
...Sebuah Tawaran...
Di sebuah Rumah Sakit California, bagian Negara Amerika.
Irene sedang duduk di depan seorang dokter paruh baya. Dokter menunjukkan hasil scan tubuh Long An. Begitu juga pemeriksaan kesehatan menyeluruh pada Long An. Dokter sedang mengamati hasil scan maupun hasil pemeriksaan tersebut. Irene menunggu penjelasan dari dokter. Dia menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Setelah menunggu beberapa saat. Terdengar suara Sang Dokter.
“Madam, I have checked your son's examination results. (Nyonya, saya sudah memeriksa hasil pemeriksaan putra anda).”
“Yes Doc. How is my child's condition? (Iya Dok. Bagaimana keadaan anak saya?)”
Dokter tersenyum menampakkan wajah yang ceria.
“Nyonya, sepertinya kecemasan yang kita khawatirkan selama ini tidak akan terjadi. Ini sungguh keajaiban. Keadaan rohani dan jasmani putra anda tidak ditemukan masalah. Ini benar-benar luar biasa. Seharusnya, seorang anak yang terlahir prematur akan mengalami ketidaksempurnaan. Entah dari fisik maupun sarafnya. Namun berbeda dengan putra anda.” Kata dokter ikut bahagia.
Terdengar helaan nafas kelegaan dari Irene. Rasanya hatinya sudah tenang.
“Anak anda sungguh berbeda dengan anak lainnya. Anak anda tumbuh berkebalikan dibanding dengan anak yang terlahir prematur lainnya. Justru, ia tumbuh sehat dan kuat. Saya juga sudah memeriksa hasil IQ nya. Dia benar-benar memiliki IQ yang tinggi. Anak anda termasuk anak yang genius. Terutama genius dibidang yang berhubungan dengan motoriknya.” Dokter menjelaskan panjang lebar.
“Saya benar-benar lega mendengarnya.” Irene berkata penuh kelegaan.
Kekhawatiran yang ia rasakan kini sirna sudah.
“Anak anda berkembang pesat setelah melatih fisiknya dengan seni bela diri karate. Hal itu menempa tubuhnya menjadi kuat. Saya juga melihat, kasih sayang anda begitu besar padanya. Mungkin itu semua menyatu dan membuat anak anda menjadi luar biasa seperti sekarang ini. Kasih sayang seorang ibu, ditempa latihan fisik dan keajaiban Tuhan semuanya berpadu. Membuat anak anda yang terlahir prematur. Menjadikannya seorang anak genius. Tetaplah dampingi putra anda, karena kekuatan seorang anak terletak pada kasih sayang ibunya.” Kata dokter memberikan saran.
Irene yang merasa sangat bahagia. Menganggukkan kepalanya dengan mantap.
“Tentu saja Dok. Saya akan selalu mendampinginya.”
Tidak lama berselang, Irene keluar dari rumah sakit dengan langkah yang ringan. Wajahnya tak lagi menunjukkan kecemasan. Berbeda ketika saat ia menuju rumah sakit tadi. Kini, ia dapat bernafas lega mengenai kondisi Long An. Irene lagi-lagi bersyukur atas hidupnya sekarang ini. Setidaknya anak kesayangannya tak merasakan kemalangan seperti dirinya. Wanita muda yang memiliki paras nan cantik jelita itu tersenyum sembari menengadahkan kepalanya. Melihat ke langit yang begitu luas. Matahari bersinar dengan terang. Menunjukkan kegagahannya nan perkasa. Sang Raja Surya terlihat terang benderang merasuk ke dalam hati Irene. Menghangatkan hati dan membuat Irene tersenyum dengan cerah.
Irene Maxzella melangkah dengan begitu riang. Berjalan ditengah padatnya kota California, negara bagian Amerika. Hiruk pikuk orang bule banyak berlalu lalang disekitar Irene. Gedung-gedung pencakar langit terlihat menjulang tinggi bagaikan menembus awan. Seolah mengiringi kebahagiaan Irene. Seorang wanita yatim piatu yang dimasa mudanya ditempa dengan kesedihan maupun penderitaan.
Disaat Irene tengah asyik berjalan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia berhenti sejenak. Kemudian segera mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas tentengnya. Di layar ponselnya tertera kontak dengan nama…
Dareen
Irene menggeser tombol warna hijau. Mengangkat panggilan telpnya yang terus meraung-raung minta tersambung. Sedetik kemudian, terdengar suara Dareen begitu nyaring.
__ADS_1
Rene, kamu di mana? Tanya pria yang diam-diam menyukai Irene tersebut.
“Aku barusan dari rumah sakit. Memeriksa kesehatan Long An.” Jawab Irene sembari berjalan ke tempat yang agak sepi, karena disekelilingnya begitu banyak orang-orang.
Mereka menimbulkan suara hingar bingar yang membuat Irene tak begitu mendengar dengan jelas suara Dareen. Setelah menjauh dari keramaian. Barulah Irene dapat mendengar suara Dareen dengan jelas.
“Maaf, di sini sangat ramai. Aku tidak begitu mendengar suaramu. Bisa kamu ulangi?” Tanya Irene pada Dareen.
Aku barusan mengatakan, kenapa tidak memberitahuku. Jika kamu hendak pergi ke rumah sakit. Aku bisa mengantarmu. Hari ini, aku sedang ada waktu luang. Jawab Dareen diseberang telp.
“Tidak apa-apa. Aku tidak ingin merepotkanmu.” Balas Irene.
Irene memang seorang wanita yang mandiri. Selama ini, ia berusaha tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain. Baginya, jika bisa melakukannya sendiri kenapa tidak.
Kamu memang tidak pernah berubah. Aku kagum padamu. Wanita yang mandiri. Puji Dareen.
“Jangan mengagumiku. Aku biasa saja. Ehmm… ada apa menghubungiku?” Tanya Irene kemudian.
Ahh mengenai itu, mari bertemu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Dareen menjawab, sepertinya ada hal mendesak yang harus ia beritahukan pada Irene.
Wanita muda pemilik senyum memikat itu mengernyitkan keningnya, penuh tanda tanya. Sepertinya ada hal mendesak yang ingin Dareen sampaikan.
“Aku tahu, ini sangat mendadak. Kemarin, salah seorang perwakilan dari sekolah khusus atlet dari Indonesia menghubungiku. Ia memberikanku proposal penawaran. Proposal itu berisi perekrutan anak berbakat dalam bidang olahraga. Pihak sekolah ingin merekrut Long An menjadi bagian dari sekolah mereka.” Kata Dareen memulai pembicaraannya.
Irene masih termenung memandangi proposal yang ada dihadapannya. Di dalam benaknya timbul berbagai macam pikiran. Kenapa diantara sekian sekolah harus dari negaranya sendiri yang merekrut Long An. Perlahan Irene membuka proposal tersebut.
“Kamu pasti mengetahui, sekolah Aksara Atlet School atau orang menyebutnya AA School. AA School berada dibawah naungan Yayasan Aksara yang dimiliki oleh mantan atlet besar karateka kita, Marvin Damariswara.” Lanjut Dareen lagi.
“Siapa yang tak tahu sekolah itu. Sekolah yang banyak melahirkan atlet berbakat di negara kita.” Balas Irene.
“Ya, benar. Kamu pun pasti mengetahui itu. Mereka ingin merekrut Long An menjadi siswa di sekolah itu. Sebenarnya sudah sejak lama mereka memantau perkembangan Long An. Jadi, mungkin mereka sudah yakin sekarang akan kemampuan anak itu.” Dareen berkata sembari menyeruput minumannya. Hari ini di California cuacanya cukup panas.
Irene diam sejenak. Lagi-lagi pikirannya tengah bergumul satu sama lain. Disaat pikiran Irene tengah berkecamuk. Suara Dareen kembali terdengar.
“Mungkin memang benar. Di sini Long An sudah mendapatkan pengakuan. Tetapi tetap saja. Dia bukan warga negara ini. Tentu saja, dia akan kesulitan bertanding resmi membawa nama negara. Jika Long An, benar-benar ingin menjadi atlet berskala besar. Hal ini, akan menjadi peluang yang bagus. Pikirkanlah masa depan Long An. Semua keputusan ada ditanganmu. Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu.” Dareen mengatakan dengan tulus.
Tangannya perlahan menyentuh tangan Irene yang berada di atas meja. Namun, perlahan Irene menggeser tangannya. Dareen yang melihat itu jadi sedikit kikuk. Begitu halnya dengan Irene. Tidak lama kemudian, perbincangan mereka usai.
__ADS_1
Kini, Irene tengah berjalan menuju flat sewaannya. Ia berjalan sembari memikirkan segala hal. Langit yang tadinya berwarna biru cerah seakan ikut berubah. Berwana kuning keemasan pertanda Sang Raja Surya kembali keperaduannya. Helaan demi helaan terdengar dari wanita bertinggi 160 cm tersebut. Kemudian, ingatannya kembali melayang ke suatu waktu di saat dia berumur 10 tahun.
Flashback
Seusai berlatih panahan. Irene berjalan beriringan dengan ayahnya. Berjalan bersama kala senja diufuk barat. Irene berjalan dengan riang sembari menenteng busur miliknya.
“Putriku… hari ini ayah sangat bahagia sekali.”
Wajah Sang ayah terlihat berbinar. Ditambah sinar cahaya senja kekuningan menerpa wajah si ayah.
“Hemm, kenapa ayah sangat bahagia?” Tanya Irene kecil penasaran.
“Ada dua hal yang membuat ayah sangat bahagia.” Jawab si ayah dengan wajah berseri-seri.
“Hemm, katakan padaku ayah. Apa itu?” Tanya Irene kecil semakin penasaran.
Ayah Irene tersenyum dengan hangat sembari memandangi putri kecilnya.
“Hal pertama yang membuat ayah bahagia adalah memiliki putri yang luar biasa sepertimu, Nak.”
Mendengar perkataan ayahnya, Irene berbinar ceria. Wajahnya terlihat berseri-seri.
“Lalu yang kedua, apa ayah?” Tanya Irene.
“Lantas yang kedua adalah hari ini Marvin Damariswara. Salah satu atlet karate kebanggaan negara ini telah memenangkan kejuaraan Internasional selama tiga kali beruntun. Bukankah itu luar biasa? Ayah memiliki putri yang tak kalah luar biasanya. Ayah juga bahagia atlet favorit ayah menjadi juara Internasional. Suatu hari nanti, ayah juga ingin melihat putri ayah membawa panji-panji bendera negara Indonesia. Untuk ditancapkan pada kejuaraan dunia dan mengharumkan nama bangsa kita. Ayah percaya padamu Nak. Kamu pasti bisa melakukannya.” Jawab ayah Irene diiringi senyum hangat.
Irene kecil yang mendengar perkataan ayahnya begitu tercekat. Didalam hati Irene dengan sendirinya timbul tekad yang berkobar. Ia akan menjadi kebanggaan ayahnya dan juga negara ini. Lantas mereka kembali berjalan dengan langkah riang menuju cakrawala senja.
Flashback End
Irene menghela nafas dalam. Ia hanya bisa tersenyum pahit. Semua angan itu hanya akan tertinggal di masa lalu dan tak akan pernah menjadi masa depan. Tanpa Irene duga, samar-samar terdengar suara anak kecil di taman dekat flat sewaannya.
“Hyaa!! Hyaa!! Hyaa!!” Teriak anak kecil tersebut.
Seorang anak kecil mengenakan pakaian karate tengah berlatih jurus-jurus karate. Kuda-kudanya sangat kokoh. Pukulan dan tendangannya begitu bertenaga. Anak kecil itu tak lain adalah Long An, putra kesayangan Irene.
Irene terpana melihat kegigihan Long An yang terus berlatih. Ia seperti melihat dirinya sewaktu kecil dahulu. Irene hanya bisa berkata dalam hatinya.
__ADS_1
Ayah, aku mungkin tak bisa mewujudkan keinginanmu. Tetapi dia, dia yang aku banggakan pasti akan bisa mewujudkan keinginamu. Narasi Irene.