
... Makan Malam Bersama...
Kenangan yang sudah berlalu tak akan bisa kembali terulang. Ravindra akan selalu menyimpan setiap kenangan indah saat berlibur bersama Irene dan Long An sewaktu di New Caledonia tempo hari. Menyimpannya dalam hati agar bisa selalu menghangatkan hatinya. Rava ingin seperti Irene yang hatinya selalu hangat berkat kenangannya bersama mendiang Sang ayah. Ravindra juga akan melakukan hal yang sama, ingin hatinya hangat dengan kenangan indah yang telah ia buat bersama keluarga kecilnya. Ravindra teringat saat bersama Irene di New Caledonia.
“Boleh aku menanyakan sesuatu?” tanya Ravindra.
“Tanyakanlah.” jawab Irene.
“Apa kamu menerima hatiku, karena aku adalah ayahnya Long An?”
Irene tersenyum dan menggeleng perlahan.
“Aku menerima hatimu bukan karena kamu ayahnya atau kejadian 10 tahun yang lalu. Tetapi, karena …” jawab Irene sembari menunjuk dada Ravindra.
“Karena hatimu dan pribadimu. Aku ingin menghangatkan hati seorang pria baik yang membeku. Long An, juga menginginkan hal yang sama. Bisa mencairkan kebekuan dalam hatimu.” lanjut Irene diiringi senyum hangat.
Ravindra merasa terharu dengan ucapan Irene. Hal yang tak pernah ia dapatkan selama 32 tahun. Ada seseorang yang ingin menghangatkan hatinya. Mau menerima dia seutuhnya bukan karena Rava memiliki sesuatu. Rava sangat bahagia, ia tidak salah mempercayakan hatinya untuk dijaga oleh Irene dan Si kecil Long An.
Kini, Ravindra dengan yakin akan melangkah lebih jauh lagi bersama keluarga kecilnya. Ia tersenyum sendirian. Sambil menunggu keluarga kecilnya berganti pakaian di sebuah Butik.
Flashback
“Hari ini, ikutlah denganku.” kata Rava pada Irene dan Long An.
“Papa rambut landak, kita akan kemana?” tanya Long An yang sudah bisa memanggil Ravindra dengan panggilan Papa.
“Bertemu kakekmu.” jawab Rava.
Mendengar jawaban Ravindra, seketika Irene terpengarah.
“A.. apa maksudmu? Kakek?” tanya Irene.
“Ya, maksudku bertemu dengan ayahku. Tidak perlu menyembunyikan ini semua. Mari hidup bersama dalam satu keluarga.” jawab Ravindra dengan tulus.
Irene dan Long An seketika tercekat mendengar jawaban Ravindra yang ingin hidup bersama mereka.
“Papa…” kata Long An dengan mata berkaca-kaca. Hal yang dahulu bagi Si kecil Long An hanya ada dalam mimpi. Sekarang akan berubah menjadi kenyataan.
Irene juga menatap Ravindra dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan berterimakasih. Aku lah yang harus berterimakasih. Kalian sudah hadir dalam hidupku. Membuat kebekuanku menjadi sirna. Tergantikan dengan rasa hangat yang membawa kebahagiaan.” kata Ravindra dengan senyum yang sangat tulus.
“Papa rambut landak!” panggil Long An sembari memeluk Ravindra dengan erat.
“Aku ingin berlatih tanding setiap hari dengan papa. Ingin bermain sepuasnya dengan papa rambut landak.” kata Long An penuh keceriaan.
Ravindra tertawa dengan bahagia, “mari kita lakukan semua bersama.”
Irene yang tadinya meneteskan air mata segera menyeka kembali. Lantas memberikan senyuman hangat penuh cinta untuk Ravindra.
Flashback End
__ADS_1
Ravindra yang sudah siap mengenakan pakaian formal. Menunggu Long An dan Irene bersiap-siap. Setelah menunggu beberapa saat. Long An yang keluar lebih dahulu. Kepalanya melongok dari balik tirai ruang ganti.
“Papa, bagaimana penampilanku?” tanya An dengan wajah berseri-seri.
Long An keluar dan menunjukkan penampilannya. Ia mengenakan pakaian tuxedo dengan pita mungil dikerah bajunya. Atasannya berupa jas lengan panjang. Tetapi, celananya pendek. Kelihatan sangat cute dan menggemaskan. Apalagi rambut berdirinya sangat mirip dengan Ravindra. Seolah An adalah fotocopyan dari Ravindra. Rava yang melihat putranya mirip dengannya langsung tersenyum.
“Anak papa memang tampan.” puji Ravindra.
Long An langsung tersenyum lebar. Hingga tak berselang lama. Pelayan lain membukakan tirai di mana Irene telah selesai dirias. Saat tirai dibuka. Irene berdiri begitu anggun. Meski ia tak begitu tinggi. Namun, highheels yang cukup tinggi menunjang tinggi badannya. Irene mengenakan gaun hitam panjang dengan bagian punggung yang terlihat jelas. Menampilkan lekuk tubuh indah yang putih mulus. Riasannya tak terlalu tebal karena aslinya memang Irene sudah cantik secara alami. Mewarisi kecantikan ibunya. Irene kelihatan sangat cantik dan elegan saat mengenakan gaun yang dipilihkan oleh Ravindra.
Melihat penampilan Irene yang sangat berbeda. Membuat Ravindra terdiam dengan wajah memerah. Ia menatap ke arah Irene tanpa berkedip. Si kecil Long An juga ikutan melongo. Tak menyangka ibunya secantik ini. Jika berdandan sedikit mewah. Irene yang ditatap Ravindra seperti itu, merasa malu. Wajahnya juga ikutan memerah. Long An melirik Rava yang masih tak berkedip melihat penampilan Irene.
“Papa!! papa mimisan ya? karena melihat kecantikan mama?!” pekik Long An.
Ravindra terkaget dan langsung mengusap hidungnya. Tetapi tak ada apapun.
“Tapi Long An bohooong hihi.” goda Long An.
“Dasar anak kecil. Kemarilah.” kata Ravindra sembari menggelitiki Long An. An tertawa lepas dan sangat bahagia. Irene juga ikut tertawa menyaksikan kebahagiaan kecil keluarga mereka.
Tepat jam 7 malam. Ravindra dan keluarga kecilnya sudah berada di restaurant yang dipesan secara khusus dan privat. Tuan Marvin dan Liam rupanya sudah menunggu. Ravindra tidak hanya mengundang ayahnya. Namun juga Liam. Bagaimanapun juga, Liam tetaplah saudaranya.
“Kamu sudah datang?” tanya Tuan Marvin ketika melihat Ravindra masuk ke dalam ruang makan.
“Ya.” jawab Rava pendek.
“Saudaraku, ini tidak seperti gayamu biasanya. Kita tidak pernah makan malam sekeluarga. Kenapa tiba-tiba seperti ini?” tanya Liam sembari menyunggingkan senyum.
“Apa maksudmu?” tanya Tuan Marvin dari tempat duduknya.
“Benar, apa maksudmu?” Liam ikut bertanya. Ia merasa penasaran.
“Masuklah.” kata Ravindra.
Tidak lama kemudian, Irene yang menggandeng tangan Long An masuk ke dalam ruangan. Berjalan dengan anggun dan berdiri tepat di samping Ravindra. Sedang Long An berdiri di tengah keduanya.
Tuan Marvin dan Liam terkejut dengan kedatangan Irene serta Long An yang mendadak seperti ini.
“Apa maksudnya ini semua?” tanya Tuan Marvin.
“Benar, kenapa bocah dan wanita ini berada di sini?” tanya Liam dengan sinis.
“Jangan memanggil bocah atau wanita ini. Panggillah dengan benar, karena dia adalah wanitaku sekarang.” Jawab Ravindra dengan tatapan tajam pada Liam.
Liam langsung mendecih.
“Wanitamu?! Sejak kapan?” tanya Liam sinis.
“Maafkan aku mendadak seperti ini. 10 tahun yang lalu, aku telah berbuat sesuatu pada seorang gadis. Hingga membuatnya menderita karena mengandung darah dagingku. Kini, mereka di sini bersamaku. Aku bukan hanya sekedar ingin bertanggungjawab. Tetapi yang lebih utama. Dua orang ini telah mengubah arah hidupku. Menghangatkan hatiku yang membeku. Membuat diriku merasakan artinya kehangatan sebuah keluarga. Aku ingin mereka menjadi bagian keluarga ini. Menyandang nama Damariswara.” jawab Ravindra dengan tegas.
Liam yang mendengar hal tersebut. Merasa kesal, ia tidak menyangka Rava mengambil langkah secepat ini. Jika sampai ayahnya menerima keberadaan Irene dan Log An. Tentu akan semakin membahayakan posisinya. Liam menatap tak suka dan langsung menggebrak meja.
__ADS_1
Bruak!
“Apa kamu tidak salah?! Wanita itu, apa kamu yakin dia wanita baik-baik?” tanya Liam sembari menunjuk Irene. Long An langsung bersiaga di depan mamanya. Menatap Liam dengan tatapan tak suka.
Ravindra langsung menatap tajam pada Liam.
“Jika sekali lagi, kamu mengatakan hal buruk tentang wanitaku atau menunjuk dengan tatapan rendah seperti itu. Aku bersumpah akan mematahkan jarimu. Menutup mulutmu selamanya.” kata Ravindra tajam.
“Kau!!!” teriak Liam dengan sangat marah.
“Hentikan!” kata Tuan Marvin yang sedari tadi duduk dan mengamati.
Di sisi lain, Irene merasa bersalah. Membuat situasinya semakin rumit dalam keluarga ini.
“Ayah, apa tidak melihat. Anak kesayanganmu itu. Ravindra Damariswara yang tersayang berbuat seenak hatinya pada saudaranya sendiri.” kata Liam dengan nada penuh kekesalan.
“Diamlah Liam. Ini memang sangat mendadak. Aku tidak bisa memikirkan apapun.” kata Tuan Marvin. Liam terlihat mendengus kesal dan bergegas meninggalkan tempat itu dengan tatapan tidak suka.
Saat Liam sudah pergi. Tuan Marvin menghela nafas dalam.
“Ini sungguh sangat mendadak. Untuk saat ini batalkan saja makan malamnya. Kamu jelaskan pada ayah bagaimana detail ceritanya.” kata Tuan Marvin, lantas berdiri.
Tidak lama berselang, Pak Reno assisten Tuan Marvin masuk dan mendampingi tuannya keluar ruangan.
“Maafkan saya atas kejadian ini.” kata Irene sembari membungkuk dalam merasa tak enak dengan kekacauan ini.
“Bukan salahmu. Hanya waktunya tak tepat.” kata Tuan Marvin tanpa menatap Irene. Lantas bergegas pergi bersama Pak Reno.
Irene terlihat sedih. Begitu juga dengan Long An.
“Apa kakek tidak menerimaku dan mama?” tanya An pada Ravindra.
Rava mengelus kepala Long An perlahan.
“Bukan begitu, kakekmu hanya butuh waktu. Jadi, jangan ambil pusing. Kita makan malam sekarang. Jangan bersedih, yang terpenting sekarang. Papa memiliki putra yang menggemaskan dan wanita aneh yang pernah menendangku dengan keras.” hibur Ravindra.
Long An langsung tersenyum lebar.
“An mengerti, aku akan membantu papa membujuk kakek.”
Ravindra tersenyum dan mengelus kepala Long An. Lalu menatap Irene yang kelihatan sedih.
“A…”
“Hentikan, jangan minta maaf. Ini bukan salahmu.” sahut Ravindra yang sepertinya mengetahui apa yang akan Irene katakan.
“Sebaiknya kita makan bersama sekarang. Aku tidak pernah merasa selapar ini.” kata Rava sembari duduk di kursi.
Long An menatap mamanya yang sedang bersedih. Kemudian menggenggam tangan mamanya dengan erat.
“Mama, ini adalah impian Long An sejak dahulu. Kita bertiga bisa bersama seperti ini. Tolong jangan melewatkan kebahagiaan ini. Mari kita berjuang bersama.” kata Long An dengan senyum lebar. Memancarkan kehangatan.
__ADS_1
Membuat Irene terpengarah dengan sikap anaknya. Meski An masih kecil. Tetapi ia bisa bersikap dewasa. Irene tak ingin merusak kebahagiaan Long An. Sedetik kemudian ia tersenyum dan duduk dekat Ravindra. An tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Ravindra. Kali ini keluarga kecil Damariswara akan berjuang bersama. Tetapi untuk itu tak akan mudah. Masih ada Rosalind dan Liam yang akan menjegal langkah keluarga kecil ini.