Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 18


__ADS_3

...Ravindra Damariswara CEO Tampan Berhati Dingin...


Sebuah ikatan, baik masa lalu maupun masa kini akan saling terkait. Sejauh apapun kita berlari. Maka akan tetap kembali. Kembali bertemu untuk merangkai sebuah cerita. Menggenapkan takdir yang telah tertunda. Pada akhirnya, yang seharusnya bertemu akan tetap dipertemukan. Entah dengan cara apa atau bagaimana. Semua masih menjadi rahasia yang tak terduga.


Seorang pria muda terlihat berdiri dekat jendela kaca. Menatap ke arah luar. Nan jauh di sana, gedung-gedung bertingkat berjajar rapi. Berdiri kokoh menunjukkan kegagahannya. Langit biru muda nan luas. Berhiaskan awan putih menjadi pelengkap setiap pemandangan kala siang hari itu. Pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam. Hanya diam terpaku menatap semua pemandangan yang terhampar dihadapannya.Tak jauh dari sana. Di meja kerja milik sang pria. Sebuah papan nama tertata rapi. Di papan nama itu, terukir sebuah nama Ravindra Damariswara CEO Aksara Enterprise.


Pria bernama Ravindra Damariswara adalah seorang pria berparas tampan. Ia kini berusia 32 tahun. Ravindra layaknya pangeran di negeri impian. Garis rahangnya yang berbentuk persegi menambah sisi ketampanannya. Ditunjang dengan tinggi 170 cm dan berbadan tegap. Terlihat gagah dengan otot lengan yang tidak terlalu besar namun terlihat ideal. Memiliki perut sickpack yang seksi, semakin menambah pesonanya. Dibalut dengan kulit berwarna kuning langsat. Memiliki mata sipit yang begitu tajam. Rambut khasnya adalah rambut yang berdiri. Layaknya bentuk duri. Namun hal itu, malah terlihat seksi. Gambaran pria yang sempurna. Tetapi apakah, hidupnya sesempurna penampilannya?


Pepatah mengatakan penampilan bisa menipu seseorang. Meski Ravindra memiliki penampilan yang sempurna. Namun, tidak dengan kehidupannya. Ia adalah seorang pria tampan berhati dingin yang tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya. Bagi Ravindra, mempercayai dan menyayangi seseorang hanya akan menambah luka di hati. Lebih baik memiliki hati dingin. Maka tak akan pernah merasakan sakit atau terluka.


Rava panggilan akrab Ravindra tengah terdiam. Entah kenapa pikirannya melayang mengingat kejadian tempo hari. Saat bertemu dengan anak kecil yang penampilannya sangat mirip dengan dirinya. Rava juga teringat bagaimana ia dipermalukan oleh seorang wanita. Wanita pemilik mata lebar yang berani mencengkeram kerah bajunya begitu kuat. Sebuah kilas balik tengah menari-nari dalam benak Rava.


“Hei, penjahat!!! Jangan mengganggu putraku!!!” Teriak wanita itu keras.


Rava yang hendak bangkit berdiri. Langsung ditindih oleh wanita tadi. Sembari mencengkeram erat kerah baju Rava. Keduanya saling bertatapan. Mata wanita itu memiliki sorot yang tajam. Namun, entah kenapa Rava dapat melihat kesedihan yang tersembunyi dari balik mata indahnya.


“Beraninya!!!” Kata Rava tajam. Tatapan mata sipitnya seperti ujung mata pisau yang siap menghujam.


“Dasar penjahat berambut landak! Berani sekali kamu menatapku seperti itu.” Balas si wanita tak kalah tajam.


“A… apa?! Ka … kamu memanggilku apa?!” Tanya Rava tak percaya. Ada yang berani memanggil dirinya seperti itu.


“Kenapa? Rambut landak? Bukankah seperti itu bentuk rambutmu. Hah?!”


Ravindra merasa sangat marah pada wanita ini. Berani-beraninya dia memanggil Ravindra dengan sebutan rambut landak. Seumur hidup Ravindra. Tidak ada yang berani memanggilnya seperti itu.


“Menyingkir dari hadapanku.” Kata Rava dengan tajam.

__ADS_1


Tangannya mencengkeram tangan wanita itu. Berusaha melepaskan cengkramannya dikerah baju Rava.


“Tidak semudah itu, penjahat rambut landak. Aku akan melaporkanmu ke polisi karena hendak menculik anakku.” Kata wanita yang tak lain adalah Irene Maxzella.


Long An yang berdiri tak jauh dari sana. Menatap tak percaya. Mamanya bisa melakukan tendangan memutar dan sekuat ini.


“Wow… mamaku memang keren.” Gumam Long An pada dirinya sendiri.


Amao yang berada di samping Long An hanya menjulurkan lidahnya. Sambil mengendus-endus Long An. Ravindra tak percaya dengan ucapan wanita barusan yang mengatakan ia adalah penculik.


“A… apa? Menculik? Benar-benar wanita gila.” Gumam Ravindra menahan kesal.


Irene masih menindih Ravindra dan mencengkram kerah baju pria itu.


“Anakku, kamu baik-baik saja?” Tanya Irene pada Long An.


“Mama…” Kata Long An lirih, berusaha menjelaskan sesuatu.


Tetapi Irene tak mengindahkan. Ia berusaha mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi polisi. Hingga terdengar suara seseorang menghentikannya.


“Nona!! Nona!! Hentikan!” Kata sumber suara. Berusaha menghentikan Irene.


Irene menatap ke arah sumber suara. Melihat siapa yang datang. Seorang pria berambut cepak datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Pria itu berusia sekitar 37 tahun. Ia mengenakan setelan jas berwarna hitam. Layaknya seorang pengawal.


“Nona, saya rasa ini adalah kesalahpahaman. Pria ini bukan penculik seperti yang anda tuduhkan.” Kata pria berambut cepak.


“Siapa kamu? Apa kamu komplotannya?” Tanya Irene bersikap waspada.

__ADS_1


Ravindra yang menyaksikan hal itu langsung memilih diam dan tiduran saja di tanah. Dia sungguh tak tahu bagaimana menghadapi wanita gila ini.


“Ah… saya rasa nona salah paham. Perkenalkan nama saya Albert. Saya adalah assisten sekaligus pengawal Tuan Ravindra. Tuan Ravindra adalah pria baik-baik. Dia hanya ingin membawa pulang anjing kami yang lepas.” Kata pria berambut cepak yang bernama Albert.


Kemudian, ia menyerahkan sebuah kartu nama. Bertuliskan Assisten Albert dari perusahaan Aksara Enterprise. Irene yang membaca kartu nama tersebut. Seketika menutup mulutnya. Irene tahu betul. Aksara Enterprise adalah perusahaan terkemuka di negara ini. Ravindra yang masih berbaring di tanah hanya meniup rambutnya. Kemudian dengan kasar mendorong Irene. Supaya tak lagi menindihnya. Irene masih terpaku di tempatnya karena shock. Pria yang ada dihadapannya bukanlah pria sembarangan. Long An hanya menatap ibunya dengan tatapan tak mengerti.


“Amao! Kemarilah! Tuan besar sedang menunggumu.” Kata Pak Albert memanggil Amao.


Amao menatap Long An dengan tatapan ala puppy yang memelas. Tak ingin berpisah dengan si kecil Long An. An juga menatap sebaliknya.


“Amao, ayo! Kemarilah anjing baik. Apa kamu tidak ingin pulang dan bertemu Tuan besar?” Pak Albert berusaha membujuk Amao.


“Kaing… Kaing…” Amao yang masih enggan pergi. Mau tak mau harus tetap pergi.


Amao melangkahkan ke empat kakinya menuju Pak Albert. Di sampingnya Ravindra terlihat kesal. Tatapan matanya yang sipit begitu tajam. Ia berusaha mengibaskan kotoran burung yang menempel di pakaiannya dengan wajah kesal.


Irene masih kelihatan shock. Hingga tak lama kemudian. Ia terduduk di tanah dengan tatapan mata kosong. Long An tak mengerti kenapa mamanya diam begitu saja.


“Mama… mama… ada apa? Mama kenapa?” Tanya Long An dengan lugunya.


“Astaga, kenapa aku bodoh sekali. Ya Tuhan, kenapa aku menendang pria yang memiliki kedudukan tinggi. Astaga betapa bodohnya aku.” Irene terdengar merutuki dirinya.


Ravindra hanya memberikan tatapan dingin ke arah Irene dan Long An. Lantas ia berbalik pergi. Menjauh dari keduanya. Namun, tanpa Irene ketahui. Saat Ravindra berjalan menjauh. Ia menggulung lengan bajunya. Membersihkan sedikit-sedikit kotoran yang menempel di sana. Tepat di saat Ravindra menggulung lengannya. Terlihat sebuah tato bergambar naga di lengan kirinya. Maka dengan begitu kilasan balik pun usai.


Kini, Ravindra hanya diam terpaku di tempatnya. Mengingat bagaimana keberanian Irene yang melindungi anaknya. Hal yang tak pernah Ravindra dapatkan dari almarhum ibunya. Ravindra bisa merasakan wanita tempo hari menyayangi bocah cilik jagoan karate itu. Semua hal itu tak pernah ia dapatkan dari ibunya. Ia yang sewaktu kecil menginginkan kasih sayang ibunya. Namun, tak pernah ia dapatkan. Ravindra tak ingin merasakan sakit karena menyayangi seseorang. Maka, ketika ia tumbuh. Ia tumbuh menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya.


Bagaimana kehidupan Ravindra yang sebenarnya? Tato naga di lengan kiri Ravindra, apakah sama dengan tato yang pernah Irene lihat di malam kejadian itu. Malam dimana Irene tidur dengan pria tak dikenal?

__ADS_1


__ADS_2