalind Si penyihir wanita itu.
“Baik, terimakasih banyak atas segala bantuanmu.”
*Jangan merasa sungkan*. balas Nyonya Meri. Lantas telp pun selesai. Tidak lama kemudian, mobil Ravindra melaju ke suatu tempat. Menyelesaikan segala akar dari permasalahan.
Tak terasa pagi berubah menjadi malam.
Di sebuah atap gedung sekolah. Di mana dahulu sekolah itu adalah tempat Irene dan juga Rosalind bersekolah. Irene sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian, seseorang membuka pintu atap dengan kasar. Seseorang itu tak lain adalah Rosalind. Wajah Rosalind kelihatan merah padam karena merasa sangat marah pada Irene.
“Apa maksudmu mencariku dengan menyiarkan melalui siaran TV hah?! Apa kamu ingin mempermalukanku?!” tanya Rosalind dengan wajah penuh amarah. Nafasnya terdengar memburu.
Irene bersikap tenang. Berusaha menghadapi kemarahan Rosalind.
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku menyiarkan dari TV karena ingin kamu datang menemuiku. Jika aku tidak memilih cara itu. Kemungkinan besar kamu tidak akan datang.”
“Cih! Dasar wanita sialan! Kamu telah menghancurkan hidupku!” teriak Rosalind dengan wajah merah padam.
“Aku sama sekali tidak ingin menghancurkan hidupmu atau siapapun. Aku hanya ingin kamu menyadari kesalahanmu. Belajarlah mengenai arti penting sebuah kehidupan. Aku masih memberimu kesempatan untuk menebus kesalahanmu. Tidak perduli apa yang pernah kamu lakukan atas hidupku. Aku memaafkanmu, jadi hentikan semuanya. Hilangkan rasa bencimu terhadapku karena tidak ada yang perlu kamu benci dari diriku.” kata Irene dengan tulus sambil mengulurkan tangannya.
“Jangan beromong kosong! Inilah yang sangat aku benci darimu Irene. Kenapa?! Kenapa?! Kamu sangat naif dan bodoh! Kenapa?!!!” teriak Rosalind.
Rosalind yang melihat uluran tangan Irene, bukannya menyadari kesalahan. Tetapi kebenciannya semakin dalam. Ros masih saja ingin mencelakai Irene. Tanpa Irene ketahui, Rosalind menyembunyikan sebilah pisau di balik punggungnya. Kemudian tanpa banyak berpikir Rosalind segera menghunusnya ke arah Irene.
“Mati saja kamu!!!” teriak Rosalind sembari menghunus pisau ke arah Irene.
Irene segera menahan dengan tangannya. Darah segar keluar dari tangan Irene. Rosalind tak berhenti. Ia berusaha sekuat tenaga menusuk Irene. Tetapi Irene yang sudah di ajari Long An bagaimana cara menangkis jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Segera mempraktekkannya. Irene menekuk pergelangan tangan Rosalind dan memelintirnya.
“Arrghtttt!!!” teriak Rosalind kesakitan.
“Berhentilah Ros!!! Ini tidak ada gunanya.” pinta Irene yang masih memelintir tangan Rosalind.
Rasa kebencian Rosalind masih sangat mendalam pada Irene. Ia sekuat tenaga melepaskan dirinya dari pelintiran tangan Irene. Kemudian dengan cepat mendorong tubuh Irene hingga terjepit dibagian tepi balkon. Rosalind berusaha mencekik Irene. Tetapi Irene tak tinggal diam. Ia berusaha mendorong Rosalind.
Ravindra dan Long An yang merasakan firasat tak enak segera menyusul Irene, karena sudah melebihi batas waktu yang ditentukan ketiganya. Jika Irene tidak kembali dalam waktu 10 hingga 15 menit. Rava dan Long An akan menyusul. Keduanya bergegas membuka pintu atap gedung sekolah. Tepat di saat Ravindra membuka pintu. Mereka menyaksikan Irene dan Rosalind saling dorong. Hingga akibat dorongan yang kuat tersebut. Keduanya terpelanting hingga melewati tepi pembatas atap.
“Mama!!!” pekik Long An takut ibunya terjatuh.
“Irene!!!” disusul suara teriakan Ravindra.
Kemudian keduanya bergegas melihat ke tempat di mana Irene dan Rosalind terjatuh.
Irene terlihat masih berpegangan pada salah satu pilar atap. Sedangkan tangan kanannya masih memegangi Rosalind. Ravindra segera mengulurkan tangannya. Long An ikut membantu memegangi ayahnya. Berbeda dengan Rosalind yang berteriak-teriak seperti orang gila. Irene berusaha keras berpegangan dan tetap memegangi Rosalind.
__ADS_1
“Kyaa!!! Jangan lepaskan aku! Jangan!!!” teriak Rosalind sangat panik.
Atap sekolah itu cukup tinggi. Irene berusaha keras berpegangan. Tetapi Rosalind yang seperti orang gila berteriak-teriak malah membuat tubuh Irene ikut bergoyang. Ravindra yang melihat hal tersebut sangat panik.
“Ros, tenanglah!” pinta Ravindra berusaha meraih tangan Irene yang berpegangan.
Long An yang melihat ibunya dalam bahaya segera memutar ide.
“Ahhh!! A… aku ti… tidak… kuat…” kata Irene yang tangan kirinya masih berpegangan.
Di satu sisi, tangan kanannya memegangi Rosalind yang masih bergerak ke sana kemari. Membuat beban Irene begitu berat.
“Rene bertahanlah!!!” Rava meraih tangan kiri Irene.
“Ros! Te… tenanglah!” kata Irene terbata karena Rosalind terus bergerak.
Rosalind yang tersadar menatap Irene dengan kebencian. Kemudian ia ingat.
“Jika aku mati! Maka kamu juga harus ikut mati bersamaku Irene Maxzella!” kata Rosalind sambil menarik tangan Irene.
“Arghttt!” pegangan tangan kiri Irene semakin tidak kuat.
Ravindra masih berusaha keras meraih tangan kiri Irene yang hampir terlepas dari pegangan pilar.
“Ayo mati bersamaku Irene!!! Ha-Ha-Ha!!!” teriak Rosalind dan menarik tangan Irene.
Tetapi, yang ada justru tangan Rosalind tergelincir dan terlepas dari pegangan Irene. Irene terkejut begitu juga dengan Ravindra dan Long An. Rosalind berusaha meraih sesuatu namun sayang sekali tubuhnya meluncur dengan cepat ke bawah. Hingga dalam hitungan detik tubuhnya menghantam lantai sekolah dengan keras.
*Bruak*!
Tak ayal lagi darah segar mengucur dari kepalanya. Mata Rosalind kelihatan melotot dan mulutnya menganga. Rosalind tewas seketika. Kini, tinggal Irene yang berusaha berpegangan.
“A… aku tidak kuat lagi.” kata Irene.
“Bertahanlah Rene!!!” teriak Ravindra.
Long An yang sangat mengkhawatirkan ibunya. Segera melompat dan turun ke bawah. Satu tangannya bergelayut pada tangan Ravindra. Sedangkan satu tangannya lagi memegangi tangan kiri Irene.
“Mama, aku memegangi tanganmu. Jangan khawatir.” kata Long An.
Kekuatan tangan Long An memang tidak bisa diragukan lagi karena tertempa dengan latihan yang keras.
“Baiklah, sekarang aku akan menarik kalian berdua.” kata Ravindra sekuat tenaga.
“Hyaa!!” teriak Rava sembari menarik Long An dan juga Irene. Perlahan tetapi pasti Long An bisa naik ke atas dan berpegangan pada tepi pembatas balkon. Kemudian bersama-sama Ravindra menarik Irene ke atas.
Irene pun selamat dari kematian. Ketiganya kemudian saling berpelukan dengan erat. Nafas mereka masih terengah-engah. Tidak lama berselang suara sirine mobil polisi berdatangan.
Mereka segera mengecek kondisi Rosalind dan mengamankan TKP. Sedangkan Irene, Long An, dan Ravindra hanya mengamati dari atap gedung sekolah. Ketiganya merasa prihatin atas kematian Rosalind. Bahkan sampai akhir hayatnya ia tetap tidak sadar akan kesalahannya.
...***...
Masih ada satu episode lagi. Jadi jangan kemana-mana dan tetap setia baca cerita author ya. Terimakasih.
__ADS_1