Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 7


__ADS_3

...Irene Maxzella...


Seorang wanita muda berusia 20 tahunan, terlihat berlarian menyusuri jalanan ibu kota yang padat kendaraan. Ia berlari menerobos padatnya jalanan pagi itu. Seorang wanita muda berambut hitam panjang. Mengenakan pakaian kemeja putih dan bawahan berwarna hitam. Ia terus berlari kencang. Tak diindahkan keringatnya yang jatuh bercucuran. Hanya ada satu tujuan, hari ini ia harus sampai di tempat wawancara kerja tepat waktu. Irene sangat ingin mendapatkan pekerjaan ini. Bagaimanapun juga, ia membutuhkan uang untuk bertahan hidup.


Irene hanyalah seorang yatim piatu yang tinggal sendirian. Sejak berusia dua belas tahun, ia tinggal di panti asuhan. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sedangkan ibunya, pergi meninggalkannya begitu saja. Hingga kini, Irene tak pernah mengetahui keberadaan ibunya. Apakah ia membenci ibunya? Jujur saja, Irene sangat membenci ibunya. Kenapa ibunya pergi meninggalkannya begitu saja. Memberikan Irene kehidupan yang sulit seorang diri.


Selama delapan tahun, ia berusaha mencari keberadaan ibunya. Tetapi, tak sekalipun ia mendapatkan hasilnya. Ibunya seolah hilang ditelan bumi. Ibunya masih hidup atau sudah tiada, Irene tak pernah tahu. Irene berfikir, ia hanyalah anak yang dibuang dan ditinggalkan. Mungkin saja, ibunya sekarang telah memiliki keluarga dan hidup bahagia bersama mereka. Melupakan keberadaan Irene yang ditinggalkan sebatang kara.


Maka dari itu, Irene harus bekerja keras menghidupi dirinya sendiri. Pekerjaan apapun ia lakukan asal tidak mencuri, merendahkan harga dirinya atau yang lebih buruk menjual dirinya sendiri. Di dunia ini, banyak sekali orang yang ingin hidup mudah dengan cara instan. Hingga rela melakukan apapun, termasuk menjual dirinya.


Meski, kehidupan di panti asuhan jauh dari kata layak. Irene tetap berusaha berjalan di jalurnya. Selepas Sekolah Menengah Atas, Irene tak lagi tinggal di panti asuhan Dia memilih untuk mencari kehidupannya sendiri. Tinggal disebuah kos yang sempit dengan ukuran 3x3 meter. Makan seadanya atau bahkan tidak makan sama sekali. Biaya hidup yang semakin tinggi berbanding terbalik dengan pemasukan. Irene yang hanya lulusan sekolah menengah, sering kali kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.


Irene Maxzella, termasuk gadis dengan paras yang menawan. Rambut hitam panjangnya terlihat lurus dan berkilau. Ditunjang dengan visualnya yang sempurna. Hidung mancung nan mungil, mata lebar berbinar dan senyum yang memikat. Meski hanya memiliki tinggi 160 cm, ia tetap terlihat cantik. Namun, kecantikannya berbanding terbalik dengan nasibnya. Meski cantik, ia tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.


Kini, Irene seolah mendapatkan secercah harapan. Beberapa hari yang lalu, ia dihubungi sebuah sekolah khusus atlet yang terkenal di ibu kota. Sekolah atlet tersebut mencari seseorang yang berpengalaman dalam bidang olahraga panahan. Sewaktu SMA dahulu, Irene pernah menyabet juara 1 lomba panahan tingkat Nasional. Kariernya terlihat cemerlang karena bakat yang ia miliki. Namun sayangnya, bahunya cedera karena suatu peristiwa. Jadi, mau tak mau impiannya menjadi atlet panahan harus ia kubur dalam-dalam. Lengkap sudah kehidupannya yang malang.


Meski kehidupannya begitu sulit. Irene tetap berusaha untuk bertahan. Menjalani kehidupan sama dengan orang lain. Satu-satunya tekad yang membuatnya tetap bertahan adalah keinginannya untuk bertemu dengan ibunya kembali. Jika suatu saat nanti Irene bertemu ibunya kembali. Ia akan berdiri tegak. Menatap ibunya dengan penuh kebanggaan. Bahwa dirinya tak pantang menyerah meski dibuang dan ditinggalkan. Ia akan meraih kehidupan yang sukses dan gemilang. Irene ingin membuktikan itu semua pada ibunya.


Kini, ia memiliki kesempatan untuk bekerja di tempat yang bagus. Sebuah sekolah khusus atlet yang sangat bergengsi di Ibu Kota. Sembari berlarian, sesekali ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Waktu sudah menujukkan tepat pukul delapan pagi. Ia semakin panik, karena waktu yang dijadwalkan untuk wawancara sudah dimulai.


Setelah menerobos jalanan dan menyeberangi jembatan penyeberangan. Tepat, dihadapannya terlihat sebuah gedung sekolah yang berdiri dengan sangat megah. Irene, berusaha berlari dengan kencang dan segera masuk ke dalam gedung. Mencari tempat di mana ia wawancara.

__ADS_1


Di sebuah ruangan, seorang panitia memanggil beberapa kandidat untuk di wawancara. Irene yang barusan tiba, dengan nafas yang terengah-engah segera menghampiri salah satu panitia.


“Selamat pagi. Mohon maaf saya terlambat. Nama saya Irene Maxzella. Apakah saya bisa wawancara sekarang?” Irene bertanya sembari mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.


Salah satu panitia yang ditanyai, menatap Irene dari ujung kaki hingga kepalanya. Ditatap seperti itu, Irene merasa malu karena ia terlihat berantakan dengan keringat yang masih membasahi wajahnya. Panitia melihat daftar nama yang ada didokumen miliknya.


“Maaf, waktu wawancaramu sudah lewat beberapa menit yang lalu.”


“Pak, tolonglah… beri saya kesempatan. Ini adalah kesempatan saya mendapatkan pekerjaan yang bagus.” Mohon Irene pada panitia tersebut.


“Maaf Nona, kami ingin setiap kandidat yang mendaftar harus memiliki disiplin waktu. Bagaimana bisa kami menerima seorang pelatih yang tidak memiliki kedisiplinan?”


“Ta ….. Tapi saya….” Kata Irene hendak menyela.


Sesaat setelah keluar dari gedung sekolah tersebut. Sebuah mobil mewah tepat terpakir dihadapannya. Seorang gadis muda dengan rambut kecoklatan terlihat keluar. Dari dagunya yang sedikit terangkat, menandakan ia adalah gadis yang congkak. Gadis berambut coklat tersebut mengenakan pakaian yang cukup mewah. Dipadu dengan riasan yang sedikit mencolok. Ia berjalan ke arah Irene dengan senyum merendahkan.


“Ah, rupanya kamu. Melihat raut wajah dan penampilanmu yang seperti ini kelihatannya kamu ditolak, benar bukan?” Tanya gadis muda berambut coklat.


Irene sebenarnya sangat malas bertemu dengan gadis yang ada dihadapannya ini. Kenapa disaat menyedihkan dalam hidupnya harus bertemu dengan gadis ini. Irene menatap ke arah gadis berambut coklat tersebut.


“Apa kamu begitu bahagia melihatku menemui kegagalan seperti ini?” Tanya Irene.

__ADS_1


Gadis berambut coklat menyunggingkan senyum.


“Apa terlalu kelihatan dari raut wajahku yang cantik? Ah…. Sayang sekali, aku pikir teman SMA ku ini akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Sungguh ironis kehidupan orang miskin sepertimu.” Hina si gadis berambut coklat.


Irene berusaha tidak terpancing dengan perkataan gadis berambut coklat yang merupakan teman semasa SMA dahulu. Ia berusaha mengacuhkan dan hendak melangkah pergi. Namun, gadis berambut coklat segera menghalangi dan memegang lengan Irene. Irene semakin gusar dengan ulah gadis yang ada di hadapannya.


“Aku tidak suka diabaikan oleh orang rendahan sepertimu.” Kata gadis berambut coklat. Menatap Irene dengan kesal.


Irene tak lagi dapat menahan rasa kesalnya. Ia balas menatap gadis berambut coklat dihadapannya.


“Singkirkan tanganmu dari lenganku!” kata Irene sembari menghempaskan tangan gadis berambut coklat dihadapannya.


Gadis berambut coklat hanya mendecih. Lalu melontarkan kata-kata kasar pada Irene.


“Gadis rendahan sepertimu hanya akan terus hidup dijalanan. Jangan bermimpi menginjakkan kaki di tempat sebagus ini. Tempat ini tidak cocok dengan level rendah sepertimu.”


Mendengar kata yang terucap dari bibir gadis berambut coklat tersebut. Hati Irene semakin mendidih. Tadinya ia tidak ingin berurusan dengan gadis ini. Tetapi, penghinaan yang dilontarkan. Membuat telinga Irene memerah. Ia balas menatap tajam gadis berambut coklat dihadapannya.


“Aku memang miskin. Tetapi bukan orang rendahan sepertimu. Orang yang menghalkan segala cara agar mendapatkan kemenangan. Orang yang telah mendorongku dari tangga. Hingga aku terluka parah dan mengalami cedera pada bahuku. Cedera ini, membuatku harus mengubur mimpiku dalam-dalam. Jadi, Lebih baik kamu bercermin pada dirimu sendiri. Kamulah orang rendahan yang sebenarnya.” Balas Irene tak kalah tajam.


Gadis berambut coklat hanya bisa menggigit bibirnya. Menatap Irene dengan tajam.

__ADS_1


Kembali ke masa kini.


Irene telah berdiri tepat di depan pintu gerbang sekolah. Sekolah bagi para atlet bergengsi. Sekolah yang dahulu Irene ingin bekerja di sini. Tetapi semua itu tinggal angan yang harus dihentikan. Ia menatap lurus ke depan. Memang benar adanya, sekeras apapun ia berlari. Pada akhirnya akan tetap kembali. Namun, kali ini ia tidak sendiri. Ada jagoan geniusnya berdiri tepat di sampingnya. Menggenggam tangan Irene begitu erat. Karateka Genius dari Timur akan beraksi.


__ADS_2