Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 65


__ADS_3

... Jeratan Rosalind...


           Di salah satu Villa milik keluarga Rosalind. Tempat di mana Rosalind dan Liam sering bercocok tanam alias melakukan hubungan layaknya suami istri. Ros terlihat mengenakan gaun merah marun tembus pandang yang sangat seksi. Menampakkan lekuk tubuhnya yang indah. Dua buah semangka merekah yang tergantung di dadanya, terlihat semakin menantang dengan gaun yang terbuka tersebut. Riasan Rosalind terlihat semakin tebal. Ia menyiapkan botol wine di kamar utama. Hari ini, suasananya sungguh mendukung. Langit terlihat begitu cerah. Rosalind akan menjalankan rencananya.


           Senyum licik tersungging di sudut bibirnya. Kemudian, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


           “Datanglah kemari, aku menunggumu.” kata Rosalind.


           Untuk apa? tanya seseorang di seberang telp.


           “Tentu saja membicarakan hubungan kita.”


           Kita tidak pernah memiliki hubungan. Pertunangan itu hanyalah pertunangan yang diatur.


           “Aku tahu itu, setidaknya bertanggung jawablah jika memang kamu sudah memiliki ikatan dengan wanita lain. Katakan di depanku secara langsung.” Rosalind berusaha membujuk seseorang yang berada di seberang telp.


           Seseorang tersebut terdengar diam sejenak.


           “Jadilah pria sejati dan katakan padaku langsung. Jika tidak, maka seluruh dunia akan tahu. Priam macam apa kamu? Jadi datanglah dan kita bicarakan masalah ini.” lagi-lagi Rosalind berusaha menjerat seseorang yang ada di seberang telp.


           Baiklah. jawab orang itu.


           Tidak lama kemudian, telp keduanya berakhir. Rosalind tersenyum puas sembari meneguk wine merah.


           “Ravindra Damariswara, bersiaplah. Aku akan menenggelamkan kapalmu.” kata Rosalind pada dirinya sendiri, diiringi senyum licik.


           Tidak butuh waktu lama bagi Rosalind untuk menanti kedatangan Ravindra. Di halaman depan terdengar suara mobil terparkir. Mobil sport dua pintu berwarna hitam tersebut adalah milik Ravindra. Ia datang dengan maksud membicarakan pertunangan mereka yang sebaiknya di akhiri saja. Ravindra berjalan masuk ke dalam Villa.


           Rosalind yang mengetahui pintu depan terbuka. Pertanda Ravindra sudah masuk ke dalam. Ia segera mengirim pesan pada seseorang. Lantas berbaring di atas ranjang menantikan kedatangan Rava. Ravindra yang sudah masuk ke dalam. Mencari keberadaan Rosalind di ruang tamu. Namun, tak ada siapapun. Sampai ponsel Rava berbunyi. Ravindra melihat pesan masuk dari Rosalind yang berisi menunggu Ravindra di kamar utama yang terletak di lantai atas. Kamar satu-satunya di lantai atas, itulah tujuan Ravindra sekarang.


           Meski sedikit merasa heran kenapa Rosalind meminta berbicara di kamar. Ravindra tak mau ambil pusing. Ia ingin segera mengakhir pertunangan yang hanya bisnis semata dengan Rosalind. Setelah berbicara, Rava akan bergegas pergi. Perlahan, Ravindra membuka pintu kamar. Melangkahkan kakinya perlahan. Mencari keberadaan Rosalind. Saat masuk ke dalam, Ravindra melihat pemandangan tubuh indah Rosalind yang tercetak jelas dari balik gaun tembus pandang yang dikenakannya. Rosalind berbaring di ranjang dengan posisi menantang Ravindra menggunakan keindahan tubuhnya. Rava hanya menatap dengan tatapan dingin.


           “Kamu sudah datang?” tanya Rosalind sembari memainkan tali gaun yang melilit di dadanya. Senyumnya kelihatan manis dan berusaha menggoda Ravindra.


           “Aku datang untuk berbicara baik-baik mengenai pertunangan kita.” jawab Ravindra menampakkan wajah dingin. Ia sama sekali tak tertarik dengan pemandangan indah yang ada di hadapannya.


           “Kenapa buru-buru sekali membicarakan hal ini. Kamu tahu, aku sangat marah. Kenapa kamu memutuskan pertunangan ini dan memilih wanita bernama Irene itu. Padahal aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun.”


           “Aku tidak memintamu untuk menungguku. Aku sudah mengatakan berkali-kali padamu. Aku tidak menerima pertunangan ini. Tetapi, kamu tidak mengindahkannya.” jawab Ravindra dingin. Masih dengan gaya cool berdiri menatap Rosalind.

__ADS_1


           Rosalind hanya mendecih.


           “Ravindra Damariswara, kamu memang penuh pesona. Tampan dan kaya, tetapi hatimu begitu dingin. Lantas kenapa kamu lebih memilih wanita miskin itu? dibandingkan diriku yang memiliki segalanya hah?!” tanya Rosalind dengan nada sedikit meninggi.


           “Wanita itu punya nama dan namanya adalah Irene. Jika sekali lagi aku mendengar kamu memanggilnya dengan tidak pantas. Aku tidak akan segan.” jawab Rava dengan nada tajam.


           Rosalind hanya mendecih. Melihat sikap Ravindra kali ini yang berbeda dengan Rava yang ia kenal.


           “Kenapa kamu, menyukai wanita itu? Wanita yang bahkan tidak memiliki status sosial tinggi.”


           “Aku tidak perduli dengan status sosial Irene. Aku sudah memiliki status sosial tinggi dan segalanya. Aku tidak membutuhkan itu semua. Aku menyukai Irene karena hatiku merasa hangat jika bersamanya. Dibandingkan dengan wanita yang hanya perduli pada kekayaan.” jawab Ravindra sembari menatap tajam ke arah Rosalind.


           Rosalind tertawa sinis, sembari menatap Ravindra.


           “Lagipula, kamu berhutang penjelasan padaku. Mengenai kejadian 10 tahun yang lalu. Kamu memanggilku ke Villa waktu itu. Tetapi kenapa malah gadis lain yang berada di sana.” lanjut Ravindra.


           Wajah Rosalind seketika masam. Ia paham betul Ravindra sudah mengetahui sedikit mengenai kejadian 10 tahun yang lalu. Rosalind hanya tersenyum. Lantas beranjak dari tempat tidur. Melangkah mendekati Ravindra.


          “Seharusnya 10 tahun yang lalu. Aku lah yang tidur bersamamu.” kata Rosalind dengan senyum yang menggoda.


           Lantas tanpa banyak berkata lagi. Ia melepas tali gaun merah yang menutupi dadanya. Sedetik kemudian, gaun merah tersebut terbuka lebar. Menunjukkan dengan jelas setiap inci tubuh Rosalind. Tercetak begitu indah. Semangka di dadanya cukup besar. Dibalut buah ceri mungil yang terlihat kemerahan. Semakin ke bawah, tercetak bagian inti tubuhnya. Siapapun pria jelas akan menggeliat melihat tubuh seksi Rosalind yang terpampang tepat di depan mata.


           “Kenakan pakaianmu yang benar.” kata Ravindra dingin.


           “Ravindra Damariswara, kenapa kita tidak bersenang-senang saja. Tubuh ini bisa kamu cicipi sepuasnya.” goda Rosalind dengan pose yang makin menantang kelelakian Ravindra.


           Ravindra tidak mengatakan apapun. Wajahnya datar tanpa ekspresi seolah tak tertarik dengan sajian yang dihidangkan Rosalind. Ravindra hanya membuka jasnya. Rosalind merasa Rava tertarik untuk menjamahnya. Namun dugaannya salah besar. Ravindra bukan mau menyentuhnya. Namun, menutupi bagian tubuh Rosalind yang terbuka dengan jas miliknya.


           “Aku pergi.” kata Ravindra dingin. Seusai mengenakan jasnya pada Rosalind.


           Rosalind hanya mendecih. Baru kali ini ada pria yang sedingin Rava. Tak tertarik sama sekali dengan keindahan tubuhnya. Rava yang hendak melangkah segera ditarik tangannya oleh Rosalind lalu dengan kasar Rosalind merobek pakaian depan Ravindra hingga terlihat sebagian tubuh Rava yang berotot dan sickpack. Rava hendak menghardik Rosalind. Namun, Rosalind keburu mendorongnya ke tempat tidur. Lantas menindihnya. Rosalind hendak mendaratkan bibirnya di bibir Rava. Namun, Rava memegangi erat tubuh Rosalind.


           “Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Rava dengan tatapan amarah.


           “Bukankah kamu barusan mengajakku bercin*ta?”


           Sebelum Rava menjawab, matanya melihat bayangan seseorang. Rava melihat ke arah pintu masuk. Tepat, di sana seorang wanita berdiri menatapnya dengan tajam. Wanita itu tak lain adalah Irene Maxzella. Seketika mata Ravindra terbelalak. Ia langsung mendorong tubuh Rosalind dengan kasar.


           “Irene? Aku bisa menjelaskan ini.” kata Ravindra yang panik.

__ADS_1


           “Tidak perlu menjelaskan apapun. Semuanya terlihat jelas di depan mataku.” kata Irene dingin. Lalu ia bergegas meninggalkan tempat itu.


           Ravindra segera berlari mengejar Irene. Sebelum pergi ia menyahut jas miliknya dan mengenakan kembali. Sembari mengejar Irene.


           “Rene! Irene! Aku bisa jelaskan semua ini! tunggu!” panggil Ravindra.


           Tetapi Irene tak bergeming dan segera masuk ke dalam taxi yang ia sewa untuk pergi ke Villa milik Rosalind.


           “Rene! Rene! Dengarkan aku!” panggil Rava panik sembari menggedor pintu mobil. Tetapi Irene menyuruh sopir taxi segera berlalu dari tempat itu.


           “Rene! Rene!” teriak Rava sambil mengejar taxi yang dinaiki Irene. Tetapi, taxi itu terus berlalu meninggalkan Ravindra. Rava yang panik dan merasa cemas jika sampai Irene salah paham. Segera masuk ke dalam mobil miliknya dan bergegas mengejar Irene. Rosalind yang menyaksikan dari balik kaca jendela kamarnya hanya tersenyum licik. Tangannya memainkan gelas wine dan kemudian meneguk isinya.


           Flashback


           “Apa kamu mempercayai Ravindra?” tanya Rosalind yang sebelumnya menghubungi Irene.


           Apa maksudmu? tanya Irene tak mengerti dari seberang telp.


           “Jangan kamu pikir Ravindra bersamamu karena menyukaimu. Tetapi kebanyakan pria itu sama saja. Jika melihat bunga terlihat mekar dan indah. Seorang pria hanya tertarik untuk menikmati dan memetik bunganya.”


           Katakan dengan jelas maksudmu. kata Irene dengan nada tajam.


           “Datanglah segera ke Villa yang akan aku beritahu alamatnya. Maka kamu akan lihat sendiri seperti apa Ravindra.”


           Flashback End


           Rosalind memuji dirinya sendiri yang berhasil merusak ikatan antara Rava dan Irene. Tidak lama kemudian, ponsel Rosalind berbunyi.


           Liam


           Nama yang tertera di layar ponselnya.


           Apa semua berjalan lancar? tanya Liam dari seberang telp.


           “Sesuai rencana kita. Sekarang, kita hanya perlu menikmatinya sebagai penonton. Menantikan akhir dari cerita antara Ravindra dan Irene.”


           Hahaha!!! Bagus sekali. Kamu memang hebat. Aku akan segera ke sana dan menikmati keindahan ini bersamamu.


           Telp antara keduanya pun berakhir. Rosalind menikmati kemenangannya dengan senyum licik yang menghiasi wajahnya. Bagaimana kelanjutan kisah Ravindra dan Irene?

__ADS_1


__ADS_2