Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 70


__ADS_3

...Menghabiskan Waktu Di Rumah Ravindra...


           Malam itu adalah malam yang begitu indah. Bagi keluarga kecil Ravindra. Irene dan Long An kembali berdandan seperti tempo hari. Ia mengenakan dress panjang. Menunjukkan sedikit lekuk tubuh bagian atas. Riasannya tidak terlalu tebal. Lagi-lagi Ravindra dibuat terpengarah dengan kecantikan alami Irene. Ia terlihat berbeda saat berdandan. Menampilkan keeleganan tersendiri. Sedangkan Si kecil Long An terlihat menggemaskan dan mirip seperti Ravindra.


           Kini, mereka bertiga sudah sampai di rumah Rava. Malam itu, rumah keluarga Damariswara terlihat semarak dengan lampu yang bersinar terang. Para pelayan terlihat sibuk berkeliaran menyiapkan makan malam yang di adakan di taman meski hanya lima orang. Namun, para pelayan tersebut diperintahkan tetap menyiapkan jamuan untuk menyambut calon keluarga baru di kediaman Damariswara.


           “Mama, apa kali ini kakek akan menerima kita?” tanya An dengan menggemaskan.


           Long An mengenakan tuxedo seperti tempo hari. Ia kelihatan seperti pangeran kecil.


           “Mama harap juga seperti itu.”


           Ravindra yang berdiri dekat dengan mereka ikut menyahut.


           “Ayah sudah menerima kita.”


           “Tetapi, aku dan Long An belum bertemu Tuan Marvin. Jadi, semua masih belum pasti.” kata Irene.


           “Apa kamu tidak mempercayaiku?” tanya Ravindra menatap tajam pada Irene.


           “Baik-baik, aku mempercayaimu.” Irene tak ingin berdebat dengan Ravindra.


           Irene lantas melempar senyum memikat pada Rava. Hal tersebut membuat wajah Ravindra memerah melihat senyuman Irene. Long An hanya tertawa cekikikan. Melihat kedua orang tuanya sedekat ini.


           “Kenapa tidak dari tadi menampilkan senyum seperti itu.” gerutu Ravindra dengan wajah masam.


           “Setiap hari, kamu juga akan melihat senyumku. Jadi jangan tampilkan muka masam begitu.” ledek Irene.


           Ravindra hendak menyahut. Namun, terhenti karena Liam menegur mereka.


           “Wah, keluarga baru Damariswara sudah datang rupanya.” sambut Liam dengan senyum sumringah. Tetapi jauh dari lubuk hatinya. Ia sedang tersenyum jahat.


           Long An segera mendekat dan mencium tangan Liam. Pertanda ia menghormati yang lebih tua. Liam terkekeh melihat Long An yang begitu sopan. Ia mengelus kepala Long An sembari tersenyum.


           “Anak kecil yang sangat sopan. Pasti ibunya mendidik anak ini dengan baik.” kata Liam menampilkan senyum ramah.

__ADS_1


       “Terimakasih.” kata Irene.


           “Malam ini, kamu memang sangat cantik. Senang sekali waktu itu. Bisa mengobrol denganmu.” Liam menatap Irene penuh arti.


          “Mengobrol? kapan? kenapa kamu tidak menceritakan padaku?” tanya Ravindra.


           “Ah, aku ingin bercerita mengenai itu. Tetapi, karena sangat sibuk. Jadi aku lupa menceritakan padamu. Lagipula pembicaraan kita bukan hal yang penting.”


           Ravindra menatap Liam dan Irene secara bergantian. Namun, ia diam dan tak mengambil pusing masalah tersebut. Tak lama kemudian, Pak Reno assisten Tuan Marvin datang menghampiri.


           “Tuan Marvin sudah menunggu di taman. Makan malam sudah siap.”


           Irene segera menggandeng tangan kanan Long An. Sedangkan tangan kiri An digandeng oleh Ravindra. Mereka kelihatan bahagia dan tersenyum menuju taman. Sedangkan Liam menatap begitu licik. Sembari mengelus bibirnya.


           “Irene Maxzella, aku tidak menyangka kamu secantik ini. Kali ini, biarkan aku sendiri yang akan merasakan kecantikanmu.” kata Liam perlahan saat ketiganya sudah menjauh.


           Irene dan Long An kelihatan berdecak kagum. Ketika melihat sebuah taman yang cukup luas. Di sisi kiri dan kanan lampu berkelap-kelip indah. Sebuah meja makan yang cukup panjang tertata rapi. Tuan Marvin sudah duduk di bagian paling ujung. Irene mulai tegang karena harus bertemu dengan Tuan Marvin. Ia ingat kejadian tempo hari. Di mana Tuan Marvin menolak untuk menerima mereka. Ravindra sepertinya mengetahui kegelisahan hati Irene. Ia lantas menggenggam tangan Irene dan tersenyum lembut. Irene yang melihat Ravindra perduli padanya. Ikut membalas senyumnya. Berusaha untuk tetap tenang.


           Long An malah tertawa lebar dan langsung berlarian menghampiri Tuan Marvin.


           Tuan Marvin tersenyum dan mengelus kepala Si Kecil Long An.


           “Kamu tidak berubah Nak. Masih sangat santun seperti ini. Tetapi, jangan memanggilku Pak lagi. Tetapi panggillah kakek. Aku juga ingin seluruh orang mengetahui, Raja Karate yang hebat memiliki penerus yang tak kalah hebat. Cucu kecil yang sopan dan genius dalam bidang karate,” ucap Tuan Marvin diiringi senyum ramah.


           “Benarkah? Benarkah An boleh memanggil kakek?” tanya An dengan wajah berbinar. Memastikan bahwa yang ia dengar tidaklah salah.


           Tuan Marvin mengangguk pasti.


           “Horayyy, kakek! An punya kakek!” pekik Long An kegirangan.


           Lantas keduanya berpelukan dengan bahagia. Rava dan Irene yang menyaksikan hal tersebut saling melempar senyum kebahagiaan. Setelah memeluk Long An. Tuan Marvin menatap Irene. Irene yang ditatap Tuan Marvin langsung salah tingkah.


           “Kemarilah.” pinta Tuan Marvin pada Irene. Senyum hangat terlukis di wajah Sang Legenda Karate tersebut.


           Ravindra menatap Irene dan mengangguk. Irene pun mendekat pada Tuan Marvin. Tuan Marvin tersenyum dan menggenggam tangan Irene.

__ADS_1


         “Terimakasih sudah mendidik cucuku dengan sangat baik. Setelah umurku setua ini. Aku dapat hidup tenang dan bahagia. Memiliki penerus yang luar biasa.” kata Tuan Marvin tulus pada Irene.


           Irene merasa terharu. Ia merasa kehadirannya kini telah diterima oleh orang sehebat Tuan Marvin. Irene dahulu yang sering direndahkan. Sekarang dapat mendongakkan kepalanya dengan tegak. Seseorang sekelas Tuan Marvin memujinya seperti ini. Irene merasakan kebahagiaan yang berlipat ganda.


           “Saya yang seharusnya berterimakasih pada anda. Mau menerima kehadiran kami.” kata Irene dengan perasaan haru.


           Long An lantas menggenggam tangan Irene. Ia ikut tersenyum. Long An juga merasakan kebahagiaan yang berlimpah. Bagaimana tidak? Dahulu ia merasa keluarganya kurang lengkap. An ingin sekali mengetahui siapa jati diri yang sebenarnya. Kini, ia mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang CEO perusahaan besar yang memiliki rambut landak. Kakeknya adalah Raja Karate yang dahulu melegenda. Ia juga mengetahui memiliki dua nenek yang baik, Nyonya Kania dan Nenek Heera. Selain itu, An memiliki Dareen sebagai pamannya. Tentu saja hal tersebut membuat bocah yang berumur 10 tahun itu merasakan kebahagiaan yang membuncah. Hingga senyumnya terus merekah.


           Ravindra pun merasakan kebahagiaan yang sama. Kini, ia berjalan dan mendekati Irene. Merangkul pinggang wanita yang telah mencairkan kebekuan dalam hatinya tersebut.


        “Terimakasih, untukmu dan juga Si kecil Long An. Kalian telah memberikan warna baru di keluarga Damariswara. Keluarga ini, akan merasakan kehangatan cinta kasih sebuah keluarga. Maafkan Rava jika dahulu ia telah melakukan hal yang tidak benar padamu.” kata Tuan Marvin diiringi sebuah senyum.


           Irene tersenyum, “saya berpikir, mungkin masa lalu telah membuat saya menderita. Tetapi sejak melahirkan Long An. Saya membiarkan masa lalu tetap berada di tempatnya karena berkat masa lalu itu pulalah saya menemukan kebahagiaan seperti sekarang.”


           “Bagus, benar-benar wanita yang berkarakter. Maka mulai detik ini. Bangunlah sebuah keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang bersama putraku Ravindra dan cucu kecilku.” pinta Tuan Marvin.


           Kemudian mereka tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Si kecil Long An yang tertawa lebar. Disaat mereka menikmati kebahagiaan itu. Terdengar suara tepukan dari seseorang. Tak ayal, Ravindra dan yang lain menatap ke arah smber tepukan. Tepukan tangan tersebut berasal dari Liam.


           “Hemm, luar biasa. Aku sungguh iri melihat kebahagiaan kalian. Sekarang kita makan saja. Aku sudah lapar.” kata Liam dengan santainya sembari minum air putih yang tersedia di meja makan.


           “Tidak bisakah kamu bersikap sedikit sopan pada tamu kita?” tegur Tuan Marvin menatap Liam dengan tajam.


           “Kenapa? Aku sudah menyambut mereka. Apanya yang kurang?” tanya Liam melempar senyum ejekan pada ayahnya.


           Tuan Marvin hendak menegur Liam. Tetapi, buru-buru Long An menghampiri Liam.


           “Paman, kenapa harus iri? Bukankah kita sekarang adalah keluarga. Keluarga akan berbagi kebahagiaan satu sama lain.” kata Long An ceria.


           Liam lantas mendekatkan wajahnya pada An. Lalu berbisik perlahan.


           “Aku tidak ingin berbagi kebahagiaan. Tetapi, aku akan mengambil semua kebahagiaan kalian. Terutama merebut mamamu yang sangat cantik itu.” jawab Liam kemudian menatap ke arah Irene penuh arti.


           Ravindra menatap tajam pada Liam yang menatap Irene. Seolah ada sesuatu yang membuat perasaannya tak enak. Sedangkan Irene memilih menggenggam tangan Ravindra sembari menatapnya penuh cinta. Long An yang mendengar perkataan Liam langsung menatap pamannya tersebut. Liam hanya tersenyum licik sambil meneguk minumannya. Tadinya Long An yang tertawa ceria, langsung menatap Liam dengan tajam.


           “Paman, jika kamu melakukan itu. Hadapilah Long An.” kata An sembari tertawa riang. Meski di satu sisi, ia bersikap waspada. Long An kecil tak ingin merusak makan malam yang sangat istimewa ini.

__ADS_1


           Liam hanya tertawa mendengar perkataan Long An. Ia tidak perduli dengan anak kecil dihadapannya ini. Baginya, anak kecil tetaplah anak kecil. Tidak lama kemudian, makan malam pun di mulai. Banyak makanan yang disajikan. Membuat Long An tertawa ceria menikmati makanannya. Tawa renyah terdengar dari kediaman keluarga Damariswara. Tawa yang selama bertahun-tahun tak pernah terdengar. Akankah tawa itu terus berlanjut? Sedangkan kegelapan sedang mengintai untuk menelan kebahagiaan ini.


__ADS_2