
... Mulai Terkuak...
Malam dengan bintang dan bulan yang saling berpadu. Memperlihatkan cahaya yang membuat candu. Menjadi saksi ikatan jalinan takdir seseorang. Mencairkan hati yang membeku. Malam itu, lagi-lagi Rava bertemu dengan Long An dan Irene tanpa sengaja. Entah kenapa seolah ada yang membawanya untuk bertemu dua orang asing yang tak begitu dikenalnya. Long An yang melihat Ravindra langsung berlari menghampiri. Lalu memegang tangan Ravindra.
“Paman, kenapa kamu ada di sini?” Tanya Long An dengan riang.
Wajah Long An terlihat berseri-seri saat bertemu Ravindra. Irene yang melihat Long An menghampiri pria tampan tetapi dingin tersebut, segera menyusul anaknya. Irene sedikit menarik Long An agar menjauhi pria bernama Ravindra itu.
“An, jangan mengganggu paman ini.” Kata Irene sembari melirik ke arah Ravindra.
Irene berusaha mengontrol perasaannya. Supaya tidak salah paham mengenai sosok pria tak dikenal yang pernah membuatnya hamil dahulu. Irene menanamkan pada dirinya sendiri. Bahwa pria yang memakai parfum bunga Verbena pasti tidak hanya Ravindra seorang saja. Jadi, Irene berusaha bersikap tenang.
“Mama, aku tidak menganggu paman rambut landak.” Kata Long An dengan memasang wajah menggemaskan.
Irene langsung menutup mulut Long An. Supaya jangan berbicara sembarangan.
“Hehe, putraku kamu bicara apa? Jangan bicara sembarangan.” Irene berkata sambil nyengir. Matanya sedikit melirik sesekali ke arah Ravindra.
Pria di depannya itu berdiri seperti patung. Memasang wajah dingin sedari tadi. Seolah acuh tak acuh.
Apa pria ini robot? Tanya Irene dalam hatinya.
“Anak kecil ini, apa tidak didik dengan baik.” Kata Ravindra tiba-tiba.
“Hei! Apa kamu sedang protes? Anakku adalah anak yang baik. Dia… Dia hanya mengucapkan kejujuran seperti yang ia lihat. Bahwa rambutmu memang seperti landak.” Sahut Irene sambil menahan tawa.
“Ka… ah sudahlah. Ini membuang waktuku.” Kata Ravindra tak perduli. Ia tak ingin membuang waktunya.
Menanggapi orang aneh seperti ibu dan anak ini.
Long An menutup mulutnya sambil menahan tawa. Melihat tingkah paman rambut landak.
“Jika membuang waktumu. Kenapa masih berada di sini?” Irene bertanya dengan sinis.
Lantas mengajak Long An pergi dari tempat itu. Ravindra seolah tak perduli dan berbalik. Lagipula ia tak tahu. Kenapa bisa ia sampai ke sana dan mengikuti Long An maupun Irene. Bisa-bisanya ia melakukan hal bodoh seperti itu. Tepat, disaat Ravindra berbalik, Rava tanpa sengaja menubruk seorang pedagang asongan yang tadi berdiri di belakangnya.
Bruak!
Semua barang dagangan milik Si pedagang berjatuhan. Tetapi Rava hanya menatap dingin dan hendak melangkah. Sampai terdengar suara seseorang menegurnya.
“Hei, pria rambut landak. Lihat siapa yang tak didik dengan baik.”
Suara itu membuat Rava berbalik. Ia melihat siapa yang menegurnya. Seseorang yang menegurnya tak lain dan tak bukan adalah Irene. Irene menatap sinis pada Ravindra. Kemudian membantu si pedagang mengambil barang dagangannya. Long An juga ikut membantu dan memasukkan barang dagangan ke keranjangnya kembali. Sedangkan Rava hanya melihat dengan tatapan tak perduli. Meski sebenarnya ia yang salah.
“Maaf… barang dagangan anda jadi kotor. Aku akan menggantinya.” Kata Irene sembari mengambil uang dari dompetnya.
__ADS_1
Tetapi pedagang tersebut menolak.
“Ah, tidak masalah. Tetapi, apa pria dingin itu suamimu?” Tanya si pedagang asongan.
Irene langsung terkaget dan salah tingkah.
“Bu… Bukan…” Irene berusaha menjelaskan.
“Sayang sekali, padahal kamu wanita yang cantik dan baik hati. Kenapa memilih pria seperti itu.” Celoteh pedagang asongan.
Irene melirik ke arah Ravindra dengan perasaan tak enak. Benar saja, wajah Ravindra berubah masam.
“Uh, lihatlah anak ini. Begitu baik dan menggemaskan. Jika sudah besar nanti jangan seperti ayahmu itu.” Kata pedagang asongan yang masih berceloteh.
“Baik. Maafkan papaku. Ia sebenarnya baik. Tetapi papa dan mama sedang bertengkar. Jadi papaku ngambek.” Jawab Long An malah menjawab seperti itu.
“Eeeeh….” Irene langsung terkejut mendengar Long An berkata seperti itu.
“Bu… Bukan… Bukan begitu….” Irene semakin panik. Apalagi melihat wajah Ravindra semakin masam.
“Oh, jadi begitu. Anak muda, baik-baiklah pada istrimu yang cantik. Pada putra kecilmu yang tampan juga.” Kata pedagang asongan menasihati Ravindra. Sambil menepuk-nepuk bahu Rava.
Rava kelihatan semakin jengkel. Ia disentuh orang tak dikenal. Apalagi pedagang asongan yang tangannya kelihatan kotor. Ravindra mengepalkan tangan dan menahan emosinya. Irene kelihatan berkeringat. Mungkin ia akan dituntut oleh pria kaya di depannya ini. Kemudian pedagang asongan berlalu dari tempat itu. Setelah memberikan Long An permen lollipop.
“Paman, ayo bermain bersama.” Kata Long An ceria sambil menarik tangan Rava.
“Hei… Hei anak kecil.” Kata Rava berusaha menolak ajakan Long An.
Tetapi, Long An sudah menarik tangannya. Mengajak Rava berlarian ke pasar malam tersebut. Mengajak Ravindra bermain bersama. Seketika Irene bernafas lega. Untung saja, ia tak mendapat cercaan dari pria dingin tersebut. Long An terlihat ceria dan mengajak Rava bermain memancing ikan. Para pengunjung di sana melihat ke arah Rava. Di dalam pikiran semua orang. Baru kali ini menjumpai pria mengenakan tuxedo mewah pergi ke pasar malam.
“Apa orang itu seorang pangeran? Kenapa ia memakai tuxedo ke pasar malam?” Bisik para pengunjung lainnya.
Rava langsung menatap ke arah Irene dengan tatapan kesal. Irene hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu pura-pura melihat ke arah lain. Bersembunyi di belakang punggung para pengunjung. Tingkah Irene sangat lucu.
“Paman, ayo kita memancing bersama.” Ajak Long An yang seolah tak perduli.
Ia malah mengajak Ravindra bermain memancing ikan-ikanan. Long An terlihat ceria dan menikmati hal tersebut. Irene terlihat bersiul-siul tak jelas sambil menatap arah lain. Rava mau tak mau ikut memancing bersama An. Long An dengan ceria mengajak Ravindra bermain permainan di pasar malam tersebut. Ada permainan menembak. Memasukkan gelang ke dalam botol. Semuanya dicoba oleh Long An. Bocah itu kelihatan bahagia sekali. Ravindra menemani dengan memasang wajah masam. Sedangkan Irene hanya mengekor di belakang. Ketika Ravindra meliriknya dengan memasang wajah masam, ia hanya nyengir kuda.
“An, jangan mengganggu paman rambut landak lagi.” Bisik Irene pada Long An yang tak enak pada Ravindra.
Long An langsung menatap Rava.
“Paman, apa paman keberatan bermain denganku?” Tanya Long An kelihatan sedih.
“Menurutmu?” Tanya Ravindra balik dengan nada ketus.
__ADS_1
Mata Long An terlihat berkaca-kaca. Irene sedikit mendekat pada anaknya tersebut. Rava hanya melipat tangannya dan tak perduli.
“Naga kecilku, paman rambut landak bukan tidak mau bermain denganmu. Mungkin dia sedang lelah. Jadi, jangan mengganggunya lagi. Main bersama mama saja ya.” Kata Irene menenangkan Long An.
Long An menatap Ravindra dengan tatapan sedih.
“Paman, maaf sudah mengganggumu.” Long An berkata dengan sedih. Ia menundukkan kepalanya.
Disekitar sana, orang-orang yang melihat berbisik-bisik.
“Tega sekali papanya. Tidak mau diajak bermain sama anaknya.” Bisik-bisik orang disekitar mereka.
“Hiks… hiks…” Long An terdengar terisak sambil menundukkan kepala.
Irene berusaha membujuk Long An. Ravindra hanya bisa menghela nafas dalam. Ia paling tidak suka. Jika dibicarakan oleh orang lain.
“Mau main apalagi?” Tanya Ravindra pada Long An.
Nadanya masih terdengar dingin.
“Wuaaah, paman rambut landak mau main bersamaku. Yey!!!” Pekik Long An ceria. Lantas tangan mungil bocah genius tersebut menarik Ravindra.
“Hei… Hei, anak kecil. Apa kamu tadi berpura-pura?” Tanya Ravindra merasa dibodohi Long An.
Long An hanya tertawa lebar dan menarik tangan Rava. Lantas mengajak Rava menaiki bianglala. Rava seketika menatap Irene dengan tatapan tajam. Irene kembali nyengir kuda dan berkeringat dingin. Hari ini Long An memang sedikit manja.
“Haha… Haha… Aku lupa belum menghitung jariku hari ini. Ada berapa ya?” Irene salah tingkah. Ketika Rava menatapnya dengan tajam karena ulah putranya. Jadi, Irene berkata sesuatu yang tak jelas.
Alhasil Long An dan Ravindra naik bianglala. Tetapi mau tak mau, Rava harus menunduk karena tinggi badannya. Kepalanya sudah terantuk atap bianglala. Wajah tampannya semakin terlihat masam.
“Mama!!! Mama!!!” Teriak Long An dengan wajah ceria. Ia melambaikan tangannya pada Irene saat bianglala mulai berputar dan naik ke atas.
Irene tak pernah melihat Long An sebahagia ini. Ia pun mengambil ponsel. Merekam moment ketika Long An naik bianglala dan tertawa bahagia seperti hari ini. Divideo tersebut wajah Rava semakin masam. Irene ingin tertawa tetapi takut dosanya bertambah. Jadi, ia pura-pura tak tahu saja.
Mata Long An begitu berbinar. Ketika bianglala yang ia naiki sudah mulai berada di atas. Ia tak berkedip sedikitpun menyaksikan lampu-lampu dan pemandangan nan jauh dibawahnya. Sedangkan Rava yang duduk di depan Long An, menopang kepalanya dan terlihat mendengus kesal.
“Paman rambut landak. Terimakasih, telah menemani An bermain. Aku, sangat bahagia sekali. Jadi, seperti ini rasanya. Jika seandainya aku bermain dan memiliki seorang papa.” Kata Long An sambil tertawa lebar.
Matanya yang sipit semakin sipit ketika tersenyum. Ada binar kebahagiaan diraut bocah cilik tersebut.
Melihat itu semua, seketika Ravindra terperanjat. Ia seolah melihat dirinya dahulu sewaktu kecil. Ia memiliki ayah. Tapi ayahnya tak pernah mengajaknya bermain. Rava hanya menatap An dengan dalam. Entah kenapa, hatinya merasa memiliki ikatan dengan bocah karateka di depannya itu.
Tidak lama kemudian, Long An tertidur.
Saat bianglala kembali turun. Ravindra menggendong Long An dipunggungnya. Irene yang melihat itu, segera mengambil alih menggendong Long An. Ia merasa tak enak pada Ravindra. Tepat, disaat Irene menggendong Long An. Tanpa sengaja matanya melihat lengan baju kiri Rava tersingkap. Matanya terbelalak, saat melihat tato naga tercetak jelas di lengan kiri Ravindra. Membuat Irene terkejut setengah mati.
__ADS_1