Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 55


__ADS_3

... Panggilan Hati...


          Ravindra Damariswara adalah seorang pria yang memiliki hati sedingin es. Ia sama sekali tidak ingin membuka hatinya untuk siapapun. Menyaksikan perselingkuhan orang tuanya sudah membuat dirinya merasa sakit. Rava tak dapat merasakan kehangatan keluarga. Akibat perselingkuhan itu pulalah Tuan Marvin menghamili seorang wanita dan menghasilkan seorang anak yang bernama Liam. Ketiga orang tersebut tak pernah akur satu sama lain. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga tak ada yang namanya kebersamaan keluarga. Kehangatan maupun tawa renyah tak pernah terdengar. Memang miris dengan segala kekayaan yang mereka miliki.


           Kini, Ravindra lagi-lagi merasakan yang namanya rasa sakit di hati. Perasaan pedih, sedih, dan amarah kembali ia alami. Rava sedang merutuki dirinya sendiri karena telah membuka hati untuk orang lain. Terutama untuk seorang wanita yang telah mengambil hati dan cintanya. Namun, saat dia mempercayai kasih sayang. Ravindra ditinggalkan begitu saja. Irene lebih memilih bersama Dareen.


           Ravindra hanya bisa menatap langit yang kelihatan gelap. Bahkan rembulan atau bintang enggan menampakkan wajahnya. Seakan mengerti kesedihan Ravindra. Rava memilih menyendiri di taman yang dahulu memiliki kenangan bersama Irene. Ia melangkah perlahan di atas permukaan air. Dahulu Rava sengaja memberi kejutan manis untuk Irene. Ide yang ia temukan bersama Long An. Memakai sedikit trik sulap dengan melapisi hampir seluruh kolam berisi bunga lotus dengan kaca yang tebal. Sehingga bisa berjalan dengan mudah. Seolah sedang berjalan di atas permukaan air seperti sihir. Tetapi semua hal yang dilakukan Ravindra sia-sia. Apakah dia kurang berusaha?


           “Arghttttt!!!” teriak Ravindra dengan keras. Merasakan sesuatu yang menyesakkan hatinya.


           Suaranya menggema di tengah heningnya taman tersebut. Lampu terlihat temaram. Sengaja menyembunyikan terang. Ravindra yang dipenuhi amarah hendak menginjak semua kaca yang melapisi kolam bunga lotus tersebut. Ingin sekali menghancurkan semua kenangan bodohnya bersama Irene. Disaat Rava hendak menginjak dengan keras. Tiba-tiba terdengar suara menegurnya.


           “Dasar, pria rambut landak menyebalkan! Apa kamu tidak bisa menunggu sebentar saja?!” teriak seseorang tersebut.


           Mendengar suara yang tak asing baginya. Tiba-tiba, Rava tersentak dan mengurungkan niatnya. Ia segera menoleh. Mencari sumber suara siapa gerangan yang tak asing ditelinganya. Tepat saat Rava menoleh, ia melihat Irene sedang berdiri tak jauh darinya. Rava terbelalak tak percaya. Mungkinkah itu hanya bayangan Irene semata? Kepedihan yang ia rasakan mungkinkah berubah menjadi halusinasi?


           Irene menatap Rava dengan mata berkaca-kaca. Rambutnya yang hitam panjang terurai tertiup angin perlahan.


           “Tidakkah untuk sebentar saja kamu menungguku?” tanya Irene dengan suara sedikit parau.


           Ravindra hanya menatap Irene dengan dalam. Semua perasaan bercampur aduk.


           “Bagaimana bisa? Kamu?” tanya Ravindra.


           Flashback


           “Aku tidak bisa.” kata Irene saat itu sembari menggenggam tangan Dareen dengan erat.


           Irene hanya bisa menundukkan kepalanya. Rava yang mendengar kata-kata Irene. Tak ingin lagi berada di sana. Hatinya sudah sangat hancur. Mempercayai kasih sayang dan membuka hatinya. Namun dipatahkan dengan hebat oleh wanita yang telah menghangatkan hatinya. Rava yang tak tahan lagi segera bergegas meninggalkan tempat tersebut.


           Sedangkan Irene hanya diam dan mencengkeram tangan Dareen. Dareen yang melihat Ravindra sudah menjauh dari pandangan matanya segera memegangi kedua bahu Irene.


           “Rene, dongakkan kepalamu dan lihatlah aku. Apa yang sebenarnya menjadi keputusanmu?” tanya Dareen perlahan.


           Irene berusaha menguatkan dirinya. Ia menahan air mata yang hendak tumpah.


           “A… aku… tidak berani menatapmu.” jawab Irene dengan suara sedikit parau.


           “Kenapa? Bukankah maksudmu tadi adalah keputusanmu untuk bersamaku. Benar kan?” tanya Dareen lagi sembari menatap Irene yang masih menundukkan kepalanya.

__ADS_1


           Irene berusaha menghela nafas dalam. Menguatkan seluruh hatinya.


           “Rene, kenapa kamu tidak mengangkat kepalamu? Apakah aku seburuk itu? Hingga kamu tidak ingin melihatku?” tanya Dareen lagi.


           Irene menghembuskan nafas dalam. Mencoba menguatkan hatinya. Menguatkan dirinya untuk mengatakan apa yang ia pendam. Irene tidak ingin menyiksa siapapun dengan kebimbangan hatinya.


           “Tidak… tidak… kamu tidak seburuk itu. Kamu bahkan seperti malaikat. Kamu seorang pria yang sangat baik. Akulah wanita yang sangat buruk. Aku… aku tidak berhak bersama pria baik sepertimu.”


           “Aku begitu malu untuk menatapmu, karena keegoisanku. Aku malu karena menyakiti hati seorang pria baik sepertimu. Aku juga malu tak dapat membalas semua kebaikanmu dan kebaikan Nenek Heera.” lanjut Irene dengan suara parau.


           Dareen memegangi dagu Irene dan mendongakkan kepala wanita yang ia sayangi tersebut.


           “Tidak, bagiku kamu adalah wanita yang penuh kasih sayang dan begitu baik. Aku masih temanmu Rene. Jadi, katakanlah apa yang kamu rasakan? Aku bukan pria jahat yang akan memaksamu.” Dareen mencoba menenangkan Irene.


           Irene berusaha untuk tidak menangis. Ia harus jujur pada Dareen. Irene tidak ingin lebih menyiksa Dareen.


           “Maafkan aku. Ah, tidak… aku tidak pantas meminta maaf padamu dan nenek. Setelah semua yang kalian lakukan untukku. Tetapi untuk membalas kebaikan kalian sedikit saja. Aku malah seegois ini. Aku tidak pantas dimaafkan.” Irene meneskan air mata yang sedari tadi ia tahan.


           “Aku… aku… aku tidak pantas mendapatkan kebaikan darimu maupun nenek. Seumur hidupku, kalian boleh mengutukku. Tetapi, aku tidak bisa menyiksa orang sebaik dirimu dengan hatiku yang sangat egois ini. A… aku… aku tidak bisa menerima perasaanmu Dareen…” lanjut Irene lagi. Kali ini air matanya tak terbendung. Pipinya sudah basah dengan air mata. Ia merasa egois tak dapat membalas budi keluarga Dareen.


           Dareen yang mendengar perkataan Irene, seketika melepaskan tangannya dari dagu wanita cantik itu. Dareen hanya bisa menunduk.


           “Kenapa? Kenapa kamu bisa memberikan hatimu pada pria itu? pria yang bahkan mungkin belum lama kamu kenal? Pria yang mungkin saja akan menyakitimu. Tidakkah sedikit saja kamu memberikan hatimu untukku?” tanya Dareen kembali.


           “Mungkin, aku tidak begitu mengenal pria berambut berdiri itu. Namun, aku melihat dia sama seperti diriku dahulu. Seseorang yang kesepian. Ravindra adalah pria baik berhati dingin yang merasa sepi dengan hidupnya. Dia lebih membutuhkan diriku untuk menghangatkan hatinya.” jawab Irene dengan menyunggingkan senyum. Saat mengatakan sesuatu tentang Ravindra.


           Dareen hanya bisa tersenyum getir. Ia menahan rasa sakit dihatinya. Berusaha menahan air matanya.


           “Apa menurutmu cinta itu?” tanya Dareen.


           Mendengar pertanyaaan Dareen, Irene tersenyum.


           “Bagiku, cinta adalah panggilan hati. Sedangkan panggilan hatiku hanya untuk Ravindra.”


           Dareen semakin tersenyum getir. Mendapat penolakan seperti ini.


           “Pergilah.” kata Dareen menahan rasa sakit yang menyeruak dihatinya.


           “A.. apa?” tanya Irene kebingungan.

__ADS_1


           “Pergilah dan susul panggilan hatimu. Aku bukan pria jahat yang akan menghalangi panggilan hati seseorang. Aku membebaskan mu dari tanggung jawab membalas budi karena memang tidak ada yang perlu dibalas. Justru aku lah yang berterimakasih padamu. Berkat mu waktu itu, nenekku bisa selamat. Jika tidak, mungkin aku tidak bisa melihat nenek kesayanganku.” jawab Dareen dengan senyum hangat. Meski hatinya terasa sakit.


           Irene langsung menatap dalam ke arah Dareen. Mencoba mencari kejujuran dari pria yang sudah dianggap Irene sebagai saudara tersebut.


           “Da.. Dareen???”


           “Pergilah, sebelum aku berubah pikiran.” yakin Dareen.


           Irene yang mendengar jawaban Dareen, seketika terharu dengan kebaikan hati pria itu. Ia lantas memeluk Dareen dengan erat.


      “Terimakasih… Terimakasih untuk segalanya.” kata Irene dengan senyum kelegaan.


           Dareen juga ikut tersenyum meski begitu sakit di hatinya. Tidak lama kemudian, Irene berlarian mencari Ravindra… panggilan hatinya hanya tertuju pada pria dingin tersebut.


           Dareen hanya menatap kepergian Irene dengan sedih.


           Mungkin, aku akan menyesal melepaskanmu. Tetapi aku akan lebih menyesal jika melihatmu tidak bahagia bersamaku. Narasi Dareen.


           Flashback End


           Kini Irene dan Ravindra saling bertatapan penuh arti. Tanpa banyak berkata lagi. Ravindra segera bergegas menghampiri Irene dan menariknya perlahan dalam pelukannya. Irene tersenyum dan meneteskan air mata kebahagiaan. Memeluk panggilan hatinya dengan sangat erat. Merasakan kehangatan pelukan dari Ravindra. Begitu juga sebaliknya. Rava merasakan kehangatan menjalar diseluruh tubuhnya. Kebahagiaan yang membuncah dalam relung sanubarinya. Kebahagiaan yang hilang telah kembali.


           “Jangan membuatku merasakan kepedihan lagi.” kata Ravindra yang masih memeluk Irene.


           Irene tersenyum, “Jika aku berjanji, itu akan membuat beban diantara kita. Tetapi satu hal yang bisa aku berikan padamu adalah… aku akan menghangatkan hatimu, pria rambut landak yang menyebalkan.” jawab Irene begitu bahagia. Inikah yang dinamakan menemukan cinta? Hal yang tak pernah Irene maupun Ravindra bayangkan akan ada dalam hidup mereka.


           Setelah berpelukan beberapa saat. Mereka saling melepaskan pelukan masing-masing. Lantas Irene mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya.


           “Sekarang, aku bersedia memakai ini.” kata Irene dengan senyum penuh bahagia. Kotak itu berisi liontin berbandul bunga lotus pemberian Rava waktu itu.


           Ravindra balas tersenyum. Senyum yang telah lama menghilang dari wajahnya, kini kembali hadir. Rava terlihat sangat tampan ketika tersenyum. Lalu mengenakan liontin tersebut di leher Irene. Wajah mereka sangat dekat. Irene tersenyum sembari menahan gejolak debaran jantungnya yang semakin kencang.



           “Teruslah tersenyum seperti itu. Jika kamu tersenyum, kamu terlihat sangat tampan.” puji Irene tanpa basa – basi.


           Ravindra yang mendengar pujian Irene seketika tersenyum begitu hangat. Wajah mereka masih saling berdekatan.


           “Belum apa-apa, kamu sudah merayuku. Kemarilah, biarkan aku merasakan kehangatan hatimu berkali-kali.” pinta Ravindra sembari melempar senyumnya. Menambah ketampanan pria kaya raya tersebut.

__ADS_1


           Irene balas melempar senyum memikat. Lantas perlahan keduanya saling merekatkan bibir satu sama lain. Merasakan manisnya cinta melalui sentuhan bibir. Ciuman yang menyalurkan kehangatan hati. Disaat keduanya masih asyik berci*uman. Tiba-tiba lampu-lampu di taman menyala dengan benderang. Berkedip dengan begitu indah. Rupanya tak jauh dari sana, disebuah semak-semak. Long An, Si kembar dan Nyonya Meri menyalakan saklar lampu untuk menambah keromantisan dua insan tersebut.


 


__ADS_2