Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 14


__ADS_3

...Aku Kembali...


Di sebuah paviliun dalam rumah. Dua orang tengah berbincang-bincang dengan penuh kebahagiaan. Diiringi suara gemericih air dan cipakan ekor ikan. Irene dan nenek Heera sedang mengobrol banyak hal. Sedangkan Long An, asyik bermain air di kolam yang dipenuhi banyak ikan kecil. Suara gelak tawa riang keluar dari mulut bocah genius itu. Irene dan nenek Heera hanya mengamati tingkah si bocah genius.


“Nenek, senang kamu kembali ke sini.” Nenek Heera membuka pembicaraan.


“Jika, dipikir-pikir seberapa jauh pun aku melarikan diri. Aku akan tetap kembali. Mungkin saja, ada hal yang harus aku selesaikan di sini. Makanya, takdir memintaku kembali.” Irene menjawab sambil tersenyum. Matanya menatap ke arah Long An yang sedang bermain air.


Nenek Heera tersenyum.


“Apa kamu berencana mencari orang itu?”


Irene yang mendengar pertanyaan nenek Heera. Segera menoleh dan menatap si nenek. Ia menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak berencana seperti itu. Aku hanya ingin, Long An memiliki masa depan yang cerah. Bisa mewujudkan mimpinya menjadi atlet karate yang melegenda. Setidaknya, mimpi yang tidak bisa aku wujudkan. Bisa diwujudkan olehnya.”


Nenek Heera tersenyum mendengar jawaban Irene.


“Tetapi apa kamu yakin. Anakmu tidak hanya menginginkan mimpinya terwujud?” Tanya nenek Heera.


Sesaat setelah mendengar pertanyaan nenek Heera. Irene merasa tercekat. Ia kembali teringat akan gambar yang pernah digambar oleh Long An. Gambar seorang pria tanpa wajah. Gambar yang belum diselesaikan oleh putra kecilnya. Irene yang berusaha mengelak seperti apapun. Jauh dalam hati kecilnya. Ia menyadari bahwa Long An, juga menginginkan bertemu dengan seseorang yang meneteskan darah padanya. Irene hanya bisa menghela nafas dalam dan menatap langit yang terlihat begitu tinggi. Begitu jauh dan luas tanpa batas.


Angin senja berhembus perlahan. Irene dan Long An yang sudah berkunjung di rumah nenek Heera. Kini meneruskan perjalanan. Perjalanan ke sebuah makam. Makam yang terletak dipinggiran Ibu Kota tersebut terlihat bersih. Sepertinya nenek Heera menepati janjinya untuk merawat makam ayahnya. Sewaktu dulu Irene pergi ke Amerika. Long An yang melihat makam kakeknya, segera duduk di samping makam. Meletakkan bunga teratai yang ia bawa dan berdoa dalam hatinya. Berdoa agar kakeknya diberi tempat yang indah di surga. Irene hanya diam terpaku menatap makam ayahnya.


Ayah, aku pulang. Kata Irene dalam hatinya.


Kini, sebuah kilasan masa lalu. Menari-nari dipelupuk matanya. Irene yang kala itu berumur 20 tahunan awal. Terlihat berjalan menyusuri trotoar. Melangkah dengan perasaan kesal sekaligus sedih. Kesempatan emasnya lagi-lagi harus ia lepaskan. Irene berhenti sejenak dan menatap langit yang begitu luas tanpa batas. Langit terlihat cerah kala itu, dengan awan putih yang berarak. Namun, semua itu berbanding terbalik dengan nasib yang harus Irene jalani. Nafas yang ia ambil terdengar berat. Hanya ada ******* berat yang terdengar dari bibir mungilnya.

__ADS_1


“Langit… kamu begitu cerah dan ceria hari ini. Tak bisakah sedikit saja berbagi keceriaanmu padaku?” Tanya Irene seolah-olah berbicara dengan langit.


Irene berusaha menahan air matanya yang hendak keluar. Ia berusaha menahan tangisnya. Jangan sampai orang lain yang berlalu-lalang melihatnya. Kemudian, dengan satu hembusan nafas. Irene berusaha berjalan tegak. Menaiki sebuah bus menuju suatu tempat. Tempat satu-satunya tujuan ketika Irene merasa sedih dan kesepian. Tempat yang Irene tuju tak lain adalah makam ayahnya. Ayahnya meninggal saat usia Irene menginjak 12 tahun.


Kini, Irene hanya bisa terduduk di makam ayahnya. Memeluk nisan yang bertuliskan Deon Maxzella. Irene tak dapat lagi, menahan air matanya. Air mata terlihat mengucur deras membasahi pipi Irene. Isakan tangisnya terdengar menyayat hati.


“Ayah… kenapa… kenapa ayah pergi dengan sangat cepat? Apakah di sana ayah melihat bagaimana keadaanku di sini? Ibu membuang dan meninggalkanku begitu saja. Ayah …. aku sungguh tidak sanggup bertahan lagi. Ayah…. Aku merindukanmu…. Aku sangat kesepian di sini.” Kata Irene di tengah isak tangisnya yang memilukan. Sungguh terdengar pilu dan menyayat hati.


Irene datang terlambat ke tempat kerja, bukan tanpa alasan. Ia selalu memegang teguh pesan ayahnya. Irene menanamkan setiap apa yang ayahnya amanahkan padanya.


Pagi ini, Irene bangun awal dan mempersiapkan segalanya dengan baik. Ia mengenakan atasan warna putih dan bawahan rok berwarna hitam. Irene sedikit sedih memandangi pakaiannya yang berwarna putih sudah lusuh dan usang. Tetapi, ia segera menyemangati dirinya untuk tidak bersedih dengan hal sepele. Ini adalah kesempatan dia mendapatkan pekerjaan yang layak dan di tempat yang bagus.


“Rene, ini adalah kesempatan kamu. Jadi ayo bersemangat!” Kata Irene menyemangati dirinya sendiri.


Setelah selesai bersiap-siap. Irene segera bergegas menuju tempat wawancara. Ia sengaja berangkat awal agar tidak terlambat. Pagi itu, Irene memilih naik ojek dan merogoh koceknya agak dalam. Supaya datang ke tempat wawancara dengan cepat. Tetapi, saat berkendara beberapa saat. Mendadak terjadi kemacetan. Kondisi jalan raya sedang macet total karena adanya penutupun ruas jalan. Banyak mobil yang terjebak macet. Sedangkan Irene dan ojeknya bisa sedikit-sedikit melewati celah mobil untuk bisa bergerak. Meskipun harus perlahan-lahan. Namun, tiba-tiba seorang pria paruh baya mencegatnya.


Pak Ojek yang membonceng Irene segera menyahut.


“Tetapi, saya sedang membawa penumpang Pak.”


Irene melihat bapak-bapak yang mencegat ojeknya sedang mengalami kesulitan. Mobilnya terjebak macet dan asma majikannya kambuh. Jadi, harus segera dibawa ke rumah sakit. Tanpa berfikir panjang lagi. Irene turun dari motor.


“Pak, tidak apa-apa. Bapak antarkan terlebih dahulu yang sedang sakit.” Kata Irene dengan suka rela pada Bapak Ojek.


Lantas Irene dan bapak yang mencegatnya tadi. Segera mengeluarkan seorang nenek yang nafasnya tersengal-sengal. Kelihatan susah bernafas.


“Nenek, mari saya bantu.” Kata Irene sembari memapah nenek tersebut naik motor.

__ADS_1


“Pegangan yang erat nek.” Lanjut Irene.


Si nenek hanya bisa mengangguk dan nafasnya masih tersengal-sengal. Sembari memegangi dadanya.


“Pak, tolong antarkan nenek ini dahulu ya.” Kata Irene.


Bapak Ojek mengangguk dan segera memacu kendaraannya perlahan menerobos jalanan.


“Hati-hati Pak!” Teriak Irene penuh kelegaan karena bisa membantu seorang nenek yang sedang kesulitan. Dikemudian hari, nenek yang ditolong oleh Irene tadi adalah nenek Heera.


Kemudian, Irene melihat jam yang melingkar ditangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.45 pagi. Kurang 15 menit lagi dari waktu yang dijadwalkan wawancara. Jika Irene menunggu Bapak Ojeknya jelas tidak mungkin. Maka, mau tidak mau Irene berinisiatif berlari menuju tempat wawancara yang jaraknya cukup lumayan. Itulah kenapa Irene bisa terlambat datang ke tempat wawancara.


Kilas balik saat Irene datang terlambat ke wawancara kerjapun berakhir.


Kini, Irene terlihat masih menangis tersedu-sedu di makam ayahnya. Sebuah kilasan sewaktu ia kecil menari-nari dalam benaknya.


“Ayah, kenapa tadi ayah memberikan uang pada ibu-ibu itu? Bukankah kita juga membutuhkan uang?” Tanya Irene kecil pada ayahnya.


Si Ayah tersenyum.


“Ayah masih kuat bekerja dan bisa mencari uang lagi. Sedangkan ibu-ibu itu sudah tua dan tidak lagi kuat bekerja. Jadi, tidak ada salahnya kita menolong orang yang membutuhkan.”


“Tetapi kita juga membutuhkan uang.” Kata Irene polos.


Lagi-lagi ayah Irene tersenyum hangat.


“Menolong seseorang tidak akan membuat kita rugi. Itu akan menjadi pembeda kualitas pribadi seseorang. Jika kamu sudah dewasa kelak. Ayah berharap kamu akan seperti bunga teratai. Meskipun tumbuh di lumpur ia bisa berbunga dengan indah. Ayah yakin, anak ayah memiliki kebaikan hati yang luar biasa. Jadilah seseorang dengan kualitas pribadi yang baik layaknya bunga teratai. Kebaikan sekecil apapun. Tidak akan membuatmu merugi.” Kata si ayah sambil mengelus kepala putri tunggalnya tersebut. Irene kecil tersenyum mendengar pesan ayahnya. Diam-diam dia menyimpan semua pesan itu dalam hati dan pikirannya.

__ADS_1


Irene yang sudah dewasa. Terus mengingat pesan ayahnya. Bahwa kebaikan sekecil apapun tidak akan membuat kita rugi. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Menjalani roda kehidupan yang semakin terjal harus ia lewati. Tetapi, apakah nasib Irene akan terus tertimpa kemalangan? Tanpa Irene duga, goresan takdir yang akan ia jalani telah berubah perlahan-lahan. Takdir apakah yang akan Irene jalani selanjutnya?


__ADS_2