
... Berkumpul Bersama...
Malam itu, adalah malam yang membahagiakan bagi Ravindra, Irene dan juga Si kecil Long An. Serasa keluarga mereka sekarang menjadi lengkap. Irene dan Ravindra terlihat masih duduk menikmati cahaya bulan yang tak malu-malu menampakkan wajahnya. Seakan tahu, ada dua insan manusia yang telah menyatukan hatinya. Untuk beberapa saat lamanya, Irene dan Ravindra duduk di pinggir kolam bunga Lotus. Menikmati keindahan warna-warni bunga Lotus yang menawan. Dibalut dengan cahaya lampu yang berkedap-kedip dengan indah. Ravindra menatap Irene dengan senyum bahagia. Pria dingin itu telah merasakan kembali namanya kehangatan kasih sayang.
Irene yang duduk di samping Ravindra tersenyum menampakkan kebahagiaan. Ia memegangi liontin berbandul bunga Lotus yang tergantung di lehernya. Semakin membuat kecantikan Irene terpancar.
“Terimakasih, aku sangat menyukai ini.” kata Irene.
“Baguslah, jika kamu sangat menyukainya. Kamu akan menjadi bunga Lotus yang akan selalu menghangatkan hatiku. Begitu juga, bunga Lotus kecil yang selalu memberiku semangat. Aku ingin mulai sekarang, menjalani kehidupan berbeda. Berkatmu dan Long An, aku menemukan kehangatan keluarga. Tidak perduli apa yang terjadi di masa lalu kita dahulu. Aku harap, itu adalah awal pijakan kita untuk bersama, Terimakasih, sudah mempercayaiku. Meski mungkin aku pernah menyebabkan penderitaan untukmu.” ucap Ravindra sembari menatap penuh arti pada Irene. Ravindra selama ini tak pernah mengucapkan kata terimakasih pada siapapun. Ini pertama kalinya ia mengatakan hal itu pada seseorang.
“Sejujurnya, aku sangat penasaran dengan masa lalu itu. Penasaran kenapa kamu melakukan itu padaku. Bahkan hingga detik ini, aku masih penasaran. Namun, aku menyadari. Bahwa dari kejadian itu, aku mendapatkan kebahagian. Aku memberikan hati padamu bukan karena kejadian di masa lalu. Tetapi, aku melihat seorang pria baik yang kesepian. Aku melihat dirimu sama seperti diriku dan entah kenapa hatiku tergerak untuk menghilangkan rasa sepi di hatimu. Masa lalu biarkan menjadi masa lalu. Biarkan tetap berada di tempatnya. Mari kita sambut masa depan yang baru.” balas Irene sembari menyentuh pipi Ravindra. Ravindra tersenyum hangat merasakan jemari tangan Irene membelai pipinya.
Keduanya saling mengetahui kejadian 10 tahun yang lalu. Tetapi, untuk saat ini. Mereka tak ingin moment indah ini berlalu begitu saja. Hanya karena masa lalu yang bisa merusak kebersamaan mereka. Rava dan Irene hanya ingin menikmati masa indah ini bersama. Sedangkan tak jauh dari sana. Long An menitikkan air mata kebahagiaan. Akhirnya, ia bisa melihat mama dan papanya bersama. Kebahagiaan begitu membuncah di hati bocah genius tersebut. Usahanya tak sia-sia. Nyonya Meri dan Si kembar turut bahagia. Mereka memeluk Long An bersamaan. Meski sesak karena tergencet Nyonya Meri, Long An dan Si kembar tetap tertawa ceria.
Kini, di pagi hari yang cerah. Irene tersenyum-senyum sendiri sembari menatap liontin berbandul bunga Lotus pemberian Ravindra. Liontin tersebut adalah tanda ikatan hati keduanya. Bahkan bukan hanya dia dan Ravindra. Tetapi juga bersama si kecil Long An. Disaat Irene senyum-senyum sendiri. Seorang wanita bertubuh kurus duduk di samping Irene dengan lesu. Keduanya sedang berada di perpustakaan kota.
“Ah, aku sungguh kehilangan mood. Memiliki kegiatan sampingan menjadi penulis itu benar-benar melelahkan.” kata wanita bertubuh kurus yang merupakan teman guru di TK tempat Irene mengajar.
“Kenapa bisa lelah? Bukankah menulis adalah sesuatu yang menyenangkan?” tanya Irene.
Teman guru tersebut terlihat cemberut sembari menyandarkan kepalanya di meja.
“Pada awalnya, aku pikir menulis cerita adalah kegiatan yang menyenangkan. Tetapi, kenyataannya itu melelahkan. Apalagi jika para pembaca menjelek-jelekkan hasil tulisanku. Hal itu membuat hatiku merasa tak nyaman dan tidak semangat menulis. Merasa karyaku begitu buruk di mata pembaca.”
Irene tersenyum dan menatap temannya itu.
“Kenapa kamu harus perduli dengan kata-kata yang hanya berbentuk kerikil kecil?”
“Tentu saja aku perduli, karena mereka pembaca. Jika tidak ada pembaca, sama saja karyaku seperti pemakaman. Sepi, hanya ada nisan belaka. Tanpa ada yang mengunjungi. Mungkin karyaku memang benar-benar buruk.” jawab teman Irene dengan lesu.
__ADS_1
Irene lagi-lagi tersenyum.
“Sebuah karya yang dibuat dengan usaha dan kerja keras tidak ada yang buruk. Setiap orang atau setiap pembaca tidak bisa kamu setting seperti yang diinginkan. Begitu juga sebaliknya, pembaca tidak bisa membuatmu menjadi penulis sama seperti yang mereka inginkan.”
“Tetapi, tetap saja. Kata-kata mereka menghancurkan hatiku.” kata teman Irene semakin lesu dan membenamkan wajahnya di meja.
Irene dengan lembut mengelus punggung temannya. Berusaha menenangkan temannya tersebut.
“Aku sudah membaca ceritamu dan itu bagus. Kisah seorang pria yang dingin dan wanita yang memiliki kehangatan hati. Meski pembacamu mengatakan itu adalah cerita klise. Namun, kamu menulisnya dengan cara yang menarik. Teruslah menulis, hargai karya yang kamu buat dengan kerja keras. Mereka mengatakan itu, karena mereka tidak tahu betapa kamu begitu bekerja keras. Hingga mungkin matamu sakit. Kepalamu berdenyut keras. Namun, kamu menyukai kegiatan menulis ini bukan? Teruslah menulis, pasti akan ada pembaca yang memahami maksud ceritamu dan tersampaikan setiap tulisan yang kamu buat. Meski itu hanya satu atau dua orang pembaca atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal itu justru akan membuatmu tertempa untuk menjadi penulis yang lebih hebat. Menjadi dirimu sendiri.”
Kata-kata Irene barusan membuat teman tadi tersadar. Ia menulis cerita karena menyukai dunia tulis menulis. Membuat belajar banyak hal yang menyenangkan. Kemudian, teman guru tersebut mendongakkan kepalanya. Menatap Irene dengan berbinar.
“Aku akan menulis dengan semangat. Belajar bagaimana membuat cerita yang bagus, karena aku sangat menyukai menulis. Terimakasih.” kata teman Irene.
Irene tersenyum dan berucap, “jangan terlalu memperdulikan yang membuatmu jatuh. Jadikanlah kerikil kecil tersebut sebagai pijakanmu. Untuk melangkah ke tempat yang lebih bagus. Hargai karyamu dan banggalah pada dirimu sendiri. Semua orang mungkin bisa membaca. Tetapi belum tentu semua bisa menulis dan menjadi seorang penulis."
Teman guru Irene seketika berkaca-kaca dan menemukan semangat membara. Semangat untuk terus berkarya dan menghargai setiap kerja keras serta usaha yang ia lakukan. Lantas ia segera berpamitan dengan Irene. Teman guru itu, begitu bersemangat untuk melanjutkan menulis ceritanya.
“Waaah mamaku hebat. Aku bangga padamu.” pekik Long An sedikit memelankan suaranya karena sedang berada di perpustakaan. Ia lantas berlari kecil dan memeluk ibunya tersebut. Irene tersenyum dan membelai kepala Long An penuh kasih sayang.
Tidak jauh dari sana, Ravindra berdiri sembari menatap Irene dengan wajah memerah. Ravindra datang bersama Long An untuk menjemput Irene, karena mereka akan makan bersama. Diam-diam, Rava semakin mengagumi wanita yang telah ia percayai untuk menjaga hatinya. Wanita yang penuh kasih sayang. Meski mungkin, kehidupannya jauh dari kata itu. Namun, Irene memilih jalan hidup yang berbeda. Benar adanya, bunga Lotus memang tumbuh di tempat berlumpur. Namun, tak bisa mempengaruhi bunga Lotus untuk tetap tumbuh cantik dan menawan. Suci tanpa cela. Irene yang melihat Ravindra sedang menatapnya. Membalas dengan melempar senyum hangat yang memikat. Membuat degup jantung Rava bergetar hebat.
“Mama, hari ini kita akan makan bersama bukan?” tanya Long An dengan wajah ceria.
Irene mengangguk yakin. Senyum indahnya merekah menghiasi wajah cantiknya. Ravindra yang wajahnya masih memerah segera menghampiri keduanya.
“Jika sudah selesai di sini. Ayo cepat pergi. Aku sudah lapar. Bocah kecil ini terus mengajakku berlatih karate sejak tadi.” gerutu Ravindra.
Long An tertawa lebar begitu juga dengan Irene.
__ADS_1
“Eits, tetapi sebelum itu. An ingin berfoto bersama kalian. Mari membuat foto bersama, karena Long An sangaaaat bahagiaaa. Dada Long An rasanya seperti petasan yang terus meledak-ledak hehe…” kata Long An dengan menggemaskan.
“Baiklah, kita akan berfoto selfi bersama,” ucap Irene sembari tersenyum renyah.
“Kalian kekanak-kanakan sekali.” ledek Ravindra.
“Jika tidak mau ikut, sana pergilah. Biarkan aku berfoto dengan Long An-ku yang menggemaskan ini.” jawab Irene sambil mengusap-usap pipi pao Long An. An hanya tertawa dengan riang.
Ravindra hanya menatap dengan wajah masam. Irene hanya melirik sinis pada Rava seolah tak perduli. Kemudian, Irene bersiap mengambil foto selfie bersama An.
“Baiklah, mama hitung, 1… 2… 3” kata Irene.
Cekrek
Rupanya saat Irene menghitung. Ravindra tanpa banyak berkata segera mendekatkan dirinya pada Irene dan Long An. Memegangi pinggang Irene dan melihat ke kamera. Mereka akhirnya berfoto bersama. Irene senyum-senyum sambil melirik Ravindra. Lantas melihat hasil fotonya. Mereka kelihatan lengkap seperti keluarga. Irene yang tersenyum lembut. Lah… sedangkan Rava dan Long An menampilkan wajah serius. Keduanya sama-sama tegang karena hendak berfoto. Ini kali pertama mereka mengabadikan moment kebersamaan.
“Ayo jalan.” ajak Rava dengan ekspresi datar seperti biasanya. Lantas berjalan perlahan.
Long An yang merasa sangat bahagia segera menyusul Rava dan menggenggam tangan Ravindra dengan erat. Irene masih berdiri dan menyaksikan dua orang yang sangat ia sayangi. Kemalangan yang menimpanya dahulu. Kini, sirnalah sudah dan tergantikan dengan kebahagiaan.
“Kamu tidak ikut?” tanya Rava menghentikan langkahnya.
Irene tersenyum penuh bahagia. Lalu berjalan dan menggandeng tangan Long An. Jadi, Long An berada di tengah. Sedangkan tangan kirinya digandeng Irene dan tangan kanannya digandeng Ravindra. Long An terlihat berseri-seri. Akhirnya, ia seperti anak yang lain. Memiliki ayah dan ibu yang lengkap. Lantas ketiganya berjalan dengan senyuman bahagia yang menghiasi masing-masing wajahnya.
Tetapi, perjalanan seseorang tak akan semudah itu. Untuk meraih kebahagiaan sejati. Mereka harus diuji. Jalan terjal masih menanti. Banyak hal yang harus dilalui. Banyak masalah yang mesti di akhiri. Bagaimana kelanjutan kisah keluarga kecil Damariswara?
... ***...
__ADS_1
Jangan bosan-bosan membaca ceritanya sampai akhir ya. Terimakasih untuk dukungannya selama ini. Meski author belum bisa memberikan cerita yang maksimal. Semoga pembaca selalu terhibur.