Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 96 - Ending


__ADS_3

...Kebahagiaan Sejati...


           Di ruang rias. Irene sedang didandani. Ia mengenakan gaun berwarna putih panjang. Riasannya tidak terlalu mencolok. Tetapi hari ini, Irene kelihatan sangat cantik. Auranya terpancar. Wajahnya kelihatan berseri-seri. Senyum terus terpancar dari sudut bibirnya. Di lehernya tergantung liontin berbandul bunga Lotus pemberian Ravindra. Irene tersenyum sembari meraba liontin tersebut. Dalam hidupnya tak pernah sekalipun membayangkan akan datangnya hari ini. Hari di mana ia berjanji menghabiskan waktu bersama seseorang. Apalagi pria yang tak pernah ia bayangkan hadir dalam hidupnya. Pria yang pernah menghamilinya tanpa sengaja.


           Di saat Irene sedang mengingat kilas balik masa lalunya. Tiba-tiba sebuah pelukan hangat ia rasakan.


           “Mama….” sapa seseorang yang tak lain adalah Long An.


           Long An memeluk ibunya dengan sangat erat. Irene dapat merasakan kebahagiaan dari anak kesayangannya tersebut. Terbukti dari wajahnya terlihat berseri-seri dan senyum terus mengembang dari pipi paonya. Irene kemudian berbalik dan memegangi pipi Long An.


           “Apa Naga kecil mama sangat bahagia hari ini?” tanya Irene.


           Long An mengangguk dengan yakin.


           “An, sungguh-sungguh sangat bahagia. Rasanya seperti dunia ini berada dalam pelukan Long An. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang sangat panjang. Kita bisa berkumpul bersama sebagai satu keluarga.”


           Irene tersenyum hangat mendengar perkataan putra kesayangannya. Putra yang telah mengubah hidupnya. Si kecil Long An yang telah mempersatukannya dengan Ravindra. Pria berhati dingin namun sebenarnya memiliki hati yang baik.


         “Terimakasih untuk segalanya karena telah terlahir menjadi anak mama.” kata Irene sembari memberikan kecupan di kening Long An.


           Long An tersenyum bahagia.


         “Terimakasih juga karena telah melahirkan An. Membuatku mencapai titik kebahagiaan dan meraih impian. Aku menyayangimu mama.”


           Irene tersenyum, “mama juga menyayangimu putraku.”


           Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Rupanya yang masuk adalah Nyonya Meri dengan mendorong kursi roda Nyonya Kania.


           “Nenek?” sapa Long An ceria.


           Lalu menghampiri Nyonya Kania. Keduanya saling berpelukan dengan hangat. Kesehatan Nyonya Kania semakin hari semakin membaik. Meskipun masih harus duduk di kursi roda.


           “Wah, lihatlah cucu nenek. Kelihatan sangat tampan dan menggemaskan. Setelan tuxedo berwarna putih sangat cocok untukmu.” puji Nyonya Kania.


           “Tentu saja An tampan karena mewarisi ketampanan papa rambut landak. Upss papa Ravindra yang sangat tampan.” jawab Long An diiringi senyum lebar.


           Nyonya Kania tersenyum dan mengelus kepala cucunya. Nyonya Meri yang berdiri di belakang Nyonya Kania mengerdipkan matanya. Memberikan kode pada Long An. An sepertinya paham maksud Nyonya Meri. Keduanya lantas keluar ruangan dan memberikan waktu untuk Irene dan Nyonya Kania berbicara. Setelah Long An dan Nyonya Meri meninggalkan ruangan. Irene dan Nyonya Kania saling berpandangan. Mereka masih sedikit kikuk.


           “Ah…” kata keduanya bersamaan.


           Lantas tersenyum bersama karena sama-sama membuka suara. Irene lalu berjalan perlahan dan berlutut di depan ibunya. Supaya bisa sejajar. Ia menggenggam tangan ibunya dengan erat.


           “Bu, terimakasih karena waktu itu berusaha menyelamatkanku. Hingga ibu terluka parah.” kata Irene sedih.


           “Jangan berterimakasih, itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu. Harusnya ibu melakukannya sejak dahulu dan bukan meninggalkanmu begitu saja. Hingga kamu harus melewati masa sulit sendiri. Maafkan ibu.” balas Nyonya Kania.


           Irene segera menyentuh pipi ibunya. Membelainya dengan perlahan.


           “Jangan meminta maaf di hari yang membahagiakan ini. Tidak perlu mengingat masa lalu. Mari bahagia bersama dan menatap masa depan. Aku menyayangimu Bu.” kata Irene dengan tulus.


           Nyonya Kania yang mendengar penuturan Irene merasa sangat bahagia. Irene tak lagi membencinya dan memaafkan segala kesalahannya. Seketika itu juga Nyonya Kania langsung memeluk Irene.


           “Ibu juga menyayangimu putriku. Berbahagialah bersama keluarga kecilmu. Hari ini kamu terlihat sangat cantik.” kata Nyonya Kania. Perlahan melepaskan pelukannya. Mereka saling melempar senyum kebahagiaan.

__ADS_1


Kini, di hari yang cerah dan langit biru yang indah. Di sebuah kebun dengan rumput berwarna hijau yang menawan. Di sekelilingnya di hiasi ornamen serba putih yang cantik. Banyak tamu undangan berdatangan dari berbagai kalangan. Mereka terlihat bahagia menjadi saksi pernikahan suci antara Irene dan Ravindra. Ravindra kelihatan tampak sangat tampan dan gagah. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Irene. Irene berjalan perlahan di dampingi Long An dan Si kembar sebagai pengiring pengantin. Si kembar juga mengenakan gaun berwarna putih. Mereka terlihat menggemaskan.



Ravindra kini berhadapan dengan Irene. Mereka saling bertatapan penuh cinta. Langit begitu cerah menjadi saksi kebahagiaan kedua insan yang telah melewati banyak rintangan dalam hidup. Angin berhembus secara perlahan. Menebarkan bau wewangingan cinta. Konsep pernikahan Irene dan Ravindra adalah Garden Party. Di tengah tempat pesta terdapat kolam buatan berisi bunga Lotus putih kesukaan Irene.



Ravindra dan Irene mengucapkan janji suci pernikahan. Menerima kekurangan maupun kelebihan satu sama lain. Berjanji selamanya untuk hidup bersama. Membangun rumah tangga yang bahagia. Disaksikan oleh para tamu undangan. Kemudian perlahan Ravindra menyematkan cincin pernikahan di jemari manis Irene. Lalu bergantian Irene menyematkan cincin di jari Ravindra. Kini keduanya telah sah menjadi suami istri dalam ikatan yang suci.



Tamu undangan bertepuk tangan dengan riuh. Rava dan Irene saling bertatapan penuh cinta dan malu-malu.



“Rene… terimakasih telah menerima hatiku. Sekarang dan untuk selamanya. Hatiku akan selalu menghangat. Cintamu sangat berharga untukku.” kata Ravindra dengan senyum kebahagiaan, sembari menggenggam tangan Irene.



“Aku juga berterimakasih karena telah mempercayakan hatimu padaku. Mari membangun keluarga kecil yang bahagia.” balas Irene dengan kebahagiaan yang membuncah.



Kemudian Ravindra mendekat dan mencium kening Irene sepenuh hati. Para tamu undangan bersorak sorai penuh bahagia. Menyaksikan kedua insan yang saling mencintai kini telah bersama. Long An yang menyaksikan kedua orang tuanya telah bersatu merasa sangat bahagia. Ia tersenyum penuh haru.




Kemudian An berlarian menghampiri kedua orang tuanya.



“Mama!! Papa!!” panggil Long An dengan ceria.



Ravindra dan Irene tersenyum bahagia sambil memeluk Long An. Rava bahkan juga menggendong anaknya tersebut. Tamu undangan bertepuk tangan merasakan kebahagiaan keluarga kecil Damariswara. Tak ketinggalan Tuan Marvin, Nyonya Kania, dan juga keluarga Nyonya Meri beserta Pak Ahen. Dareen dan Nenek Heera ikut bertepuk tangan dengan antusias. Bahkan Amao juga ikut menggonggong. Jika bisa bicara mungkin Amao juga akan mengucapkan selamat pada Irene dan Ravindra. Terutama pada Si kecil Long An. Tak ketinggalan Pak Albert dan Pak Reno juga menjadi saksi kebahagiaan keluarga Damariswara.



“Aku menyayangimu… mama…. papa…” kata Long An yang berada digendongan Ravindra sembari mencium pipi Ravindra dan Irene bergantian.



“Kami juga menyayangimu An. Naga kecil yang hebat,” ucap Irene dan Ravindra bersamaan. Kemudian keduanya sama-sama mencium pipi pao Long An yang menggemaskan.



Si kembar bersiul-siul dengan keras. Diiringi suara tepukan riuh dari tamu undangan. Tak ketinggalan Alex juga ikut menghadiri acara tersebut. Ia tak lagi bermusuhan dengan Long An. Mereka kini menjadi teman baik. Tidak lama berselang, Long An mengajak teman-temannya bersiap-siap. An juga mengundang anak genius lain untuk menyaksikan pernikahan kedua orang tuanya. Termasuk kakak beradik dari cerita *anak genius My Papa My Boss* dan juga para genius dari cerita *Pandawa Kecilku*. Mereka semua berkumpul bersama. Merayakan kebahagiaan ini.


__ADS_1


Ravindra lantas mengajak Irene ke tengah taman. Tamu undangan mengelilingi. Lantas Rava memberikan Irene kado yang pernah Nyonya Kania berikan. Berupa busur lengkap dengan anak panahnya.



“Busur dan anak panah ini adalah pemberian ibumu.” kata Ravindra.



Irene menatap tak percaya. Ibunya sangat perhatian padanya. Lantas matanya memandangi Nyonya Kania yang tak jauh dari sana. Nyonya Kania tersenyum dan memberikan semangat pada Irene untuk mencoba busur dan anak panah pemberiannya.



“Cobalah.” kata Rava yang berdiri di samping Irene.



“Ta… tapi… aku tidak lagi bisa memainkan panahan.” jawab Irene.



“Aku akan membantumu. Mari wujudkan mimpimu yang sempat tertunda dan kita bahagiakan tamu undangan.” kata Ravindra. Kemudian melangkah di belakang Irene.



Irene tersenyum dan mengerti maksud Ravindra.



“Mari lakukan bersama.” Irene tersenyum. Di belakangnya Ravindra membantu Irene memasang anak panah di busurnya.



Sasaran mereka adalah dua buah balon yang sangat besar. Balon itu sudah dipersiapkan dan digantung. Bahu Irene memang cedera sehingga tidak bisa merentangkan busur secara sempurna. Jadi, Ravindra membantu Irene dengan merentangkan busur. Kemudian bersama-sama memegangi anak panahnya. Irene dan Rava membidik sasaran. Lantas dalam hitungan ketiga, Rava dan Irene melepaskan anak panah secara bersamaan.



Anak panah tersebut melesat menembus balon yang tergantung hingga keduanya pecah. Tepat saat pecah balon pertama menaburkan kelopak bunga mawar. Seolah hari itu sedang hujan bunga mawar. Sedangkan balon yang kedua menaburkan banyak permen dan coklat. Semua orang bersorak penuh kebahagiaan. Bertabur kelopak bunga mawar merah. Anak kecil terlihat bahagia mengambil permen dan coklat yang berjatuhan.



Kemudian, giliran Long An dan teman-teman lainnya menerbangkan banyak balon. Mereka tertawa ceria. Kebahagiaan sejati yang didapat setelah melewati banyak rintangan yang datang silih berganti. Long An terlihat bahagia berada di tengah-tengah antara Irene dan Ravindra. Menatap balon yang membumbung tinggi ke angkasa. Membawa banyak harapan dan doa untuk kehidupan di masa mendatang yang dipenuhi kebahagiaan. Akhir kisah anak genius Long An menyatukan kedua orang tuanya pun telah usai.


...***...


Mungkin karya author ini jauh dari kata sempurna. Bahkan banyak sekali membuat orang bosan, tidak paham, atau merasa ceritanya berputar-putar. Tetapi inilah yang bisa author suguhkan. Semoga tetap bisa memberi hiburan dan kebahagiaan pada pembaca. Meski hanya sedikit kebahagiaan. Author hanya ingin menyampaikan melalui tulisan. Bahwa untuk mencapai kebahagiaan sejati tidak bisa didapatkan dengan mudah. Mungkin harus melewati banyak rintangan. Mungkin juga harus berputar-putar. Author hanya bisa mengucapkan banyak terimakasih bagi pembaca yang sudah setia mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir. Semoga kalian semua sehat selalu. Terimakasih banyak. Sampai jumpa lagi semuanya☺☺☺


 


 


          


 

__ADS_1


__ADS_2