
... Sebuah Ikatan...
Di sebuah aula gedung mewah nan dihiasi kelap-kelip lampu yang indah. Terdengar suara alunan musik klasik yang lembut. Para pelayan yang mengenakan pakaian hitam dan putih terlihat hilir mudik diantara para tamu undangan. Pelayan itu sibuk melayani para tamu yang berasal dari kelas sosial atas. Mereka terdiri dari bisnisman maupun petinggi di negeri ini. Semuanya berkumpul sembari menikmati hidangan yang disajikan. Gesekan biola berpadu dengan musik klasik menjadikan suasana semakin menyenangkan. Hidangan yang disajikan termasuk hidangan yang sangat mewah. Tamu undangan pria mengenakan jas formal. Sedangkan para wanita mengenakan gaun yang indah. Tampak berkelip tertimpa cahaya lampu yang berpendar.
Aula tersebut tampak dihias begitu mewah. Di tengah aula terdapat kue tart bertingkat yang cukup tinggi. Ya… hari ini adalah ulang tahun dari putra sulung Marvin Damariswara. Siapa lagi kalau bukan CEO berhati dingin, Ravindra Damariswara. Malam itu, Ravindra terlihat sangat tampan. Mengenakan tuxedo mewah berwarna hitam. Ravindra sangat suka warna hitam. Baginya hitam memancarkan aura misterius. Tetapi di sisi lain, warna hitam juga bisa diartikan perasaan yang tersembunyi. Ravindra terlihat berdiri sambil menikmati wine merah. Matanya yang sipit tajam menatap minuman itu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 32 tahun. Tapi sama seperti tahun-tahun yang lalu. Tidak ada yang istimewa bagi Rava panggilan akrab Ravindra.
Rava terlihat enggan bergaul dengan para tamu lainnya. Ia lebih suka menyendiri. Ulang tahun inipun, sudah di atur oleh ayahnya sendiri. Bukan atas kemauannya. Jika ia memilih, ia lebih suka berada di kantor dan bekerja saja. Tuan Marvin sengaja membuat pesta ulang tahun Ravindra untuk mengumpulkan para bisnisman dan petinggi negera ini . Ada tujuan terselubung dibalik itu semua yaitu melobby para petinggi agar mau menyetujui proposal pembangunan wisma bagi para atlet. Jika hal itu berhasil, maka namanya akan melambung dan menjadi legenda.
Tuan Marvin tidak melakukannya sendiri. Ia dibantu oleh Rosalind dan ayahnya untuk melobby para petinggi. Rosalind terlihat sangat menikmati pestanya. Ia sangat menyukai pesta. Berada diantara kasta sosial tinggi terasa menyenangkan untuk Rosalind. Malam itu, gadis berambut kecoklatan tampil sangat mencolok. Mengenakan gaun berwarna merah terang dengan riasan yang cukup tebal. Ia menyapa para bisnisman maupun petinggi dengan senyum sumringah.
Seusai menyapa semua orang. Rosalind menghampiri Ravindra yang terlihat minum sendirian. Ia tersenyum dan bergegas menghampiri pria incarannya tersebut. Langkahnya begitu anggun. Setelah dekat dengan Rava, tangannya langsung melingkar dilengan Sang CEO Tampan. Ravindra terlihat biasa saja dan menghabiskan minumannya.
“Rav, kenapa kamu tidak bergabung bersama yang lain? Pesta ini sungguh meriah dan menyenangkan.” Rosalind berkata dengan wajah berseri-seri.
Raut wajah Rava begitu dingin dan dengan cepat ia melepaskan tangan Rosalind yang melingkar dilengannya. Kemudian bergegas meninggalkan wanita itu tanpa sepatah katapun. Rosalind merasa jengkel dengan sikap Ravindra. Ia melihat sekelilingnya. Memastikan tak ada yang melihat hubungannya dengan Rava tak begitu baik. Itu akan menghancurkan imagenya sebagai tunangan Ravindra Sang CEO Tampan. Rosalind segera menyusul Ravindra dengan wajah kesal.
“Rav!! Rava tunggu!!” Teriak Rosalind sambil memegang lengan Ravindra. Setelah mereka berada di luar aula pesta.
Ravindra dengan kasar menghempaskan tangan Rosalind.
“Kenapa kamu begitu menyebalkan? Hah?! Pesta ini untukmu. Setidaknya nikmati bersamaku sebagai tunanganmu. Jangan mempermalukanku dan orang tuaku di depan para tamu.” Rosalind berkata dengan nada jengkel.
“Tunangan? Kamu dan ayahku yang mengatur tunangan tidak resmi itu. Aku tidak pernah menyetujuinya.” Balas Ravindra dingin.
Rosalind mendecih dan semakin kesal dibuatnya.
__ADS_1
“Meski begitu, bukankah hubungan kita akan menguntungkan banyak pihak? Jadi, kenapa tidak menerima saja dan menikmati pesta ini sebagai pasangan.” Kata Rosalind berusaha merayu Ravindra. Tangannya mulai meraba dada bidang pria tampan itu.
“Pesta ini, sejatinya bukan pesta untukku. Jangan kamu pikir aku bodoh. Pesta ini hanya untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki kepentingan sebagai bagian dari rencana pembangunan wisma atlet bukan? Kamu dan ayahku begitu ambisius menginginkan nama besar. Jadi, singkirkan tanganmu dari tubuhku.” Ravindra berkata sembari menatap tajam ke arah Rosalind dengan tatapan mata sipitnya.
Tangannya menghempaskan tangan Rosalind dengan kasar. Hal tersebut tak sengaja disaksikan oleh Tuan Marvin yang langsung datang menghampiri Rava. Tanpa banyak bicara Tuan Marvin langsung menampar Ravindra.
*Plak*!!
Suara tamparan Tuan Marvin begitu keras. Hingga membuat sudut bibir Rava berdarah. Rosalind yang menyaksikan hal tersebut langsung menutup mulutnya karena terkejut. Rava mengusap darah yang sedikit keluar dari bibirnya. Lantas menatap dingin pada ayah kandungnya tersebut.
“Ayah, tidak mengajarimu untuk bersikap kasar pada seorang wanita.” Tuan Marvin berkata dengan sorot mata penuh amarah. Otot-otot wajahnya terlihat tegang karena emosinya. Tetapi ia berusaha menahan untuk tidak lebih marah lagi.
Rava menatap dingin ke arah ayahnya.
“Menikah? Aku tidak tertarik dengan sebuah pernikahan. Jika maksud ayah barusan, aku harus bersikap lembut pada wanita? Kemudian aku bersenang-senang dengan mereka. Lantas, menghasilkan anak haram seperti yang pernah ayah lakukan? Seperti itukah yang ayah maksud?!”
“Ravindra!!!” Hardik Tuan Marvin begitu keras. Suaranya begitu menggema.
Tangannya sudah mengepal hendak memukul Rava seperti tadi. Tetapi buru-buru Rosalind menghentikannya.
“Paman Marvin, hentikan ini. Di dalam banyak tamu penting. Jangan sampai mengacaukan semuanya.” Bujuk Rosalind.
__ADS_1
Tuan Marvin menatap Ravindra dengan tatapan penuh amarah. Sedangkan Rava hanya menatap ayahnya dingin. Namun terlihat tenang. Kemudian, Rava berbalik dan bergegas melangkah menjauh dari tempat itu. Sembari mengusap sudut bibirnya yang terasa perih.
“Anak itu!!!” Kata Tuan Marvin masih kesal.
“Paman tenang saja. Aku tahu bagaimana Rava. Untuk saat ini kita biarkan saja dahulu. Kita urus para tamu yang lain.” Rosalind membujuk Tuan Marvin.
“Baiklah.” Tuan Marvin menjawab sembari mengatur emosinya agar tidak meledak seperti tadi. Ini saatnya tenang dan mengatur rencananya. Bukan mengurusi anaknya yang tak bisa diatur.
Ravindra terlihat keluar gedung pesta dengan jengkel. Ia lantas mengendari mobil sport mewahnya dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Menembus jalanan malam Ibu Kota. Lagi… lagi… dan lagi…. Kali ini di malam ulang tahunnya. Ravindra mulai merasakan kesepian yang menghujam ke hatinya. Hingga membuat hatinya semakin membeku seperti es.
Ravindra mengendarai mobilnya mengelilingi Ibu Kota. Tak tahu harus kemana, karena ia tak memiliki tujuan. Saat berhenti di lampu merah, matanya terantuk pada dua orang yang tengah menyeberang jalan. Dua orang itu tak lain adalah Long An dan Irene. Mereka saling bergandengan tangan. Si kecil Long An terlihat riang berjalan bersama ibunya. Tak ayal pemandangan tersebut membuat Ravindra tak berkedip. Entah kenapa saat melihat Long An dan Irene tertawa bahagia. Ada getaran yang menyelimuti hatinya.
*Tin! Tin*!
Suara keras klakson mobil di belakangnya membuyarkan lamunan Ravindra. Rupanya lampu jalan sudah berwarna hijau, karena sedang memperhatikan Irene dan Long An membuat Ravindra melamun. Ia yang tersadar bergegas memacu mobilnya. Sebelum ia terkena sumpah serapah pengendara di belakangnya.
Ravindra yang tak tahu harus ke mana. Tanpa sadar mobilnya mengikuti ke mana Long An dan Irene pergi. Perlahan mobil sport mewah berwarna hitam tersebut mengikuti dari belakang Long An dan Irene. Setelah mengikuti beberapa saat. Ravindra melihat sebuah lapangan yang luas. Di sana terdapat bianglala yang menjulang tinggi. Berputar dengan perlahan. Dihiasi lampu berwarna-warni. Membuat malam di lapangan terbuka tersebut terlihat semarak. Lampu-lampu terlihat menyala dan suasananya benar-benar meriah. Banyak penjual makanan berjejer rapi. Dikelilingi beberapa tempat bermain untuk anak-anak. Rupanya, Irene dan Long An pergi ke sebuah pasar malam.
Perlahan Ravindra turun dari mobilnya. Menatap lurus ke arah Irene dan Long An yang terlihat bahagia. Pemandangan seperti itu tak pernah ia dapatkan dari mendiang ibunya dahulu. Hal yang sangat ia inginkan sewaktu kecil adalah sentuhan tangan hangat seorang ibu. Namun, hal kecil yang ia inginkan tak pernah ia dapatkan hingga Sang ibu kembali ke pangkuan Ilahi, Ravindra hanya bisa menundukkan kepalanya. Memaki dirinya sendiri. Kenapa ia malah berada di pasar malam dan mengikuti si bocah karateka itu.
Terdengar helaan nafas berat darinya. Kemudian, ia memegang gagang pintu mobil. Hendak masuk ke dalam. Namun, sebuah panggilan riang menyapanya.
“Hei!! Apa kamu paman rambut landak? Wah!!! Halo paman!!” Teriak Long An begitu ceria sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Ravindra pun menatap ke arah Long An. Sedangkan Irene terkesiap melihat Ravindra tiba-tiba berada di sana. Irene kembali teringat, saat Nyonya Meri mengatakan bahwa Ravindra adalah orang yang memakai parfum bunga Verbena. Parfum yang sama, dipakai oleh pria yang pernah menidurinya. Membuat Irene gemetar dan kembali teringat masa lalunya. Irene hanya menatap ke arah Ravindra. Begitu juga sebaliknya. Tak ada yang mengetahui arti tatapan keduanya. Apakah takdir akan membuat ikatan diantara mereka terjalin? Bintang dan bulan akan menjadi saksi sebuah perjalanan panjang manusia mencari jalan takdirnya.