Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 53


__ADS_3

... Kerisauan Irene Semakin Bertubi...


Di sore hari kala warna langit berubah nama menjadi senja. Irene terlihat termenung disebuah restaurant. Ia yang selama beberapa hari begitu risau. Antara membalas budi atau memilih pilihan hatinya terlihat semakin murung. Irene sedang menopang dagu. Melihat hingar bingar suara kendaraan di luar. Dareen tidak lagi memberikan banyak waktu padanya. Sebentar-sebentar, terdengar helaan nafas berat dari wanita cantik itu.


Kemudian, ingatan Irene melayang saat menghabiskan waktu bersama Ravindra. Pria bernama Ravindra itu, entah bagaimana bisa menyentuh hatinya. Padahal Rava bukan orang seperti Dareen. Memiliki sikap yang ramah dan hangat pada semua orang. Tetapi, bagaimana bisa Irene jatuh hati pada pria dingin itu. Pria yang kemungkinan besar telah menikmati bunga lotusnya. Irene tak habis pikir dengan perasaannya. Ia tak tahu, harus menceritakan pada siapa kegalauan hatinya. Disaat Irene terpuruk, Nenek Heera dan Dareen yang membantunya terlepas dari jerat jurang yang terdalam. Apakah ia akan mengkhianati kebaikan mereka? Lantas egois dengan perasaannya? Irene, bukan orang seperti itu. Ia tahu bagaimana caranya membalas budi.


Tiba-tiba dari arah belakang, seorang pria berjalan perlahan. Ia berjalan sambil membawa sesuatu dibalik punggungnya. Tepat, disaat mendekat pada Irene. Pria itu langsung mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.


“Untukmu, Rene.” kata pria yang tak lain adalah Dareen sembari menyodorkan bunga lily merah.


Irene yang barusan sedang melanglang buana dengan pikirannya. Seketika tersadar dan kembali ke dunia nyata. Ia terkejut, Dareen sudah berada di depannya sambil melempar tawa renyah.


“Te… te.. terimakasih.” kata Irene terbata sambil menerima bunga lily berwarna merah tersebut.


 “Apa aku mengejutkanmu?” tanya Dareen yang duduk di depan Irene.


Irene tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Kamu mau memesan makanan apa?” lanjut tanya Dareen.


“Apa saja tidak masalah.” jawab Irene.


Dareen tersenyum dan segera memanggil seorang pelayan laki-laki. Memesan beberapa makanan maupun minuman untuknya dan juga Irene. Pelayan laki-laki itu mengerti dan tersenyum ramah sembari meminta keduanya menunggu makanan yang akan disajikan.


“Apa kamu sudah lama menunggu?” Dareen membuka perbincangan.


 “Ah… tidak terlalu lama.” Irene menjawab dengan melempar sedikit senyum.


 “Aku tahu, mungkin aku terlalu mendesakmu untuk segera menerima lamaranku. Aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu. Kehilangan seorang wanita yang sudah ku impikan sejak lama. Aku berharap kamu mau menerima lamaranku. Aku, kamu, Long An dan nenek pasti akan bahagia jika hidup bersama.” kata Dareen penuh ketulusan.


Tepat di depan mata Irene. Dareen mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Ia membukanya dengan hati berdebar. Lantas menatap Irene dengan wajah memerah. Dari sorot matanya terlihat pancaran penuh cinta untuk Irene.


“Rene, aku sudah lama bersimpati padamu. Pada wanita yang tangguh dan dapat mengarungi segala kesulitan. Rasa simpati itu perlahan berubah menjadi rasa mengagumi. Rasa kagum padamu yang bertahun-tahun lamanya, kini telah berubah menjadi sebuah cinta. Aku diam-diam memendam perasaan ini padamu, karena aku pria yang pemalu. Tak tahu harus bagaimana mengungkapkan perasaanku. Aku sampai harus meminta bantuan nenek untuk melamarmu. Aku harap kamu tidak akan merasa tidak nyaman dengan itu semua. Saat ini, aku ingin menjalin hubungan yang serius denganmu. Apakah kamu bersedia menerima cintaku? Menerima lamaranku?” tanya Dareen dengan wajah serius. Tangannya menyodorkan kotak yang berisi cincin pasangan ke hadapan Irene.


Jantung pria berusia 30an tahun ini berdegup begitu kencang. Wajahnya serius namun bibirnya bergetar seusai mengatakan perasaannya. Dareen bukanlah tipe pria yang pandai mengungkapkan isi hatinya pada lawan jenis. Irene yang merasakan ketulusan Dareen benar-benar semakin risau dibuatnya. Ia sungguh tak tega menolak perasaan Dareen. Hatinya sungguh bimbang harus bagaimana. Jika ia menolak, bagaimana pandangan dunia terhadap dirinya. Dia adalah wanita miskin yang tak tahu balas budi pada orang-orang yang telah menolongnya.

__ADS_1


Irene tak boleh egois pada perasaannya sendiri. Mungkin inilah yang terbaik. Melepaskan pilihan hatinya dan memilih membalas budi. Lepaskan kebahagiaannya sendiri. Untuk kebahagiaan orang yang telah menolongnya.


Irene menghela nafas dalam. Kemudian menatap Dareen dengan serius. Mungkin inilah keputusan yang tepat untuknya. Membalas budi pada orang-orang yang telah memberikan kebaikan hati pada dirinya. Melepaskan dari jeratan hidup yang penuh penderitaan. Setelah menatap Dareen lantas bergantian ia menatap cincin yang tepat berada di hadapannya.


 Mungkin, inilah yang terbaik. Terbaik untuk seuntai bunga lotus. Membahagiakan orang lain dan melepaskan gunung esnya. kata Irene dalam hati.


Kemudian, Irene kembali bergantian menatap Dareen. Dareen yang duduk di seberang Irene merasa harap-harap cemas dengan jawaban yang akan diberikan. Ia mengepalkan tangan saking groginya.


“Aku… aku akan mene…ri…”


“Mama! Mama!” teriak Long An yang tiba-tiba datang memanggil mamanya dengan keras.


 Seketika Irene terkejut dan melihat ke arah Long An. Anaknya tersebut berlarian menuju ke arahnya sambil tertawa lebar. Irene kebingungan kenapa bisa Long An tiba-tiba ke restaurant itu dan mengetahui keberadaanya. Saat Long An berlarian menuju Irene. Tanpa sengaja ia menyenggol seorang wanita yang juga sedang berjalan hendak makan di restaurant tersebut. Hingga tas yang dibawa seseorang tadi jatuh. Barang-barang yang berada di dalamnya pun jatuh berceceran. Long An yang melihat hal itu terkejut dan merasa tak enak, karena keteledorannya. Long An buru-buru meminta maaf sambil memunguti barang yang jatuh.


Irene dan Dareen yang melihat hal tersebut bergegas menghampiri. Berusaha membantu Long An memungut barang yang berjatuhan. Lantas segera meminta maaf pada yang bersangkutan. Tepat disaat Irene mendongakkan kepalanya. Matanya tiba-tiba terbelalak. Tangannya bergetar hebat. Sedangkan seseorang yang ditabrak Long An barusan juga menatap Irene.


Tanpa Irene sadari, tetesan air mata tiba-tiba keluar tanpa ia perintah. Matanya memerah dan sekujur tubuhnya merasakan hal yang tak enak. Seseorang yang ada dihadapan Irene juga balas menatap Irene dengan intens.


“Ka.. kamu… mungkinkah kamu?” tanya seseorang itu sambil menutup mulutnya.


“A… apakah kamu… Rene? Irene?” tanya seseorang itu balik.


Irene hanya menggelengkan kepalanya. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Sedangkan Long An dan Dareen kebingungan menyaksikan hal tersebut. Seolah seseorang tadi mengenal Irene begitu juga sebaliknya.


“Mama…” panggil Long An dengan polos.


Seseorang yang masih menatap Irene dengan intens segera melihat ke arah Long An. Ia juga menatap Long An intens. Matanya terlihat berkaca-kaca. Irene berusaha keras menahan tubuhnya yang bergetar.


“A… apakah benar. Ka… kamu Rene-ku?” tanya seseorang yang tak lain seorang wanita berusia 45 tahunan tersebut. Menatap Irene dengan dalam.


Irene hanya menggenggam tangan Long An dengan erat. Long An masih kebingungan dengan sikap mamanya dan wanita yang berdiri di hadapan mereka itu. Dareen pun tak tahu harus bagaimana. Sebelum Irene membuka mulutnya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil wanita yang berdiri di hadapan Irene tersebut.


“Mama.” panggil seseorang sembari mendekat.


Saat dekat mata Irene semakin terbelalak melihat siapa yang datang. Begitu juga seseorang tersebut yang tak lain adalah Rosalind Birgita.

__ADS_1


            Flashback


Saat usia Irene genap 12 tahun. Kemalangan dalam hidupnya pun dimulai. Pertama-tama ayahnya yang begitu baik padanya dipanggil oleh Sang Kuasa. Disaat Irene terpuruk kehilangan ayahnya. Ibu kandungnya malah meninggalkanya di panti asuhan.


 “Bu… Bu… Ibu… Tolong jangan tinggalkan aku di sini. Aku takut, biarkan aku ikut bersamamu. Aku mohon.” rengek Irene pada ibunya.


Tangan mungilnya memegangi tangan ibunya dengan erat. Namun, ibunya seolah tak perduli dan menghempaskan tangan Irene dengan kasar. Irene begitu terkejut dan sangat sedih diperlakukan seperti itu oleh ibunya.


“Bu… kenapa?” tanya Irene yang terus menangis.


Ibu Irene tak perduli dan segera masuk ke dalam mobil. Irene berusaha menghentikan ibunya. Namun, ibunya malah mendorong hingga membuat Irene terjatuh ke aspal yang kasar. Membuat tangannya terluka. Ibu Irene seolah tak perduli dan segera menyuruh sopir melajukan mobilnya. Irene berusaha bangkit dan menggedor-gedor pintu mobil.


“Ibu.. aku mohon jangan tinggalkan aku. Bu… aku mohon.” pinta Irene memelas diantara isak tangisnya.


Namun, ibunya tak menggubris sama sekali. Menyuruh sopir taxi tersebut terus melaju meninggalkan Irene yang berlarian mengejar ibunya.


“Ibu!! Ibu!! Ibu!! Jangan tinggalkan aku. Aku mohon bu! Ibu!!” teriak Irene sambil menangis dengan keras.


Irene yang berusia 12 tahun terus mengejar taxi yang dinaiki ibunya. Hingga ia terjerembab di aspal yang kasar. Membuat kaki dan tangannya terluka. Tetapi ibunya tak pernah sekalipun menengok ke belakang.


“Ibu!! Ibu!! Ibu!!!” teriak Irene sambil terduduk di pinggir jalan.


Lutut dan tangannya berdarah. Namun, yang lebih menyakitkan adalah rasa sakit dihatinya. Rasa sakit dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Irene sudah kehilangan ayahnya. Kini, ia juga ditinggalkan begitu saja oleh ibunya. Membuat kemalangan genap sudah menimpa gadis yang tanpa dosa tersebut. Hari itu, Irene telah kehilangan kedua orang tuanya. Ia hanya bisa menangis sendirian. Menangis tanpa ada siapapun yang perduli.


Flashback End


Air mata Irene menetes deras. Mengingat bagaimana rasa sakit selama bertahun-tahun itu terus tertanam dihatinya.


“Mama mengenalnya?” tanya Rosalind heran melihat ibunya menatap Irene begitu intens.


Irene yang sudah mencari ibunya selama bertahun-tahun begitu terkejut tiba-tiba bertemu dengan ibunya kembali. Malah, ibunya menjadi ibu dari seorang wanita yang pernah membuatnya kehilangan mimpi. Irene sudah tak sanggup lagi. Ia segera menggandeng tangan Long An dan bergegas meninggalkankan tempat tersebut. Dareen yang kebingungan segera menyusul Irene. Ibu Rosalind berusaha mengejar. Tetapi buru-buru dicegah oleh Rosalind.


“Mama, katakan ada apa ini? apa mama mengenal wanita yang bernama Irene itu?” tanya Rosalind yang menuntut jawaban.


Ibu Rosalind yang bernama Kania tersebut hanya menutup mulutnya sembari terisak. Tubuhnya bergetar hebat. Ia hanya bisa terduduk di kursi. Tak kuat menyangga tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2