Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 91


__ADS_3

...Akhir dari Pertandingan...


 


            Di sebuah arena pertandingan, terdengar gemuruh sorak sorai penonton. Long An telah kembali menemukan semangat dan tekadnya. Setelah melihat ibunya di layar besar seolah berbicara dengannya. Tangan Long An mengepal dan menatap Alex dengan tajam.


            “Bersiaplah, aku akan memenangkan pertandingan ini.” kata An penuh percaya diri.


            Kemudian Long An bersiap dengan kuda-kuda berat belakang. Tangannya mengepal di depan dada. Tatapan matanya tajam. Sedangkan Alex terlihat kesal. Ia harus lebih berhati-hati. Alex juga menggunakan kuda-kuda berat belakang. Wasit yang berdiri di antara keduanya. Lantas memberikan aba-aba dimulainya pertandingan kembali.


            Kali ini Long An yang menyerang terlebih dahulu. An segera maju dan sedikit melompat. Ia memberikan pukulan dari atas. Alex waspada dan segera menangkis dengan teknik Age Uke sebuah tangkisan atas. Long An mengerti serangannya ditangkis. Jadi ia harus cepat bergerak dan mengarahkan pukulannya ke arah Alex. Alex segera menarik tangannya yang tadi untuk menangkis dan kembali menahan dengan teknik Shuto Uke yaitu sebuah tangkisan tangan pedang. An menyadari gerakannya diblok oleh Alex. Ia segera mundur ke belakang. An tidak boleh membuang-buang waktu. Tetapi ia harus tetap tenang.


            Mengetahui Long An menjaga jarak. Alex segera mengambil kesempatan menyerang. Ia melompat dan memberikan tendangan dengan kaki bagian samping atau disodok yang dinamakan Yoko Geri Kekome. An dapat membaca serangan Alex. Ia segera menangkis dengan tangkisan tengah yang datangnya dari bawah ketiak dinamakan Uchi Ude Uke. Setelah menangkis serangan, dengan cepat Long An berguling hingga membelakangi Alex dan secepat kilat menyerang menggunakan Usiro Geri sebuah tendangan ke belakang.


            Duak!


            Tendangan Long An tepat mengenai punggung Alex. Alex kehilangan keseimbangan dan hendak terjatuh. Tetapi dengan sigap ia menahan dengan kakinya. Alex segera menoleh dan hendak menyerang Long An. Tetapi wasit menghentikannya. Point untuk Long An. Melihat An mulai bangkit, penonton pun ikut terpecah. Ada yang menyemangati Alex dan sebagian mengelu-elukan nama Long An. Suara riuh penonton terdengar membahana memenuhi segala sudut arena pertandingan. Si kembar dan Nyonya Meri saling bersorak. Memberikan semangat pada An. Tuan Marvin bertepuk tangan melihat penampilan Long An yang dengan cepat bisa membalas Alex. Menteri Olahraga yang duduk di samping Tuan Marvin juga terkesan dengan penampilan bocah genius tersebut.


            Alex yang tepat berada di depan Long An menatap dengan kesal.


            “Aku tidak akan kalah darimu.” gerutu Alex.


            “Aku juga tidak ingin kalah darimu. Mari bertanding dengan menyenangkan.” sahut Long An dengan senyum sumringah khas Si kecil Long An. 


            Alex dan Long An kembai bersiap. An tidak boleh membuang waktu karena waktu pertandingan hampir habis. Jadi dia harus menyusul point Alex dan memenangkan pertandingan. Wasit memberikan aba-aba. Pertandingan di mulai.


            “Osh” kata Long An dan Alex bersamaan.


            An langsung menyerang menggunakan pukulan ganda. Alex berusaha menangkis tetapi karena kecepatan pukulan ganda Long An begitu lincah. Membuat Alex kewalahan menangkis. Mau tidak mau, perut dan dadanya terkena pukulan dari An.


            “Aoughtt!” rintih Alex.


            “Double point!” teriak wasit mengumumkan bahwa An mendapatkan point ganda.


            Penonton kembali bersorak gembira. Penampilan Long An terlihat memukau. Tadinya yang tertinggal point bisa membalikkan keadaan. An bersikap tenang dan sedikit demi sedikit mengejar ketertinggalan pointnya. Di sisi lain Alex merasa gusar. Wasit mempersilahkan pemain ke tengah dan memulai kembali pertandingan.


            Kali ini giliran Alex yang menyerang terlebih dahulu. Ia memberikan tendangan memutar. An dapat membaca serangan. Lantas dengan cepat menangkis. Kemudian membalas dengan Empi atau sikutan, sekaligus memberikan pukulan dan dorongan yang dinamakan Morote Zuki.


            Duak!


            Duak!


            Serangan Long An begitu cepat dan tak dapat dibaca oleh Alex. Terpaksa Alex merelakan tubuhnya terkena serangan An.


            “Triple Point!” teriak wasit memberikan point pada Long An.


            “An! An ! Karateka Genius dari Timur!” penonton bersahut-sahutan mendukung Long An.

__ADS_1


Termasuk Si kembar dan Nyonya Meri yang kelihatan girang. Long An dapat menyusul ketertinggalan pointnya. Kini, point keduanya imbang. Alex yang tadinya berada di atas angin, merasa semakin gusar. Konsentrasinya buyar. An mengetahui kelemahan Alex. Jika Alex diimbangi oleh lawan. Maka fokusnya pun akan terpecah. Ketika wasit memulai pertandingan. An segera mengambil kesempatan menyerang terlebih dahulu. Menggunakan tendangan memutar. Tetapi kali ini tendangan memutarnya hingga tiga kali. Alex tak mengira bahwa Long An bisa melayang dan memberikan tendangan memutar hingga tiga kali berturut-turut.



Duak!



Alex tak dapat menahan serangan Long An. Pada akhirnya Alex terjungkal dan tubuhnya terjerembab ke lantai. Wasit pun meniup peluit panjang. Tanda berakhirnya pertandingan. Sorak-sorai penonton mengelu-elukan nama An terdengar bergemuruh. Menteri Olahraga seketika berdiri dari duduknya. Memberikan standing applause pada kehebatan Long An. Lantas memberikan selamat pada Tuan Marvin, karena memiliki cucu sehebat itu. Menteri Olahraga juga memberikan ijin dan mendukung penuh pembangunan wisma dan pusat pelatihan untuk para atlet. Hal tersebut membuat Tuan Marvin begitu bahagia. Kebahagiaan membuncah di dadanya. Ini semua berkat cucunya yang membuat Menteri Olahraga terkesan akan kepribadian dan kehebatan Long An.


            Alex masih terduduk di lantai. Wajahnya kelihatan kesal. Perlahan Long An melangkah menghampiri Alex. Lantas mengulurkan tangannya. Senyum sumringah dan ceria terpancar dari wajah An.


         “Terimakasih.” kata Long An diiringi senyum lebar.


            “Terimakasih untuk apa?” tanya Alex yang kelihatan masih kesal.


            “Terimakasih untuk pertandingan kali ini. Kamu benar-benar hebat. Lain kali mari bertanding bersama sebagai seorang teman.” tawar Long An. Senyuman yang menghiasi wajahnya kelihatan tulus dan hangat.


            Alex sedikit terpengarah mendengar kata-kata Long An.


            “Ke… kenapa kamu menunjukkan senyum seperti itu?”


            Long An lagi-lagi tersenyum, “aku memberikan senyum seperti itu karena aku menganggapmu sebagai temanku. Apakah kamu mau berteman denganku?”


            Alex semakin terpengarah mendengar kata-kata Long An. Alex tak menyangka setelah apa yang ia perbuat pada An. Tetapi An masih mau mengajaknya berteman. Perlahan tangan Alex juga ikut telulur dan kemudian meraih tangan Long An. An tersenyum dan kemudian menarik tangan Alex, membantu temannya itu untuk berdiri.


            Long An membalas dengan tersenyum,” aku tahu kamu bukan anak yang jahat. Perbuatan tantemu pada mamaku tak ada hubungannya dengan pertemanan kita. Lagipula, kita harus memutuskan rantai kebencian ini. Aku juga tidak ingin rantai kebencian ini mengikat kita di masa depan seperti mengikat mamaku dan tantemu. Jadi mari putuskan rantai itu dan bertemanlah denganku.”


            Alex menatap Long An dengan mata berkaca-kaca. Sedetik kemudian ikut tersenyum.


            “Ya, sekarang kita adalah teman.” sambut Alex sembari ikut tersenyum. Keduanya saling tersenyum penuh bahagia.


            Tepat di saat itu, juri mengumumkan pemenang pertandingan hari itu dan lolos seleksi menjadi atlet junior tingkat Nasional.


         “Pemenangnya adalah Long An!!!” kata Juri dengan lantang.


            Semua penonton bersorak-sorai mendengar Long An keluar sebagai juaranya. Si kembar dan Nyonya Meri langsung menghampiri Long An dan memeluknya dengan erat. Lantas ditengah kebahagiaan itu. Juri juga mengumumkan bahwa Alex lolos menjadi atlet kedua karena dianggap memiliki potensi dan diharapkan bersama-sama dengan Long An dapat berlaga dikancah Internasional. Mengharumkan nama bangsa serta negara.


            “Wow itu keren!” pekik Long An yang segera memeluk Alex.


            Alex tak menyangka ia  diberikan kesempatan. Alex juga merasa sangat bahagia. Kemudian bersorak-sorai bersama Si kembar. Nyonya Meri ikut berjoget diiringi suara penonton yang menggelegar. Tetapi, ditengah-tengah kebahagiaan tersebut tiba-tiba di layar besar memperlihatkan sebuah video antara Rosalind  dan Nyonya Kania berbincang mengenai kejadian waktu Rosalind mendorong Irene dari tangga hingga terjatuh. Mengakibatkan Irene terluka dan tidak bisa menjadi atlet panahan.


            Penonton yang tadinya bersorak-sorai menyambut kemenangan Long An, seketika menyaksikan layar lebar yang terpampang di depan mereka. Setiap orang berkasak-kusuk. Disaat orang-orang berkasak-kusuk. Disusul kemudian suara rekaman yang memperdengarkan bagaimana Rosalind menyabotase pertandingan Long An tempo dulu. Memberikan gas pelemah otot. Semua orang menjadi gempar. Tak ayal hal tersebut diberitakan di seluruh negeri. Long An yang menyaksikan hal tersebut hanya mengernyitkan keningnya. Semua bukti itu ia yang memilikinya. Mungkinkah…… Long An masih menebak-nebak ada apa gerangan.


            Sedangkan Ravindra yang sudah berada di ruang kontrol melihat kesibukan para pegawainya. Mereka kelihatan panik.


            “Komputer kita sepertinya diretas.” kata salah satu pegawai kelihatan panik.

__ADS_1


            Kepala Operator menyahut,”cepat matikan siaran itu!” perintahnya.


            Tetapi buru-buru Ravindra menghentikan hal tersebut.


            “Biarkan saja seperti itu. Biarkan semua orang di seluruh negeri ini mengetahui kebusukan Rosalind Birgita dan juga Liam.”


            “Ta… Tapi…” kata kepala pegawai itu hendak menyela.


            “Aku, Ravindra Damariswara yang akan bertanggung jawab.”


            Kepala Operator tersebut hanya diam karena ia mengetahui bahwa yang sedang berbicara adalah CEO Aksara Enterprise yang juga menjadi salah satu sponsor terbesar untuk seleksi atlet Nasional tersebut.


            Tatapan mata Rava kelihatan tajam. Ia melihat di beberapa layar monitor. Menyaksikan bukti-bukti kejahatan Rosalind dan Liam yang beredar luas.


            “Apa kalian melihat seseorang mencurigakan di sekitar sini barusan? Misalnya seorang wanita?” tanya Ravindra pada pegawai di sana.


            Para pegawai saling berpandangan satu sama lain. Kemudian salah satu menjawab.


            “Maaf tuan, kami tidak melihat seseorang yang mencurigakan.”


            Tetapi kemudian ada pegawai satu lagi yang sepertinya mengingat sesuatu.


            “Tuan, sepertinya saya ingat ada seorang pegawai baru. Ia baru masuk hari ini. Orang itu kelihatan aneh dan mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.”


            “Lalu kemana orang itu?” tanya Ravindra.


            “Sepertinya dia keluar ruangan sesaat setelah anda datang.”


            Tanpa banyak berkata lagi, Ravindra segera berlari ke luar ruangan. Mencari keberadaan orang tersebut. Di sebuah tangga darurat, seseorang yang mengenakan topi dan jaket tampak tergesa-gesa supaya keluar dari gedung tersebut. Tepat di belakangnya Ravindra menyusul.


            “Hei, berhenti!” teriak Ravindra.


            Tetapi orang tersebut segera naik mobil yang rupanya sudah siap menunggu di luar. Ravindra berusaha menyusul dan berteriak-teriak. Namun, mobil tersebut keburu meluncur menjauh dari Ravindra.


            Siapakah orang misterius tersebut? Nantikan kelanjutannya.


           


 


           


           


           


 

__ADS_1


 


__ADS_2