Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 59


__ADS_3

... Berlibur Ke New Caledonia ...


           Masa lalu mengenai ibu kandungnya membuat Irene kelihatan muram. Long An sering melihat ibunya menyendiri, sembari menatap fotonya dahulu tatkala bersama ayah dan ibunya. An kelihatan sedih. Ia ingin ibunya kembali seperti semula. Tetapi tak tahu harus berbuat apa. Pagi itu, disaat Long An sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah. Tiba-tiba suara klakson mobil VW warna pink terdengar nyaring di depan rumah. Rupanya suara klakson tersebut berasal dari mobil Nyonya Meri. Nyonya Meri terlihat ceria dan melambaikan tangannya. Disusul Si kembar yang menurunkan kaca pintu belakang sambil tertawa riang.


           “Halo!!” sapa Nyonya Meri dan Si kembar dengan riang.


           “Bu Meri, kenapa bisa tiba-tiba ke sini?” tanya Irene kaget.


           “Aku merindukanmu mama Long An. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama. Si kembar juga ingin berangkat sekolah bersama An. Jadi, kita sekalian jalan saja.” ajak Nyonya Meri sambil tertawa sumringah.


           “Selamat pagi Bu Meri.” sapa Long An dengan tawa renyah sambil menjabat tangan Bu Meri dan menciumnya.


           Kemudian Long An tosh dengan Si Kembar. Sambil mengumandangkan yelyel ala Triple Kancil.


           “Triple Kancil, in your areaaah.” Long An dan Si kembar tertawa lebar. Mereka mengikuti gaya girlsgroup Black-emping.


           Irene langsung melongo menyaksikan anak-anak itu memiliki julukan.


           “Sejak kapan mereka memiliki nama Triple Kancil?” tanya Irene.


           “Haha, biasalah anak-anak selalu memiliki julukan sendiri.” sahut Nyonya Meri.


           Irene jadi ikut tersenyum menyaksikan anak-anak yang masih polos penuh keceriaan.


           “Mama Long An, aku akan mengantarkanmu berangkat ke TK sekalian.” ajak Nyonya Meri.


           “Ta.. tapi… apa tidak merepotkan?”


           “Aduh, mama Long An jangan sungkan seperti itu. Aku tidak merasa kerepotan. Justru ini membuatku senang.” jawab Nyonya Meri tulus.


           “Mama, mari berangkat bersama.” pinta Long An.


           “Tante, ayo berangkat bersama. Pasti menyenangkan.” ajak Meichan.


           “Ayo tante, ini akan menyenangkan.” timpal Chanmei.


           Irene yang tadinya merasa tak enak. Melihat mereka antusias. Akhirnya mengiyakan dan segera masuk ke dalam mobil kodok berwarna pink tersebut. Setelah Irene masuk, mobil VW segera meluncur. Terlihat tawa keceriaan di dalam mobil. Nyonya Meri terlihat bernyanyi meski suaranya sumbang. Membuat orang jadi tumbang. Tepat disaat mobil VW berwarna pink tersebut berjalan beberapa meter saja. Mendadak di depannya sebuah mobil Limosin yang kelihatan sangat mewah datang menghadang. Seketika Nyonya Meri menginjak pedal remnya dengan cepat. Tak ayal, para penumpang jadi merasakan guncangan.


           “Aduuuh.” kata Long An dan Si kembar bersamaan karena kepalanya terantuk kursi depan.


           Irene juga sedikit mengusap kepalanya karena terbentur. Untungnya tidak terlalu parah. Nyonya Meri juga ikut mengelus kepalanya yang sakit. Ia kelihatan marah dan segera keluar dari mobil. Mengepalkan tangan dan hendak memberikan nyanyian sumpah serapah pada pengemudi Limosin tersebut. Disaat Nyonya Meri bersiap memberikan kutukan. Tiba-tiba seorang pria tampan keluar dari mobil Limosin mewah. Ia menatap Nyonya Meri dengan gaya yang sangat cool. Pria itu tak lain adalah Ravindra.


           Nyonya Meri yang tadinya hendak memberikan cacian segera menelan kembali caciannya tersebut.


           “Tu… Tuan Ravindra.” sapa Nyonya Meri.


           Irene yang melihat dari dalam mobi. Seketika terkejut melihat yang datang rupanya adalah Ravindra. Ia segera turun disusul oleh Long An dan Si kembar.


           “Paman rambut landak?!” pekik Long An dengan ceria.


           Hingga detik ini Long An belum memanggil Ravindra dengan sebutan Papa. Ia ingin Rava sendiri yang memintanya memanggil seperti itu.

__ADS_1


           “Tuan Tampan!” pekik Si kembar mengikuti Long An. Lalu ketiganya menghampiri Ravindra dengan wajah berseri-seri.


           “Kenapa kalian selalu berisik?” tanya Ravindra dengan wajah datar seperti biasanya.


           “Itulah kami, Triple Kancil.” jawab ketiga bocah tersebut dengan memasang wajah imut.


           “Kenapa sepagi ini tiba-tiba datang dan mencegat kami begini?” tanya Irene yang ikut bergabung.


           “Besok adalah hari sabtu. Minggu depan sekolah libur, karena anak-anak menyiapkan diri untuk seleksi atlet Nasional. Jadi, aku berfikir mengajakmu dan Long An berlibur.”


           “Uhhh lala, aku mencium aroma cinta yang membara khukhu.” komentar Nyonya Meri sambil tertawa cekikikan.


           Triple Kancil juga ikut tertawa sumringah. Irene menjadi memerah karena malu.


           “Ke… kenapa mendadak seperti ini? Bukankah kamu bisa menghubungi dan memberitahuku terlebih dahulu?” tanya Irene yang jantungnya tiba-tiba berdegup. Ketika mengingat bagaimana tempo hari Rava memeluknya dengan erat saat ia sedang menangis.


           “Kenapa harus menghubungimu? Jika bisa bertemu langsung.” jawab Rava dengan santai.


           Irene semakin dibuat kelabakan dengan sikap Ravindra. Sedangkan Triple kancil dan Nyonya Meri hanya tertawa cekikikan. Menyaksikan dua insan manusia yang sedang merasakan cinta.


           “Tetapi tetap saja. Jika ingin mengajak berlibur. Banyak hal yang harus dipersiapkan.” gerutu Irene dengan memasang wajah cemberut.


           “Apanya yang harus dipersiapkan. Semua sudah tersedia.” lagi-lagi Rava menjawab dengan santai.


           “An ajaklah Si kembar masuk ke dalam mobil.” pinta Rava.


           “A.. apa? Apa aku boleh mengajak Si kembar?” tanya Long An terkaget.


           “Aku tidak ingin kamu kesepian saat berlibur. Maka aku memperbolehkanmu mengajak Si kembar.” jawab Rava.


           Namun, sedetik kemudian Si kembar kelihatan murung.


           “Jika kami ikut. Tetapi mama kami tidak ikut. Aku dan Chanmei tidak ikut saja.” kata Meichan dengan wajah sedih.


           “Benar, meskipun mama kami gendut. Kami tidak bisa jauh darinya.” timpal Chanmei.


           “Oh putriku tersayang. Mama jadi terharu. Mama tidak masalah. Pergilah dan temani Long An.” kata Nyonya Meri.


           Long An jadi ikut sedih. Ia menatap Rava dengan tatapan puppy yang memelas. Rava pura-pura tidak melihat Long An.


           “Sepertinya liburan akan batal. Mari berangkat sekolah saja.” ajak Irene sambil menatap sinis pada Rava.


           “Ah, kalian benar-benar merepotkan. Masuklah semuanya. Kita berlibur bersama.” kata Rava sambil melipat tangannya di dada.


           “Ta.. tapi.. aku tidak bisa meninggalkan suamiku sendirian.” sahut Nyonya Meri.


           “Suamimu akan menyusul. Jadi, segeralah kalian masuk ke dalam mobil.” Rava tidak mau ambil pusing dan segera masuk ke dalam mobil.


           Awalnya semua orang terbengong. Namun, tidak lama berselang, mereka bersorak kegirangan.


           “Hore!! Kita berlibur gratis.” pekik Meichan.

__ADS_1


           “Yeaah! Liburan gratis.” timpal Chanmei.


           Long An segera masuk ke dalam di susul oleh Si Kembar dan Nyonya Meri. Sedangkan Irene yang terakhir masuk sembari melempar senyum memikat pada Ravindra. Ravindra yang diberikan senyum memikat, wajahnya langsung memerah dan berdehem saja. Kelihatan salah tingkah. Pak Albert yang menjadi driver segera menyetir mobil Limosin mewah tersebut. Sedangkan mobil VW Nyonya Meri di antar pulang oleh assisten Ravindra yang lain. Sekaligus menjemput suami Nyonya Meri.


           Setelah cukup lama berkendara. Akhirnya mereka sampai di sebuah landasan pacu pesawat milik pribadi. Di landasan pacu tersebut tampak pesawat Jet mewah sudah siap berangkat. Terdengar suara mesinnya yang menderu perlahan. Menantikan para penumpang yang hendak berangkat. Triple Kancil dan Nyonya Meri langsung melongo. Seumur hidup mereka tak pernah melihat landasan pacu pesawat pribadi. Apalagi naik pesawat Jet yang sangat mewah ini.


           “Tuan, anda sungguh sangat kaya sekali.” puji Nyonya Meri sambil mengacungkan dua jempol. Di susul Long An dan Si Kembar memberikan jempol mereka. Wajah berbinar terlihat dari pancaran semua orang.


           “Naiklah, kita akan segera berangkat ke New Caledonia.” kata Rava dengan gaya cool lalu mengenakan kaca matanya. Ia terlihat semakin tampan.


           “New Caledonia?” tanya Long An tak mengerti.


           “Apa itu?” sahut Meichan.


           “Itu apa?” timpal Chanmei.


           “Wow, anak-anak dasar kalian ini. Itu adalah tempat yang sangat indah. Surga dunia….” jawab Nyonya Meri sambil menyanyi lagu Havana.


           “Cepatlah naik.” kata Rava.


           Mereka berempat langsung naik dengan penuh semangat. Berlarian masuk menuju pesawat Jet yang mewah tersebut. Sedangkan Irene masih berada di luar bersama Ravindra.


           “Apa kamu menyukainya?” tanya Rava dengan wajah memerah.


           “Aku sangat menyukainya. Terimakasih.” jawab Irene sambil melempar senyum manis yang memikat.


           Membuat Ravindra kelabakan terpikat oleh senyuman Irene yang begitu menjerat. Hatinya benar-benar terperangkap dengan cinta wanita yang ada di dekatnya itu.


           “Aku ingin, kamu tidak lagi bersedih. Bersenang-senanglah.” kata Rava sembari menatap Irene dengan dalam.


           Irene yang menyadari bahwa Ravindra sedang berusaha menghiburnya. Merasa sangat terharu. Ia menatap Rava dengan mata berkaca-kaca. Mungkinkah kejadian 10 tahun yang lalu adalah sebuah dosa yang indah? Irene masih terpaku di tempatnya. Kepalanya kelihatan menunduk. Rava kebingungan ketika melihat Irene yang menundukkan kepalanya.


           “Apa aku mengingatkanmu pada kesedihan yang kamu rasakan?” tanya Rava merasa tak enak pada Irene.


           Namun, tanpa Ravindra duga. Sedetik kemudian, Irene mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Lantas bibirnya dengan cepat mengecup pipi Ravindra. Lalu tersenyum dengan wajah memerah. Ravindra sangat terkejut dengan yang Irene lakukan barusan. Irene tiba-tiba mengecup pipinya secara mendadak. Seketika wajah Ravindra memerah dan timbul uap dari kepalanya. Hatinya terasa panas. Namun, terasa menyenangkan.


           “Pwewiiit!!!” siul Long An, Si kembar dan Nyonya Meri dari dalam pesawat. Menyaksikan adegan romantis tersebut.


Irene seketika terkejut dan merasa malu sekali dilihat oleh yang lain.


           “Hei!! kenapa kalian mengintip?! Bersiaplah untuk menerima pukulan maut!” teriak Irene lalu bergegas lari masuk ke dalam pesawat dengan wajah memerah karena malu. Long An dan yang lainnya langsung bubar dengan tawa ceria.


           Sedangkan Ravindra masih bengong di tempatnya. Wajahnya memerah sekali. Pak Albert tersenyum melihat bosnya seperti itu. Rava yang diperhatikan Pak Albert langsung menampakkan sikap coolnya.


           “Lihat apa? Apa kamu ingin aku pecat sekarang juga?” tanya Ravindra pada Pak Albert dengan gaya dingin.


           “Ti.. tidak Tuan. Silahkan masuk.” kata Pak Albert tergagap.


           Rava segera masuk dan pesawat Jet mewah tersebut lepas landas menuju New Caledonia.


... ***...

__ADS_1


Terimakasih untuk segala dukungannya. Jika berkenan bisa mampir ke novel author lain yang berjudul Pangeran Lumba-Lumba dengan genre yang berbeda😊


 


__ADS_2