
...Pertemuan...
Aksara Atlet School adalah sekolah khusus atlet berbakat yang sangat bergengsi. Melahirkan beberapa atlet berprestasi baik tingkat Nasional maupun Internasional. Aksara Atlet School atau yang lebih dikenal dengan AA School berada di bawah naungan yayasan Aksara yang dimiliki oleh Marvin Damariswara. Marvin Damariswara seorang pensiunan atlet yang sekaligus bisnisman. Dia memiliki beberapa perusahaan yang terbilang sangat sukses. Salah satu perusahannya yang ternama bernama Aksara Enterprise. Orang yang sangat kaya raya di Indonesia.
Kini, Irene dan Long An terlihat tepat berdiri di gerbang masuk sekolah AA School. Dari luar, sekolahnya terlihat sangat megah. Memiliki simbol khas berupa burung api Phoenix yang melambangkan semangat juang tinggi. Sebagaimana seorang atlet yang akan berlaga disebuah pertandingan. Irene menatap lurus ke arah AA School. Dari pancaran matanya tersirat sesuatu yang tak dapat diartikan. Long An yang berdiri di samping ibunya menatap ibunya dengan heran.
“Ma, ada apa? Sepertinya mama sedang memikirkan sesuatu?” Tanya Long An dengan polos.
Suara Long An menyadarkan Irene dari lamunannya. Ia segera menoleh ke arah anaknya sembari melemparkan senyum hangat.
“Dahulu mama, pernah melamar pekerjaan di sekolah ini. Namun, karena nasib mama yang kurang beruntung. Mama tak bisa mendapatkan pekerjaan di sini.” Irene berusaha menutupi kesedihan atas kejadian di masa lalu yang gagal mendapatkan pekerjaan di AA School. Maupun bersekolah di AA School.
“Mama, aku berjanji. Akan membahagiakanmu. Jadi, jangan bersedih meski tidak diterima bekerja di sini saat itu.” Kata Long An dengan melempar senyum manis nan menggemaskan.
Irene tersenyum dan membelai kepala anaknya dengan lembut. Dia benar-benar berterimakasih pada Tuhan. Bahwa ia dikaruniai seorang anak yang sehat dan memiliki kebaikan hati.
“Mama bangga padamu An.”
Long An tersenyum lebar dan menunjukkan deretan giginya yang mungil. Kemudian ia menatap gerbang AA School dengan semangat membara.
“An berjanji, akan menggantikan setiap impian mama yang belum terwujud dengan prestasiku yang gemilang. Aku akan menyabet semua gelar juara dan mempersembahkannya pada mama.” Kata Long An dengan lantang.
Mendengar perkataan Long An. Irene kembali dibuat terharu. Anaknya telah mengubah hidupnya yang malang tergantikan dengan kebahagiaan. Menjadikan gelap ke terang.
“Ayo!! Kita masuk mama!!” Teriak Long An penuh semangat.
Irene hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang begitu bersemangat. Lantas keduanya melangkah memasuki gerbang utama AA School. Tanpa keduanya sadari roda kehidupan kembali berputar dengan semestinya. Ikatan takdir akan membuat langkah kaki mereka menuju tempat yang seharusnya.
Di halaman depan AA school banyak anak-anak yang berlatih. Baik yang seusia Long An maupun yang sudah remaja. Semua terlihat bersemangat berlatih. Fasilitas di AA School benar-benar lengkap. Mulai dari lapangan sepakbola, basket, semuanya ada. Irene yang melihat semuanya itu ikut berdecak kagum. Memang tidak salah jika AA School melahirkan atlet-atlet yang berbakat. Long An yang berjalan disamping ibunya juga merasa antusias dengan sekolah ini. Saat Long An sedang melihat sekelilingnya pandangan matanya tertuju pada dua orang anak perempuan seusianya. Dua anak perempuan tersebut sedang berlatih karate.
Long An tersenyum ke arah mereka dan melambaikan tangannya. Tetapi ke dua anak perempuan tadi malah menjulurkan lidahnya. Seolah meledek Long An. Long An jadi cemberut dan terus berjalan meninggalkan dua anak perempuan yang rambutnya dikepang tadi.
Saat hendak masuk ke dalam gedung utama. Irene dan Long An disambut oleh salah satu assisten dari AA School. Seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk yang bernama Nyonya Meri.
“Selamat datang di AA School.” Sambut Nyonya Meri dengan ramah.
__ADS_1
Irene juga balas tersenyum dengan ramah.
“Selamat pagi.” Sapa Long An sambil menjabat dan mencium tangan Nyonya Meri. Tanda menghormati pada yang lebih tua.
“Wah, sopan sekali anak ini. Pasti dididik dengan baik. Anak-anak jaman sekarang bahkan jarang menjabat tangan yang lebih tua. Aku baru menemui yang seperti ini. Aku sungguh tidak menyangka anak yang mendapat julukan Karateka Genius dari Timur tetap menjaga sopan santun pada yang lebih tua.” Kata Nyonya Meri terlihat ceria.
“Anda pasti mendidiknya dengan baik.” Puji Nyonya Meri pada Irene.
Irene hanya tersipu malu. Sedangkan Long An memasang senyum menggemaskan.
“Anda sungguh cantik.” Puji Long An pada Nyonya Meri.
“Wah, terimakasih. Tidak ada yang bilang seperti itu padaku. Bahkan dua anakku pun tidak pernah mengatakan itu.” Nyonya Meri semakin terlihat bahagia. Sepertinya dia menyukai si kecil Long An.
Irene dan Long An tersenyum bersama. Ketiganya akhirnya tertawa bahagia. Kemudian Nyonya Meri mempersilahkan Irene dan juga Long An masuk ke dalam. Lantas ketiganya berjalan beriringan menuju sebuah aula yang terletak di tengah gedung utama sekolah. Di sana Tuan Marvin Damariswara sedang menunggu.
Setelah berjalan beberapa saat. Irene dan Long An tiba di aula yang cukup luas. Di sana berdiri seorang pria mengenakan setelan jas formal dan memegang tongkat. Sedang berdiri melihat anak-anak yang seusia Long An sedang berlatih karate. Pria tersebut tidak lain adalah Marvin Damariswara.
“Tuan Marvin, tamu kita sudah datang.” Kata Nyonya Meri sopan sambil membungkukkan badannya.
“Halo, selamat pagi Pak.” Sapa Long An sopan. Lantas menjabat tangan Tuan Marvin dan menciumnya.
Tuan Marvin terkesiap melihat sikap Long An yang begitu sopan menghargai orang yang lebih tua. Tuan Marvin tersenyum dan diam-diam memuji sikap santun yang diperlihatkan oleh Long An.
“Jadi, kamu adalah Karateka Genius dari Timur itu? Benar bukan?” Tanya Tuan Marvin ramah.
“Nama saya Long An. Itu yang benar. Salam kenal Pak.” Jawab Long An dengan sopan.
“Ha Ha Ha … kamu memang anak yang berbeda. Bagus, pertahankan sikap rendah hatimu Nak.” Puji Tuan Marvin.
“Anda pasti mendidiknya dengan baik.” Kata Tuan Marvin menyapa Irene.
“Terimakasih.” Balas Irene.
“Baiklah. Kita langsung saja. Sudah sejak lama, sekolah kami mengamati putra anda. Putra anda adalah seorang yang genius dalam karate. Saya mengikuti setiap pertandingan yang telah ia lakukan. Gerakannya tidak hanya lincah dan bertenaga. Namun, pengamatan dan kecerdasannya ketika menghadapi lawan membuatku kagum. Anak seusianya bisa sehebat ini. Terimakasih sudah menerima tawaran kami untuk bergabung di sekolah ini. Sekolah ini akan menjadikan anak anda atlet karate yang melegenda.” Kata Tuan Marvin dengan senyum optimis.
__ADS_1
Irene membungkukkan badannya dan berterimakasih.
“Terimakasih, sudah memberikan kesempatan pada putra saya.” Kata Irene diiringi senyum kebahagiaan. Anaknya akan meraih kesuksesan yang tak akan pernah ia bayangkan.
Tidak lama kemudian, Tuan Marvin memanggil salah seorang muridnya.
“Alex, kemarilah.” Panggil Tuan Marvin.
Lantas, seorang anak seusia Long An segera datang.
Alex adalah satu murid andalan di AA School. Dia juga berbakat dalam seni bela diri karate.
“Tunjukkan kemampuanmu.” Perintah Tuan Marvin.
“Osh!!” Teriak Alex dengan lantang.
Kemudian ia memasang kuda-kuda dan menunjukkan setiap kata atau jurus dalam karate. Gerakannya sungguh bertenaga. Gerakan jurusnya hampir mendekati sempurna. Long An mengamati Alex yang sedang memperlihatkan kata. Alex memang terlihat bagus dalam setiap gerakannya. Setelah Alex selesai memperagakan jurusnya. Kini, Tuan Marvin meminta Long An yang memperagakan kata.
Long An segera memasang wajah serius. Lalu memberikan hormat pada Tuan Marvin. Menatap ke arah ibunya sesaat. Ibunya tersenyum dan memberikannya semangat.
“Osh!!!” Teriak Long An dengan lantang.
“Kata satu!!!” Long An kembali berteriak.
Kemudian jurus demi jurus ia peragakan. Mulai dari kata 1 hingga kata terakhir ia peragakan dengan sangat baik. Gerakannya begitu lincah dan bertenaga. Setiap pukulan tendangan tidak hanya memiliki tenaga. Namun, sebuah seni yang berpadu dengan gerakan bela diri. Tuan Marvin mengamati dengan serius. Di dalam hatinya mengakui bakat Long An yang berbeda dari anak lainnya. Tetapi berbeda dengan Alex. Ia menatap Long An dengan perasaan iri hati. Ia tidak menyukai Long An.
Setelah beberapa saat, pertemuan itu selesai. Kini, Irene dan Long An tengah berjalan di lorong sekolah dengan perasaan bahagia. Hingga tanpa Irene sadari, hari itu kakinya akan melangkah menuju takdir yang telah ditentukan. Saat Irene dan Long An melangkah. Dari arah berlawanan seorang pria mengenakan pakaian jas formal berwarna hitam berjalan melewati Irene. Tepat disaat pria itu berjalan melintasi Irene. Tiba-tiba Irene berhenti sejenak, ia terkesiap.
I… Ini… bau parfum ini… bau yang sama persis dengan bau parfum seseorang malam itu. Bau parfum pria bertato naga. Mungkinkah dia??? Narasi Irene.
Saat pria itu melintas di dekat Irene. Irene hanya diam terpaku. Perasaanya bergejolak hebat. Dia berusaha mengendalikan dirinya. Pria yang melintasinya barusan kemungkinan adalah …..
...***...
Mohon kritik saran dari pembaca atau teman" author. Agar karya ini lebih baik. Semoga kalian semua sehat selalu. Terimakasih
__ADS_1