Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 57


__ADS_3

... Menerima Tetapi Tak Memaafkan...


Pagi hari yang begitu cerah. Secerah hati Irene dan Long An. Keduanya tertawa bersama sepanjang perjalanan menuju sekolah. Rona keceriaan terpancar begitu alami terlukis dari wajah mereka.


“Mama, ayo lebih banyak lagi menghabiskan waktu bersama pa.. pa.. paman rambut landak.” kata Long An sembari tertawa lebar. Sebetulnya An ingin memanggil papa. Tetapi ia urungkan.


Irene tersenyum dan mengiyakan dengan anggukan kepala.


“Apa An bahagia mama bersama paman rambut landak?” tanya Irene yang sedang berjalan sambil menggandeng tangan Long An.


“Tentu saja mama. An sangaaaat bahagia, lihatlah dadaku terus merasakan letupan-letupan kebahagiaan.” jawab An dengan nada penuh bahagia.


Hingga disaat mereka sedang berjalan menuju gerbang AA School. Sebuah mobil sedan berwarna putih. Tiba-tiba berhenti tak jauh dari Irene dan Long An. Tidak lama kemudian, seorang wanita berusia 45 tahun keluar dari mobil setelah dibukakan pintu oleh sopirnya. Wanita itu mengenakan blazer putih panjang senada dengan celana yang ia kenakan. Tas mungil tertenteng ditangannya. Rambutnya tersanggul rapi. Meski usianya tak lagi muda. Wanita tersebut masih kelihatan cantik.


Irene dan Long An yang sedang berjalan dengan wajah ceria. Melintas tepat dihadapan wanita yang baru saja keluar dari mobilnya itu. Irene yang melihat wanita tersebut berhenti dan merasakan kemarahan sedikit meningkat. Wanita berusia 45 tahun yang bernama Kania tersebut menatap ke arah Irene dengan tatapan sendu. Irene berusaha mengabaikan dan terus berjalan bersama Long An. Namun, suara Nyonya Kania menghentikan langkahnya.


“Rene…” panggilnya lirih.


Irene berusaha mengabaikan panggilan itu. Namun, Long An menghentikan langkah Irene.


“Mama, ibu itu memanggilmu. Kenapa mama diam? Ini tidak seperti mama biasanya.” kata An dengan polos.


“Nanti kamu akan terlambat An,” ucap Irene sembari tersenyum. Tetapi senyumnya bukan senyum seperti biasanya.


Long An mengernitkan keningnya. Lantas melirik ke arah Nyonya Kania. Nyonya Kania menatap Long An dengan tatapan sedih. Long An malah melempar senyum lebar pada Nyonya Kania. Nyonya Kania tercekat dengan senyuman Long An yang begitu menggemaskan.


“Mama, ibu itu siapa? Apa mama mengenalnya?” tanya Long An lagi.


“An, segeralah masuk ke dalam. Nanti kamu akan terlambat.” jawab Irene.


“Baiklah, An masuk ke dalam.” katanya dengan ceria. Lalu mencium tangan Irene. Irene tersenyum dan balas mencium pipi anaknya tersebut.


Long An pun berlarian masuk ke dalam sekolah sembari melambaikan tangan. Wajahnya terlihat berbinar ceria. Irene balas melambaikan tangan dan tersenyum. Namun, saat Long An sudah menghilang dari pandangan matanya. Senyum yang Irene tampilkan tiba-tiba sirna begitu saja. Kini, wajahnya terlihat dingin. Lantas bergegas berjalan menjauhi Nyonya Kania. Tetapi terdengar suara dari Nyonya Kania memanggilnya.


“Rene, ibu tahu tidak pantas untuk dimaafkan olehmu,” ucap Nyonya Kania dengan lirih.


“Ibu tidak bermaksud mengganggu kehidupanmu.” Lanjut Nyonya Kania.

__ADS_1


“Aku tidak perduli lagi dengan anda. Sebaiknya kita berpura-pura tidak kenal. Saya rasa anda sudah memiliki kehidupan yang sangat baik. Saya pun demikian. Jadi, untuk kedepannya jangan memanggil nama saya atau berpura-puralah tidak mengenal saya.” jawab Irene dengan dingin.


Bukan tanpa alasan, Irene yang biasanya menghormati orang yang lebih tua. Tetapi berbeda dengan kali ini. Rasa sakit dibuang begitu saja oleh ibunya masih ia rasakan hingga kini. Saat usianya 12 tahun, Irene kehilangan ayahnya dan sangat membutuhkan sosok seorang ibu. Namun, naasnya ibunya juga meninggalkannya begitu saja di panti asuhan. Irene terus mencari keberadaan ibunya. Namun, ibunya seolah menghilang ditelan bumi. Hingga ia harus hidup dan berjuang sendirian. Melalui kerasnya kehidupan di Ibu Kota.


Nyonya Kania menatap Irene dengan mata berkaca-kaca. Ia sadar sepenuhnya bahwa apa yang pernah ia lakukan pada Irene sangatlah salah. Nyonya Kania hanya menuruti keegoisannya sendiri waktu itu.


“Ibu tahu, ibu adalah orang yang paling berdosa dan tidak termaafkan.” kata Nyonya Kania dengan air mata yang membasahi pipinya.


“Anda tahu, penderitaan apa yang saya alami? Saat saya berumur 15 tahun, saya harus bekerja di tiga tempat sekaligus. Terkadang seharian saya tidak makan apapun. Ketika saya lelah, tidak ada yang memberikan saya tempat untuk bersandar. Ketika saya kesepian tidak ada satu orang pun yang menghibur. Disaat saya mengalami keterpurukan karena harus mengubur segala mimpi saya, saya hanya bisa bersimpuh di makam mendiang ayah. Anda tahu, betapa menderitanya saya saat itu?!” teriak Irene dengan air mata yang membasahi pipinya.


Kemarahan mulai menguasai diri Irene. Kemarahan yang selama ini ia pendam sendirian. Disaat kemalangan menimpanya, sosok ibu yang ia harapkan sebagai satu-satunya tempat berbagi membuangnya begitu saja. Selama bertahun-tahun pulalah, Irene mencari tahu keberadaan ibunya. Namun, ibunya tak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya. Kini, setelah sekian lama Irene mencari. Tiba-tibanya ibunya muncul begitu saja dan meminta maaf. Tidak akan semudah itu Irene akan memaafkan ibunya. Rasa sakit ditinggalkan oleh ibu kandungnya masih merekat di relung sanubari Irene.


“Jika tempo hari Long An tidak menabrak anda. Apakah anda perduli akan keberadaan saya???!!! Saya rasa tidak! Bahkan untuk mencari sekalipun anda tidak akan melakukan itu. Jadi, apakah saya berdosa jika tidak memaafkan anda???!” teriak Irene penuh amarah diantara derai air matanya yang terus tumpah.


Tepat di depan Irene, wajah Nyonya Kania basah berlinang air mata. Ia hanya bisa memegangi dadanya yang terasa sakit. Memahami bagaimana penderitaan Irene selama ini. Irene yang seharusnya 18 tahun yang lalu ia peluk dan lindungi sebagai satu-satunya keluarga. Malah meninggalkannya tanpa alasan dan tak pernah menengok ke belakang. Bahkan meski hanya untuk sekali saja.


“Rene, ibu tahu ibu sangat egois dan tak bisa dimaafkan. Tetapi, setidaknya untuk sekali saja biarkan ibu melihatmu sesekali,” ucap Nyonya Kania dengan air mata yang terus tumpah bak aliran sungai.


Irene berusaha menahan air matanya yang terus mengalir. Ia menahan amarah yang berkecamuk dalam hatinya. Kembali mengingat bagaimana kehidupannya yang dulu.


Nyonya Kania langsung memegangi tangan Irene.


“Rene, ibu akan lakukan apapun. Setidaknya untuk menebus dosa padamu.”


Irene menghempaskan tangan ibunya dengan kasar. Ia menatap dengan tatapan penuh amarah. Berusaha bergegas pergi dengan tangis yang terus mengucur dari kedua matanya.


“Rene! Rene!” panggil Nyonya Kania dengan pilu. Air mata tak pelak mengalir dengan deras.


Nyonya Kania hanya bisa terduduk sembari menangis tiada henti. Tidak lama kemudian, Rosalind yang barusan datang melihat ibu tirinya menangis sambil duduk di depan gerbang sekolah merasa heran. Ia bergegas menghampiri.


“Mama, ada apa ma? Kenapa mama menangis di depan gerbang sekolah seperti ini?” tanya Rosalind yang kebingungan.


Nyonya Kania menatap Rosalind dengan tatapan sedih.


“Mama… mama… telah berdosa terhadap putri kandung mama sendiri.” tangis Nyonya Kania begitu pilu.


“Putri kandung mama?” tanya Rosalind semakin heran.

__ADS_1


Sedangkan Nyonya Kania hanya bisa menangis dan menangis. Mengingat dosa yang telah ia lakukan 18 tahun yang lalu.


Di tempat lain…


Irene berjalan sembari mengusap air matanya yang terus keluar. Ini sungguh membuatnya kesal. Kenapa setelah sekian tahun ia masih tetap menangis ketika bertemu ibunya. Antara sedih dan amarah menyatu dalam setiap inci hati Irene. Ia berjalan hingga tak terasa melewati jembatan penyeberangan dekat AA School. Irene tak tahan lagi dan berteriak keras.


“Arghhhttt!!!” Irene berteriak sembari meneteskan air mata. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.


Tanpa Irene sadari, tiba-tiba tangannya di tarik seseorang. Lantas mendekapnya dalam pelukan.


“Jangan menangis sendirian. Kali ini kamu tidak sendiri lagi.” kata seseorang tersebut.


Irene kaget tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya. Tetapi setelah mencium aroma parfum khas bunga Verbena Irene tahu betul siapa orang itu. Orang yang saat ini telah memeluknya adalah Ravindra. Setelah mengetahui siapa yang memeluknya. Irene menangis sejadi-jadinya dalam pelukan orang yang telah mencuri hatinya tersebut. Rava mengerti perasaan Irene. Ia hanya diam dan tetap memeluk wanita yang telah menghangatkan hatinya itu.


Flashback


Pagi ini, sebenarnya Rava ingin mengantarkan Long An ke sekolah. Namun, ia datang terlambat. Irene dan Long An sudah berangkat ke sekolah. Lantas ia berinisiatif menuju sekolah. Setidaknya ingin melihat dua orang yang telah mencairkan kebekuan hatinya. Tepat disaat Ravindra datang. Ia melihat Irene sedang berbicara dengan Nyonya Kania. Ravindra hanya bisa menunggu dan tidak ingin mengganggu pertemuan antara ibu dan anak tersebut.


Flashback End


Irene masih menangis dalam pelukan Ravindra.


“Ternyata, kamu wanita yang sangat cengeng.” kata Ravindra menggoda Irene.


Irene yang masih berada dalam pelukan Rava hanya tersenyum sinis. Meski air mata masih terus menetes.


“Untuk kali ini, aku ingin menjadi wanita cengeng.” jawab Irene sambil memeluk Rava dengan erat.


“Dikabulkan.” kata Rava sembari membalas pelukan Irene. Mendekapnya dan ikut merasakan kesedihan wanita yang telah mencuri hatinya tersebut.


Dahulu Ravindra tidak bisa mendampingi ketika Irene melewati masa-masa sulit. Tapi tidak untuk kali ini. Mulai detik ini hingga selamanya, Ravindra akan selalu berada di samping Irene. Berada di sisi wanita yang telah banyak melewati jalan terjal. Mencicipi yang namanya penderitaan. Rava berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat dunia Irene menjadi dunia yang bahagia tentunya bersama si kecil Long An.


...***...


Bagaimana kelanjutan kisahnya? Nantikan di bab berikutnya. Terimakasih sudah mendukung dengan cara like, vote atau komentar. Semoga para pembaca sehat selalu ☺


 

__ADS_1


__ADS_2