Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 87


__ADS_3

...Berduka...


Seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan tentu tidak akan mudah. Mereka harus melewati rintangan yang penuh onak dan duri. Tak terkecuali bagi keluarga kecil Ravindra. Malam itu, akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi Ravindra maupun Si kecil Long An. Keduanya berusaha menyelamatkan Irene dari rencana jahat Rosalind. Tetapi tanpa mereka duga, kapal yang akan menyelundupkan Irene ke luar negeri tiba-tiba meledak.



Bom!!!



Duar!!



Suara ledakan terdengar berkali-kali. Ravindra segera menggunakan tubuhnya untuk melindungi Long An. An yang berada dalam dekapan ayahnya. Melihat ke arah kapal di mana Irene berada dengan mata terbelalak.



“Mama…..”



“Mama!!! Mama!! Mama!!!” panggil Long An berkali-kali.



An berusaha berlari ke arah kapal yang terbakar. Namun, Ravindra menahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin Long An terluka. Meski ia juga terkejut dan sangat mengkhawatirkan keadaan Irene.



“Mama!!! Mama! Mama!!!” Long An masih berteriak dengan keras. Tangannya telulur seolah ingin menyelamatkan Irene.


           Ravindra yang menahan Long An menatap nanar ke arah kapal yang meledak.

__ADS_1


           “Rene…. Irene….” panggil Rava dengan suara lirih.


           “Irene!!!” panggil Rava berkali-kali. Matanya mulai berkaca-kaca.


           Disusul dengan suara Long An yang terus memanggil ibunya berulang kali. Air mata anak kecil itu tak terbendung. Menyaksikan kapal yang berisi Irene di dalamnya terbakar. Pak Albert dan Si kembar yang menyaksikan hal tersebut. Hanya bisa tertegun. Malam ini adalah malam terburuk bagi keluarga kecil Ravindra. Disaat bersamaan suara sirine mobil polisi dan pemadam kebakaran datang silih berganti. Suasana pelabuhan yang tadinya hening, sekarang ramai dengan hiruk pikuk petugas polisi.


           Long An masih menangis dalam pelukan Ravindra. Ia mencoba berpikir bahwa ibunya baik-baik saja. Petugas penyelamat segera memadamkan kapal yang terbakar. Meneliti puing-puing kapal yang sudah hangus tersebut. Tiba-tiba salah satu petugas menemukan sebuah liontin bunga Lotus. Kemudian menunjukkan pada Long An dan Ravindra. Keduanya mengenali liontin tersebut adalah milik Irene.


           “Kami menemukan ini, di tengah abu. Kami tidak tahu, itu abu bekas kayu terbakar atau….” kata salah satu petugas sembari menyerahkan liontin bunga Lotus tersebut.


           Long An perlahan menerimanya. Air matanya kembali tak terbendung.


           “Tidak… tidak… tidak mungkin. Mama!!! Mama!!!” teriak Long An dengan tangis pecah. Air mata membanjiri pipi paonya.


           Long An melepaskan diri dari pelukan Ravindra. Ia berusaha berlari menuju kapal dan ingin melihat sendiri. Benarkah ibunya juga ikut terbakar bersama kapal tersebut. Long An tidak percaya bahwa ibunya tidak selamat dalam ledakan itu. Ravindra bergegas menyusul Long An. Mencegahnya untuk menaiki perahu yang tinggal puing-puing tersebut. Rava segera menarik Long An dalam pelukannya.


           “Papa… mama… mama… tidak mungkin….” kata Long An di tengah isakan tangisnya.


           Siaran TV malam itu menyiarkan kejadian terbakarnya sebuah kapal di pelabuhan yang memakan korban. Rosalind yang sudah berada di Rumah Sakit juga menyaksikan hal tersebut. Ia mengernyitkan keningnya. Namun, tidak lama kemudian ia mendapatkan pesan. Setelah membaca pesan tersebut. Rosalind tersenyum penuh kemenangan.


           “Irene Maxzella, aku tidak menyangka. Kamu akan mati mengenaskan seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana bisa kapal itu terbakar. Padahal aku hanya ingin membuatmu menderita. Tetapi sepertinya takdir dalam hidupmu benar-benar sangat tidak beruntung. Selamat tinggal Irene Maxzella. Supaya kamu tidak kesepian di sana. Aku akan mengirimkanmu seseorang.” Rosalind berkata pada dirinya sendiri.


           Lantas Rosalind berjalan perlahan menuju sebuah kamar VIP yang sepi. Ia membuka pintu kamar perawatan. Suara alat pendeteksi denyut jantung berbunyi bip … bip… perlahan. Seorang wanita tengah berbaring tak sadarkan diri. Memakai alat bantu pernafasan yang terpasang di hidungnya. Rosalind berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Ia tersenyum jahat sembari menatap wanita yang berbaring tak berdaya tersebut. Orang itu tak lain adalah Nyonya Kania.


           “Sayang sekali aku harus melakukan ini padamu. Padahal dahulu aku sudah menganggapmu sebagai ibu kandungku sendiri. Tetapi, aku tidak ingin mengambil resiko ada yang menghalangi jalanku jika kamu bangun nanti… mama. Maka aku akan mengirimmu menemani putri kandungmu sendiri.” kata Rosalind pelan.


           Lantas tanpa memiliki rasa kemanusiaan sedikitpun. Rosalind melepaskan selang oksigen yang dipakai oleh Nyonya Kania. Akibatnya Nyonya Kania yang masih tak sadarkan diri, tubuhnya mengalami kejang. Ia kesulitan bernafas. Seusai melepas selang oksigen pada Nyonya Kania. Rosalind bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Jauh di dalam hatinya berharap, ibu tirinya tersebut sudah pergi ke alam lain.


           Beberapa hari kemudian.


           Di suatu pagi yang cerah. Namun tak secerah hati Long An maupun Ravindra. Wajah keduanya kelihatan lesu. Tidak ada senyum maupun gairah kehidupan yang ditunjukkan oleh mereka. Gurat-gurat kesedihan terpancar jelas dari wajah ayah dan anak tersebut. Sedih karena kehilangan orang yang mereka cintai. Ravindra dan Long An sedang berdiri di tepi kolam yang berisi banyak bunga Lotus. Setelah berdoa sejenak. Keduanya lantas menghanyutkan bunga Lotus berwarna putih ke dalam kolam. Di samping mereka ada Nyonya Meri, Pak Ahen, Si kembar, Dareen dan Pak Albert juga ikut menghanyutkan bunga Lotus ke dalam kolam. Tidak ada senyum keceriaan dari wajah mereka. Semua orang merasa kehilangan. Kehilangan wanita yang sangat baik yaitu Irene Maxzella.


           “Mama… Mama… maafkan Long An. Maaf… tidak mampu menyelamatkan mama.” kata Long An sembari terisak.

__ADS_1


           Ravindra berlutut dan kemudian memeluk anaknya tersebut. Memeluk dalam dekapannya. Rava juga sama seperti Long An. Merasa hancur karena kehilangan Irene. Ia merasa sangat bodoh karena tidak mempercayai wanita yang dicintainya. Termakan tipu daya Rosalind. Hingga menyebabkan semua ini terjadi. Ravindra juga merasa sangat bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Irene.


           “Tidak… tidak… ini bukan salahmu. Ini semua salah papa. Papa yang seharusnya dipersalahkan karena tidak bisa menyelamatkan mamamu.” kata Ravindra sembari memeluk Long An dengan erat. Air mata juga menetes dari kedua matanya.


           Di saat ayah dan anak tersebut saling mencurahkan kesedihan. Dareen berjalan menghampiri. Lantas memberikan sebuah kotak.


           “Dulu sebelum Irene pergi. Ia sempat menitipkan ini padaku. Irene ingin, aku memberikannya pada kalian.” kata Dareen sembari menyerahkan kotak tersebut.


           Long An yang masih terisak menerima kotak peninggalan ibunya itu. An segera membuka kotaknya. An dan Ravindra melihat di dalam kotak tersebut berisi seragam karategi yang dibuat oleh Irene sendiri. Bertuliskan nama Long An. Melihat hal itu seketika Long An memeluk seragam karategi  yang telah dibuat oleh ibunya sendiri. Sembari menangis dan memanggil nama ibunya berkali-kali.


           Ravindra dan yang lain menatap sedih pada Long An. Anak yang sudah bersama-sama ibunya dan tak pernah terpisahkan. Kini, malah harus kehilangan ibunya dengan cara tragis.


           “Mama… Mama…. An merindukan mama…” Long An kembali menangis.


           Ravindra juga merasa hancur dan sedih melihat anak kesayangannya bersedih seperti ini. Kemudian, Dareen juga memberikan Ravindra sesuatu.


           “Irene juga memberikan ini padamu.” kata Dareen.


           Ravindra segera menerimanya. Barang yang ditinggalkan Irene untuk Rava adalah pot kecil yang ditanami bunga Verbena. Bunga kesukaan Ravindra. Di pot tersebut terselip sebuah surat yang ditulis oleh Irene.


           Jangan marah padaku. Aku melakukan semua ini untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi. Terutama anak kita. Mohon pengertianmu. Aku memberikan bunga Verbena ini padamu, karena aku ingin melihat senyum manis yang terpancar dari wajahmu. Kamu memang pria yang tampan saat tersenyum dan hatiku tidak dapat berbohong. Jika hatiku sangat mencintaimu Ravindra Damariswara. Mulai sekarang jagalah putra kita. Terimakasih untuk segalanya.


           Isi surat yang ditulis Irene benar-benar membuat hati Ravindra terasa terkoyak. Ia sungguh bodoh… sangat bodoh kenapa tidak mempercayai Irene. Kenapa tidak mencari tahu kebenarannya? Rava hanya bisa menangis dan memegangi dadanya yang begitu terasa sakit. Begitu terasa sesak untuk bernafas. Jauh dalam lubuk hatinya ia bersumpah akan mencari Rosalind dan Liam. Meremukkan tulang mereka. Membuat mereka tak ingin hidup ataupun mati.


           Sedangkan Si kecil Long An hanya bisa memeluk ayahnya dengan erat. Merasakan kesedihan yang sama.


           Mama, aku berjanji akan menangkap orang jahat yang telah membuat mama menderita. An juga berjanji akan lolos seleksi menjadi atlet karate Nasional. Membuat mama bangga dengan Long An. kata Long An dalam hatinya.


           Tidak jauh dari tempat tersebut. Seorang pria tak dikenal. Terlihat menelepon seseorang. Orang itu adalah mata-mata yang disuruh Rosalind dan Liam untuk mematai-matai Ravindra dan Long An. Rosalind dan Liam tak dapat menyaksikan langsung bagaimana menderitanya musuh mereka karena kehilangan Irene. Keduanya menjadi buron yang sedang dicari polisi.


           Bagaimana kelanjutan kisahnya? Akankah kedua orang jahat tadi mendapat hukuman setimpal atas perbuatan jahat yang mereka lakukan?


          

__ADS_1


__ADS_2