
...Termakan Rencana Busuk
...
“Arghttt!!”
*Prang*!
*Prang*!
Tes…
Tes…
Terdengar suara teriakan keras disertai suara kaca pecah terdengar nyaring di sebuah kamar mandi. Suara shower mengalir dan kaca pecah menjadi pembuka pagi, bagi seorang Ravindra. Ravindra yang diliputi kemarahan sangat besar, memukul kaca di kamar mandinya hingga pecah berkeping-keping.
Darah segar berwarna merah pekat mengalir dari tangan kanannya. Rasa sakit dan perih di tangan tak ia indahkan. Rasa sakit di hati Ravindra melebihi rasa perih di tangannya. Bagaimana hatinya tidak sakit. Jika melihat pasangannya melakukan hal tidak pantas tepat di depan matanya. Lagi dan lagi, Ravindra dikhianati oleh cinta. Ia yang memberanikan diri membuka hati dan mempercayai Irene. Tetapi dipatahkan begitu saja.
Ravindra tak habis pikir. Bagaimana bisa Irene mengkhianatinya. Apakah balas dendam padanya adalah tujuan utama Irene? Ravindra tak percaya. Hal ini sungguh tak masuk akal. Tetapi, tempo hari Rava melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana pancaran mata Irene yang serius mengatakan bahwa ia memang melakukan itu secara sukarela bersama Liam. Membuat hati Ravindra dipenuhi kemarahan yang mendalam.
Suara nafas Ravindra terdengar terengah-engah. Tangannya masih mengepal sembari memukul kaca yang tertempel di dinding. Matanya terlihat kemerahan karena menahan gejolak rasa sakit yang luar biasa. Tidak lama kemudian, Rava mengguyur seluruh tubuhnya. Bermandikan air shower yang mengalir deras. Berharap, semua ini hanyalah mimpi belaka.
Setelah beberapa saat berada di kamar mandi. Ravindra keluar hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Tubuhnya yang atletis dengan otot yang ideal benar-benar membuat kaum hawa akan berfantasi kemana-mana. Mata Ravindra kembali seperti semula. Sorot matanya kembali menjadi dingin. Melebihi sorot matanya yang dahulu.
Tepat di saat Ravindra keluar dari kamar mandi. Rosalind masuk ke dalam kamar Ravindra. Ia melempar senyum pada pria dingin di hadapannya tersebut.
“Ravindra Damariswara, pria kaya yang tampan. Namun sayang, kamu memiliki nasib yang malang. Lain kali pilihlah wanita yang benar.” kata Rosalind sembari mendekat ke arah Ravindra.
Ravindra tak mengubris Rosalind. Ia hanya diam dengan menunjukkan ekspresi dingin. Kemarahan masih menggelak di relung sanubarinya. Rosalind melempar senyum manis. Mendekat ke arah Rava. Rava yang setengah bertelanjang dada dengan hanya melilitkan handuk dipinggangnya. Membuat bagian bawah Rosalind berdesir. Tubuh Rava yang tegap membuatnya ingin mencicipi tubuh Ravindra.
Rosalind yang sudah dekat dengan Rava. Mulai memainkan jemari tangannya di dada bidang Rava. Menyentuh perut sickpack pria tampan di depannya tersebut. Jemarinya bermain ditubuh Ravindra yang begitu menggoda. Namun, tepat disaat jemari Rosalind bermain di dada Ravindra. Rava langsung memegangi tangan Rosalind dengan erat dan kemudian menghempaskannya dengan kasar.
“Augh!” teriak Rosalind kesakitan dengan memegangi pergelangan tangannya.
“Apakah aku akan selalu menjadi pelampiasan? Jika kamu memiliki masalah dengan wanita itu?” protes Rosalind.
“Tidak ada yang memintamu berada di sini, keluarlah.” kata Ravindra dengan nada dingin.
Rosalind hanya mendecih.
“Aku tidak menyangka. Ku pikir, Irene adalah seorang wanita baik-baik. Ternyata dengan begitu berani bermain dengan saudaramu sendiri. Wanita macam apa itu. Sungguh menjijikkan.”
“Jaga mulutmu!” teriak Ravindra sembari mencekik leher Rosalind.
Rosalind berusaha bernafas dan meronta supaya Ravindra melepaskan tangannya. Rava menatap Rosalind dengan tatapan penuh amarah. Rahangnya bergetar hebat. Ia kembali teringat bagaimana tempo hari dengan mata kepala sendiri menyaksikan Irene bermesraan dengan Liam.
“Ra.. Rav… lepas…” kata Rosalind terbata.
Perlahan Ravindra melepaskan cengkeramannya di leher Rosalind. Tetapi tatapannya masih sangat tajam. Rosalind terbatuk dan berusaha mengambil udara sebanyak mungkin. Ia mengelus lehernya yang terasa sakit.
“Terima atau tidak, itulah kenyataannya. Kamu tidak bisa menghindari apapun. Lagipula sudah sejak beberapa minggu yang lalu. Liam menceritakan padaku, bahwa dia sedang mendekati seseorang. Tak ku sangka, orang itu adalah Irene.” Rosalind terus memprovokasi Ravindra.
Rava mengepalkan tangannya begitu erat.
“Katakan, apa lagi yang kamu ketahui?” tanya Rava dengan nada dingin.
Rosalind tersenyum licik. Sepertinya Ravindra termakan rencana busuknya.
__ADS_1
“Ah, Liam mengatakan sudah pernah bertemu Irene sejak lama. Aku yang menjadi saksinya. Sepertinya, itu adalah cinta terpendam. Mungkin saat ini waktu yang tepat untuk melampiaskan hasrat terpendam mereka. Kau pun sudah mendengar sendiri bukan? Irene merasa tidak cocok bersamamu dan tindakannya ini adalah upaya untuk membalas dendam padamu. Atas apa yang pernah kamu lakukan padanya.”
Ravindra menahan emosinya untuk tidak marah. Tatapan matanya begitu tajam. Tangannya mengepal erat. Siap meninju apapun jika sampai emosinya benar-benar meledak.
“Jika aku menjadi Irene. Mungkin aku akan melakukan hal sama.” Rosalind tersenyum licik. Tangannya memegang bahu Rava dan berbisik perlahan.
Ravindra semakin terbakar oleh amarah. Darahnya mendidih mendengar semua perkataan Rosalind. Jadi, selama ini Irene hanya mempermainkannya. Seharusnya Rava tahu sejak awal.
“Mungkin saja, Irene hanya memanfaatkan Long An untuk mendekatimu. Jika begitu, semua masuk akal. Benar bukan?” lagi-lagi Rosalind tersenyum licik dan terus mencekoki Ravindra dengan racun kelicikannya.
Disaat Ravindra yang semakin menggelora kemarahannya. Pintu kamarnya terbuka. Suara langkah kaki kecil memasuki kamar miliknya.
“Papa!!” panggil Long An.
Seketika langkahnya terhenti. Ia tercekat melihat Rosalind berada di kamar ayahnya.
“Wah, rupanya tuan kecil Long An. Senang bertemu denganmu Nak.” sapa Rosalind dengan senyum yang mengembang di wajah liciknya.
Long An tersenyum lebar, “halo Wakil Direktur.”
Ia masih ramah pada Rosalind. Namun, jauh di dalam hati kecil bocah karateka tersebut tetap bersikap waspada.
“Pulanglah.” pintu Ravindra pada Rosalind.
“Baiklah, silahkan menikmati waktu bersama putra kecilmu.” jawab Rosalind dengan santai.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Ravindra pada Long An.
An menoleh dan betapa terkejutnya ia melihat tangan ayahnya berdarah.
“Papa, tanganmu berdarah.” tunjuk Long An.
Ravindra tersadar dan melihat tangannya mengucurkan darah.
“Di mana kotak obatnya?” tanya An dengan panik.
“Aku rasa, ada di lemari itu.” jawab Ravindra menunjuk sebuah lemari kaca.
Long An bergegas mengambilnya. Sedangkan Rava segera mengenakan pakaian lengkap. Long An meminta ayahnya duduk. Lantas dengan telaten mengobati ayahnya. Ravindra mengamati An dengan seksama.
“Darimana kamu belajar mengobati luka seperti ini?”
“Paman Dareen yang mengajariku. Kami adalah seorang karateka. Pasti kapanpun akan terluka. Jadi, seorang karateka harus bisa mengobati lukanya sendiri.”
Ravindra menatap dalam pada Long An yang penuh perhatian membalut luka di tangannya. Setelah beberapa saat. Long An selesai membalut luka Ravindra. Kemudian duduk di samping ayahnya.
“Papa, jangan sering terluka. Papa harus menjaga tanganmu sendiri, karena tangan ini sangat berharga.”
“Kenapa sangat berharga?” tanya Ravindra.
__ADS_1
“Berharga, karena tangan inilah yang akan menjagaku dan mama.” jawab Long An sembari tersenyum lebar.
Ravindra hanya menatap getir pada anaknya tersebut. Kebahagiaan yang ia pikir sudah berada di tangannya. Ternyata hanyalah impian indah sekejap saja. Kebahagiaan yang ia impikan ternyata hanyalah khayalan semu.
“An, bagaimana jika papa tidak bisa menjaga mamamu?” tanya Ravindra sambil menunduk.
“Apa ada masalah antara mama dan papa? Tempo hari aku juga menghubungi mama. Tetapi ponselnya tidak aktif. Saat kembali ke rumah. Aku melihat mama di antar oleh paman Liam.” Jawab An.
Mendengar hal tersebut, darah Ravindra kembali menggelegak. Mengingat kebersamaan Irene bersama Liam. Tangannya mengepal hebat. Long An menyadari ada sesuatu yang tidak beres. An menggenggam tangan Ravindra kemudian memeluknya dengan erat.
“An, tidak tahu apa yang terjadi pada mama dan papa. Papa terlihat menahan kemarahan. Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Long An merasa sedih.
“Mama juga kelihatan aneh. Ia tidak seperti biasanya. Ada apa sebenarnya?” tanya An lagi.
Ravindra berusaha menahan amarahnya di depan Long An. Ia tak mungkin menceritakan kejadian itu pada anak kecil yang baru berusia 10 tahun.
“Bagaimana, jika papa dan mama tidak bisa bersama?” tanya Ravindra dengan sedih.
Long An kaget mendengar pertanyaan Ravindra.
“Kenapa?! Kenapa tiba-tiba papa mengatakan hal itu? Bukankah tempo hari kita merasakan kebahagiaan bersama? Kenapa?” tanya An dengan mata berkaca-kaca.
Ravindra mengelus kepala putranya dengan sedih. Ia hanya diam dan memeluk Long An dengan erat. Ia tak tahu harus mengatakan apa.
“Papa, jawab pertanyaanku dengan jujur. Sebenarnya ada apa?” tanya Long An yang mulai menangis dalam pelukan Ravindra.
“Ini adalah salah papa. Papa tidak bisa menjaga mamamu.” kata Rava begitu sedih. Sekaligus merasakan sakit di hatinya.
“Apa ini karena ulah Wakil Direktur?” tanya An sembari melepaskan pelukan Rava.
“Ini bukan ulahnya. Maafkan papa.” kata Ravindra dengan memasang raut wajah penuh kesedihan.
Long An langsung menatap Ravindra tajam.
“Apa papa semudah itu melepaskan mama?! Padahal An sangat mempercayaimu.” kata Long An kelihatan marah.
“An, ini bukan sepenuhnya keinginan papa. Ada hal yang tidak bisa papa katakan padamu.” Rava berusaha menjelaskan pada Long An.
“An, tidak perduli! Papa, kenapa semudah itu mengatakan hal yang membuat hatiku sedih. Padahal aku, sangat bahagia bisa bersama mama dan papa. Membayangkan kita akan tinggal bersama. Papa rambut landak jahat!” teriak Long An begitu marah.
“Papa bukannya jahat! Mamamu… Mamamu sendiri yang memilih untuk tidak bersama papa.” Rava berusaha menahan gejolak perasaannya.
“Tidak… mama… mamaku tidak akan mungkin melakukan hal itu. Pasti ada sesuatu.” jawab An sembari menyeka air matanya.
Lantas berlari keluar kamar Ravindra.
“An! Long An!” panggil Rava. Ia bergegas menyusul anaknya tersebut.
__ADS_1
Tepat, di depan pintu rumahnya. Langkah Rava terhenti. Begitu juga dengan Long An. Keduanya menatap ke arah dua orang yang barusan datang. Mereka adalah Liam dan Irene. Ravindra menatap dengan tatapan tajam. Kemarahannya kembali menggelegak. Sedangkan Long An menatap serius ke arah keduanya. Bagaimana kelanjutan kisahnya?