Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 58


__ADS_3

... Masa Lalu Nyonya Kania...


Masa lalu yang masih menyisakan pertanyaan, akan terus kembali bermunculan di masa depan. Begitu juga yang sedang dialami oleh Irene. Irene bertemu dengan ibu kandung yang telah meninggalkannya begitu saja di panti asuhan. Nyonya Kania, wanita berusia 45 tahun tersebut tega meninggalkan Irene sendirian. Ia adalah wanita yang ambisius dan sebenarnya adalah seorang atlet panahan. Sewaktu Nyonya Kania muda, ia mirip seperti Irene. Sangat cantik dan elegan, memiliki bakat yang bagus dibidang panahan. Ia sering mendapatkan juara. Jadi, pantas saja jika Irene juga memiliki kecantikan dan bakat dalam bidang panahan. Mewarisi dari ibundanya.


Di masa muda Nyonya Kania, ia menjadi primadona dikalangan kaum adam. Berkat kecantikan dan bakatnya. Kata pepatah masa muda adalah masa penuh gelora cinta. Saat itu, Nyonya Kania muda jatuh hati pada seorang pria sederhana. Pria yang kelak menjadi suami sekaligus ayah dari Irene. Meski usia Nyonya Kania masih tergolong muda untuk menikah, ia tetap kelihatan bahagia bersama suaminya. Lantas setahun kemudian, ia melahirkan seorang putri yang cantik jelita dan diberi nama Irene Maxzella.


Di awal pernikahan semua begitu indah. Namun, Nyonya Kania yang masih muda dan penuh cita-cita ingin kembali merasakan atmosfer sebuah pertandingan. Ingin sekali lagi dipuja dan dielu-elukan namanya seperti dahulu kala sebelum memilih menikah. Nyonya Kania yang kala itu masih berusia 19 tahun. Mulai disibukkan kembali dengan mengikuti berbagai pertandingan panahan. Bakatnya cukup mumpuni ditunjang dengan wajahnya yang cantik. Membuat namanya kian meroket. Tetapi sayangnya, hal itu berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangganya.


Rumah tangganya mulai diterpa badai. Nyonya Kania muda sering bertengkar dengan suaminya yang merupakan ayah Irene. Bahkan Nyonya Kania sering tidak pulang ke rumah. Sangat sibuk dengan berbagai macam pertandingan dan latihan. Sehingga abai pada suami dan putri semata wayangnya. Irene kecil pada akhirnya jarang sekali merasakan kehangatan sosok ibunya. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama ayahnya. Ayah yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Sosok seorang yang penuh kasih sayang, penyabar dan begitu kuat menghadapi cobaan.


Irene begitu kagum dengan sosok ayahnya. Di sisi lain, Irene juga sangat mengagumi bagaimana kehebatan ibunya dalam memainkan busur. Irene kecil yang berusia 5 tahun sering menonton pertandingan panahan ibunya. Hal itulah yang menginsiprasi Irene untuk menjadi atlet panahan. Ia ingin seperti ibunya.


Semenjak Irene berusia 5 tahun, ia sudah mulai memegang busur. Berlatih dengan tekun dan selalu mendapat motivasi dari ayahnya. Suatu ketika, Irene yang sudah menginjak usia delapan tahun. Bakatnya dalam bidang panahan sudah mulai terlihat kentara. Saat itu, Irene ingin sesekali berlatih panahan dengan ibunya.


“Ibu, aku telah berhasil memanah sasaran hingga mendapatkan point penuh. Ayo Bu, kita berlatih bersama.” pinta Irene waktu itu.


“Lain waktu saja ya. Ibu sangat lelah sekarang.” jawab Nyonya Kania bergegas masuk ke kamarnya.


“Bu, tetapi ini waktunya kita berlatih bersama. Kenapa ibu tidak meluangkan waktu untuk berlatih bersamaku?” rengek Irene.


“Ibu sedang lelah, berlatihlah bersama ayahmu.” jawab Nyonya Kania yang tidak begitu memperdulikan Irene.


“Tapi Bu, ayolah sekali ini saja. Ayo Bu.” lagi-lagi Irene merengek.


Nyonya Kania yang kelelahan dengan semua jadwal latihan maupun pertandingan. Merasa sangat terganggu dengan apa yang Irene lakukan.


“Rene!Hentikan!” bentak ibunya keras.


Seketika Irene berjingkat dibentak oleh ibunya. Matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


“Ibu sangat lelah. Tidak bisakah kamu mengerti sedikit saja? Berikan waktu ibumu untuk beristirahat. Jangan mengganggu ibu lagi!” teriak Nyonya Kania begitu keras.


Lantas meninggalkan Irene begitu saja dan masuk ke kamarnya. Irene yang ditinggalkan oleh ibunya mulai terisak. Ia hanya ingin sekali saja berlatih dengan ibunya. Setidaknya ibunya mau mengajari meski tidak harus setiap hari. Selama ini, Irene hanya belajar panahan dengan melihat pertandingan ibunya di siaran TV. Sedangkan ibunya tak pernah sekalipun mengajari Irene.


Disaat Irene mulai terisak. Sebuah tangan yang penuh kehangatan mengelus kepalanya dengan lembut.


“Ayah akan menemanimu berlatih. Putri ayah tidak boleh cengeng seperti ini hemm.” kata seseorang yang tak lain adalah ayah Irene.


Irene terlihat terisak dan mengusap air matanya perlahan.


“Ayo berlatih bersama ayah. Setelah itu, kita akan melihat bunga lotus yang sedang bermekaran.” ajak si ayah dengan senyum hangat.


Sosok ayah Irene begitu lembut dan penuh perhatian. Sangat sayang pada putrinya dan sosok suami yang penyabar.


“Apakah bunga lotusnya sudah mekar?” tanya Irene kecil sembari mengusap air matanya hingga kering.


Ayah Irene mengangguk dengan yakin. Lalu melemparkan senyum penuh kehangatan pada putri tunggalnya tersebut. Membuat kesedihan yang Irene rasakan sirna sudah. Tergantikan dengan kebahagiaan bersama ayahnya. Lantas keduanya berlatih bersama. Meski ayah Irene bukan seorang atlet. Namun, ia selalu memberikan yang terbaik untuk putrinya. Mengikutkan Irene kursus panahan. Selalu setia mendampingi latihan putrinya, karena Sang ayah melihat bakat luar biasa dari putrinya tersebut.


“Hemm… kenapa aku harus seperti bunga lotus?” tanya Irene polos.


Ayah Irene tersenyum penuh kasih sayang sembari membelai kepala putrinya.


“Bunga lotus adalah bunga yang tumbuh di lumpur. Namun, ia bisa hidup dengan baik dan tumbuh begitu cantik.”


“Hemm… aku tidak mengerti?” tanya Irene kebingungan dengan maksud ayahnya.


Si ayah lagi-lagi tersenyum.


“Ketika putri ayah sudah dewasa kelak. Pasti kamu akan mengetahui maksud ayah.”

__ADS_1


Meski Irene kecil masih belum memahami. Namun, melihat senyum hangat dari ayahnya. Ia juga ikut tersenyum dan merasa bahagia memiliki sosok seperti ayahnya. Tetapi, kebahagiaan itu kembali terenggut dari tangan Irene. Ayahnya dinyatakan meninggal dunia usai mengalami kecelakaan. Dunia Irene seolah runtuh dan tak lagi berwarna seperti dulu. Bahkan seusai ayah Irene meninggal. Nyonya Kania dengan teganya meninggalkan Irene begitu saja di panti asuhan karena mengejar mimpinya.


“Ini adalah kesempatanmu untuk berlatih dan berlaga di luar negeri. Kamu harus bisa fokus meraih tempat tertinggi.” kata pelatih Nyonya Kania.


Nyonya Kania merasa bimbang dengan hal ini, karena ia masih memikirkan mengenai Irene.


“Tetapi apakah tidak bisa, aku membawa putriku?” tanya Nyonya Kania.


Si pelatih menggelengkan kepalanya.


“Kita di sini sedang berlaga. Bukannya mengasuh anak-anak. Lagipula, ini adalah peluang emasmu dekat dengan Tuan Birgita. Dia adalah sponsor besar untukmu. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang tidak datang dua kali. Kamu pun juga mendapatkan tempat tersendiri di hati Tuan Birgita semenjak ia kehilangan istrinya dan kamu melatih putrinya bermain panahan. Rosalind Birgita juga memiliki potensi yang baik. Pikirkanlah baik-baik demi masa depanmu.” kata Si pelatih.


Nyonya Kania hanya bisa diam sejenak. Tetapi, tidak butuh lama untuk mengambil keputusan. Ia tidak akan ragu lagi. Demi menggapai impian yang ia idamkan selama ini. Dahulu ia telah salah dengan menuruti jiwa muda dan menikah saat usianya masih sangat belia. Tetapi kini, ada kesempatan yang sangat terbuka lebar untuknya. Untuk meraih sukses yang gemilang menjadi seorang atlet panahan. Ia tidak akan melepaskan kesempatan ini. Maka dari itu, Nyonya Kania mengambil keputusan menitipkan Irene ke panti asuhan. Tanpa rasa belas kasih seorang ibu. Ia membiarkan Irene hidup dan terpuruk sendirian.


Kini, penyesalan hanya datang di akhir. Tiada yang namanya penyelasan di awal. Penyesalan yang membuat Nyonya Kania menjadi pendosa karena telah meninggalkan putri kandungnya sendiri. Menyia-nyiakan darah dagingnya. Memilih menikmati gemerlap dunia. Mengejar cita-cita dan menikah dengan ayah Rosalind Birgita. Sungguh ironis memang. Ia merawat dan menyayangi anak orang lain dan malah meninggalkan anak kandungnya sendiri.


Hal tersebut tak ayal diketahui oleh Rosalind Birgita. Ia begitu marah pada Nyonya Kania.


“Ros! Ros!” maafkan mama tidak jujur mengenai keberadaan Irene.” kata Nyonya Kania.


Rosalind menghempaskan tangan ibu tirinya tersebut dengan kasar.


“Jika aku tahu kamu adalah ibu dari wanita yang aku benci tersebut. Aku tidak akan mau memanggilmu mama!” teriak Rosalind dengan keras.


“Ros… Ros.. mama mohon dengarkan mama.” pinta Nyonya Kania dengan memelas dan penuh linang air mata.


“Kenapa? Kenapa diseluruh dunia ini? kamu adalah ibu kandung Irene Maxzella hah?! Aku sangat membenci wanita itu?! wanita miskin yang berusaha bersaing dan merebut posisiku.” Wajah Rosalind dipenuhi amarah. Ia tak menyangka bahwa ibu yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandungnya. Ternyata adalah ibu dari wanita yang sangat ia benci.


“Ros… Ros… kenapa kamu jadi seperti ini. Mama tahu mama salah dengan menyembunyikan keberadaan Irene.” kata Nyonya Kania.

__ADS_1


Tetapi Rosalind tak mau mendengarkan dan terus melangkah pergi. Mengabaikan Nyonya Kania yang menangis sendirian. Merasakan penyesalan yang sangat dalam di hatinya. Penyesalan yang akan menghantui setiap langkahnya.


__ADS_2