Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 86


__ADS_3

...Usaha Penyelamatan Irene...


Waktu tak terasa telah bergulir. Pagi berubah menjadi malam. Long An sekarang ditemani oleh Si kembar dan Pak Albert. Long An berbagi tugas dengan ayahnya. Supaya bisa menyelamatkan semuanya.


           Flashback


Saat Long An dan Ravindra masih berada di gudang. Rava terlihat kebingungan. Disatu sisi, ia ingin menyelamatkan Irene. Namun, di sisi lainnya ia tak dapat mengabaikan keselamatan ayahnya. Long An mengetahui kegelisahan Ravindra.


“Papa, aku rasa paman Liam sengaja melakukan ini. Ia berpikir, papa pasti akan memilih menyelamatkan mama. Tetapi, jangan bimbang. Aku yang akan menyelamatkan mama. Sedangkan papa yang akan membantu kakek. Paman Liam tidak akan menduga papa akan datang ke rumah kakek. Jadi, mari kita berbagi tugas.” kata Long An serius. Ia berusaha memberikan jalan keluar, agar bisa menyelamatkan ibu dan kakeknya.


Ravindra menatap Long An dengan dalam. Ia tahu, disaat mendesak seperti ini. Rava harus mempercayai Long An.


“Tuan, saya juga akan membantu tuan kecil menyelamatkan Nyonya Irene.” sahut Pak Albert yang sudah menyusul ke tempat dimana Rava dan Long An berada.


“Kami berdua juga akan membantu Long An. Jadi tuan tampan percayakan semuanya pada kami.” timpal Si kembar bersamaan.


Ravindra melihat satu persatu mereka semuanya. Lantas menganggukkan kepala.


 “Baiklah, jaga diri kalian,” ucap Ravindra menyetujui ide tersebut.


Setelah mengatakan itu. Rava menatap Pak Albert.


“Albert, jaga anak-anak. Jangan sampai terluka.” pesan Rava pada Pak Albert.


Pak Albert menganggukkan kepala. Setelah itu mereka berpencar untuk menyelesaikan tugasnya masing-masing.


**Flashback End**


Kini Long An bersama yang lainnya bergegas menuju sebuah pelabuhan. Di mana Irene berada.


Mama, tunggu aku. Aku akan menyelamatkanmu. Long An berkata dalam hatinya.


Di pinggir pelabuhan yang jauh dari keramaian. Terlihat banyak perahu kosong. Keadaannya sedikit gelap, hanya ada lampu temaram yang sinarnya tidak begitu terang. Beberapa gerombolan pria terlihat sedang menyeret seseorang. Orang yang diseret itu adalah Irene. Penampilannya terlihat berantakan dengan luka memar disebagian wajah maupun tubuhnya.


“Lepaskan aku!!!” teriak Irene sambil meronta.


Tetapi, semua usaha Irene sia-sia. Kedua tangannya dipegang erat oleh dua orang pria bertubuh kekar. Irene dipaksa masuk ke sebuah kapal. Di dalam kapal tersebut terlihat seorang wanita berambut kecoklatan. Senyum jahatnya terlihat dari balik cahaya lampu temaram. Wanita yang sedang tersenyum jahat tersebut tak lain adalah Rosalind Birgita. Tepat dihadapan Rosalind, dua orang yang menyeret Irene tadi berhenti. Seketika Irene menatap wanita yang sedang tersenyum dihadapannya tersebut.


“Apa kamu tidak puas membuatku menderita hah?!” tanya Irene. Terlihat gurat-gurat kemarahan di wajahnya.


Rosalind hanya terkekeh.


“Sejujurnya, aku akan puas. Jika kamu semakin menderita. Kamu tahu betul rencanaku bukan? Aku akan menjualmu ke luar negeri. Di sana, kamu akan diperdagangkan dan menjadi budak para pria hidung belang… Hahahaha!!! Membayangkan kamu menderita nantinya. Hatiku sungguh merasa puas.” tawa Rosalind terdengar membahana di malam yang sunyi itu.


“Pih!!!” Irene langsung meludah dan tepat mengenai wajah Rosalind.


Rosalind yang diludahi oleh Irene merasa sangat marah. Kemudian menampar Irene dengan sangat keras.

__ADS_1


Plak!!!!


Pipi Irene terasa panas sehabis terkena tamparan Rosalind. Irene hanya bisa menggigit bibir menahan rasa sakit di pipinya.


“Bawa dia masuk! Jangan sampai lepas!” perintah Rosalind pada anak buahnya.


Anak buahnya patuh dan menyeret Irene masuk ke bagian bawah perahu. Saat berjalan melewati Rosalind. Irene menatap dengan tatapan tajam.


“Ingatlah Ros, semua perbuatan jahat akan ada balasannya. Kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal!” Irene berkata dengan sangat lantang.


Rosalind tak menggubris perkataan Irene. Ia segera memerintahkan anak buahnya membawa Irene pergi dari hadapannya. Irene masih meronta dan berusaha melawan. Ia dibawa masuk ke bagian bawah kapal. Mengikat tangan dan kakinya supaya tidak bisa melarikan diri. Sedangkan Rosalind segera memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di sekitar perahu tersebut.


“Halangi siapapun yang hendak menyelamatkan wanita itu dan lakukan seperti yang sudah direncanakan. Apa kalian mengerti?!” perintah Rosalind pada anak buahnya.


“Kami mengerti Nona.” jawab anak buahnya serempak.


Tidak lama kemudian, Rosalind memasuki mobilnya. Ia tersenyum menyeriangi. Kali ini, apapun yang menjadi pilihan Ravindra. Tetap saja, pria itu akan merugi. Rosalind kemudian mengemudikan mobilnya menjauh dari pelabuhan. Menuju suatu tempat dan hendak membereskan satu orang lagi.


Sepeninggal Rosalind, Long An dan rombongannya datang ke pelabuhan. Mereka segera bergegas mencari keberadaan Irene. Sedangkan kapal yang hendak membawa Irene sebentar lagi akan berangkat. Kapal itu akan menyelundupkan Irene ke luar negeri dan menjual wanita malang tersebut.


Long An dan yang lainnya segera berlarian mencari keberadaan Irene. Pak Albert memerintahkan anak buahnya untuk berpencar. Mencari dimanapun Irene berada. Disaat Liam memberikan pilihan pada Rava. Ia hanya memberikan petunjuk pada Ravindra bahwa Irene berada disalah satu pelabuhan sebelah Utara. Tetapi tak memberikan petunjuk secara pasti di sebelah mana tepatnya.


“An, bagaimana mencari keberadaan mamamu?” tanya Meichan.


“Itu benar, pelabuhan ini cukup luas.” timpal Chanmei.


Kemudian Drone itu membubung tinggi ke angkasa. Long An melihat dari layar kamera yang terpasang di pengontrol Drone. Ia melihat setiap inci pelabuhan di sebelah Utara. Tak butuh waktu lama. Long An melihat beberapa pria berdiri di suatu titik. Seolah menjaga salah satu kapal. Meichan dan Chanmei terbelalak.


“I… itu?!! kamu menemukannya!” pekik Si kembar.


Tetapi Long An diam saja. Ia masih fokus memainkan Drone dan melihat kapal-kapal lainnya.


“An, apa yang kamu lakukan? Ayo bergegas menyelamatkan mamamu.” pinta Chanmei yang didukung dengan anggukan Meichan.


Long An sedikit berpikir sejenak. Kemudian, ia menatap Si kembar dan Pak Albert. Tatapan Si kecil Long An terlihat serius.


“Tuan kecil ada apa? kita harus segera bergerak.” pinta Pak Albert.


“Aku rasa kita harus berpencar.” jawab Long An.


“Berpencar?!” tanya Si kembar dan Pak Albert bersamaan.


“Aku merasa tidak semudah itu Paman Liam maupun Tante Rosalind menunjukkan keberadaan mama. Aku tidak ingin tertipu lagi. Jadi kita berbagi tugas, Si kembar dan Pak Albert memeriksa kapal yang sekitarnya dijaga oleh anak buah Tante Ros. Sedangkan aku, akan memeriksa satu kapal di sisi lain yang lampunya menyala. Berbeda dari kapal lain yang lampunya padam.” jawab Long An.


“Ja… jadi maksud Tuan Kecil?” tanya Pak Albert.


Long An menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Di sekitar sini hanya ada dua lampu kapal yang menyala. Sedangkan kapal-kapal lain lampunya tidak menyala. Satu kapal dijaga dan satu lagi tidak dijaga. Artinya ini hanyalah pengalihan. Jadi untuk menghemat waktu, kita harus berpencar dan memastikan semuanya.” pinta Long An.


“Kami mengerti.” jawab Si kembar dan Pak Albert bersamaan. Lantas mereka bergegas ke arah yang sudah ditentukan.


Di dalam kapal. Irene dijaga oleh satu orang pria bertubuh kekar. Ia menatap Irene dengan tatapan sinis. Orang itu sedang duduk bersantai sembari menyulut rokoknya. Irene berusaha menggeliat dan membuat suara. Si pria bertubuh kekar dan memiliki kumis tersebut hanya tersenyum mengejek Irene.


“Kenapa? Apa kamu ingin bicara?” tanya pria berkumis.


Irene hanya bisa mengeluarkan suara rintihan. Pria itu segera mendekat ke arah Irene. Lantas membuka lakban yang menutupi mulut Irene. Irene berusaha bernafas setelah lakban yang menempel di mulutnya dilepaskan.


“Apa wanita bernama Rosalind itu membayarmu sangat mahal? Hingga kamu tega melakukan hal seperti ini pada wanita yang tidak berdaya?” tanya Irene.


“Hahahaha!!! Itu benar sekali. Aku akan kaya setelah misi ini selesai.” jawab pria berkumis itu dengan tawa terbahak-bahak.


“Jika uang yang kamu inginkan. Maka sekarang juga aku akan memberikannya padamu. Jadi, tolong lepaskan aku.” pinta Irene memelas.


“Hahaha!!! Memangnya wanita yang menjadi tawanan sepertimu bagaimana akan memberikanku uang?”


Irene berpikir sejenak. Lalu, ia teringat liontin bunga Lotus pemberian Ravindra.


“Apa kamu melihat liontin bunga Lotus yang aku kenakan ini? harganya sangat mahal. Kamu dapat memilikinya.” jawab Irene meyakinkan Si pria berkumis.


Si pria berkumis mengernyitkan keningnya. Ia menatap dengan seksama liontin bunga Lotus tersebut. Memang terlihat mewah dan berkelas. Irene mencoba bersikap tenang. Sembari menggesekkan tali yang mengingat tangannya di bagian belakang, pada sebuah ujung kayu yang runcing. Irene mencoba membebaskan dirinya.


Si pria terlihat tertarik dengan liontin bunga Lotus milik Irene. Ia mendekat dan tangannya langsung menarik liontin bunga Lotus tersebut. Tepat di saat itu, Irene membenturkan kepalanya di kepala Si pria berkumis dengan keras.


Duak!!!


“Aough!!!” Si pria berkumis mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.


Sedangkan Irene yang ikatan talinya sudah lepas. Segera melepaskan tali yang mengikat di kakinya. Ia lantas bergegas menuju tangga untuk naik ke atas kapal. Namun, sayang sekali kakinya ditahan oleh Si pria berkumis. Irene berusaha keras melepaskan dirinya dari pria itu.


Di luar sana, Si kembar dan Pak Albert juga sedang berkelahi dengan anak buah Rosalind. Pertarungan sengit terjadi antara pengawal Ravindra maupun anak buah Rosalind. Mereka saling memukul ataupun menjatuhkan satu sama lain. Si kembar kelihatan kompak menghalau serangan lawan. Sedangkan Long An juga dihadang para pria lain yang diam-diam menjaga kapal satu lagi. Benar dugaan Long An. Irene memang disembunyikan di kapal satu lagi. An melompat ke sana kemari. Kemudian memberikan serangan balasan.


Tidak jauh dari sana, sebuah mobil terparkir. Rupanya mobil itu adalah mobil Ravindra yang sudah menyelesaikan urusannya dan segera menyusul Long An. Keduanya kemudian saling bahu membahu bertarung melawan anak buah Rosalind. Disaat Rava dan Long An sedang berkelahi. Tanpa mereka duga, kapal yang tepat berada di depannya tiba-tiba meledak.


Boom!


Duar!!


Ravindra yang mengetahui hal tersebut segera memeluk Long An. Melindungi anaknya dari ledakan kapal tersebut. Long An terbelalak menyaksikan kapal di depannya meledak dan terbakar.


“Mama….” kata Long An lirih.


“Mama!!!! Mama!!!” teriaknya kemudian, begitu menyayat hati. Menyaksikan kapal yang kemungkinan besar Irene berada di dalamnya. Kapal itu tiba-tiba meledak dan terbakar. Bagaimana kelanjutan nasib Irene?


 

__ADS_1


__ADS_2