
...Kekhawatiran Long An...
Terkadang untuk mendapatkan kebahagiaan, seseorang harus berjuang terlebih dahulu. Begitu juga yang di alami Si kecil Long An. Ia kembali mengalami fase di mana tiba-tiba kebahagiaan yang sempat ia genggam kembali terlepas. Long An berpikir, setelah menemukan ayahnya. Ia akan hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Kenyataan memang tak seindah impian. Bocah genius itu, harus kembali merasakan tidak lengkapnya orang tua. An, harus berjauhan dengan ibu yang sangat ia sayangi.
Meskipun Long An adalah anak genius. Tetapi tetap saja, dia adalah anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Tempo hari, ia harus menangis seharian karena dipisahkan dengan ibunya secara mendadak. An tidak pernah jauh dari ibunya. Tetapi, tiba-tiba ia harus berjauhan begitu saja. Tentu hal ini membuatnya merasa sangat sedih. Namun, sebagai anak yang memiliki kecerdasan tinggi. Ia harus bisa mengendalikan dirinya. An, harus kembali mempersatukan ayah dan ibunya. Ia juga harus mengetahui ada apa sebenarnya. Kenapa ibunya mendadak mengambil keputusan seperti itu? Kenapa ayahnya terlihat sangat marah pada ibunya? Pasti ada sesuatu yang melatar belakangi semuanya.
Kini, Long An sudah berdiri di depan rumahnya. Ia ditemani oleh Nyonya Meri dan juga Si Kembar. Long An berusaha membuka pintunya. Namun, pintu rumahnya terkunci rapat.
“Mama! Mama!” panggil Long An sembari menggedor pintu rumah.
“Tante!” panggil Meichan.
“Yuhuu tante!” timpal Chanmei.
Namun, sama sekali tidak ada jawaban dari Irene. Nyonya Meri juga ikut menggedor jendela rumah.
“Mama Long An! Halo! Apa kamu di dalam?” tanya Nyonya Meri.
Tetapi, sama sekali tak terdengar suara apapun di dalam rumah. Long An dan yang lainnya terus menggedor pintu maupun jendela. Tetapi, tak terdengar jawaban dari Irene.
“An, apa mamamu sedang pergi?” tanya Meichan.
“Apa mamamu pergi?” timpal Chanmei.
“Tidak mungkin mamaku pergi. Hari ini adalah hari libur.” jawab An yang merasa khawatir akan mamanya.
Terlihat raut kecemasan dari wajah anak genius tersebut. Lantas An segera menghubungi ibunya. Tetapi yang menjawab adalah operator telp. Long An sudah mencoba berkali-kali. Namun, jawabannya tetap sama.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
“Bagaimana?” tanya Nyonya Meri. Si kembar juga ikut penasaran.
“Ponsel mama tidak aktif. Ini aneh sekali. Beberapa hari yang lalu juga seperti ini. Padahal sebelumnya, mama tidak pernah begini.” jawab Long An semakin cemas.
Di tengah kecemasan Long An. Tiba-tiba ponsel An berbunyi.
Dareen
Nama yang tertera di layar smartphone miliknya.
“Halo, ya paman?” tanya An.
Kamu dimana?
“Aku sedang di depan rumahku. Tetapi sepertinya mama tidak ada di rumah. Apa paman mengetahui di mana keberadaan mama?” tanya Long An yang kelihatan cemas.
Pergilah ke bandara sekarang. Paman ingin membicarakan sesuatu yang penting. Apa ada yang bisa mengantarmu ke sini? tanya Dareen di seberang telp. Dari nada suaranya kelihatan panik.
__ADS_1
“Baik paman. Tenang saja, Bu Meri dan Si kembar bersamaku. Jadi, mereka akan mengantarku ke bandara.”
Setelah itu telp keduanya berakhir.
“Bu Meri antarkan aku ke bandara sekarang ya.” pinta Long An. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Ba.. baiklah.. tetapi kenapa mendadak ke bandara?”
“Aku juga tidak tahu. An merasa ada sesuatu.”
“Baiklah, kalian semua cepat masuk.” pinta Nyonya Meri.
Lantas Long An dan Si kembar bergegas masuk. Disusul Nyonya Meri. Ia segera mengemudikan mobil VW berwarna pink. Secepat yang Nyonya Meri bisa. Mobil kodok tersebut menerobos jalanan menuju bandara. Setelah beberapa saat lamanya berkendara. Akhirnya mereka pun tiba di terminal ke berangkatan. Di sana, Dareen nampak cemas. Tak ketinggalan nenek Heera juga berada di sana.
“Paman!” panggil Long An.
Long An dan yang lain segera menghampiri Dareen.
“An, ada hal penting yang ingin paman bicarakan.”
“Tentang apa?” tanya Long An penasaran. Ia dapat melihat ekspresi kecemasan pada Dareen dan nenek Heera.
“Ini mengenai mamamu.” jawab nenek Heera.
“Mama?! Jadi nenek dan paman mengetahui di mana keberadaan mamaku?” tanya Long An merasa sedikit lega.
“Sejujurnya, kami ingin mengantarkan mamamu kembali ke Amerika.” jawab Dareen.
Flashback
Sebelum jadwal keberangkatan Irene ke Amerika. Ia menemui Dareen dan Nenek Heera.
“A… apa maksudmu?” tanya nenek Heera dan Dareen bersamaan.
“Aku akan kembali ke Amerika.” jawab Irene dengan tatapan serius.
“Rene, kenapa mendadak seperti ini? Bukankah kamu berhubungan serius dengan Ravindra? Aku pikir sebentar lagi, kalian akan meresmikan hubungan ini ke jenjang pernikahan?” tanya Dareen kelihatan bingung.
“Aku tidak bisa menjelaskan detailnya. Tetapi ini, sudah menjadi keputusanku. Aku akan kembali ke Amerika.” jawab Irene dengan tatapan serius.
“La.. lalu bagaimana dengan Long An?” tanya nenek Heera.
“An akan bersama papanya. Dia akan baik-baik saja bersama Ravindra.” jawab Irene. Tetapi kali ini terlihat kesedihan dari pancaran matanya.
“A… apa maksudmu? Kamu pernah mengatakan, akan selamanya mendampingi Long An. Tetapi kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa kamu sedang bertengkar dengan Ravindra? Apa dia menyakiti perasaanmu?” tanya Dareen bertubi-tubi.
Dareen sudah menerima keputusan Irene memilih Ravindra. Tetapi ia tidak akan terima jika wanita yang ia sayangi disakiti oleh Rava.
“Jika pria itu menyakitimu. Aku akan memberinya pelajaran.” kata Dareen sembari beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Namun, buru-buru Irene mencegah Dareen. Ia memegangi tangan Dareen dengan erat.
“Bukan, ini sama sekali bukan salah Ravindra. Aku lah yang sudah menyakitinya. Ini keputusanku sendiri. Jadi, aku mohon pada kalian jangan bertanya lagi mengenai masalah ini.” Irene menjawab dengan mata berkaca-kaca.
Dareen hendak mengatakan sesuatu. Tetapi, buru-buru nenek Heera bersuara. Ia segera menghampiri Irene.
“Rene, apapun yang kamu butuhkan. Kami akan membantumu.” kata nenek Heera sembari menggenggam tangan Irene.
Nenek Heera merasa ada sesuatu yang Irene sembunyikan. Jadi, nenek Heera tidak ingin terlalu mendesak wanita yang telah banyak merasakan kemalangan tersebut.
“Tolong, jagalah Long An dengan baik.” jawab Irene dengan mata berkaca-kaca. Gurat-gurat kesedihan terlihat jelas dari wajahnya. Matanya kelihatan sembab, menandakan ia terus menangis.
“Baiklah, aku dan Dareen akan menjaga Long An. Jikalau ini sudah menjadi keputusanmu. Nenek tidak akan menghalangi.” kata nenek Heera.
“Terimakasih… Terimakasih…” kata Irene yang tak lagi bisa membendung air matanya.
Lantas menghambur kepelukan nenek Heera. Nenek Heera mengelus punggung Irene dengan perlahan.
Flashback End.
“Kenapa?! Kenapa?! Tiba-tiba mama mengambil keputusan begitu?!” tanya Long An dengan berlinang air mata. Ia hendak berlari masuk ke dalam bandara. Long An kelihatan shock mendengar ibunya tiba-tiba ingin kembali ke Amerika tanpa berpamitan sepatah katapun. Tetapi Dareen segera mencegahnya.
“An, tenanglah…” pinta Dareen sembari memegangi Long An dengan erat.
“Lepaskan aku!!!” teriak Long An berusaha masuk ke dalam bandara. Wajahnya sudah basah oleh air mata.
Nyonya Meri dan Si kembar ikut membantu Dareen memegangi Long An.
“An, tenanglah. Mamamu tidak ada di dalam. Mamamu, tidak datang ke bandara.” kata Dareen berusaha menenangkan Long An.
Long An yang mendengar perkataan Dareen, membelalakkan matanya.
“Apa maksud paman?!! Bukankah paman mengatakan mama mau kembali ke Amerika?!” tanya Long An di tengah isakan tangisnya.
“Tetapi, mamamu tidak datang. Kami pikir, mamamu berangkat diam-diam. Aku dan nenek sudah mengecek nama mamamu di daftar penumpang yang berangkat ke Amerika. Tetapi, mamamu tidak ada dalam list penumpang. Ini yang membuatku dan nenek merasa cemas. Ponselnya juga tidak aktif.” jawab Dareen.
“A… apa?!” tanya Long An yang segera menyeka air matanya.
Nyonya Meri dan Si kembar saling pandang. Mereka merasakan ada yang aneh di sini.
“Mamamu seharusnya datang dua jam yang lalu. Tetapi anehnya, hingga detik ini ia tidak datang.” jawab nenek Heera.
Long An kelihatan cemas. Sedangkan yang lain berusaha menghubungi ponsel Irene. Tetapi sama sekali tidak aktif. Long An dan yang lainnya memiliki firasat buruk tentang ini. Disaat semua orang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba ponsel Long An berdering.
Papa rambut landak.
Nama yang tertera di layar ponsel Long An. Ia segera mengangkatnya dan hendak memberi kabar buruk mengenai Irene. Tetapi buru-buru Ravindra mengabarkan sesuatu.
An, kamu di mana? Nenekmu, Bu Kania sedang terluka parah. Ia sedang dilarikan ke rumah sakit. Papa akan menjemputmu. kata Ravindra di seberang telp.
__ADS_1
Kini, lagi-lagi Long An dikejutkan dengan berita buruk. Belum usai pencarian mengenai ibunya. An, harus menerima kabar buruk mengenai neneknya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nyonya Kania? dan ke mana Irene berada sekarang? Nantikan di bab selanjutnya.