Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 85


__ADS_3

...Berpencar...


 


Jalanan pada hari itu sangat ramai. Banyak kendaraan berlalu lalang. Disaat bersamaan Rava terlihat mengemudikan mobilnya dengan kencang. Menyalip beberapa kendaraan lainnya. Ia bergegas harus kembali ke rumah karena ayahnya dalam bahaya. Sedangkan Long An yang akan menyelamatkan ibunya dibantu oleh Si kembar dan Pak Albert.


Disaat yang sama, di kediaman keluarga Damariswara. Liam menerobos masuk bersama beberapa anak buahnya. Pak Reno selaku Assisten Tuan Marvin terluka karena menghalau terjangan anak buah Liam. Tak ketinggalan, Amao menjaga Tuannya agar tidak terluka.


“Guk! Guk!” Amao terdengar menyalak keras.


Anjing itu menggonggong dan menggigit siapa saja yang berani mengganggu tuannya. Tuan Marvin yang dahulu dijuluki Raja Karate berusaha bertahan dari pengeroyokan anak buah Liam. Meski tergolong sudah tua, ia tak bisa diremehkan. Tenaganya masih kuat dan tidak mudah dikalahkan. Beberapa anak buah Liam berhasil ditumbangkan. Namun, Liam yang dibantu oleh Rosalind untuk merancang segala rencana licik. Dapat menduga hal tersebut. Bahwa ayahnya tidak akan mudah dikalahkan.


Maka saat Tuan Marvin dikeroyok. Liam langsung melemparkan gas pelemah otot. Asap mulai mengepul memenuhi ruangan di mana Tuan Marvin sedang dikeroyok. Anak buah Liam sudah bersiaga dengan menggunakan masker pengaman. Supaya tidak menghirup asap pelemah otot. Tuan Marvin yang menghirup asap pelemah otot mulai terhuyung. Ia mulai limbung dan kehilangan keseimbangannya. Amao juga tak luput  terkena asap pelemah otot. Suara gonggongan Amao pun melemah.


“Kaing… kaing…” suara Amao terdengar lirih.


Liam dengan senyum jahat, mengambil salah satu tongkat dari anak buahnya. Tanpa ampun langsung memukul tubuh Amao dengan keras.


Bak!!


Amao sedikit terpental. Tubuhnya terluka dan tak berdaya.


“Amao!!!” teriak Tuan Marvin yang melihat anjing kesayangannya dipukul dengan keras.


Tetapi ia juga tak berdaya. Asap pelemah otot telah melemahkan tenaganya. Ototnya lunglai tak berdaya. Tuan Marvin hanya bisa terduduk sembari terbatuk berulang kali. Tepat dihadapannya Liam tersenyum menyeriangi. Ia tertawa jahat melihat ayahnya tak berdaya seperti ini. Lalu tanpa ampun, Liam langsung mengayunkan tongkatnya.


Bak!!!


Tongkat pemukul yang diayunkan Liam tepat mengenai kepala Tuan Marvin hingga berdarah. Amao yang menyaksikan tuannya terluka. Berusaha bangun, tetapi anjing itu juga tak berdaya. Tuan Marvin merintih kesakitan sembari memegangi kepalanya yang berdarah. Liam tersenyum penuh kemenangan. Lantas, anak buah Liam menyiapkan sebuah kursi supaya Liam bisa duduk sembari menatap ayahnya yang tak berdaya.


“Hahaha!!! Benar-benar payah, seorang legenda karate benar-benar lemah tak berdaya seperti ini ckckck.” ejek Liam pada ayahnya.


Tuan Marvin berusaha mengatur nafasnya. Ia menatap ke arah putranya tersebut.


“Ke… ke… kenapa ka.. kamu melakukan ini?” tanya Tuan Marvin yang tidak mengerti dengan tindakan Liam.


Liam terkekeh sembari menatap pada ayahnya.


“Kenapa?! Ayah tanya kenapa?!” tanya balik Liam sembari menginjak dada ayahnya. Tuan Marvin kelihatan kesakitan. Ia merintih ketika Liam menginjak dadanya.


“Ayah, tidak pernah adil. Ayah terlalu menyayangi Ravindra dibandingkan diriku!” lanjut Liam dengan wajah merah padam menahan amarahnya.


Tuan Marvin berusaha melepaskan kaki Liam yang menginjak dadanya. Namun, semuanya sia-sia. Nafas Tuan Marvin tersengal-sengal.

__ADS_1


“Kamu memberikan segalanya pada Ravindra. Menyerahkan Aksara Enterprise padanya! Sedangkan aku… aku… cih… hanya menjadi seorang Manager. Kedudukanku lebih rendah dibandingkan Rava!” teriak Liam dengan keras sembari terus menginjak Tuan Marvin.


Tuan Marvin terlihat kesakitan. Ia berusaha berbicara pada anak keduanya tersebut.


“Ma… maaf… maafkan a..ayah.” jawab Tuan Marvin dengan nafas terbata.


“Maaf katamu?! Apa ayah pikir maaf akan merubah segalanya?! Merubah sesuatu yang telah terjadi?!” teriak Liam begitu emosi.


“A… ayah… ha… hanya… ingin… ingin kamu…. be… belajar terlebih da…dahulu.” Tuan Marvin berusaha mengatakan sesuatu. Namun, dadanya terasa sesak karena diinjak oleh Liam.


“Cih! Belajar? Belajar mengenai apa hah?! Belajar bahwa ayah lebih menyayangi Ravindra dibandingkan aku?! yang aku tahu, aku belajar bahwa jika kita memiliki segalanya. Maka orang lain akan menganggap kedudukan maupun status sosial kita lebih tinggi. Aku tidak ingin dinomorduakan hanya karena aku hanyalah anak yang terlahir tidak sah!!! Aku akan merampas semua harta kekayaan milik keluarga ini. Semuanya akan menjadi milikku! Ha Ha Ha!!!” tawa Liam menggema di seluruh ruangan.


Tuan Marvin nafasnya kembali tersengal-sengal. Ia merasakan nyeri di dada. Liam bahkan tidak perduli. Meski melihat ayahnya kesakitan. Ia sudah kehilangan akal sehat dan hati nuraninya sebagai seorang anak. Bagi Liam saat ini adalah memiliki segala kekayaan milik keluarga Damariswara. Liam memberikan kode pada anak buahnya. Anak buahnya segera menghampiri dan membawa sebuah dokumen. Dokumen tersebut berisi pernyataan bahwa seluruh kekayaan Damariswara akan diberikan pada Liam.


Liam tersenyum licik. Perlahan ia melepaskan kakinya dari dada Tuan Marvin. Kemudian berjongkok dan menatap ayahnya yang tak berdaya.


“Aku hanya butuh cap tangan darimu ayah. Maka segala kekayaan keluarga Damariswara akan jatuh ke tanganku, Ha Ha Ha!!!” tawa Liam begitu membahana. Nada suaranya terdengar penuh kesombongan.


Lalu dengan kasar ia memegangi tangan Tuan Marvin. Mencelupkan jempol ayahnya ke dalam kotak berisi tinta. Cap jempol tersebut sudah cukup mewakili bahwa ayahnya akan menyerahkan seluruh harta kekayaan Damariswara padanya. Liam tersenyum penuh kemenangan. Tuan Marvin yang dipaksa memberikan cap jempolnya berusaha meronta. Namun, Liam dengan kasar terus memaksa supaya Tuan Marvin membubuhkan cap jempol di dokumen tersebut. Apa yang Liam idamkan selama ini terwujud sudah. Ia berhasil mendapatkan cap jempol dari ayahnya. Liam berdiri sembari tertawa terbahak-bahak. Tuan Marvin hanya menatap sedih pada anaknya tersebut.


Disaat Liam sedang dimabuk atas kemenangannya. Amao yang tadinya hanya terkulai. Berusaha membantu tuannya. Anjing itu berdiri sekuat tenaga dan dengan sisa-sisa tenaganya. Amao berlari dan menerjang ke arah Liam. Amao menggigit dokumen tersebut sembari menyalak keras.


“Guk! Guk! Guk!” gonggong Amao.


Liam lantas meminta anak buahnya mengambil tongkat pemukul. Tanpa ampun, dengan ayunan yang sangat keras ia memukul Amao.


Buk! Buk!


Meski dipukul berulang kali hingga mengeluarkan darah. Namun Amao tak menyerah, ia tetap menggigit dokumen penting tersebut.


“Lepaskan! Dasar anjing bodoh!!” maki Liam.


Disaat Liam disibukkan dengan Amao. Salah satu anak buahnya datang tergopoh-gopoh.


“Tuan, ini gawat. Saudara anda datang kesini.” lapor salah satu anak buah Liam tersebut.


“A… apa?!!!” teriak Liam seolah terkejut dan tak menduga bahwa Ravindra akan memilih datang ke rumah. Liam berpikir, saudaranya itu akan memilih menyelamatkan calon istrinya.


“Dasar sial!!!” teriak Liam.


Tidak lama kemudian, terdengar kegaduhan di pintu masuk. Ravindra yang membawa anak buahnya menyerang anak buah Liam. Perkelahian tak dapat dihindarkan. Anak buah Liam memperingatkan tuannya supaya meninggalkan tempat tersebut.


“Tuan, kita harus bergegas pergi dari sini. Kita tidak akan mampu menghadapi saudara tuan yang juga jagoan karate. Cepat tuan, kita harus pergi!” ajak salah satu anak buah Liam.

__ADS_1


Liam hanya bisa menggigit bibirnya menahan emosi yang membludak. Ia menatap kesal pada Amao yang masih mengggit dokumen penting tersebut. Mau tidak mau Liam harus melepaskan dokumen itu dan bergegas pergi. Sebelum Ravindra menangkapnya. Tepat disaat Liam hendak keluar. Ravindra dan anak buahnya menghadang.


“Dasar iblis!!! Aku akan menghajarmu hingga semua tulang-tulangmu remuk!” kata Ravindra dengan nada meninggi. Tatapan matanya kelihatan beringas.


Rava segera menerjang ke arah Liam. Liam mundur ke belakang.


“Lindungi aku, dasar anak buah bodoh!” perintah Liam.


Anak buah Liam patuh dan segera melindungi tuannya tersebut. Tak ayal, perkelahian pun tak terhindarkan. Ravindra yang sudah dipenuhi amarah. Ia memukul anak buah Liam secara membabi buta. Tendangannya begitu keras mengenai tubuh, perut maupun kepala lawan. Liam mulai panik, karena anak buahnya tak mampu menghadapi Ravindra.


Disaat Rava sedang sibuk berkelahi. Liam menatap dengan benci dan dengan akal liciknya. Ia mengeluarkan pisau lipat dari balik jasnya. Kemudian, saat Rava lengah. Liam bergegas menghampiri dan menusuk Ravindra.


Crat!!!


Darah segar terlihat keluar dari bagian samping perut Ravindra. Namun dengan kesigapannya. Rava dapat menahan supaya Liam tidak bisa menusuknya terlalu dalam. Ravindra dan Liam saling bertatapan tajam. Dari mata keduanya terpancar penuh kebencian.


“Hyaaa!!!” teriak Ravindra sembari memelintir tangan Liam kemudian memberikan pukulan telak mengenai perut saudara tirinya tersebut.


Buk!


Liam terhuyung dan memegangi perutnya. Ravindra oleng dan sedikit kehilangan keseimbangan tubuh karena terluka dibagian perut. Disaat Rava masih tak berdaya. Liam segera mengambil kesempatan untuk melarikan diri sejauh mungkin.


“Dasar pengecut! Berhenti kamu!!!” teriak Ravindra sembari memegangi perutnya yang terluka.


Tidak lama kemudian, anak buah Ravindra berdatangan seusai mengalahkan orang bayaran Liam.


“Tuan… Tuan baik-baik saja?” tanya salah satu anak buah Ravindra yang tampak cemas.


Ravindra berusaha menahan lukanya. Untung luka tusukan dari Liam tidak terlalu dalam mengenai organ vitalnya. Jadi, Ravindra dapat bertahan. Ia segera membalut lukanya. Kemudian mencari keberadaan ayahnya.


“Ayah!!! Ayah!!” panggil Rava setelah mendapati ayahnya tergeletak tak berdaya.


Ravindra juga melihat Amao masih menggigit dokumen pengalihan kekayaan tersebut. Amao juga tergeletak tak berdaya dengan darah segar membanjiri tubuhnya.


“Cepat panggil ambulans!” perintah Ravindra pada anak buahnya.


“Ayah… aku mohon bertahanlah… Amao… kau juga harus bertahan.” kata Ravindra penuh kecemasan.


Tuan Marvin yang masih setengah sadar memegangi tangan Ravindra.


“Ma.. maafkan ayah…. to… tolong… ba… bawa… sa… saudaramu kem… kembali… a.. ayah…me… menyayanginya.” kata Tuan Marvin terbata-bata.


“Ayah, simpan tenagamu dan bertahanlah. Aku akan melakukan seperti yang ayah inginkan. Jadi tolong bertahanlah…” sahut Ravindra dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, terdengar suara sirine ambulans berbunyi nyaring. Tuan Marvin segera dilarikan ke Rumah Sakit. Termasuk Amao yang malang. Ravindra menatap kepergian ambulans tersebut sembari mengepalkan tangannya. Rasa perih dibagian samping perutnya tak diperdulikan. Masih ada satu tugas lagi yang harus ia selesaikan. Ravindra harus menyelamatkan wanita yang ia cintai.


__ADS_2