
...Rantai Takdir yang Belum Putus...
Goresan pena tangan Tuhan tak pernah ada yang bisa menebak. Dimana ujungnya tak pernah ada yang tahu. Rangkaian takdir seseorang saling terkait satu sama lain. Begitu juga rangkaian takdir yang dialami seorang wanita muda bernama Irene Maxzella. Dahulu hidupnya yang ditimpa kemalangan demi kemalangan. Perlahan telah bergeser semenjak memiliki seorang anak Genius bernama Long An. Namun, tak pernah ada yang bisa menebak. Bagaimana rantai takdir sedang mengikat Irene.
Hari itu, siang telah berubah menjadi petang. Sinar mentari tak lagi membakar kulit. Namun menghangatkan setiap insan maunusia di muka bumi. Dari kejauhan seorang wanita muda berusia 30 tahunan tengah berjalan tergesa-gesa menuju AA School. Wanita muda itu berambut hitam panjang. Tergerai lurus hingga punggungnya. Terlihat berkilauan tertimpa sinar mentari. Ia mengenakan blazer kotak-kotak yang dipadukan dengan celana hitam panjang 3/4. Menunjukkan kakinya yang cukup jenjang. Visualnya terlihat menawan dengan mata sedikit lebar. Hidungnya mancung meski terlihat mungil. Wanita muda itu tak lain adalah Irene Maxzella. Ia tergesa-gesa hendak menjemput Long An.
Irene sedikit terlambat menjemput anaknya karena ia juga sudah mulai bekerja. Ia bekerja di sekolah anak TK. Meski gajinya terbilang kecil. Setidaknya, ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tanpa Irene sadari, langkahnya kali ini akan membawanya pada rantai takdir masa lalu yang tak pernah putus. Wanita muda berumur 30 tahunan tersebut segera masuk ke dalam. Tetapi karena buru-buru tanpa sengaja ia menyenggol seseorang.
“Maaf… maafkan saya.” Kata Irene merasa bersalah karena sudah menyenggol seseorang.
Ia membungkukkan badannya berkali-kali karena memang ini salahnya. Tidak memperhatikan jalan dan terburu-buru.
“Perhatikan jalanmu Nyonya!” Sahut seseorang yang disenggol oleh Irene tadi dengan nada tinggi.
Lantas keduanya saling bertemu muka. Tepat disaat keduanya saling bertatapan. Betapa terkejutnya Irene. Begitu juga dengan orang yang ditabrak Irene tadi.
“Kamu?!!!” Teriak keduanya bersamaan.
Keduanya sama-sama terkejut. Kenapa diantara semua tempat atau orang yang ditemui. Lagi-lagi mereka bertemu kembali. Orang yang tepat berdiri di hadapan Irene adalah Rosalind Birgita. Mereka saling bertatapan dengan tajam. Seolah ada kobaran api yang tersembunyi diantara keduanya. Kebencian jelas terlihat dimata Irene dan Rosalind. Ya, mereka memang saling membenci.
“Ternyata dunia ini begitu sempit.” Kata Rosalind sinis sembari menatap Irene.
“Jika begitu sempitnya. Lebih baik, kita saling berpura-pura tidak mengenal saja. Maka selesai urusan.” Balas Irene dengan tatapan tajam.
Lantas Irene hendak melangkah pergi. Namun terdengar suara Rosalind berkumandang.
“Tetapi tetap saja. Meskipun begitu, sebanyak apapun kita bertemu. Level kita tetaplah berbeda. Sekarang, aku adalah seorang Wakil Direktur AA School. Tetapi kamu…. kamu … masih tetap seperti orang rendahan yang tak memiliki kedudukan.” Ejek Rosalind.
Telinga Irene memerah mendengar perkataan Rosalind. Ia sungguh tak ingin lagi berurusan dengan Rosalind.
__ADS_1
“Bercerminlah pada dirimu sendiri. Siapa di sini yang rendahan.” Kata Irene dengan nada dingin tanpa menoleh ke arah Rosalind.
Hingga sebuah kilas balik tergambar dipelupuk mata keduanya. Sebuah kilas balik ketika mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
Rosalind, gadis pemilik rambut berwana kecoklatan tersebut. Terlihat berdiri di atas tangga. Wajahnya terlihat merah padam. Ia begitu marah sambil menatap Irene. Sedetik kemudian Rosalind mendorong Irene sekuat tenaga. Hingga Irene terjatuh berguling-guling dari tangga yang mengakibatkan bahunya cedera. Akibat cedera tersebut, Irene tak lagi bisa merentangkan busur dengan baik. Sehingga bidikan panahnya menjadi meleset. Kondisi seperti itu yang menyebabkan Irene tak lagi bermimpi menjadi seorang atlet panahan. Maka, ia mengalihkan dengan menjadi pelatih atlet panahan. Namun, nasib malang terus menerpanya. Ia pun gagal mengikuti wawancara kerja di AA School.
Kembali ke masa kini, terdengar suara Irene sembari menatap gadis berambut coklat yang ada dihadapannya tersebut.
“Selama ini aku diam dan tidak melaporkan ulahmu karena aku tidak ingin menjadi manusia rendahan sepertimu. Aku tahu, kamu juga memiliki mimpi sama sepertiku. Tetapi, aku bukan sepertimu yang akan menghancurkan orang lain demi keegoisannya sendiri. Aku tidak akan membuatmu mengubur mimpimu sendiri, karena itu sangat menyakitkan. Jadi, lihatlah sekarang. Siapa yang lebih rendahan?” Irene bertanya sambil menatap gadis berambut coklat yang terlihat kesal karena terkena tamparan keras dari setiap kalimat yang Irene lontarkan.
Setelah mengatakan hal tersebut. Irene berjalan meninggalkan Rosalind Birgita. Rosalind bukannya menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Tetapi ia justru menatap dengan dengki ke arah Irene yang sudah melenggang pergi. Kebenciannya semakin dalam pada Irene. Rosalind yang sudah melakukan berbagai upaya untuk menyingkirkan Irene. Lagi-lagi malah bertemu dengan wanita itu lagi. Semua hal itu membuatnya begitu jengkel.
“Arghht!!!!” Teriak Rosalind dengan kesal.
“Kenapa dia kembali lagi ke sini? Seharusnya dia sudah pergi jauh.” Gumam Rosalind dengan kesal.
Flashback
Di salah satu Sekolah Menengah Atas. Sekolah yang bergengsi di Ibu Kota.
Seorang gadis bertinggi 160 cm tengah merentangkan busurnya. Matanya menatap lurus ke arah papan yang berjarak beberapa meter darinya. Sebuah papan berbentuk lingkaran. Di mana dalam lingkaran itu terdapat lingkaran lainnya. Lingkaran itu diberi warna berdeda satu dengan lainnya. Di dalamnya terdapat nomor-nomor yang akan menjadi penanda peserta altlet panahan akan mendapakan point. Besar kecilnya point tergantung hasil bidikan panah sang atlet panahan. Gadis dengan mata sedikit besar tersebut. Mengamati sasarannya. Memfokuskan pikirannya hanya pada pertandingan ini. Tangan kanannya sedang memegang anak panah. Perlahan ia menarik nafas dalam-dalam. Setelah yakin, hanya dalam hitungan detik saja. Ia dengan cepat melepaskan anak panah miliknya.
Swing!
Suara anak panah terlepas dari busurnya. Terbang menembus angin. Mata anak panah yang tajam terlihat berkilauan tertimpa cahaya matahari. Anak panah itu meluncur mencari sasarannya. Beberapa detik kemudian.
Srat!
Anak panah yang terlepas dari busurnya barusan. Menancap dengan tepat di papan sasaran. Bertuliskan angka 10. Itu artinya Si Pemanah mendapatkan point terbesar yaitu 10 point.
__ADS_1
“10 Point!” Terdengar suara juri mengumumkan dari microphone.
“Yay!!! Irene!! Irene!! Irene!!” Terdengar suara riuh teriakan memberi semangat pada Irene.
Siswa-siswi di sekolah tersebut mengelu-elukan nama Irene. Di usia 16 tahun, Irene memiliki bakat luar biasa dalam bidang panahan. Ia mumpuni melepaskan anak panak hingga tepat mengenai sasaran. Irene hanya tersenyum dan bernafas lega. Pada gilirannya yang terakhir, ia bisa mendapatkan point yang besar.
Suara teriakan teman-teman satu sekolahnya membahana. Pada pertandingan panahan siang itu. Tidak hanya suara siswi perempuan. Tetapi suara siswa laki-laki juga terdengar begitu riuh.
“Irene!!! Kamu sangat cantik!! Aku padamu!!” Teriak para siswa laki-laki tersebut.
Selain dikenal sebagai atlet panahan yang berbakat. Visual Irene juga tidak main-main. Meski ia tinggal di panti asuhan tanpa perawatan kecantikan. Layaknya gadis kaya lainnya. Tetapi kecantikan alaminya tak pernah bisa disembunyikan. Justru semakin hari semakin terpancar.
Tetapi tanpa Irene sadari, seorang gadis berambut kecoklatan yang sebaya dengannya. Tengah menatap iri pada Irene. Ia iri akan bakat dan kecantikan gadis yang berdiri tak jauh darinya tersebut. Ya, gadis berambut kecoklatan itu adalah Rosalind Birgita. Rosalind juga seorang atlet panahan sama dengan Irene. Dipertandingan antar sekolah ini, Irene dan Rosalind sama-sama maju ke babak final. Satu sekolah memperebutkan gelar juara.
Kini, tiba saatnya Rosalind membidik sasarannya. Ia merentangkan busurnya. Memegang erat anak panah miliknya. Mengamati sasaran yang ada di depannya. Rosalind berusaha fokus. Namun, pikirannya teringat dengan sorai-sorai teman-temannya yang mengelukan nama Irene. Rosalind merasa iri dengan kemampuan Irene. Ia yang berasal dari keluarga kaya jangan sampai kalah dengan seorang gadis yatim piatu. Semua pikiran itu terus berkecamuk. Menari-nari dalam pikirannya seolah sedang mengejek dirinya. Hingga tanpa sadar, anak panahnya terlepas begitu saja.
Swing!
Anak panah tersebut meluncur dengan cepat. Namun, karena Rosalind tak fokus ketika melepaskan anak panah. Anak panah itu meleset dari sasarannya. Suara tepuk tangan kembali memecah keheningan. Suara bersahut-sahutan saling menge-elu namakan Irene. Rosalind yang gagal memenangkan pertandingan final antar sekolah. Hanya bisa menggigit bibirnya menahan amarah yang berkobar. Tangannya mengepal erat. Tatapan matanya penuh kedengkian pada Irene.
Aku bersumpah akan membuatmu menderita…. Irene Maxzella. Tunggu saja. Kata Rosalind dalam hatinya. Sorot matanya terlihat penuh iri dan dengki.
Flashback End
Kini, setelah 14 tahun lamanya rasa iri dan dengki Rosalind pada Irene tak pernah padam. Masih terus berkobar hingga detik ini. Rosalind akan melakukan apapun untuk menyingkirkan dan menjatuhkan Irene.
“Wanita itu, sepertinya masih belum mengetahui. Apa yang pernah aku lakukan padanya saat malam itu.” Kata Rosalind pada dirinya sendiri.
Senyum jahat tampak menghiasi wajahnya. Apa yang sebenarnya pernah dilakukan Rosalind pada Irene?
__ADS_1