Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 67


__ADS_3

...Menghadapi Si Penyihir Rosalind...


Suara cicit burung pagi terdengar menyambut indahnya hari ini. Ravindra masih bersandar di kap depan mobilnya. Meski tubuhnya begitu lelah. Ia masih bertahan. Kegigihannya memang luar biasa. Tatapan matanya masih menatap ke arah rumah. Long An yang sudah bangun menatap ke arah luar. Melihat papanya yang masih gigih bertahan. Di dalam hati An, ia merasa bangga pada papanya tersebut. Tetapi di satu sisi, ia merasa cemas. Papanya semalaman berada di luar dan hanya bersandar di kap mobil. Long An takut papanya akan sakit. Irene terlihat bersiap-siap akan berangkat kerja.


“An, hari ini mama akan membelikanmu sarapan. Mama sedikit bangun kesiangan.” kata Irene.


Irene melihat Long An diam saja. Si kecil Long An hanya menatap ke luar.


“Ada apa? kenapa kamu tidak mengatakan apapun?” tanya Irene yang menyusul Long An. Mengikuti kemana arah pandangan mata Long An.


Sedetik kemudian, betapa tercekatnya Irene. Menyaksikan di luar sana, Ravindra masih duduk di depan kap mobil. Masih dengan posisi yang sama. Rava masih gigih dan memperjuangkan hubungannya dengan Irene. Hal itu membuat Irene merasakan sesuatu yang berdesir di hatinya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu rumah terbuka. Long An berlari dengan kencang menghampiri Ravindra dengan wajah sumringah.


“Papa!!” panggilnya dengan riang.


Long An langsung memeluk papanya dengan erat. Ravindra kebingungan dengan apa yang Long An lakukan.


“Kenapa tiba-tiba?” tanya Rava heran.


“Mama menginjinkan papa masuk ke dalam.” jawab Long An dengan wajah berbinar.


Seketika Rava terpengarah.


“Benarkah itu?”


Long An mengangguk dengan yakin. Anggukan Long An disambut dengan senyum kelegaan oleh Ravindra. Lantas An menggandeng tangan Rava. Mengajaknya masuk ke dalam. Namun, tubuh Ravindra gemetar. Kakinya terasa lemas karena semalaman berdiri dan hanya bersandar di kap depan mobil.


“Papa…” kata An dengan cemas.


“Tidak apa-apa. Jangan khawatir.” jawab Rava.


Long An pun segera memapah Ravindra ke dalam. Membantunya duduk di sofa. Kemudian bergegas, mengambil air hangat sebaskom.


“Papa, masukkan kakimu ke dalam air hangat ini. Supaya otot kakimu merasa baikan.”


Ravindra yang melihat Long An penuh perhatian merasa sangat terharu. Ia tersenyum dan mengelus kepala anaknya penuh kasih sayang. Ravindra pun segera memasukkan kakinya ke dalam baskom yang berisi air hangat. Long An dengan penuh perhatian memijat kaki Ravindra. Tidak lama kemudian, Irene datang membawakan selimut meski dengan wajah yang masih terlihat kesal.


“Papa, aku akan menyelimutimu.” kata Long An penuh perhatian. Ia menyelimuti Ravindra.


Sedangkan Irene membuatkan minuman hangat supaya tenaga Ravindra cepat pulih.


“Terimakasih.” kata Rava seusai Irene meletakkan minuman hangat di depannya.

__ADS_1


“Aku melakukannya demi Long An.” jawab Irene ketus.


Ravindra mengerti, tidak akan semudah itu Irene memaafkannya. Namun, tanpa Ravindra duga. Irene menempelkan pengompres mata pada Ravindra. Irene tahu betul semalaman Ravindra tidak tidur karena terlihat kantung mata dibagian bawah mata pria tampan itu.


“An, tutup matamu.” perintah Irene dingin.


Long An mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti. Namun, ia tidak membantah dan segera menutup matanya. Ravindra kebingungan dengan sikap Irene. Lantas, tanpa Rava duga Irene mengecup kedua mata Ravindra perlahan. Mata yang sudah terbalut dengan kompres tersebut. Membuat Rava terkaget. Wajahnya langsung memerah. Jantungnya berdegup dengan kencang.


“Terimakasih,” ucap Irene perlahan.


Long An yang usil, membuka sedikit matanya untuk mengintip. Namun, Irene segera berkata kembali.


“Tutup matamu.” kata Irene dengan suara meninggi.


“Ya!! Mama, siap!” teriak Long An.


Ravindra masih diam terpaku karena merasakan degupan jantungnya semakin meningkat. Irene sedikit tersenyum simpul. Lantas mendekatkan wajahnya pada Rava. Berbisik di telinga pria itu.


“Aku akan menghukummu nanti. Dasar pria rambut landak.” bisik Irene.


Kemudian bergegas ke luar rumah. Hendak melakukan sesuatu. Sedangkan Ravindra hanya diam terpaku. Memegangi dadanya yang berdebar kencang karena ulah Irene. Sedangkan Long An tertawa cekikikan. Menyaksikan keromantisan mama dan papanya.


Tak lama berselang, Irene menaiki kendaraan umum dan menuju suatu tempat. Setelah sebelumnya menghubungi seseorang. Setelah berkendara beberapa saat. Irene tiba di suatu tempat. Ia berjalan menaiki sebuah tangga. Rupanya tujuan Irene adalah jembatan penyeberangan dekat AA School. Jembatan penyeberangannya tanpa atap. Sehingga ia dapat melihat pemandangan di sekeliling. Hingar bingar suara kendaraan terdengar begitu keras. Saling berbaur hingga menimbulkan suara kebisingan. Irene hanya diam sembari menatap lurus ke depan.


Rupanya sebelum berangkat tadi. Irene menghubungi Rosalind terlebih dahulu. Meminta untuk bertemu.


“Setelah sekian tahun lamanya. Kamu masih sama. Begitu sombong dan merasa dirimu yang paling hebat.” sahut Irene sembari menatap Rosalind.


Rosalind hanya mendecih dan melipat tangan di dada. Menatap Irene dengan sinis.


“Aku sengaja memilih tempat ini. Kamu tahu kenapa?” tanya Irene.


“Karena kamu hanyalah wanita jalanan. Maka kamu mengundang seseorang juga di jalanan.” ejek Rosalind.


Kini giliran Irene yang mendecih.


“Tahukah kamu, saat dahulu aku mencari pekerjaan di AA School. Aku melewati jembatan penyeberangan ini. Baik saat berangkat maupun saat aku menemui kegagalan.”


“Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan? Jangan bilang kamu sedang melantur karena Ravindra mengkhianatimu bukan? Sudah ku katakan. Jangan merasa dirimu istimewa karena Rava memilihmu. Semua pria sama saja. Jika kamu memancing dengan menggunakan tubuhmu. Para pria akan kepanasan dan yah… seperti yang kamu lihat sendiri tempo hari. Ravindra tergoda oleh tubuh indahku.” Rosalind tersenyum seolah mengejek Irene.


“Apa kamu sangat bangga melakukan itu?” tanya Irene.


“Tentu saja aku merasa puas. Berhasil merebut Ravindra dari tanganmu. Jadi, segeralah bangun dari mimpi indahmu Irene Maxzella.”

__ADS_1


Irene tersenyum dan bersikap dengan tenang. Ia berjalan perlahan mendekat ke arah Rosalind. Menatap dengan tatapan tajam.


“Justru, kamu lah yang seharusnya bersiap-siap bangun dari mimpimu. Jangan kamu pikir kamu sudah mendapatkan segalanya Rosalind Birgita. Sudah aku katakan berkali-kali padamu. Aku diam, meski selama ini kamu terus mengganggu hidupku. Bukan karena aku takut pada wanita sepertimu. Aku hanya ingin melihat betapa rendahnya dirimu. Seorang Rosalind yang kaya raya dan memiliki kehormatan tinggi. Rupanya pernah mendorong seseorang dari atas tangga dan merebut kekasih orang lain menggunakan tubuhnya. Bayangkan bagaimana orang-orang akan mencemoohmu.”


“Kamu?!!!” teriak Rosalind dengan sangat marah.


Menatap Irene dengan penuh kedengkian.


“Aku tahu, kenapa kamu sangat membenciku. Aku hanyalah orang miskin dan tak sebanding bersaing dengan wanita berkelas sepertimu bukan? Aku sudah mengusik rasa gengsimu. Hingga kamu melakukan hal rendah melebihi wanita jalanan sepertiku. Kamu adalah manusia rendahan.” ejek Irene tepat di depan hidung Rosalind.


“Irene!!!” teriak Rosalind sembari melayangkan tangannya hendak menampar Irene.


Irene dengan cepat memegangi tangan Rosalind yang hendak menamparnya. Rosalind berusaha melepaskan tangan Irene. Namun, Irene dengan kuat mencengkeram tangan Ros. Memberikan tatapan tajam pada wanita di depannya tersebut.


“Kamu tidak akan bisa berbuat seenakmu sendiri. Dulu kamu boleh sesuka hatimu. Sekarang, aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” ucap Irene sembari menghempaskan tangan Rosalind dengan kasar.


Rosalind menatap penuh amarah pada Irene.


“Tetapi, kali ini kamu sudah pasti kalah. Ravindra sudah berada dalam genggamanku.” kata Rosalind sembari tersenyum menyeriangi.


“Siapa yang mengatakan Rava berada dalam genggamanmu? Semalaman ia dengan gigih menunggu di depan rumahku. Hanya menunggu diriku seorang saja. Hal yang pasti tidak akan pernah kamu dapatkan darinya selama ini. Hanya aku yang mendapatkan itu dari Ravindra.” Irene yang balik mengejek Rosalind.


Rosalind menatap dengan kesal sembari mengepalkan tangannya.


“Aku menyadari, tempo hari hanyalah rencana busukmu. Untuk merusak hubunganku dengan Ravindra karena aku selalu ingat bagaimana watak aslimu. Jangan kamu pikir aku hanyalah wanita miskin yang bodoh dan mudah ditipu oleh akal licikmu. Tidak kali ini, kamu telah gagal.”


Rahang Rosalind terdengar bergemretak karena menahan emosi. Ia tak dapat mengungguli setiap ucapan Irene.


“Ravindra Damariswara, pria yang sangat gigih memperjuangkan cintanya. Aku, Irene Maxzella tidak akan melepaskan pria seperti itu dengan mudah. Aku lah yang akan menggenggam tangannya. Bukan wanita licik sepertimu. Lihatlah dirimu, kamu tidak memiliki apapun untuk menjerat Ravindra. Sedangkan aku dan Rava memiliki ikatan yang lebih kuat dari apapun, karena kami memiliki Long An.” Irene menatap tajam pada Rosalind. Lantas melempar senyum menghina ke arah wanita licik tersebut.


Lantas Irene berbalik dan melangkah pergi. Namun, terdengar suara Rosalind dengan keras menghentikan langkahnya.


“Dasar wanita miskin tidak tahu diri! Aku bersumpah akan menghancurkanmu hingga dirimu jadi butiran debu. Debu yang tak akan pernah bisa dikenali oleh orang lain!!! Lihat saja nanti!” teriak Rosalind dengan amarah yang meluap. Matanya memerah sembari melempar tatapan tajam pada Irene.


Irene membalikkan badannya dan menatap ke arah Rosalind. Ia pun tak takut menghadapi Rosalind.


“Lakukan saja apa yang kamu inginkan. Mulai detik ini, apa yang telah kamu renggut dariku dahulu  aku akan mengambilnya kembali. Sesuatu yang seharusnya menjadi milikku. Akan ku pastikan seluruh dunia mengetahui Rosalind yang terhormat. Hanyalah wanita licik dan penyihir jahat. Rosalind Birgita hanyalah seorang wanita rendahan.” ejek Irene.


“Irene Maxzella!!! Aku bersumpah akan mencabik-cabik mulutmu!!!” teriak Rosalind dengan amarah yang memuncak.


Tetapi Irene tak perduli. Ia terus melenggang pergi begitu saja. Tidak memperdulikan perkataan Rosalind.


“Lihat saja nanti. Aku akan menghancurkan hidupmu. Berani sekali orang miskin sepertimu menantangku.” gerutu Rosalind sendirian.

__ADS_1


__ADS_2