Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 43


__ADS_3

... Rencana Long An ...


Long An kelihatan riang hari itu. Ia tersenyum sambil melihat gambar sosok ayahnya. Sosok yang selama ini ia cari. Akhirnya menemukan dan tepat berada dihadapannya. Ia kini berdiri, di depan sebuah kantor yang sangat besar. Kantor itu tak lain adalah perusahaan Aksara Enterprise. Long An datang setelah diantar Nyonya Meri. Sekalian untuk membuat alasan. Supaya ibunya tidak curiga. An berpura-pura main ke rumah Si kembar.


Setelah mengantarkan Long An, Nyonya Meri tidak ikut masuk ke dalam. Ia memberikan waktu bagi An untuk berduaan dengan ayah kandungnya. Long An berterimakasih atas bantuan Nyonya Meri dan Si kembar. Berkat campur tangan mereka. Akhirnya ia bisa berhasil menemukan ayahnya. Ayah yang mirip dengan dirinya. Sama-sama bermata sipit dan memiliki gen rambut berdiri.


Lantas dengan langkah kaki riang, si kecil ong An berjalan memasuki gedung utama Aksara Enterprise. Saat memasuki gedung, ia begitu takjub melihat bangunannya yang sangat bagus. Long An segera masuk ke dalam. Rupanya, ia sudah disambut oleh Pak Albert. Long An melambaikan tangan dan tersenyum lebar pada assisten Ravindra tersebut. Pak Albert juga membalas senyuman si karateka genius kecil. Rupanya diam-diam Long An menghubungi Pak Albert untuk mendukung rencananya. Tentu saja assisten Ravindra tersebut menyambut baik niat Long An. Ia setuju, bahwa sudah saatnya Tuan Ravindra memiliki kehidupan yang berbeda dari sebelumnya.


“Halo Pak.” sapa Long An sembari menjabat dan mencium tangan Pak Albert.


Long An selalu mengingat apa yang diajarkan oleh ibunya. Bahwa dimanapun berada, harus tetap menjunjung yang namanya tatakrama. Apalagi mereka orang timur yang dikenal memiliki sopan santun. Menghargai yang lebih tua. Irene selalu menanamkan pada Long An. Pada siapapun harus menghormati. Tidak boleh membeda-bedakan dan memandang status orang lain. Semua memiliki derajat yang sama. Maka karena itulah, meski An dibesarkan di negara barat. Tetapi, tak pernah lupa menjunjung tinggi etika pada yang lebih tua. Hal yang banyak dilupakan generasi muda saat ini.


Pak Albert tersenyum. Diam-diam mengagumi anak kecil di depannya ini. Jika suatu hari nanti, anak ini bisa terus bersama bosnya. Maka kebekuan dihati Rava akan menghangat.


“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Pak Albert dengan senyum ramah.


“Sangat baik dan tak pernah sebaik ini.” jawab Long An dengan senyum yang lebar. Wajahnya berseri-seri, pipinya kemerahan seperti buah ceri. Terlihat sangat menggemaskan.


“Tuan Rava, masih ada rapat dengan para staff. Jadi, tunggulah sebentar di ruangannya.” ajak Pak Albert menuju ruang kerja Ravindra.


Long An mengangguk dan mengikuti ke mana Pak Albert berjalan. Setelah menaiki lift menuju lantai paling atas. Pak Albert menunjukkan ruang kerja Ravindra. Long An berdecak kagum, melihat ruangan kerja yang begitu elegant. Design interiornya terlihat estetik. Di meja kerja terdapat papan nama bertuliskan CEO Ravindra Damariswara. An, berjalan perlahan dan mengelus papan nama tersebut. Sembari tersenyum hangat.


Papa, akhirnya aku menemukanmu. kata Long An dalam hati.


“Nak, duduklah di sini. Tuan Ravindra sebentar lagi selesai rapat.” Pak Albert mempersilahkan Long An duduk di sofa.


Long An berterimaksih dan tersenyum. Lalu mengambil sekotak susu dari dalam tasnya.


“Pak, terimakasih sudah membantu. Ini ada sekotak susu untuk bapak.” kata Long An sembari menyodorkan sekotak susu.


“Ah, jangan repot-repot. Susu itu untukmu saja.”


Long An menggelengkan kepalanya.


“Pak Albert tidak boleh menolak ketulusan seorang anak kecil. Terimalah dan minum susu ini. Susu memiliki banyak kandungan gizi dan kalsium. Bagus untuk tulang dan menambah energi bapak saat bekerja. Jadi mohon diterima.” Long An tersenyum dengan hangat.


Pak Albert yang belum pernah diperhatikan sebaik ini oleh orang lain. Merasa sangat terharu sekali. Matanya terlihat berkaca-kaca dan menerima sekotak susu dari Long An.

__ADS_1


“Terimakasih nak, bapak sangat menghargai ini. Tetapi apakah tidak apa-apa? Bapak mengambil jatah susumu?”


Long An menggelengkan kepalanya dengan yakin.


“Mama pernah mengatakan padaku. Memberikan sesuatu atau menolong seseorang tak akan membuat kita merugi. Justru akan mendatangkan kebaikan untuk diri kita. Seperti misalnya, kita menjadi teman. Benar bukan?”


Pak Albert semakin mengagumi sifat yang dimiliki si kecil Long An. Tidak hanya genius dalam karate, tetapi anak ini memiliki karakter. Karakter yang menjadikannya memiliki kualitas sebagai manusia yang memiliki kebaikan hati. Pendidikan karakter memang perlu dilakukan orang tua sejak dini terhadap seorang anak. Maka ketika dewasa, semua kebaikan itu akan tertanam dihati dan pikiran si anak. Anak akan mengasihi sesama dan tak lagi membeda-bedakan. Anak akan berperilaku sopan dimanapun ia berada.


Tanpa mereka sadari, tiba-tiba Ravindra sudah berdiri di dekat pintu masuk. Menyaksikan perbincangan Long An dan Pak Albert.


“Wah, kamu memang pandai menyuap assistenku. Agar bisa masuk ke sini.” ledek Ravindra sambil berjalan ke meja kerjanya.


Pak Albert segera undur diri dan memberikan kesempatan bagi Long An berbicara dengan Ravindra. Sepeninggal Pak Albert, Long An menatap penuh arti pada Ravindra. Ia yang selama ini merindukan sosok seorang ayah. Akhirnya menemukan ayah kandungnya.


“Apa matamu tidak lelah, menatapku begitu?” tanya Rava.


Long An hanya tersenyum lebar. Lantas memberikan susu kotak pada Rava.


“Paman, susu ini untukmu. Paman rambut landak pasti sudah bekerja keras. Jadi, susu bisa mengembalikan stamina paman.”


Papa, meski aku belum bisa memanggilmu begitu. An sudah bahagia. Bisa bertemu denganmu. Batin Si kecil Long An.


“Apa kamu sedang menyuapku? Supaya aku menuruti keinginanmu?” tanya Rava dengan nada dingin. Padahal dihatinya, ia merasakan kehangatan.


Long An hanya tertawa lebar. Lantas, tak lama kemudian. Terlihat keduanya sedang berjalan menuju sebuah taman yang dibangun oleh perusahaan Aksara Enterprise. Long An berjalan dengan begitu riang. Ditemani Ravindra di sampingnya. Saat sedang berjalan, An melihat seorang nenek menjajakan dagangan dan membawa timbangan. Tanpa berfikir panjang, anak kecil itu segera membantu Si nenek membawakan timbangan yang cukup berat. Sedangkan Ravindra seperti biasa hanya melipat tangan didada dan menonton saja.


“Kenapa nenek membawa timbangan ke sana kemari?” tanya An.


“Itu karena, nenek harus mencari pelanggan. Sedangkan banyak sekali orang yang berkunjung ke sini. Jadi, nenek berjualan di depan taman. Sayang sekali, nenek tidak bisa masuk ke dalam taman ini karena ada larangan berjualan di dalam sana.”


“Begitu rupanya.” Long An kelihatan sedih.


Melihat seorang nenek masih berjuang mencari recehan demi recehan untuk membeli segenggam beras.


“Nenek, aku akan membeli semua daganganmu.” kata Long An dengan tulus.


Ia lantas menghampiri Rava.

__ADS_1


“Paman, maaf merepotkanmu. Kali ini bolehkah aku berhutang? Aku janji, setelah sampai di rumah aku akan mengambil uang dan mengganti uang paman.”


Rava menghela nafas dalam. Tanpa banyak berkata, ia memberikan beberapa ratus uang lembaran berwarna merah pada Si nenek. Si nenek kelihatan sangat gembira. Ia mendapatkan uang yang lebih dari dagangannya.


“Semoga kalian selalu diberkahi dan bahagia selalu. Ayah dan anak yang baik.” kata Si nenek berterimakasih pada Rava dan Long An.


“Hei, nenek… kami bukan ayah dan… ah sudahlah.” Rava berusaha mengatakan kalau mereka bukan ayah dan anak. Tetapi Si nenek sudah berlalu dari tempat itu.


Long An tersenyum lebar. Melihat Rava mau membantunya.


“Kenapa kamu selalu perduli dengan orang di sekitarmu? Kamu sangat mirip mamamu.” komentar Rava sembari melihat sinis pada Long An.


Long An tersenyum, “Mama mengatakan berbuat baik tidak akan membuat kita merugi. Justru kita akan diberkahi. Perduli pada sesama akan membuat hati kita merasa bahagia.”


Mendengar perkataan Long An. Rava menatap dalam ke arah anak kecil di depannya tersebut.


“Selama ini, aku melepaskan rasa kepedulian itu. Rasa perduli, mempercayai, mengasihi seseorang hanya akan membuat hati terluka. Jika dirimu jadi aku, saat usiaku 10 tahun. Aku ragu, kamu akan sama seperti dirimu yang sekarang. Kamu pasti akan sama denganku.”


“Aku tidak akan membuat pilihan seperti paman. Aku akan tetap menjadi diriku seperti yang sekarang.” jawab Long An sambil menggenggam tangan Rava.


“Apa paman lupa? Rasa mengasihi, mempercayai, perduli itu bukanlah sebuah pilihan. Paman sendirilah yang ingin melepaskan. Paman mungkin merasa takut memiliki perasaan seperti itu. An, tidak tahu apa yang membuat paman melepaskan semua perasaan itu. Tetapi, belum terlambat untuk mendapatkan perasaan itu kembali karena perasaan itu masih ada di dalam hati paman. Aku bisa melihatnya. Bukankah, paman juga ingin merasakan kehangatan itu dan meminta mamaku melakukannya? Mari bersama-sama menghangatkan hati paman yang dingin. Sekarang, lepaskan rasa dingin dalam hatimu.” lanjut An dengan senyum lebar dan penuh ketulusan.


Long An lantas menarik tangan Rava. Hingga Rava berlutut agar sejajar dengan tingginya. Lalu memeluk Rava dengan erat.


“An, akan menyalurkan perasaan hangat ini pada paman.”


Seketika Ravindra tercekat mendengar perkataan Long An yang tepat sasaran. Kini, saat An memeluknya perasaan hangat tiba-tiba menyelimuti hati Ravindra.


Anak kecil, kamu benar. Selama ini aku salah. Aku sendirilah yang ketakutan merasakan kesedihan dan kesepian. Tidak mempercayai kasih sayang karena terlalu takut hatiku akan terluka. kata Rava dalam hati.


“Apa aku bisa mempercayaimu dan juga mamamu?” tanya Rava dengan nada sendu.


Long An tersenyum dipelukan Ravindra.


“Paman, bisa mempercayai An dan juga mama. Asal paman tidak melepaskan kepercayaan itu pada kami.”


Sedetik kemudian, Rava ikut tersenyum. Entah kenapa, perasaan dingin yang membekukan hatinya. Mulai merasakan kehangatan.

__ADS_1


“Mama, sangat menyukai bunga lotus. Paman harus ingat itu.” kata Long An dengan senyum merekah diwajahnya.


Rava tersenyum mendengar itu. Ia akan ingat selalu. Bahwa Irene menyukai bunga lotus.


__ADS_2