Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 77


__ADS_3

...Ada Apa Sebenarnya?...


 


           Long An bocah genius yang sedang khawatir akan keberadaan ibunya dikejutkan dengan berita buruk mengenai Nyonya Kania. Nyonya Kania dilarikan ke Rumah Sakit karena terluka parah dibagian kepalanya. Si kecil Long An yang diantar Nyonya Meri dan Si kembar menuju Rumah Sakit. Long An yang sudah sampai di Rumah Sakit bertemu dengan Ravindra di lobby.


           “Papa!” panggil Long An dan segera menghampiri ayahnya.


           “Nenekmu terluka, jadi sekarang berada di ruang operasi.” jawab Ravindra.


           “Apa yang sebenarnya terjadi? mama juga menghilang. Ponselnya tidak aktif.” Long An kelihatan cemas. Matanya mulai berkaca-kaca.


           Ravindra yang masih sangat marah pada Irene. Hanya memberikan ekspresi dingin.


           “Mungkin mamamu sedang bersama Liam.” Sahut Ravindra sinis.


           Rasa sakit di hati Ravindra masih begitu dalam.


           “Papa, tolong tanyakan pada paman Liam. Apakah ia bersama mama?” tanya Long An dengan wajah sedih.


           “Benar paman tampan. Tolong bantu Long An.” pinta Meichan.


           “Bantulah paman tampan.” sahut Chanmei dengan wajah memelas.


           Nyonya Meri juga ikut-ikutan menunjukkan ekspresi memohon. Rava hanya menatap dengan tatapan dingin. Ia tak dapat membohongi hatinya jika masih merasakan patah hati yang luar biasa. Namun, sebagai seorang ayah ia tak dapat mengabaikan permohonan anaknya. Tanpa banyak berkata, Ravindra segera menghubungi Liam. Long An dan yang lain bersorak dan menunggu jawaban.


           Ah, saudaraku. Tidak biasanya kamu menghubungiku seperti ini. kata Liam di seberang telp.


           “Apa kamu bersama Irene?” tanya Ravindra dengan nada dingin.


           Oh, wanita itu? aku tidak mengetahui keberadaannya. Dia sama seperti wanita lainnya. Setelah mendekatiku, ia menghilang begitu saja dan mengambil uangku. Dasar wanita rendahan yang hanya mendekati pria kaya untuk dimanfaatkan.


           “Tutup mulutmu! Jangan merendahkan Irene dengan mulutmu. Jika dia memang seperti itu. Akulah yang berhak mengatakan itu. Bukannya dirimu.” Ravindra tersulut emosinya.


           Meski Rava membenci Irene. Tetapi jauh dilubuk hatinya. Ia tak tahan jika mendengar orang lain menghina Irene begitu saja. Rava juga tak tahu kenapa seperti itu.


           Hahaha! Kamu masih saja bodoh kakakku. cemooh Liam.


           Ravindra tak ingin banyak berdebat. Apa yang ia butuhkan sudah didapatkannya. Jadi tanpa banyak berkata. Rava menutup telpnya. Meninggalkan Liam yang bersumpah serapah karena saudaranya begitu tidak sopan mematikan telp. Tanpa mengatakan apapun.


           “Papa, bagaimana hasilnya?” tanya An penasaran.

__ADS_1


           Ravindra menggelengkan kepalanya. Pertanda Irene juga tidak bersama Liam.


           Long An dan yang lain jadi semakin cemas.


         “Sebenarnya ada apa ini?” tanya Ravindra.


           Tetapi sebelum Long An menjawab. Rosalind terlihat masuk ke dalam Rumah Sakit. Ia sempat berhenti sejenak dan melirik Ravindra. Lantas bergegas menuju ruang operasi tempat di mana Nyonya Kania dirawat. Long An dan Ravindra saling bertatapan. Kemudian, mereka bergegas menyusul Rosalind menuju ruang operasi. Di sana, sedang dilakukan operasi untuk menyelamatkan Nyonya Kania yang terluka parah dibagian kepalanya.


           Rosalind menunggu di depan ruang operasi. Long An kelihatan cemas pada neneknya tersebut. Si kembar berusaha menenangkan Long An di dampingi Nyonya Meri. Sedangkan Ravindra menghampiri Rosalind.


           “Ada apa sebenarnya?” tanya Rava


           “Aku juga tidak mengetahui penyebab pastinya. Aku hanya mendengar kabar. Mama terluka ketika berada di jalan.”


           Long An kecil berusaha menenangkan dirinya. Belum lagi pencarian terhadap mamanya usai. Sekarang malah dikejutkan dengan berita bahwa neneknya terluka. Disaat mereka menunggu hasil operasinya. Tiba-tiba dua orang polisi datang menghampiri.


           “Apa benar dengan keluarga Nyonya Kania?” tanya salah satu polisi.


           Rosalind menganggukkan kepalanya, “ya, saya keluarganya.”


           “Saya mendengar keterangan bahwa Nyonya Kania ditemukan tergeletak di jalan dengan keadaan kepalanya terluka bersimbah darah. Akibat pukulan benda tumpul. Apa menurut anda, Nyonya Kania memiliki musuh?” tanya salah satu polisi.


           “Apa kalian semua keluarga Nyonya Kania?” tanya Dokter.


           Semua orang mengangguk.


           “Kondisi Nyonya Kania sangat buruk. Beliau kehilangan banyak darah. Kita sebagai tim Dokter berusaha menyelamatkan nyawanya. Tetapi, luka beliau cukup dalam. Jadi, beliau sekarang dalam kondisi kritis. Kita tunggu saja perkembangannya. Apakah beliau, akan melewati masa kritisnya. Jika malam ini beliau melewati masa kritis. Maka bisa selamat. Tetapi jika tidak….. yah kita berdoa saja untuk keselamatannya. Sekarang hanya itu yang bisa kita lakukan.” Kata Dokter memberikan keterangan.


           “Dokter, berusalah menyelamatkan nenekku.” pinta Si kecil Long An dengan nada memohon.


           “Nak, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Jadi, banyak-banyaklah berdoa untuk kesembuhan nenekmu.” sahut Dokter sembari mengelus kepala Long An.


           “Kami akan memindahkan Nyonya Kania ke ruang ICU.” Lanjut Dokter sembari menatap Rosalind dan Ravindra bergantian.


           Kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Long An kelihatan semakin sedih. Belum tuntas mencari ibunya. Neneknya terluka parah seperti ini. Si kembar dan Nyonya Meri memeluk Long An. Menenangkan bocah kecil itu.


           “Aku akan mencarikan Tim Dokter yang paling hebat di negeri ini untuk membantu menyembuhkan mamamu.” kata Ravindra.


           “Tidak perlu, keluargaku yang akan mengurusnya.” jawab Rosalind dan bergegas meninggalkan tempat itu.


          Sepeninggal Rosalind, Ravindra hanya menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Long An segera menghampiri ayahnya.

__ADS_1


           “Papa….” panggilnya memelas sembari menggenggam tangan Ravindra.


           Ravindra menatap dalam ke arah Long An. Ia paham betul bagaimana perasaan anaknya saat ini. Rava akan selalu bersama Long An karena sekarang An akan menjadi tanggungjawabnya.


           “An, Tuan Ravindra kita akan pulang dahulu. An bersemangatlah. Kita pasti akan membantumu.” kata Nyonya Meri memberi semangat pada Long An. Si kembar juga ikut memberikan semangat.


           Sekarang hanya tinggal Long An dan Ravindra yang tersisa. Long An mengajak ayahnya ke ruang ICU melihat dari kejauhan Nyonya Kania. Long An dan Rava yang sudah berada di depan ruang ICU menatap dari balik jendela kaca. Long An menatap dengan sedih neneknya yang berbaring tak berdaya menggunakan alat bantu pernafasan. Suara alat denyut jantung terdengar bip bip perlahan. Long An berdoa semoga neneknya bisa melewati masa kritis. Ia juga akan mencari cara menemukan mamanya.


           Nenek segeralah sadar. Aku juga akan mencari keberadaanmu Mama. Tidak perduli di mana mama berada. Aku pasti menemukanmu. kata Long An dalam hati. Bagi Long An, saat ini tidak boleh merasa sedih. Dia harus kuat untuk mencari keberadaan mamanya. Mencari tahu ada misteri apa dibalik semua hal ini.


           Sedangkan Ravindra yang berdiri di samping Long An. Teringat bahwa tempo hari ia sempat menemui Irene.


           Flashback


           “Jika saja… jika saja kamu mengatakan padaku. Bahwa apa yang kamu lakukan waktu itu hanyalah sebuah kesalahan. Aku akan memberikanmu kesempatan. Jadi, katakan padaku bahwa itu tidaklah benar.” kata Ravindra pada Irene.


           Meski merasakan sakit di hatinya. Rava masih berharap bahwa apa yang Irene lakukan bersama Liam hanyalah sebuah kesalahpahaman. Sedangkan Irene terlihat membelakangi Ravindra. Ia tidak ingin memandang pria yang sedang berdiri menatapnya.


           “Tidak ada yang bisa aku katakan. Semuanya sudah jelas, seperti yang kamu lihat maupun dengar.” jawab Irene dengan nada dingin. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Ravindra sendirian.


           “Arghht!!!” teriak Rava begitu keras. Matanya dipenuhi kemarahan. Hatinya lagi-lagi kembali terluka. Apakah ia akan kembali seperti semula? Bersikap dingin?


           Flashback End


           Kini, Rava hanya diam dengan memperlihatkan tatapan tajam. Tangannya mengepal erat. Ia sangat ingin marah pada Irene. Tetapi, Rava tidak tahu kenapa hatinya tidak ingin marah pada wanita yang ia cintai.


           Di pinggiran Ibu Kota, terdapat sebuah rumah yang tidak terlalu besar.


           Seorang wanita sedang tak sadarkan diri dan berbaring di ranjang. Di hadapannya seorang pria tersenyum menyeriangi. Tatapannya penuh arti. Melihat wanita yang ada di hadapannya berbaring tak berdaya. Membuat gelora kelelakian pria itu meningkat. Perlahan ia membuka kancing bajunya. Senyum penuh ga*irah terlihat jelas tercetak dari wajahnya.


           “Irene Maxzella, kamu sungguh cantik. Biarkan aku merasakan kelembutan tubuhmu.” kata pria tersebut sembari terkekeh.


           Bagaimana kelanjutannya? Jangan bosan-bosan membaca cerita ini hingga akhir. Terimakasih.


 


                     


          


 

__ADS_1


__ADS_2