Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 19


__ADS_3

...Berlatih Karate...


AA School atau Aksara Atlet School adalah sekolah khusus atlet berbakat. Sekolah yang mencari bibit-bibit muda untuk dibimbing. Diasah kemampuannya agar menjadi atlet berprestasi kebanggaan bangsa. Suatu kebanggaan bagi seorang atlet ketika bisa mengharumkan nama negaranya. Membawa panji-panji kebesaran bendera negara. Menancapkannya di puncak tertinggi. Itulah yang menjadi harapan Marvin Damariswara sebagai Direktur AA School. Ia yang seorang mantan atlet bela diri begitu bahagia melihat bibit muda berbakat. Memiliki semangat tinggi.


Marvin Damariswara adalah mantan atlet karate yang sudah menjuarai turnamen Internasional sebanyak tiga kali berturut-turut. Suatu prestasi yang luar biasa kala itu. Maka setelah pensiun, ia memilih mendedikasikan hidupnya membangun sekolah khusus para atlet. Demi rasa cintanya pada bidang olahraga dan ingin mengharumkan nama negaranya hingga negara manca.


Selain memiliki sekolah khusus atlet. Marvin Damariswara juga mewarisi usaha dari mendiang kedua orang tuanya dahulu. Namun, bisnis keluarga ia serahkan pada putra sulungnya yang bernama Ravindra Damariswara. Dibantu oleh putra keduanya yang bernama Liam Damariswara. Kehidupan keluarga Damariswara tak seindah bayangan orang. Meski kaya raya dan memiliki segalanya. Namun, kehidupan keluarga itu cukup rumit. Hingga membuat Ravindra putra pertama menjadi pria yang dingin. Acuh tak acuh terhadap sekitarnya. Sedangkan putra kedua, terlahir dari hubungan gelap Marvin Damariswara dan wanita lain. Hingga melahirkan Liam Damariswara. Hubungan ketiga orang tadi sama sekali tidak akur. Kehidupan keluarga Damariswara berbanding terbalik dengan kesuksesan bisnisnya.


Pagi itu disebuah ruang kerja yang cukup mewah. Pak Albert selaku assisten sekaligus pengawal Ravindra menghadap pada bosnya.


“Tuan Ravindra, hari ini jadwal anda berkunjung ke AA School. Tuan Marvin sedang sibuk mengurus hal lainnya. Jadi, beliau meminta anda untuk mengawasi persiapan latihan di sekolah.” Lapor Pak Albert.


Ravindra yang sedang sibuk membaca dokumen segera menutupnya dengan kesal. Wajahnya terlihat tidak suka.


“Kenapa ayah tidak meminta Liam yang melakukannya?” Tanya Ravindra dengan tatapan tajam.


“Mengenai itu, Tuan Marvin hanya percaya pada anda. Jadi, saya hanya melakukan apa yang diperintahkan.” Pak Albert menjawab dengan sopan.


Ravindra hanya menghela nafas dalam dan menahan rasa kesalnya. Ia tipe orang yang tidak suka diatur atau diperintah. Apalagi oleh ayahnya sendiri.


“Lalu bagaimana rapat hari ini? Apa sudah ada yang menghandle?” Ravindra kembali bertanya.


“Tuan Ravindra tidak perlu khawatir. Tuan Liam akan menghandlenya.”


Ravindra menggebrak mejanya.


“Orang tidak becus itu tak bisa dipercaya menghandle rapat. Kenapa ayah tidak meminta saja Liam ke sekolah. Aku tidak ingin rapat ini berantakan. Jadi, aku serahkan rapat hari ini padamu. Kamu bisa menghandlenya.” Perintah Ravindra.


“Ta… tapi tuan…” Pak Albert merasa tak enak.


Bagaimanapun juga, ketika CEO tidak bisa menghadiri rapat. Maka yang berhak menggantikan adalah Manager perusahaan. Sedangkan yang menjadi manager di Aksara Enterprise adalah Liam Damariswara. Pak Albert tidak mau hal ini menjadi masalah dikemudian hari. Ia merasa tak enak pada Liam. Apalagi mengetahui watak Liam yang bahkan lebih buruk dari Ravindra.


“Aku tidak suka perintahku dibantah, atau kamu memilih aku tidak datang ke sekolah?” Tanya Ravindra dengan dingin.


“Saya tidak berani Tuan. Bagaimanapun, Tuan Marvin sudah berpesan anda yang datang ke sekolah.” Pak Albert mendundukkan kepalanya dengan dalam.


“Bagus, jika kamu paham.”

__ADS_1


Kemudian, Ravindra beranjak dari duduknya. Ia hendak pergi menuju AA School.


“Tuan, harap tunggu sebentar. Saya akan meminta sopir untuk meminta mengantar anda.” Kata Pak Albert.


“Aku akan menyetir sendiri.” Jawab Ravindra sembari melangkahkan kakinya keluar ruangan.


‘Baik Tuan. Hati-hati di jalan.” Pak Albert menundukkan kepalanya. Setelah Ravindra keluar ruangan. Pak Albert menghela nafas dalam. Ia sudah hafal betul bagaimana watak Ravindra.


Di Aksara Atlet School, sekolah khusus atlet yang tak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya. Banyak murid dari berbagai cabang olahraga terlihat serius berlatih. Baik secara individu maupun kelompok. Mereka begitu antusias dengan adanya perlombaan antar sekolah tingkat Nasional ini. Siapapun yang berlaga dan mendapatkan juara. Tentu akan mendapatkan pengakuan dari khalayak ramai.


Alex yang sesumbar akan keluar sebagai juara terlihat sibuk menyombongkan dirinya. Bukannya sibuk berlatih malah memamerkan kemenangannya tahun lalu. Alex berusaha menutupi kekalahannya dari Long An. Ia menutup mulut teman-temannya supaya tidak banyak bicara. Sedangkan Long An ditemani si kembar Meichan dan Chanmei memilih mencari ketenangan dengan berlatih karate di tempat lain.


Berbeda dengan Alex. Long An adalah anak yang rendah hati. Meski prestasinya melebihi Alex tetapi ia tak pernah sesumbar atau pamer pada teman lainnya. Justru ia lebih suka berlatih bersama teman-temannya. Membagikan ilmu yang ia miliki. Long An ingin meraih mimpi bersama teman-temannya. Bersama si kembar, yang kini telah menjadi teman dekatnya. Mereka berlatih keras.


Si kembar tengah berlatih kata. Menyempurnakan setiap gerakan kata. Kata selain bisa digunakan untuk kumite. Bisa juga digunakan untuk sebuah gerakan seni bela diri yang indah. Long An mengajari si kembar dengan sabar. Membagikan ilmu yang pernah ia reguk dahulu ketika di Amerika.


“Meichan, ketika kamu melakukan teknik pukulan. Jangan sampai bahumu bergerak.” Kata Long An.


“Ya.. Hya!” Jawab Meichan.


Latihan ketiga anak tersebut tanpa sengaja diperhatikan oleh Ravindra yang kebetulan sedang melintas. Mengawasi setiap persiapan para siswa di AA School. Ravindra ditemani Nyonya Meri selaku assisten di sekolah AA School. Nyonya Meri memperhatikan Ravindra yang sedang mengamati latihan ketiga anak tersebut.


“Tuan Ravindra, apa anda ingin melihat latihan mereka dari dekat?” Tanya Nyonya Meri dengan senyum ramah.


“Aku tidak tertarik.” Jawab Ravindra dengan nada dingin.


“Ah… tetapi di sana ada anak bernama Long An. Dia siswa baru yang kebetulan pindahan dari Amerika. Tuan Marvin khusus merekrutnya karena ia adalah anak genius yang mendapat julukan Karateka Genius dari Timur.” Nyonya Meri menjelaskan dengan panjang lebar.


“Terserah.” Ravindra menjawab dengan ketus.


Nyonya Meri hanya nyengir kuda menghadapi Ravindra yang begitu dingin dan acuh.


“Aku akan pergi. Laporkan saja pada ayah. Aku sudah datang.” Kata Ravindra. Ia bersiap hendak melangkah pergi.


Namun, suara panggilan anak kecil menghentikan langkahnya.


“Wah, bukankah itu paman rambut landak?!” Teriak Long An yang melihat Ravindra dari kejauhan. Lantas berlari mendekat ke tempat Ravindra dan Nyonya Meri. Diikuti oleh si kembar.

__ADS_1


“Paman.” Sapa Long An dengan riang.


Nyonya Meri dan si kembar saling pandang dan mengernyitkan keningnya. Mereka bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana bisa Long An dan Tuan Ravindra saling mengenal.


“Hihi halo paman rambut landak. Bagaimana kabar Amao? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Long An dengan polos.


Ravindra hanya diam dan menahan rasa kesalnya. Ada seorang anak kecil ingusan yang memanggilnya paman rambut landak. Nyonya Meri dan si kembar hanya bisa menutup mulutnya. Mereka saja tak berani memanggil Ravindra begitu. Bagaimana bisa Long An berani memanggil seperti itu.


“Kenapa lagi-lagi aku bertemu anak kecil ini.” Gumam Ravindra dengan kesal.


“Paman, ayo berlatih karate denganku. Aku bersemangat paman ada di sini. Jadi, mari berlatih bersamaku paman.” Kata Long An dengan tawa lebar.


Ravindra berusaha mengabaikan Long An dan hendak melangkah pergi. Tapi, lagi-lagi langkahnya terhenti ketika Long An mengatakan sesuatu.


“Kotoran burung dan tendangan. Apakah aku perlu membuka mulut? Aaaaaa…”


Ravindra yang teringat kejadian tempo hari. Langsung berkeringat dingin. Apalagi Nyonya Meri dan si kembar saling berkasak-kusuk. Entah mereka sedang membicarakan apa. Membuat Ravindra salah tingkah dan takut imagenya sebagai pria dingin diruntuhkan oleh bocah ingusan ini.


“Terserah.” Kata Ravindra ketus.


Long An tertawa lebar. Itu artinya Ravindra mau berlatih karate dengannya.


Nyonya Meri dan si kembar bersorak karena akan melihat pertandingan karate tak resmi antara Ravindra Damariswara Sang CEO tampan. Putra mantan atlet bela diri. Akan melawan Long An si Karateka Genius dari Timur. Ini akan menjadi pertandingan yang menyenangkan.


Di sebuah lapangan terbuka. Disaksikan oleh Nyonya Meri dan si kembar. Ravindra berhadapan dengan Long An. Ravindra sebenarnya malas sekali meladeni anak kecil ini. Tetapi ia juga tidak ingin dipermalukan begitu saja. Ravindra menatap lurus ke arah Long An yang terlihat serius. Long An sudah memasang kuda-kudanya. Entah kenapa ketika melihat Long An kecil yang memiliki rambut berdiri seperti dirinya. Membuat hati Ravindra merasakan sesuatu. Mata anak itu sama persis seperti matanya. Mereka sama-sama memiliki mata sipit.


“Paman bersiaplah.” Kata Long An membuyarkan lamunan Ravindra.


“Osh.” Lanjut Long An membungkukkan badannya tanda penghormatan.


Ravindra hanya terdiam dan menatap ke arah Long An.


“Hyaa!!!” Teriak Long An.


Log An memberikan serangan, ia sedikit meloncat dan menggunakan teknik Oi Zuki Jodan yaitu pukulan ke arah kepala. Ravindra terlihat tenang dan menghindari serangan Long An hanya dengan memundurkan langkahnya. Long An sudah bisa membaca bahwa paman rambut landak akan menghindari serangan pertamanya dengan mudah. Maka secepat kilat, Long An melancarkan tendangan dengan kaki bagian samping yang dinamakan teknik Yoko Geri Keange. Ravindra sedikit terkejut dengan serangan kedua Long An yang begitu cepat. Mau tak mau ia menangkis dengan kedua tangannya disilang menggunakan teknik Juji Uke.


Nyonya Meri dan si kembar hanya bisa melongo menyaksikan pertandingan keduanya. Seolah melihat pertandingan kelas Internasional.

__ADS_1


__ADS_2